Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 35 Pengganti Sementara


__ADS_3

“Apa-apaan ini? Kamu bener diangkat jadi penggantinya Mbak Rasty? Tapi gimnana mungkin? Ya ampun keenakan amat. Aku mauuuu, huhuhuuu ....” Dewi serta-merta membeliakkan mata dan mengomel tak keruan kala mendengar kabar tersebut.


“Mana aku tahu. Tuh gara-gara Pak Hartono ngajuin namaku pas Pak Joni cari penggantinya si Mbak Rasty. Aku nggak tahu dan nggak dimintai persetujuan dulu langsung disuruh ke ruangannya. Dan tahu nggak, pas selesai malah bilang kalau besok mulai aja kerja di ruangannya dia. Kan Mbak Rasty mejanya di ruangan itu juga tuh.” Ayudia ngambek juga sekarang. Ingin sekali ia protes kepada Pak Hartono karena gara-gara beliau lah ia jadi terjebak dalam situasi itu. Mana nggak enak pula sama Dewi karena temannya seakan keberatan dengan hal itu.


“Duh, kenapa Pak Hartono bukannya ngajuin aku, sih? Hiks,” geram Dewi masih mellow.


“Maaf, ya, Dew....” Ayudia akhirnya hanya bisa meminta maaf meskipun Dewi tidak secara langsung memarahinya atau menyatakan kekecewaan terhadapnya.


Dewi langsung menoleh pada Ayudia dan mencoba terkekeh meskipun sebenarnya ada iri dalam hatinya yang berusaha ia tutupi.


“Nggak apa-apa lagi, Dia. Kan bukan salah kamu. Aku cuma sedih aja kan selama ini yang naksir Pak Joni itu aku, ish!” Dewi berkata geram lagi.


Tapi perbincangan itu langsung usai sebab kemudian Pak Hartono berjalan ke arah mereka. Beliau rupanya menyuruh Ayudia untuk langsung ke ruangan Pak Joni karena beliau sudah memanggilnya.


“Aku ... ke sana dulu, ya,” pamit Ayudia pada Dewi dengan ekspresi yang entah.


“Eh, Dia. Jangan rebut calon suami aku itu, ya!” pesan Dewi sambil tergelak tertawa mendengar candaannya sendiri.


Ayudia jadi bingung apakah Dewi itu beneran suka dengan Pak Joni atau hanya sekedar lelucon biasa sama dengan para staff gadis single yang lain. Namanya di kantor kan memang biasa sekali kalau ada pria pujaan atau wanita pujaan rame-rame begitu, pikir Ayudia menimbang-nimbang.


“Tapi siapa juga yang mau rebut dia? Aiiiih apa kerennya sih orang galak kayak kulkas gitu!” gerutunya sambil terus bergegas ke ruangan barunya kini.


Sesampai di sana, benarlah bahwa yang dihadapinya adalah wajah masam si kulkas berjalan.


“Mana kopiku dan kenapa kamu telat masuk ke ruangan, Ayudia?” tanya Pak Joni tanpa basa-basi terlebih dahulu. Tidak ada ucapan selamat datang atau selamat bekerja sama atau sambutan apa pun. Sialan sekali, kan! Dan Dewi tergila-gila oleh lelaki semacam itu? Ya ampun! Sungguh Ayudia tak habis pikir akan selera sang kawan. Rasanya ia akan membrainwash pikiran Dewi nanti kalau sudah sempat. Ia harus membuka mata gadis itu untuk melihat bahwa Pak Joni yang dikagumi itu tak layak untuk dijadikan suami. Bisa-bisa gak akan pernah ada kejadian romantis nanti di antara mereka karena mana bisa si kulkas itu bertingkah halus dan manis?


“Maaf, Pak. Tapi Bapak kemarin tidak berpesan pada saya untuk langsung kemari jadi saya perlu ke ruangan lama saya dulu untuk packing beberapa barang pribadi,” jawab Ayudia dengan berani.


“Kopi Anda akan segera datang, Pak,” lanjutnya usai meletakkan tas kerja di laci mejanya sendiri dan berbalik pergi ke pantry. Untungnya kemarin ia sudah memperhatikan cara sang office girl dalam membuatkan kopi pesanan Pak Joni tersebut. Setidaknya sekarang ia jadi bisa melakukannya sendiri.


Sekembalinya ke ruangan, Pak Joni rupanya sudah tak di situ lagi. Maka ia pun meletakkan kopi itu di ujung meja yang bebas dari berlembar-lembar kertas berkas yang entah mengapa masih dibiarkan berserak di sana. Sepertinya beliau sedang memeriksanya satu per satu.

