
Jam menunjukan pukul 01.30 dini hari. Semua rangkaian acara telah selesai sedari tadi. Kini tinggal Aisyah dan Alvin di dalam kamar dalam keadaan hening. Tidak ada canda tawa atau sekedar ngobrol biasa, seperti biasanya. Aisyah masih dalam mode mendiamkan Alvin.
Alvin terus berjuang keras dengan pikirannya, agar bisa meluluhkan Aisyah. Hal baru dari Aisyah membuat Alvin kalang kabut, biasanya Aisyah akan luluh dengan gombalan Alvin. Tapi ini, jangankan di ajak ngobrol, di dekatnya saja Aisyah sudah marah. Seperti di waktu pesta,
"Ay, kamu mau makan apa?"
"Enggak ada,"
"Tapi kamu belom makan Ay!"
"Aku pusing Mas, sudah jangan dekat-dekat. Temani saja klien bisnis kamu yang lain, aku pusing dekat kamu,"
"Hah," Alvin diam membisu, bagaimana bisa ia membuat Aisyah pusing dengan keberadaannya yang ada di dekat Aisyah. Meninggalkan Aisyah yang masih sibuk bermain dengan si kembar.
"Ay," panggil Alvin.
"Hem,"
"Kamu enggak tidur?" tanya Alvin berusaha membuat Aisyah membuka suaranya.
"Belum," Aisyah kembali duduk bersandar di pinggiran ranjang. Menatap Alvin yang duduk di sofa dengan memangku laptop kesayangan.
"Kenapa?" tanya Alvin lagi.
"Mas, juga belum tidur,"
"Iya, sayang ini lagi menyiapkan beberapa berkas untuk rapat besok,"
"Bukannya besok Minggu," Aisyah berusaha menahan pusingnya dengan memijat pelipisnya.
"Iya, karena Rayhan sudah mulai cuti jadi aku harus menyiapkannya sendiri,"
"Bukanya ada seketaris?" merasa binggung dengan sikap Alvin. Seharusnya kan itu tugas sekretaris, kenapa Alvin yang menyiapkannya.
Alvin meletakan laptopnya di atas meja, melangkah kearah Aisyah dan duduk di samping istrinya. "Kamu lupa, hem." Alvin mencubit gemas pipi Aisyah. "Semenjak kamu keluar, Mas enggak pernah memakai sekertaris lagi. Lagi pula sudah ada Rayhan dan Tomi yang membantu. Jadi untuk apa sekertaris," jelas Alvin.
"Ta..."
"Ssttt, Rayhan lagi cuti. Besok juga hari Minggu jadi Mas enggak mau ngerepotin Tomi, lagi pula rapatnya mendadak belom ada persiapan."
"Jadi besok Mas enggak di rumah," lirih Aisyah.
"Hey, kenapa wajahnya di tekuk gitu. Hilang nanti cantiknya," Alvin menarik dagu Aisyah.
"Aku pingin jalan-jalan, ke kampung halaman."
"Besok, kita bisa pergi bersama setelah selesai rapat. Mas, janji enggak bakal lama,"
"Bener?"
"Iya sayang," Alvin memeluk mesra istrinya, ternyata sikap dingin Aisyah tidak berangsur lama.
"Jauh-jauh Mas, aku pusing dekat Mas," tolak Aisyah setelah di dalam dekapan Alvin.
"Ya, Allah," gumam Alvin. " Ternyata masih sama, apa Mas mandi lagi ya!"
Aisyah mengernyitkan dahi, "Ngapain mandi Mas, bukanya tadi udah mandi?"
Alvin mengaruk tenguknya yang tidak gatal, merasa salah tingkah terhadap pertanyaan istri, binggung hendak menjawab apa. Salah-salah malah di diamin lagi sama istrinya. Memilih untuk tidak menjawab dan kembali ke posisi awal, melanjutkan berkas yang akan di persiapkan untuk besok.
__ADS_1
"Hem, Mas..."
"Iya,"
"Aku lapar,"
"Ya sudah biar Mas bangunkan dulu bik Ina,"
"Eh, jangan." Alvin menghentikan langkahnya.
"Lah, kok jangan ?"
"Aku, maunya Mas yang masakin nasi goreng," jawabnya ragu.
"Yasudah, kamu tunggu di sini ya. Mas buatin sebentar."
Alvin melangkahkan kakinya kearah dapur. Mulai berkutik dengan bumbu yang ada di kulkas. Sedangkan Aisyah berjalan menuju sofa yang di tempati Alvin. Mengerjakan berkas untuk besok rapat.
Setelah berkutik dengan laptop 20 menit, berkasnya sudah siap semua, Aisyah sudah siap menyimpan hasil melanjutkan yang dikerjakan Alvin. Dan berjalan keluar kamar menuju dapur.
