Jatuhnya Sang Bintang

Jatuhnya Sang Bintang
Bab 26 Tenggelam atau Bangkit


__ADS_3

Hari-hari kemudian dilalui Ayudia dengan kebingungan yang luar biasa. Namun, Pak Anwar dan Bu Nani tak henti berikhtiar baik dengan mengadakan pengajian di rumah maupun juga beberapa kali mengadakan tasyakuran dengan hajat untuk kesembuhan sang putri.


Selama itu, Ayudia sebenarnya di dalam hati sudah tahu kebenarannya, tetapi ada satu sisi dalam dirinya yang tak mampu menerima fakta itu. Itulah yang membuatnya masih bertahan dalam setengah halusinasi yang ia ciptakan sendiri.


Beberapa kali kedatangan teman-teman dari pabrik yang masih perhatian padanya membuat seketika Ayudia ingin sekali ikut kembali bekerja. Perusahaan sudah mengeluarkan gaji terakhirnya tetapi dengan catatan kalau Ayudia sudah embuh ia bisa kapan pun memohon untuk masuk bekerja kembali karena kemampuannya juga masih dibutuhkan di sana.


Di lain waktu, Ayudia seolah pasrah dan hanya diam menunggu waktu mandi, lalu makan dan kemudian tidur lagi. Hanya itu saja sampai beberapa hari diselingi dengan obrolan tidak nyambung dari para tetangga yang kadang datang untuk sekedar menanyai kabar.


Bu Nani sudah kerap kali mengajaknya untuk salat berjamaah di rumah tetapi Ayudia belum mau tergerak. Ia bilang salat sendiri saja tetapi nyatanya setiap mengambil air wudhu dia lantas bingung urutannya dan ketika terus dipaksakan, ia salat tapi juga lupa bacaan. Bu Nani sering menyaksikan hal tersebut hingga diam-diam wanita itu menangisi putrinya. Tingkah Ayudia sudah seperti orang kehilangan akal.


“Kita paksa untuk salat berjamaah saja, Bu. Daripada salatnya malah salah semua.” Begitu kata Pak Anwar.


“Iya, ya, Pak. Ibu juga makin khawatir melihat Dia. Kalau dibiarkan begitu terus nanti malah pikirannya semakin kacau,” ucap Bu Nani setuju.


Akhirnya mereka berhasil meminta Ayudia ikut salat berjamaah di setiap waktu salat tiba. Pak Anwar sebagai imam jika beliau sedang di rumah, atau Bu Nani yang menggantikan kala sang suami masih di bengkelnya. Lama kelamaan Allah akhirnya memberikan anugerah berupa kesembuhan untuk Ayudia. Ia disadarkan atas segala kesalahannya dan pikirannya mulai bisa memilah-milah mana yang adalah nyata dan mana yang hanya halusinasinya semata.


Di suatu pagi ia bangun tidur dengan terengah-engah karena dihantui oleh mimpi yang begitu menakutkan. Bukan mengenai hantu! Tapi sebuah ketakutan akan mati sementara semua dosanya belum ditebus sama sekali. Ia ingin sekali bertemu dengan Elvira dan mengakui semua yang pernah ia karang sebagai kebohongan di hadapan sahabatnya itu. Ia ingin meminta maaf dan memohon agar Elvira tak marah padanya agar dia tidak sampai masuk neraka hanya karena kebohongannya.


“Nak, kamu kenapa? Mimpi buruk? Kok sampai keringat dingin begini?” Tergopoh-gopoh sang ibu menghampiri kala ia membuka kamar anaknya pagi itu untuk mengajaknya mandi. Ya, untuk mandi pun Ayudia harus disuruh dan ditunggui karena dia bilang takut kalau mandi sendiri. Katanya seolah ada sesosok tinggi besar berwarna hitam kelam yang terus menerus mengikutinya ke mana pun pergi.


Ayudia lalu menangis meraung dan bertanya ke mana Elvira.


“Carikan Elvira. Bu. Carikan!” pintanya sambil meraung penuh derita. Suaranya seperti seorang rusa yang terluka parah dan hendak meninggal saja. Bu Nani sampai bergidik saking takutnya.


“Bu, Dia pengen ketemu sama Elvira, Bu. Cepat, Bu, panggilkan!” mohonnya lagi sambil tergugu tak terkendali.

__ADS_1


“Duh, sebentar, Nak. Biar Ibu telfon dulu, ya. Kalau masih di Surabaya ya tidak mungkin dia bisa langsung ke sini, kan? Tunggu dia libur dulu,” kata ibunya sambil mengambil ponsel Ayudia yang tergeletak di nakas.


Keberuntungan rupanya berpihak pada mereka. Elvira ada di rumahnya karena sedang minggu tenang untuk persiapan ujian semester.


“Oh, baik, Bu. El akan ke sana sekarang juga,” jawab Elvira tanpa membuang waktu lagi. Ia langsung bergegas bermotor ke rumah Ayudia yang hanya berjarak sekitar lima kilometer saja itu.


Sesampai di sana, Elvira diajak langsung menemui Ayudia di kamar. Gadis itu terperangah melihat kondisi Ayudia yang semakin memprihatinkan. Tubuhnya tampak mengurus dan kuyu seperti jarang mandi. Rambut juga jarang sekali mau disisir sehingga tampak berantakan di sana-sini.


Melihat kedatangan Elvira, Ayudia lantas mendongak dan menangis sesenggukan sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia malu sekali tapi harus mengakui saat itu juga atau tak akan ada kesempatan yang lain lagi.


