
Setelah dengung mereda, Ayudia akhirnya melanjutkan perkataan.
“Aku tahu kalian pasti kecewa banget sama aku. Bahkan, mungkin sekarang pada benci sama aku. Aku terima, ya, teman-teman. Karena memang aku akuin ini sungguh kelewatan. Tidak seharusnya aku berpura-pura dan menjadikan hal seperti ini sebagai bercandaan. Padahal kalian menganggapnya begitu serius.”
“Ya lain kali mengakulah apa adanya, Ayudia. Kami juga bukan teman yang pilih-pilih, kok. Mau kamu kuliah atau kerja. Kami pasti tetap akan mau berteman denganmu. Justru yang bikin kami nggak suka ya justru kebohongan kamu itu,” komentar Emma yang maju mendekat dan kemudian merangkul Ayudia.
Oke, dia memang begitu benci awalnya saat baru tahu fakta itu, bahwa Ayudia tak lebih hanya seorang penipu. Tapi saat kini Ayudia berani menekan ego dan mengesampingkan rasa malunya untuk mengakui kesalahannya tersebut dan meminta maaf, ia jadi kembali respect dan mau memberi kesempatan Ayudia untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.
“Makasih banyak, Emma. Kamu ... sama seperti Elvira, kalian benar-benarberhati malaikat,” ucap Ayudia sambil sesenggukan dalam pelukan Emma. Dan itu terjadi di hadapan semuanya.
Beberapa teman yang lain akhirnya juga menghampiri Ayudia dan berkata mau kembali bertemand an melupakan apa yang sudah terlanjur terjadi. Meskipun manusiawi juga bila ada pula beberapa yang menghindar dan tak mau ikut ke dalam lingkaran yang mengelilingi Ayudia tersebut. Yah, manusiawi memang bila ada pula yang enggan untuk kembali berteman. Takut bila kesalahan yang sama kelak akan berulang.
“Namanya tipikal udah kebiasaan sih,” komentar beberapa yang berseberangan. Namun, Ayudia tetap berusaha tegar dan bersyukur karena yang terpenting adalah dirinya sendiri sudah meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Perkara ada yang tidak mau memaafkan, itu lain urusan. Sudah di luar kuasanya.
Acara pun berlanjut dengan obrolan holir mudik beraneka macam tema. Ada beberapa teman mereka yang memang sudah bekerja dan bergaji lumayan besar hingga sudah bisa menjanjikan akan mentraktir untuk pertemuan selanjutnya di rumah makan.
__ADS_1
“Maaf, ya. Kalau aku, karena hanya karyawan rendahan di pabrik biasa, aku nggak bisa menjanjikan kalian apa-apa. Tapi kalau mau, sekedar seadanya aku masih bisa menjamu kalian di rumah kapan-kapan bila ingin mampir ke rumahku, ya?” Ayudia ikut berkata. Ia memberanikan diri terus ikut dalam segala obrolan. Seolah ingin menunjukkan bahwa benar ia sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan berani jujur apa adanya kini. Sungguh, hati dan perasaannya kini jadi luar biasa jauh lebih tenang dan damai daripada sebelumnya.
Bila biasanya ia selalu dirundung cemas akan ada seseorang yang membongkar rahasianya, kini ia merasa terlepas dari beban dan ketakutan tersebut. Kini ia bisa bersikap layaknya manusia lain yang tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain di hadapan semua orang. Kini ia bebas lepas tanpa beban. Rasanya lega luar biasa.
“Makasih banyak, ya, El. Ini semua berkat kamu,” kata Ayudia berkali-kali. Hal mana diangguki oleh Elvira sambil tersenyum riang setiap kali melihat Ayudia mengobrol dengan teman lain. Ya, ia tentu ikut senang bila Ayudia sudah lebih bisa membuka diri pada banyak teman lain, bukan hanya dirinya seorang.
