
Rayhan dan Angel menjelaskan semua awal mula permasalahan yang terjadi.
Walau terkadang Nadin masih jutek dengan penjelasan Rayhan. Tapi ia yakin ada dalang di balik ini semua.
Mereka sepakat untuk mencari tau siapa yang sudah berbuat seperti ini. Menciptakan kekacauan yang sangat besar bagi keluarga mereka.
Lain halnya dengan Alvin dan Aisyah mereka sama sekali tidak mengerti scandal yang terjadi di Indonesia. Keluarga sepakat tidak memberitahu mereka.
"Sayang, kita makan dulu yuk" ajak Alvin.
"Tapi, aku masih ingin menikmati suasana pantainya"
Alvin membelai rambut Aisyah yang tertutup oleh hijab dan topi rajut. " Ini udah sore, semakin malam semakin dingin loh disini"
"Ish, kamu aja sih mas kenapa mesti musim dinginnya sih kesini, kan ngak bisa main air pantai."
"Kalau untuk bulan madu itu cocoknya musim dingin Ay. Lagian mau main di air, emang kamu udah bisa berenang." Alvin mencubit hidung Aisyah.
"Sakit mas, aku tuh udah bisa berenang tau. Semenjak kamu pergi, aku belajar renang. Kamu tau mas"
"Enggak" Alvin mengandeng Aisyah menuju mobil.
"Aku takut jika kamu tidak ada, maka tidak ada yang menjaga ku setiap saat. Maka dari itu aku belajar renang dan mencoba mandiri tanpa kamu.
Ya kamu lihat sekarang aku tetap enggak bisa mandiri."
"Itu artinya kamu emang hanya untuk aku Ay.
Aku enggak akan meninggalkan kamu apa pun alasannya."
"Gombal" Aisyah berlari melewati jalan yang sedikit tertutup oleh salju.
"Jangan lari lari Ay, jalannya licin." teriak Alvin.
Aisyah tetap berlari tanpa memikirkan perkataan Alvin.
Hingga akhirnya sepatunya tersangkut di tumpukan salju yang tebal.
"Ih, kok enggak bisa lepas sih."
"Makannya nurut sama perkataan suami"
"Mas, kan aku cuma bercanda. Mau bantuin apa tetap diam di situ."
Alvin memasukan tanganya di dalam jaket hangat, membiarkan Aisyah berusaha sendiri, mengeluarkan kakinya dari tumpukan salju.
"Mas, bantuin dong. Mulai dingin nih, malah saljunya pun turun lagi." omel Aisyah melihat suaminya tetap diam.
"Ini tuh enggak bisa di keluarin, kalau mau di keluarin harus nunggu panas dulu"
"Jadi aku harus disini gitu sampai habis musim dingin"
Alvin tertawa melihat betapa polosnya istrinya itu.
Membantu Aisyah melepaskan kakinya tersangkut. Tapi malah kali ini sepatu Aisyah ikut tersangkut di dalam. Hanya kakinya saja yang keluar.
__ADS_1
"Mas, sepatunya"
"Udah enggak apa apa. Kamu mau di sini sampai musim dingin habis, atau merelakan sepatu ?"
"Kan sayang sih mas, mana sepatu baru beli."
Alvin membungkuk, mengendong Aisyah bak anak kecil yang ada di punggungnya.
"Mas, apaan sih malu tau di liaati orang"
Alvin membiarkan Aisyah ngomel di dekat kupingnya. Jika di jawab sampai kapan pun enggak akan kelar.
Alvin menurunkan Aisyah setelah sampai di samping mobil, membukakan pintu. Kemudian ia duduk di depan kemudi.
Alvin membuka sepatunya memberikan pada Aisyah.
"Mas, ini?"
"Kamu pake aja, pasti kaki mu dingin. Aku masih bisa pakai ini" Alvin menunjukan sendal yang ia ambil di kursi belakang.
"Enggak usah mas."
"Cerewet deh, apa emang kamu yang berubah atau aku yang enggak tau bahwa kamu makin cerewet semenjak menikah ?"
Alvin memaksa Aisyah memakai sepatu.
"Mas, kalau aku pake sepatu dan kamu pake sendal, kan kamu yang kedinginan.?"