“Dia ... kamu ingin bertemu denganku?” tanya Elvira setelah memandang bertanya ke arah Bu Nani yang menanti di ujung pintu dan melihat orang tua itu menganggukkan kepalanya dengan wajah kalut.


Ayudia berhenti menangis lalu menganggukkan kepalanya beberapa kali. Tidak cukup sekali. Hingga Elvira pun memberanikan diri maju dan duduk menyebelahi sahabatnya itu.


Ayudia tampak menatap Elvira dengan tatapan yang entah. Hampir saja Elvira menghindari tatapannya tetapi berusaha menguatkan diri dan menghalau ketakutannya sendiri.Ia hanya memegang teguh keyakinan bahwa Ayudia tidak akan menyakitinya secara fisik. Tidak. Ayudia bukan orang seperti itu. Ia yakin benar akan hal itu.


“Maafin aku, ya, El. Huhuhuuuuu ....” Sepatah kata meluncur kemudian disambung dengan tangisan sesenggukan lagi yang panjang dan tak berhenti hingga beberapa lama.


“Ini soal apa, Dia? Kamu nggak punya salah kok sama aku, kamu nggak perlu minta maaf ya?” bujuk Elvira agar tangis Ayudia mereda. Tapi tak berhasil. Tangisnya semakin memilukan hingga beberapa saat lamanya sampai serak terdengar.


“Diam, Dia. Oke, aku maafin kamu kok, Kamu udah nggak ada salah lagi sama aku, ya. Cup, diem diem. Itu suaranya habis loh.” Elvira kelimpungan mendiamkan Ayudia hingga akhirnya tangis gadis itu mereda sedikit demi sedikit.


“Kamu sahabat satu-satunya buatku tapi justru kamu yang paling banyak aku bohongin selama ini, huhuhu.” Kembali tangis Ayudia menggema di seantero kamar. Bu Nani sudah pergi dari ujung pintu, sepertinya ke dapur untuk membuatkan minuman bagi tamu anaknya itu.


“Sssttt ... udah, yang berlalu biarlah. Yang penting kita mulai lagi lembaran yang baru, ya? Aku udah maafin kamu soal itu, kok.” Elvira memasang wajah senang karena menurutnya Ayudia sudah pasti sedang menuju kesembuhan karena buktinya dia sudah mau meminta maaf dengan penuh kesadaran.

__ADS_1


“Bener kamu mau maafin aku? Masih mau jadi temenku?” tanya Ayudia seperti anak kecil. Ia menatap menyelidik ke arah mata Elvira yang berbinar senang dan tampak sekali ketulusan di sana.


Dengan mantap, Elvira menganggukkan kepalanya. “Iya dong. Kita kan bestie, Sayang! Bestie itu harus menerima temannya apa adanya—“


“Bahkan kalau temannya itu pembual tingkat dewa?” sela Ayudia menundukkan kepalanya dalam. Rasa malu kini merambat di hatinya. Ia malu sekali mengakuinya tetapi jauh akan lebih malu lagi kalau tidak mau mengakuinya sendiri saat itu juga.


“Hehehe ... yang penting jangan diulangi lagi aja, ya!” peringat Elvira dengan sabarnya.


Rasa bahagianya melihat tanda-tanda kesembuhan Ayudia mengalahkan rasa sakit hatinya saat dibohongi selama ini. Ia mendadak bisa memaklumi semua kesalahan sang sahabat hanya dengan mendengar permintaan maaf diiringi tangis tersedu-sedunya itu.


Sungguh, memiliki teman sebaik Elvira adalah rezeki yang tak ternilai untuk Ayudia. Bu Nani yang kembali membawakan baki minuman dan cemilan kecil pun terharu melihat Ayudia dan Elvira kini sedang berpelukan sambil menangis.


“Makasih ya, El. Cuma kamu yang mau ngertiin aku selama ini. Cuma kamu yang mau jadi temenku meskipun aku ternyata bukan anak kuliahan,” kata Ayudia di sela tangis.


“Kamu salah, Dia. Temen-temen yang lain sebenernya juga nggak ada yang bedain kamu, kok. Mau kamu kuliah kek, kerja kek. Nggak ada yang beda-bedain berdasarkan hal itu. Kamu terlalu perasa aja selama ini, Dia.” Elvira memberikan sedikit pencerahan agar Ayudia tak terus menerus berprasangka buruk kepada teman-teman yang lain. Sesungguhnya justru setelah tahu Ayudia berbohong mengenai status mahasiswa palsunya itulah mereka baru beneran marah dan menghindari Ayudia.


“Sekarang udah terlanjur semuanya pasti udah membenciku,” ucap Ayudia murung. Ia menarik napasnya dalam lalu mengeluarkannya perlahan.


“Udah, kamu nggak usah pikirin itu dulu sekarang, ya? Yang penting kamu pulih dulu seperti semula. Lalu nanti kita akan pikirin bareng caranya untuk minta maaf ke mereka juga? Gimana? Aku pasti akan temenin kamu, kok.” Elvira membujuk dengan lemah lembut. Hal mana membuat Ayudia terenyuh dan terharu akan kebaikan hati temannya itu.


“Kamu serius mau temenin aku?” Ayudia tak yakin.


“Tentu saja. Kan katanya kita berdua bestie?” Elvira menepuk punggung temannya, menguatkan.


Dan keduanya mengobrol agak lama hingga waktu menjelang sore dan Elvira terpaksa harus pamit pulang karena ibunya sudah menelepon.

__ADS_1


__ADS_2