
Alvin mengajak Aisyah dinner di sebuah restauran tak jauh dari hotel.
Meja dinner yang di hiasi dengan berbagai macan lilin. Ada buket bunga yang di sediakan Alvin. Tak lupa juga sebotol anggur merah.
Bukan hanya Alvin dan Aisyah yang menikmati suasana romantis. Banyak juga pasangan yang sedang dinner malam ini.
"Mas, kamu nyiapin ini semua ?" tanya Aisyah dengan mata berbinar.
"Untuk mu apa pun pasti aku lakukan Ay. Kamu suka?"
"Iya aku sangat suka. Tapi apa ini enggak berlebihan pasti mahal makan di restauran ini."
"Mahal tidaknya bagi ku itu sama saja jika bersama wanita yang ku cintai. Lagi pula, untuk membeli makanan disini enggak akan buat aku bangkrut Ay. Buat beli ini restauran pun uang aku masih cukup." mode songong Alvin kambuh.
"Ckk, Iya aku tau mas, kamu sanggup untuk beli restauran ini. Lagian kamu itu mas lebih baikan uangnya di pakai untuk yang lebih bermanfaat. Nyari uang itu susah loh."
Alvin tertawa ringan. "Aku tau nyari uang itu susah, tapi kamu tau ngak aku belajar membuka usaha sendiri sejak masuk SMK ?
Aisyah menggeleng cepat.
"Kamu tau Ay cafe tempat kita makan waktu masa SMK"
Flashback on
Aisyah menatap lekat isi kotak tersebut. Sangat indah dengan permata di tengahnya
"Al ini apa? " aisyah membuka kotak tersebut.
" Ini kalung, gue harap kamu selalu jaga ini " Alvin membantu memakaikan kalung di leher Aisyah.
" Tapi ini untuk apa " tanya Aisyah penasaran.
" Ay, gue harap kamu ngak pernah melepas kan kalung ini dan selalu jaga ini.. "
" Kenapa kamu ngasi ke aku Al? "
" "Gue mau kamu jadi istri gue saat kita sudah dewasa nanti "
" Kenapa harus aku, kita saja baru kenal semenjak masuk sekolah"
" Ay, aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, dan aku rasa aku jatuh cinta sama kamu" Al menarik tangan Aisyah untuk menyentuh dada nya.
" Kamu bisa merasakannya kan Ay, aku ngak mau kita pacaran, aku mau menjaga mu sebagai istri ku. "
"Al, apa kamu yakin" Aisyah menitikan air mata.
" Sekarang jaga lah hati mu calon istri ku " Alvin menghapus air mata yang ada pipi Aisyah.
"Aku berharap suatu saat nanti kita berjodoh Al" Aisyah menatap bola mata Alvin yg kecoklatan.
" Aku akan berdoa di setiap sholat ku agar kita berjodoh "
__ADS_1
" Amin, aku akan jaga hati ini, dan kalung ini sebagai calon istri mu kelak Al. " Aisyah mencium punggung tangan Alvin.
Flashback off.
"Hmm tau mas. Di cafe itu juga kan kamu ungkapin perasaan kamu, dan minta aku sebagai istri kamu di waktu kita sudah dewasa. Dan meminta ku menjaga kalung ini."
"Pinter banget sih istri aku, ingat semua yang aku ucapin sampai sekarang." Alvin mengelus pucuk kepala Aisyah yang tertutup hijab.
Ya Alvin memang suka melihat Aisyah memakai hijab, dari itu ia memintanya. Dan Aisyah yang sedari dulu ingin memakai hijab tapi ia belum bisa untuk memakainya dengan benar atau yang biasa di katakan masih suka buka pake hijab, Ia dengan senang hati menuruti perkataan sang suami.
Flashback on.
Hari dimana Alvin mencari Aisyah di desa, ia bertemu dengan Vina secara tidak sengaja.
Vina mempersilahkan Alvin berkunjung ke rumah.
Dan ternyata di rumah Vina dan Agus ada beberapa bingkai foto yang memperlihatkan di masa hari pernikahan mereka.
Mata Alvin tertuju pada satu bingkai foto di antara banyak bingkai foto. Di foto itu terpampang jelas Aisyah yang memakai atasan brokat, bawahan batik dan hijab yang senada.
Tengah tersenyum ke arah kamera dimana ia berdiri tepat di sebelah Vina.
Sinar mata Aisyah menunjukan bahwa ia sangat bahagia. Tapi tersirat juga titik kerinduan disana, mata yang tersenyum indah. Jika kita bisa melihatnya satu titik mata Aisyah, berkata bahwa ia sedang menunggu seseorang.