"Kamu liatkan aku pake kaus kaki, dan kamu apa? Tadikan aku sudah bilang pake kaus kaki yang panjang. Ini malah pake yang begini"
Alvin mencium kening Aisyah. Setelah selesai memakaikan sepatu. Aisyah membalas dengan memeluk suaminya. Tapi yang di peluk malah meminta lebih.
Alvin mengecup bibir Aisyah. Bukan hanya kecupan, Alvin ******* bibir Aisyah hingga akhirnya Aisyah memukul bahu kekar sang suami.
"Sakit Ay"
"Mas, kamu kan tau ini kita di tempat ramai. Nanti di liat orang gimana"
"Mereka sudah terbiasa melihat orang berciuman di tempat umum. Lagi pula kaca ini tidak transparan Ay. Atau jangan jangan kamu maunya kita ngelakuin di kamar" Alvin menghapus jejak sisa cumbu yang ada bibir Aisyah.
"Kamu mas, kok mesum aja pikirannya."
"Aku mesum cuma sama halal bagi ku."
"Buktinya kemarin tuh belum halal juga kamu udah lang"
Ucapan Aisyah terputus, Alvin melancarkan lagi aksinya kali ini lebih lama dari yang biasanya. Hingga kehabisan napas baru ia melepaskan pangutan nya.
Alvin melajukan mobilnya kembali ke hotel yang mereka tempati selama seminggu. Alvin mengemgam erat tangan Aisyah. Berjalan gandengan dengan yang halal itu indah, tidak takut dosa di mata Allah.
"Mas, katanya kita mau makan kok balik ke kamar."
"Aku mau makan kamu"
Alvin menutup pintu dan tak lupa ia menguncinya.
__ADS_1
"Ishh, apaan sih mas. Aku beneran laper mas."
Alvin melepaskan jaketnya dan melempar ke arah sofa. Memeluk Aisyah yang berada di pinggir ranjang membuka jaket ia kenakan.
"Mas, awas dulu aku mau ganti baju."
"Ngak usah ganti baju. Biar aku aja yang gantiin."
Alvin melancarkan aksinya, membuka jaket yang di kenakan Aisyah, membuka hijabnya. Mencium aroma rambut Aisyah, walau tertutup oleh hijab, aroma rambut Aisyah tetap wangi.
Alvin mulai mencumbu wajah Aisyah hingga ke leher, tidak ada titik yang ia lewatkan.
Entah sejak kapan tangan Alvin sudah berada di pucuk si kembar.
Melilitnya perlahan dengan jari telunjuk dan ibu jari tak lupa ia meremasnya lembut.
Ternyata aksi yang dilakukan Alvin membuat Aisyah tersengat listrik. Aisyah juga menjamak bagian dada Alvin.
"Mas, tunggu"
Aisyah mendorong bahu Alvin saat ia ingin memasukan tombaknya.
"Kenapa?"
"Pelan pelan, masih sakit" bisiknya dengan malu malu.
"Tutup mata aja, nanti bakal enggak sakit."
Aisyah menutup matanya mengikuti perkataan Alvin.
"Mas" pekik Aisyah dengan mata yang sudah melebar.
"Kenapa mau lagi"
Belum sempat Aisyah menjawab Alvin melancarkan lagi aksinya.
Ia menarik ulurkan tombaknya dengan gerakan cepat.
Tak ada penolakan dari Aisyah, rasa sakitnya kini telah berganti dengan rasa, nikmat. Inilah yang dinamakan surga duniawi.
Mereka sama melepaskan apa yang terpendam di dalam. Kali ini Alvin melakukannya hanya sekali. Ia sadar bahwa ini masih sore, lagi pula mereka belum makan.
Dan ia berencana akan dinner sama Aisyah di suatu tempat.
Aisyah tertidur di dalam dekapan sang suami. Alvin membiarkan istrinya untuk tidur sebentar. Menghilangkan rasa capek setelah berjalan jalan satu harian dan juga habis di tempurnya.
Alvin mengecup pucuk kepala Aisyah berulang ulang. Mengungkapkan rasa sayangnya, rasa rindunya, dan juga rasa cinta nya.
"Kalau aku tau kamu makin cantik, aku enggak akan rela meninggalkan mu selama ini" ucapnya di sela menciumi Aisyah.
"Tapi aku sekarangkan ada disini, janji jangan tinggalkan aku apa pun itu"
"Aku janji Ay. I love you"
"I love you to mas"
__ADS_1