Alvin yang memakai avron, terlihat begitu sexy di mata Aisyah hingga bersusah payah menelan salivanya. Memilih untuk mengambil minum yang ada di meja dan menegaknya hingga habis.
"Kamu disini, kenapa enggak tunggu di kamar aja. Ini tinggal sebentar lagi," ujar Alvin.
"Enggak apa apa, senang aja liat Mas di dapur." jawab Aisyah.
"Kenapa ?" tanya Alvin yang kini sedang memindahkan nasi goreng ke piring saji.
"Tampan," lirih Aisyah tersipu malu dengan jawabannya sendiri.
"Apa, enggak dengar ?" goda Alvin yang kini meletakan nasi goreng hasil buatannya di atas meja.
"Ya, ampun ternyata istri ku tambah cantik aja, merah gini pipinya."
"Mas," pekik Aisyah.
"Suapin,"
Aisyah menurut, mulai menyuapin nasi goreng ke mulut Alvin dan mulutnya secara bergantian.
"Ay,"
"Hem,"
"Malam ini, Rayhan sama Angel ngapain ya,"
"Ya mana tau Mas, mungkin tidur." jawabnya polos.
"Kok tidur?"
"Ya, jadi ngapain. Lagi pula udah dini hari gini mau ngapain lagi,"
"Ya, buat anak."
"Uhukk uhukk"
"Pelan-pelan Ay," Alvin menyodorkan gelas dan mengusap punggung Aisyah.
"Ya, Mas aja kalau ngomong enggak pakai filter dulu. Apa enggak malu nanti di dengar sama yang lain." ketus Aisyah.
__ADS_1
"Kamu liat," Alvin menunjuk kearah seisi ruangan yang terlihat gelap di hanya dapur saja yang di terangi lampu.
"Gelap,"
"Iya gelap, berarti semua orang lagi tidur. Mana ada yang dengar," jawab Alvin membenarkan perkataanya.
"Terserah Mas aja,"
"Iya, iya. Maaf," lirih Alvin lebih memilih untuk mengalah dari pada melanjutkan perdebatan.
"Mas, aku udah kenyang."
Alvin melirik sekolah kearah piring yang ada di atas meja, kemudian melirik Aisyah yang mulai menguap.
"Alhamdulillah, ternyata istri ku suka sama masakan suaminya."
"Mana ada," jawab Aisyah.
"Itu buktinya," Alvin menunjukan ke arah piring yang kosong.
"Ini tuh tadi kebanyakan Mas yang makan," jawab Aisyah mulai kesal dengan kelakuan suaminya.
"Iya, iya. Yauda tunggu sebentar Mas cuci dulu piringnya habis itu kita tidur,"
Alvin mengambil piring bekas ia dan Aisyah makan dan minum. Mencuci semua peralatan yang tadinya bersih dan kotor di buat Alvin setelah menyiapkan nasi goreng spesial untuk orang yang spesial.
"Ya, Allah. Tidur aja cantik gini," gumam Alvin mendapatkan Aisyah tertidur dengan posisi tangan di atas meja menjaga kepalanya di posisi ternyaman. Tak ingin membangunkan istrinya, kemudian mengangkat tubuh Aisyah kedalam gendongannya menuju kamar.
Meletakan perlahan di atas kasur dan menyelimuti sampai batas dada.
"Mas,"
"Tidur, udah malam," Alvin mengelus puncak kepala Aisyah.
"Mas, juga tidur di sini," Aisyah menepuk sisi ranjang yang kosong.
"Mas, nyiapin berkas sebentar." jawab Alvin. Sebenarnya tak ingin menolak istrinya tapi, ia juga harus menyelesaikan semuanya.
"Udah aku kerja kan,"
"Hah, kamu tadi nyiapin berkas untuk besok?" tanya Alvin tidak percaya.
"Mas, aku tuh udah lama kerja sama perusahaan kamu. Jadi udah ngerti, apa kamu lupa ?"
"Eh iya, makasih sayang."
"Makasih juga Aby."
"Aby?" Alvin mengerutkan dahinya dan berjalan ke arah sisi ranjang yang kosong.
"Kan, katanya nanti kalau udah punya baby mau di panggil Aby. Jadi mulai sekarang aja manggil Aby nya," membuat senyum Alvin melebar.
"Terus terimakasih, untuk apa ?"
"Untuk nasi goreng nya,"
"Kan, sebenarnya itu tugas istri masak. Tapi Mas yang masak buat aku."
"Tanggung jawab suami itu memberi makan istri tidak membiarkannya kelaparan. Nanti Mas tambah dosa, udah istri dari siang belum ada makan. Ini masak mau makan tapi buatan suami, suami enggak mau. Itu mah namanya Mas yang salah, lagi pula kan keadaan kamu lagi sakit." jelas Alvin.
__ADS_1