
Aaa... episode ini mau aku buat episode terakhir.
Selanjutnya akan di sambungkan oleh anak-anak mereka berdua dengan cerita yang lebih menarik, semoga kalian suka... 🥰🥰🥰
Seperti permintaan Aisyah, saat ia ingin pergi ke kampung halamannya. Alvin mewujudkan keinginan Aisyah dengan sebuah kejutan. Saat mulai mendekati tujuan Alvin memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kok, berhenti mas?"
"Tutup dulu matanya,"
"Ha," Alvin langsung mengeluarkan kain untuk menutupi mata Aisyah.
"Eh, kok di tutup mas ?"
"Stt, diamlah. Nanti kamu juga tau, sekarang duduk yang manis," Alvin mengecup kening Aisyah.
"Kok, pipinya merah lagi?" goda Alvin.
"Gpp, mungkin karena matahari." elak Aisyah memalingkan wajahnya.
Sepanjang jalan Alvin selalu mengecup tangan Aisyah, sedangkan tangan kanannya berada di setir mobil. Sampai di tujuan Alvin membukakan pintu untuk Aisyah dan membantu berjalan agar Aisyah tidak jatuh.
Alvin membuka penutup mata Aisyah perlahan, dan memintanya untuk membuka mata.
"Mas..." ucap Aisyah dengan menahan tangis. Mereka berdua ada di sebuah cafe yang Alvin bangun saat bersekolah dulu. Di sambut oleh keluarga mereka dan juga teman sekolah mereka dulu... dihiasi dengan berbagai warna bunga mawar.
Bertuliskan *I Love You Aisyah* di sudut ruangan.
"Hem, apa kamu suka, Ay?" Aisyah memeluk suaminya, menumpahkan kebahagiannya di dada suaminya. Alvin memeluk erat Aisyah, dan mengelus punggung Aisyah.
"Ehmm, kami disini bukan untuk melihat kemesraan kalian berdua,"
"Ayoklah kak, jangan buat istri ku malu." ucap Alvin, saat Aisyah tersipu malu.
"Okey, sorry. Mari Ay, ikut kakak!"
Aisyah melihat kearah Alvin dan Alvin menganggukkan kepala pertanda agar Aisyah ikut kak Nadin.
Nadin membawa Aisyah ke sebuah ruangan, Menganti pakaian Aisyah dengan baju pengantin yang pernah ia pakai saat acara resepsi. Nadin dengan senang hati membantu adik iparnya.
Saat sudah selesai Aisyah di bawa ke sebuah rumah bersama Nandin dan juga Fajar, saat mereka keluar cafe Aisyah bertanya kemana semua orang dan hanya di jawab mereka sudah duluan.
Saat di tengah jalan, Aisyah merasa mual. Dia meminta untuk di supir memberhentikan mobilnya.
Aisyah mengeluarkan isi sarapan tadi pagi.
"Ay, kamu kenapa?"
"Aku eng..." Aisyah langsung pingsan, Nadin pun memegangi Aisyah agar tidak jatuh. "Mas, tolong!" pekik Nadin khawatir.
"Loh, kenapa?" tanya fajar.
"Bantu dulu, angkat Aisyah ke mobil. Biar aku hubungi Alvin."
Fajar di bantu supir mengangkat Aisyah masuk kedalam mobil dengan kepala berada di paha Nadin. Nadin yang khawatir pun langsung menelpon keluarganya, memberitahu bahwa Aisyah pingsan dan mereka membawanya ke rumah sakit terdekat.
"Ay, bangun. Kamu kenapa ?" Nadin menepuk-nepuk pipi Aisyah.
"Mas, ini kok Aisyah belum bangun juga?"
"Kamu tenang dulu, ya. Ini kita lagi kerumah sakit."
"Pak, buruan!"
Saat ini mereka menunggu Aisyah di depan ruangan UGD, 5 menit kemudian semua keluarga sudah berada di rumah sakit.
"Kak, dimana Aisyah?" tanya Alvin langsung sebab ia yang duluan sampai.
"Masih didalam, masih di periksa." Alvin menunggu sambil mondar-mandir di depan pintu UGD.
__ADS_1
"Dok, gimana keadaan istri saya?" tanya Alvin saat dokter keluar.