__ADS_1


Akhirnya Ayudia duduk di mejanya sendiri dan mulai mengerjakan tumpukan berkas yang sudah ada lagi di sana. Setiap hari tugasnya sepertinya hanya akan memeriksa laporan yang masuk untuk kemudian dimintakan tanda tangan para manager terkait dan terkadang mencatat saat managernya, si Pak Joni memimpin rapat mingguan lalu juga menyiapkan bahan untuk rapat. Ia sudah melihat-lihat draft contoh yang dibuat oleh Rasty di laptop mejanya untuk gambaran nanti. Sepertinya ia bisa mengerjakannya sebaik Rasty karena contoh yang tersedia juga sudah banyak dan terstruktur rapi.


Lagi-lagi ia jadi bertanya-tanya kenapa orang serapi Rasty sampai dipecat oleh Pak Joni. Lain waktu ia jelas akan mencari tahu agar dirinya tak sampai melakukan kesalahan yang mungkin dilakukan oleh Rasty itu. Kalau resikonya dipecat kan bahaya sekali itu.


Pak Joni baru kembali ke ruangannya setelah beberapa waktu. Kopinya sudah dingin dan untung saja tetap diminumnya dan bukannya meminta cangkir yang lain. Kalau iya maka Ayudia rasanya pasti akan jengkel karena pekerjaan membuat kopi sungguh mengingatkannya akan tugas OB atau OG saja. Bukan hendak menghina, tetapi sekretaris punya banyak pekerjaan lain yang jauh lebih penting ketimbang hanya berkutat di pantry untuk menyediakan kopi.


Saat jam istirahat, Ayudia tercengang karena Pak Joni berkata tepat saat ia hendak beranjak keluar.”Kamu ikut aku meeting dengan klien keluar sekarang.”


Oke, sih, dia emang bos. Tapi apa setidakpeduli itu dengan urusan pribadi sekretarisnya? Setidaknya dia bisa kan memberi tahu sebelumnya kalau Ayudia harus ikut dia meeting di luar di jam makan siang.


'Menyebalkan!' batin Ayudia kesal.


Namun, karena tak bisa menolak, Ayudia pun pasrah sambil bertekuk muka, mengikuti langkah pria kulkas itu tepat di belakangnya menuju ke areal parkir di mana mobil Pak Joni berada.


Ia berpapasan dengan Dewi saat melewati koridor dekat ruang HRD dan hanya bisa melempar pandangan tak berdaya ke arah temannya itu yang melotot kaget. Serta-merta Ayudia mengirimkan chat pemberitahuan kepada Dewi agar gadis itu tidak cemburu padanya.


{Aku harus ikut Pak Joni meeting dengan klien di luar.}


Dewi yang membaca pesan tersebut jadi tak lagi berprasangka macam-macam dan membalas pesan tersebut dengan jawaban singkat. ‘Enaknyaaa yang punya bos ganteng.’


Ayudia terkikik membacanya hingga membuat Pak Joni melirik ke arahnya karena curiga Ayudia tengah menertawainya.


“Ngetawain apa?” sergahnya garang. Mata hitam kelam yang dibingkai oleh dua alis tebal itu kini menelisik ke kedalaman iris mata Ayudia.


“Oh, enggak ada, Pak. Maaf,” jawab Ayudia buru-buru. Tidak mungkin dia jawab jujur sedang ngetawain lelucon mengenai si bos galak itu kan!


“Jaga sikap kamu! Jangan cengengesan nanti di depan klien!” peringat Pak Joni yang tentu saja membuat merah wajah Ayudia. Ia terhina sekali dikatai sebagai gadis cengengesan. Ia pastinya bisa lah membedakan kapan saatnya boleh cengengesan kapan saatnya harus terlihat efisien dan elegan. Sialan sekali kan si galak ini kalimatnya penuh penghinaan dan mengunder estimate banget padanya.


Akhirnya Ayudia terdiam dan bertekad tak akan menjawab bila tidak ditanya terlebih dahulu. Ia harus jaga image di depan sang bos biar tidak diremehkan seperti tadi. Enak saja disebut cengengesan.


Sesampai di mobil milik Pak Joni, Ayudia naik dan memasang seat belt. Lalu mereka pun meluncur ke arah restoran yang telah disepakati dengan klien Pak Joni dan sepanjang perjalanan Pak Joni menjelaskan apa saja yang harus dilakukan oleh Ayudia di sana nantinya.

__ADS_1


“Kamu nanti bertindak sebagai notulen aja dulu. Perhatikan caraku bernegosiasi dengan klien nanti dan catat hal-hal penting yang harus kamu ingat betul-betul. Selanjutnya nanti bisa aja saat pertemuan dengan klien lain kamu yang akan mewakiliku mempresentasikan pada mereka. Jadi jadikan kesempatan siang ini sebagai pengalaman belajar kamu,” titah Pak Joni tegas.


“Baik, Pak!” jawab pendek Ayudia. Bos galaknya itu memang diakuinya bersikap cukup profesional dalam pekerjaan meskipun sikapnya galak dan cuek. Pantas saja para atasan juga selalu mengandalkannya dan memujinya di setiap kesempatan. Mungkin kharisma itu juga yang membuat Dewi serta banyak staff gadis lain yang mengaguminya secara membabi-buta.


Pertemuan dengan klien calon pembeli di perusahaan mereka itu pun berakhir dengan ditandatanganinya surat perjanjian pembelian dalam jumlah yang besar. Rupanya itu proyek sampingan selain import produk utama yang memang adalah sistem pre order duluan. Tadi mereka mengawali pertemuan dengan makan siang bersama terlebih dulu, baru kemudian dilanjutkan dengan pembicaraan serius yang melibatkan presentasi produk oleh Pak Joni dan negosiasi terkait harga dan perjanjian kerja sama lainnya.


“Yang terpenting saat bernegosiasi dengan klien adalah jaga sikap kamu jangan merendah tapi juga jangan sok tinggi. Usahakan mendengar apa kemauan mereka terlebih dulu lalu buat mereka nyaman dengan merasa bahwa kita calon partner yang pengertian akan kebutuhan dia. Dengan begitu saat kita mempresentasikan produk, mereka akan lebih bisa menerima suggesti kita hingga kemungkinan besar proyek akan goal,” kata Pak Joni menjelaskan panjang lebar saat sang klien sudah pamit pergi terlebih dulu dan meninggalkan mereka berdua di restoran.


“Tapi, Pak. Saya rasa memang pekerjaan seperti itu adalah tugas manager seperti Bapak dan bukan job desk seorang sekretaris seperti saya, Pak. Saya mana bisa bernegosiasi dnegan klien seperti yang Bapak lakukan tadi,” bantah Ayudia kemudian. Ia merasa perlu menegaskan batasan itu karena ia yakin dirinya tak mampu melakukan hal itu bila sewaktu-waktu Pak Joni akan memintanya.


“Tentu saja tidak. Kamu cuma bisa mewakili presentasi produknya saja. Biar aku bagian closingnya,” jawab Pak Joni enteng.


“Tapi saya juga belum menguasai karakteristik produk serta keunggulannya, Pak. Gimana bisa saya presentasi—“


“Kamu suka bantah, ya! Ya belajar, dong! Rasty biasanya bisa melakukan hal itu dengan mudah—“


“Kalau begitu kenapa bukan Mbak Rasty aja tetep yang jadi zsekretaris Bapak? Jangan saya, pak. Saya cuma staf admin biasa yang—“


“Loh, kenapa kamu malah ngatur-ngatur saya? Siapa yang manager di sini, ha?” bentak Pak Joni penuh amarah. Sepertinya Ayudia sudah mencampuri urusannya terlalu dalam hingga beliau tersinggung.


“Maaf, Pak. Tapi memang saya tidak sanggup kalau untuk—“


“Kubilang belajar dulu!” tukas Pak Joni tanpa mau mendengar bantahan lagi dari mulut Ayudia.


Ayudia akhirnya hanya diam dan tak lagi membantah. Mereka berkendara dalam hening sampai kembali ke perusahaan dan ke ruangan yang sama. Rasanya ada ketidaknyamanan di antara keduanya hingga Pak Joni juga langsung menyingkir dari ruangan ketika sudah meletakkan tas kerjanya kembali di meja kerja. Sementara Ayudia menghela napas panjang dan mencoba tetap bersikap tenang meskipun rasanya ia mulai insecure dan kurang berpengalaman.


Saat akhirnya Pak Joni kembali ke ruangan. Pria itu mendekati meja Ayudia dan berkata, “Tenang saja. Kamu hanya akan mejadi pengganti sementara untuk Rasty. Dia akan kembali bekerja setelah urusan pribadinya nanti selesai.”


“Huuuuft ... alhamdulillah,” ucap Ayudia tanpa bisa melirihkan suaranya. Hal itu membuat Pak Joni melirik lagi ke arah sekretaris sementaranya itu sambil menaikkan sebelah alis tebalnya heran.


Ayudia tak peduli mau dianggap terlalu senang bahwa ia tak akan selamanya berada di satu ruangan yang sama dengan bosnya itu atau apa pun. Ia memang sejujurnya bahagia kalau pekerjaan itu hanya bersifat sementara saja dan bukan selamanya. Lebih baik jadi staff administrasi biasa meskipun gaji tak seberapa yang penting tidak terus menerus tertekan dengan tuntutan absurd dan sikap dingin si bos galak itu.

__ADS_1


__ADS_2