Alvin sangat terpana dengan penampilan Aisyah yang sangat berubah dengan terakhir kali ia bertemu.
Alvin juga tak lupa menanyakan keberadaan Aisyah. Tapi Vina juga enggak tau, karena mereka sudah lama tidak bertemu.
Flashback off
"Mas, saat di cafe itu aku kan janji sama kamu bakal jagain kalung ini. Dan itu adalah hutang ku mas, aku mana pernah lupa sama hutang sendiri.
Lagi pula apa hubungannya cafe itu sama kamu buka usaha waktu mas SMK.?"
"Kamu pernah enggak sekarang ke cafe itu lagi"
"Terakhir sih waktu pernikahan Vina sama Agus" pikir Aisyah.
"Terus nama cafe itu apa?"
Aisyah mengernyitkan dahi nya berpikir keras mengingat nama cafe itu.
"Kalau enggak salah Al sy ... Apa ya mas aku lupa"
"Alsyah"
"Ha.. iya mas itu namanya Alsyah."
Alvin berpikir kenapa sih Aisyah tidak mengerti dengan kode kode yang ia berikan.
"Alsyah, kamu tau enggak arti dari nama cafe itu" tanya Alvin.
__ADS_1
"Enggak" Aisyah meneguk jus jeruk yang mereka pesan.
"Al itu dari nama aku yaitu Alvin Kusuma. Sedangkan Syah itu dari nama kamu Putri Aisyah.
Alsyah itu gabungan dari nama awal aku dan nama akhir kamu"
"Sok tau kamu mas, emang kamu pemiliknya" Aisyah melanjutkan makan steaknya.
"Emang aku yang punya"
"Uhuk. uhuk. uhuk" Alvin menyodorkan air mineral untuk Aisyah.
"Kalau makan itu, pelan pelan Ay. Enggak bakal ada yang minta kok."
Aisyah mengelap mulut nya dengan tisu langung menatap Alvin yang ada di hadapannya.
"Kok aku baru tau cafe itu milik kamu mas. Lagian kamu uang dari mana bisa buka cafe?"
"Aku punya tabungan dari ikut lomban game, dan di tambah dari uang jajan yang apa kasih selama tinggal sama bik Ina. Kan sayang uangnya untuk jajan, lebih baik aku buka usaha. Sekarang cafe itu juga udah banyak memiliki anak cabang yang berada di beberapa wilayah Indonesia. Aku bekerjasama dengan mama. Kan mama juga memiliki cafe, jadi aku kerjasama aja sama mama biar tambah besar cafenya.
Emang sih nama cafe Alsyah itu terkenal di Indonesia tapi, mama malah menumpahkan semua tanggung jawab sama aku.
Belum lagi harus ngurusin perusahan yang papa bangun, di tambah lagi aku masih merintis perusahaan game." jelas Alvin
"Wah suami aku berarti Sultan. Kalau gitu aku enggak takut lagi dong."
"Takut, emang takut apa"
"Takut dengan masa depan anak anak kita, takut mereka akan seperti aku dan Tomi yang harus mengejar beasiswa untuk bisa bersekolah."
"Nyampek situ banget sih pemikiran kamu Ay. Kalau aku enggak punya duit, gimana bisa aku ngadain resepsi sebesar kemarin."
Aisyah tertawa mengaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya aku kirain mas kayak orang lain yang suak pake uang orang tua."
"Enak aja. Itu murni asli tabungan aku sendiri. Asal kamu tau semenjak kenal sama dan berniat untuk menjadikan kamu istri ku, Mas banyak berpikir ke depan.
Mulai dari Menyiapkan mahar nikah, resepsi, rumah untuk kita tempati bersama anak anak sampai tua.
Masa depan anak dan banyak lagi yang lain. Mas enggak pernah minta uang papa dan mama, Mas juga di gaji kok selama jadi Presdir.
Bukan berarti mas anak pemilik perusahan, uang hasik perusahaan sama mas semua. Kita sama di gaji kok di sana."
"Banga deh sama kamu mas. Emang aku enggak salah pilih. Ehh, tunggu berarti waktu kita camping itu kamu bayarnya pake hasil dari untung cafe?"
Maaf kalau author up nya enggak kayak seperti kemarin yang crazy up terus.
Maklumi ya Keluarga kecil author lagi pada sakit.
Dan atas doa kalian semua alhamdulilah kami udah mulai sehat dan bisa beraktivitas normal lagi..
Terimakasih.
__ADS_1