Dan berkat pertemuan tersebut, ia malah dapat banyak sekali informasi mengenai beasiswa lain dan juga tes ikatan dinas selanjutnya di tahun ini. Tapi, rasanya ia sudah tidak begitu berminat lagi kini. Sepertinya setahun bekerja dan berpenghasilan lumayan membuat Ayudia merasa tak guna lagi ia harus kembali kuliah dengan menghabiskan biaya pun juga waktu kalau akhirnya juga itu untuk mencari pekerjaan yang lain lagi.
“Biarlah aku terus aja kerja di pabrik. Nanti kalau sudah bisa naik tingkat setelah masa kerja beberapa periode juga aku akan bisa naik gaji hehehe.” Ayudia menjawab sambil wajahnya sumringah.
“Iiiih, keren, ya. Yang udah bisa menghasilkan duit sendiri. Udah nggak nyusahin ortu lagi malah bisa kasih duit sekarang, ya? Asyik amat kayaknya,” komentar Elvira, dengan maksud membesarkan hati temannya itu agar tak merasa rendah diri.
“Tapi nanti kalian setelah wisuda kan juga akan kerja dan pasti pendapatnya akan jauh berkali-kali lipat tingginya dari aku,” sanggah Ayudia lagi.
“Ya kan sama aja. Kita kuliah ngabisin biaya, makanya lulus kuliah nanti harus dapat kerjaan yang bergaji agak tinggian soalnya yang kami keluarin kan juga banyak, hehe.”
__ADS_1
“Betul juga, ya. Jadi pada dasarnya sih sama aja.” Elvira menyimpulkan. Hal mana ia ucapkan dengan tujuan membesarkan hati Ayudia.
Seusai acara, Ayudia bisa melangkahkan kakinya dnegan sangat ringan. Ia jadi bisa bercerita pada ayah dan ibunya kalau dirinya telah terbebas dari dosa yang telah dnegan sengaja tetapi dalam khilaf telah dilakukannya hampir setahun belakangan.
“Untung Allah menegurnya sekarang, ya, Bu. Kalau nggak ditegur dengan kecelakaan kemarin, rasanya Ayudia masih akan merasa aman dalam kepura-puraan. Padahal Dia hanya sedang menuju ke kehidupan yang semakin kelam akibat kebohongan fatal itu.
“Alhamdulillah, Nak. Ibu bangga sekali sama kamu. Yang penting kamu udah berani mempertanggungjawabkan kesalahan kamu. Mengakui kebohongan yang telah lalu dan meminta maaf itu benar-benar berjiwa besar, Nak.” Bu Nani berkata dengan nada penuh syukur.
“Maafin Dia, ya, Bu. Selama ini Ayudia bukannya menuntut ingin kuliah, kok,” kata Ayudia akhirnya. Ia tahu ibunya merasa bersalah selama ini. Elvira berkata padanya bahwa ayah dan ibu Ayudia itu sempat mempersalahkan diri mereka yang tak bisa mengusahakan Ayudia kuliah bagaimanapun caranya. Mereka merasa takut dikira kurang memfasilitasi impian putri semata wayang mereka itu sehingga sampai Ayudia nekad berbohong seperti itu.
Bu Nani memeluk Ayudia dan mereka berpelukan lama sekali.
“Tidak ada yang butuh dimaafkan, Dia. Asal kamu udah sembuh gini Ibu udah puas dan bersyukur sekali, Nak.”
Ayudia mengeratkan pelukan ke dada wanita separuh baya yang penyabar sekali itu. Sungguh ia tak bisa membayangkan bila orangtuanya bukan mereka. Yang selalu menghadapi tingkah absurd Ayudia dengan kesabaran dan keikhlasan. Tidak pernah mereka berharap balas.
__ADS_1
“Terima kasih lagi ya, Bu. Dia bersyukur sekali punya ibu dan bapak kayak kalian,” ucap Ayudia sambil kembali terharu dan akhirnya menangis. Rasanya ia kini jadi seringkali melankolis sendiri. Sedikit-sedikit nangis, tetapi bukan tangis sesal atau keluhan, melainkan tangis bahagia serta mensyukuri segala keadaan yang ada.