"Anda suaminya? lebih baik ikut saya kedalam!"
Alvin langsung di bawa ke tempat Aisyah terbaring.
"Kamu, kenapa Ay ?" tanya Alvin.
"Pusing sedikit, mas."
"Bagaimana dengan keadaan istri saya,Dok?"
"Saya sarankan Ibu dan Bapak ikut saya"
Aisyah di bantu perawat naik kursi roda, menuju sebuah ruangan. Alvin setia di samping Aisyah, saat mereka sudah sampai, Alvin sudah tidak sabar mendengar penjelasan dokter.
"Dok, gimana dengan keadaan istri saya ? Dari tadi ikut saya, ikut saya. Tapi tidak menjelaskan," marah Alvin.
"Mas..."
"Silahkan Bu, naik ke atas !"
"Saya buka bajunya sedikit ya !" ucap dokter.
"Kenapa, Dok ?" tanya Aisyah.
"Biar lebih memastikan, apa penyebab sakitnya Ibu."
"Jangan panggil ibu, panggil saja Aisyah. Saya masih muda Bu Dokter." ucap Aisyah.
"Sepertinya, Ibu dan Bapak akan menjadi orang tua. Padahal baru menikah, sudah di kasih aja duluan," ucap Dokter.
"Ha, maksud dokter, apa ? baru menikah udah dikasih duluan ?, kami sudah menikah sekitar 3 bulan lalu, jangan asal ngomong. Memang kami pakai baju pengantin bukan berarti kami baru menikah." sungut Alvin tidak terima dengan ucapan Dokter.
"Mas..."
"Apa ? memang benarkan jangan asal bicara." Alvin tidak menghiraukan panggilan Aisyah.
"Enggak apa-apa Dok. Suami saya over thinking. Sepertinya dia belum mengerti dengan ucapan Dokter!"
Dokter, meletakan lagi alat di atas perut Aisyah yang sudah di beri jel. "Masih kecil ya, usianya masih 4 Minggu," ucap Dokter.
"4 Minggu?" tanya Alvin binggung.
"Sepertinya kekhawatiran Bapak akan terbayarkan dengan sebuah tangis di dalam rumah selama 8 bulan lagi. Dan Bapaknya harus siap siaga di saat Ibu nya sedang ngidam,"
"Jadi maksud dokter, istri saya lagi hamil ?"
"Tadi kan, sudah di kasih tau. Mas aja langsung marah-marah," ucap Aisyah.
"Alhamdulillah, Allah ngasi kita kepercayaan menjadi orang tua secepat ini." Alvin menghujani Aisyah dengan kecupan di seluruh wajah Aisyah. Ia lupa masih ada perawat dan Dokter di dalam ruangan.
"Makasih, sayang kamu udah mau mengandung anak ku." ucap Alvin dengan Isak tangis.
"Ini anak kita Mas,"
"Maaf, Dok saya marah-marah enggak jelas," Alvin meminta maaf saat mereka duduk di hadapan Dokter.
"Tidak apa-apa, saya juga tadi salah paham."
"Ini obat untuk mengurangi rasa mual, dan juga vitamin menguatkan kandungan." ucap dokter.
"Sekali lagi terimakasih, Dok." ucap Aisyah.
Alvin tidak membiarkan Aisyah. Ia bahkan meminjam kursi untuk Aisyah. Saat mereka di lobi rumah sakit, sudah di tunggu oleh keluarga mereka...
"Gimana, Ay. Kamu enggak apa-apa kan ?"
"Ay, apa yang sakit?"
__ADS_1
"Kenapa pakai kursi roda,"
Begitulah pertanyaan dari Ayah, Ibu, Papa, Mama, dan yang lain.
"Aisyah, engak apa-apa kok. Ibu dan Mama akan jadi Nenek. Ayah, dan Papa akan jadi Kakek." ucap Alvin.
"Alhamdulillah" semuanya mengucap syukur atas kehamilan Aisyah...
Satu persatu mengucapkan selamat pada Alvin dan Aisyah. "Kamu bakal jadi Papa, Al. Dan papa bakal jadi Kakek," papa Dika menepuk bahu Alvin.
"Kamu harus jaga istri mu. Ingat ada penerus keluarga Kusuma di dalam perut istri mu," ucap Mama. Sedangkan Ayah dan Ibu memeluk putri kesayangannya.
"Aku bakal jadi Om, nih. Selamat ya Bang," ucap Tomi.
"Terimakasih, Tom. Tapi ingat kamu harus bantu Abang di perusahan saat Abang lagi urus Kakak dan keponakan kamu," ucap Alvin.
"Wah, tambah lagi nih tugas ku." ucap Tomi mengaruk tengkuknya.
"Itu sih resiko Tom," ucap Fajar.
"Kakak, senang. Akhirnya kalian di kasih kepercayaan secepat ini. Semoga Ibu dan anaknya sehat sampai lahiran," Nadin memeluk Aisyah.
"Baik-baik di dalam ya," Nadin mengelus perut Aisyah yang masih datar.
Mereka kini sudah sampai di rumah Aisyah. Di hiasi dengan dekor pesta, Alvin mewujudkan permintaan Aisyah yang ingin menikah lagi. Dengan mengadakan resepsi di kampung halaman, mengundang para tetangga dan juga teman-teman Aisyah.
Mereka mengucapkan selamat atas berita kehamilan Aisyah. Sahabat Aisyah Vina dan Agus ikut serta dalam mengelar acara besar.
Alvin meminta bantuan Vina dan Agus saat Aisyah meminta ingin menikah lagi.
"Selamat ya Ay, akhirnya ada kabar bahagia juga." ucap Vina mereka berdua kini mereka berdua saling peluk satu sama lain.
"Ay, gimana kalau kita jodohkan anak-anak kita. Biar kita jadi besan," ucap Vina.
"Jangan, enggak boleh," ucap Alvin menentang perkataan Vina.
"Kenapa?" tanya Agus.
"Jodoh itu yang menentukan yang maha kuasa, kalau memang mereka berjodoh ya alhamdulilah, tapi kalau enggak ya kita mau gimana lagi." ucap Alvin.
"Bener juga sih, tapi kan mumpung Aisyah dan aku lagi hamil. Doa kami berdua supaya anak kami berjodoh. Kan doa wanita hamil di dengar" ucap Vina lagi.
"Kan kita enggak tau, jenis kelamin anak-anak kita Vin, kamu ini ada ada aja." ucap Aisyah, Vina mengaruk tengkuknya.
"Entah kenapa feeling ku kayaknya anak kita bakalan jodoh."
"Amin," ucap mereka berempat.
Kini tinggal Alvin dan Aisyah di atas panggung. Alvin berlutut dan mencium perut Aisyah.
"Baik-baik di dalam ya, Aby sama Umy nungguin kamu lahir ke dunia ini." ucap Alvin.
"Terimakasih, sayang. Terimakasih sudah menjadi cinta pertama ku, dan terimakasih sudah menjadi jodoh ku. Menunggu ku selama 5 tahun di negeri ginseng, terimakasih sudah mendukung ku dari bawah. Menerima ku saat aku jadi keponakan bik Ina yang hanya menjadi orang biasa."
"Terimakasih kamu juga sudah menerima segala kekuranganku Mas, saat aku tau kamu jadi Presdir di tempat aku bekerja, saat itu aku merasa aku bakal enggak bisa di terima oleh keluarga mu. karena status kita berdua."
Mereka berpelukan dengan suara riuh tepuk tangan.
Tapi ada satu orang yang membenci hal itu.
Merajut kisah cinta si masa SMA dan di tinggal pergi oleh sang kekasih tanpa ada kabar sama sekali, setelah 5 tahun bertemu lagi tapi dengan dengan derajat yang derajat berbeda. Tapi Dimata keluarga Alvin semua orang sama tidak ada yang berbeda hanya hati dan prilaku mereka yang membedakan.
Keduanya hidup bahagia, menjalani kisah bersama dengan banyak suka dan duka.
Sampai ketemu lagi di kisah selanjutnya semoga kalian suka. Semoga di kisah selanjutnya aku bisa lebih bagus lagi dari pada yang pertama.
***Silahkan tunggu kelanjutannya ***
***Terimakasih buat kalian semua***
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰🥰