Jodoh Cinta Pertama

Jodoh Cinta Pertama
Rapat


__ADS_3

Aisyah terbangun terlebih dahulu di pagi hari seperti biasa, membangunkan Alvin untuk melaksanakan tugas sebagai muslim. Tapi sebelum ia sempat membangunkan Alvin, isi dalam perutnya bergejolak.


"Uwek Uwekk," Aisyah menutup mulutnya dan bergegas kekamar mandi memuntahkan isi perutnya.


Alvin yang mendengar suara rintihan Aisyah, mengucek mata nya seraya memeriksa keadaan Aisyah di dalam kamar mandi.


"Kamu sakit, Ay. Kita ke dokter ya!" pinta Alvin dengan lembut seraya membantu memijat tengkuk Aisyah.


Aisyah mengelengkan kepalanya pelan, dan segera mengambil wudhu. "Sini Mas bantu,"


Alvin dengan telaten membantu Aisyah mengambil wudhu, setelah itu dia juga ikut mengambil wudhu. Melaksanakan sholat subuh dengan posisi Aisyah yang duduk, karena rasa pusing di kepalanya menghampiri.


"Tiduran lagi aja," Alvin membantu Aisyah membaringkan tubuhnya di ranjang.


"Kita ke dokter aja ya,"


"Mas,"


"Hem, aku hubungi dokter pribadi keluarga dulu ya, kalau kamu enggak mau ke rumah sakit,"


"Enggak usah Mas, lagi pula cuma masuk angin biasa, mungkin karena telat makan semalam." Cegah Aisyah yang menahan tangan Alvin ingin menghubungi dokter pribadi.


"Hufff," Alvin membuang nafas kasar.


"Yauda, kalau gitu kamu istirahat," bujuk Alvin.


"Mau nya sama Mas," pintanya


"Yauda sini Mas peluk," Alvin merentangkan tangannya setelah berada di samping Aisyah.


Aisyah menerima uluran tangan Alvin, membenamkan wajahnya di dada Alvin. Tapi suara Alvin membuat Aisyah mendongkakkan wajahnya. "Mas belum mandi loh,"


"Gak apa-apa, aku juga belum mandi Mas," jawab Aisyah kembali membenamkan wajahnya di dada Alvin.


Alvin mengelus puncak kepala Aisyah hingga si empunya tidur di dalam dekapan Alvin. Alvin yang menikmati wajah istrinya yang semakin lama semakin membuatnya gemas.


"Subhanallah, cantiknya istri Aby." gumamnya seraya mengelus pipi Aisyah.


Sinar matahari masuk kedalam kamar melalui gorden yang belum terbuka. Sinar mentari pagi hari yang cerah, beriringan dengan suara kicauan burung yang membuat suasana pagi lebih segar, diiringi dengan semilir angin.


"Eughhh," Aisyah mengerjapkan mata, pandangan pertamanya jatuh pada sosok Alvin yang masih setia memeluknya. Dengan senyuman terindah yang pernah ia liat, dan kecupan hangat tepat di kening sang istri.


"Selamat pagi," sapa Alvin.


"Pagi,"


"Aku ke kamar mandi dulu ya Mas,"


"Mual lagi," panik Alvin.

__ADS_1


"Eh, enggak kok. Mau mandi Mas, udah agak enakan kok."


"Kalau pusing atau apa nanti panggil ya!"


Aisyah mengayunkan langkahnya ke kamar mandi, sedangkan Alvin berkutik dengan laptop nya di atas ranjang.


"Sudah siap semuanya," gumam Alvin. Melihat berkas yang sudah di selesaikan istrinya. Dan berlanjut memeriksa email masuk. Setelah siap dengan laptopnya, bersamaan dengan Aisyah yang sudah keluar area kamar mandi.


"Mas, bajunya sudah aku siapkan."


Alvin beranjak turun dan menghampiri istrinya yang duduk di depan meja hias, memeluknya dari arah belakang. "Terimakasih sayang,"


"Kamu wangi banget," puji Alvin, mengendus leher Aisyah, dan mengecupnya sekilas. Hingga membuat Aisyah meremang.


"Mas,"


"Iya, sayang."


"Kok iya, sih,"


"Jadi apa dong?" tanya Alvin sudah membalikan tubuh Aisyah.


"Udah jam 7, kamu enggak jadi rapat? Lagian aku kesiangan, enggak bisa bantuin mama dan ibu buatin sarapan. Harusnya aku tadi enggak tidur lagi." Aisyah mendadak tidak enak hati pada mertua dan ibu kandungannya.


"Namanya juga lagi enggak enak badan sayang, ya engak apa-apa lah kalau sekali-kali. Kamu sih, di ajakin tinggal di rumah sendiri enggak mau," Alvin mencubit hidung Aisyah.


"Sakit, Mas!" pekik Aisyah.


Sebenarnya Alvin sudah mengajak Aisyah tinggal di rumahnya sendiri, yang sudah ia persiapkan jauh hari. Tapi Aisyah yang sudah nyaman dengan keluarga Alvin dan keluarganya sendiri tinggal satu atap membuatnya enggan jauh dari mereka.


"Ya sudah, jika itu pilihan kamu. Mas, selalu dukung semua keputusan kamu. Sudah di lanjutin aja sisirannya, Mas mau mandi."


"Tadi, siapa juga yang nganguin? coba kalau enggak Mas ganggu pasti aku udah siap." gumam Aisyah de balik pintu kamar yang sudah tertutup.


Kini Alvin dan Aisyah turun bersama di meja makan, setelah perdepatan sengit antara Alvin dan Aisyah. Aisyah yang ingin ikut pergi rapat bersama Alvin tapi di larang oleh Alvin sebab wajah Aisyah masih pucat, walau sudah di tutupin oleh bedak.


Aisyah yang akhir-akhir ini merajuk membuat Alvin menghela nafas panjang dan menurutin kemauan istrinya.


"Kalian mau kemana, ini kan hari Minggu?" todong Oma sesaat mereka sudah ada di meja makan.


"Alvin ada rapat sebentar Oma, Aisyah ingin ikut. Habis itu kami mau ke kampung halaman Aisyah, katanya cucu mantu Oma ini kangen sama suasana sawah.


"Kalian hati-hati, apa perlu papa minta supir sama bodyguard jaga kalian!" tawar papa Dika.


"Enggak usah Pa, Alvin saja yang nyetir. Lagi pula untuk apa bodyguard Pa ? papa ini aneh-aneh aja," jawab Alvin.


"Ya mana tau,"


"Nanti kalau ke kampung, titip salam sama tetangan dekat rumah, sama pak Arifin teman ayah dulu jaga pos kamling,"

__ADS_1


"Iya yah,"


Setelah menjawab pertanyaan ayah, Aisyah menuju dapur yang sudah di isi oleh Mama, dan Ibu. "Maaf, ya Aisyah tadi kesiangan Ma," lirihnya merasa kembali tidak enak pada mertua.


"Engak apa-apa, sayang tenang aja. Mama sama Ibu sudah menyiapkan semuanya."


"Enggak biasanya kesiangan bangun Ay," tanya Ibu.


"Iya, Bu. Tadi Ay tidur lagi setelah subuh."


"Kamu, engak apa-apa kan Ay. Kok wajah kamu pucat." kini gantian Mama Alvin yang bertanya setelah melihat wajah menantunya.


"Eh, iya. Kamu kenapa Ay," kini gantian Ibu yang ikutan panik.


"Cuma masuk angin biasanya, Mama dan Ibu enggak usah khawatir."


Kini mereka semua sarapan bersama tanpa Tomy, si kembar dan Nandin sama Fajar.


"Oh, ya Ma. Yang lain kemana?" tanya Alvin.


"Kakak kamu sama Fajar lagi ada acara, kalau si kembar lagi jalan-jalan di taman sama Tomy."


"Oh,"


Kini Alvin dan Aisyah sudah berada di dalam mobil menuju tempat rapat di sebuah restauran VVIP. Alvin memakirkan mobilnya di depan restauran, membukakan pintu untuk Aisyah tak lupa menghalangi kepala Aisyah agar tidak menyentuh sisi ujung atap mobil.


"Terimakasih, Mas."


"Buat bidadari surgaku, apa pun ku lakukan," di iringi dengan nada genit dan kedipan mata. Mengandeng tangan Aisyah mesra menuju ruangan rapat yang sudah di sediakan.


Ceklek.


"Hallo, selamat pagi." sapa Alvin setelah pintu ruangan terbuka.


"Selamat pagi Pak." hormat mereka dengan membungkukkan badannya.


Bagi mereka yang belum mengenal Aisyah, membuat mereka bertanya-tanya mengapa bisa seorang anak pemilik perusahaan ternama mengandeng wanita di hadapan mereka sesama pengusahaan.


"Maaf, ini istri saya. Dia hari ini menemani saya rapat. Saya harap kalian tidak keberatan, lagi pula sebelum menikah status dia seorang sekretaris, jadi saya rasa dia bisa membantu saya." jelas lavin setelah melihat wajah sebagian dari mereka yang bertanya-tanya.


"Oh, tidak apa-apa Pak. Silahkan Pak, Bu." mendengar penjelasan Alvin membuat mereka lebih menghargai Aisyah, sebagai status istri seorang Presdir Utama.


Rapat di laksanakan kurang lebi 2 jam, dan Aisyah ikut andil dalam rapat tersebut, membuat Alvin bangga terhadap pemikiran Aisyah, yang bisa mendadak nyambung dengan pembahasan rapat kali ini.


Peserta rapat yang lain pun senang dengan hasil diskusi kali ini, yang sedikit banyaknya di pimpin oleh Aisyah, Alvin menyerahkan saja pada istrinya. Karena ia ingin peserta rapat yang lain mengetahui cerdasnya istrinya.


"Terimakasih, Pak Alvin. Saya senang dengan hasil rapat kali ini. Dan untuk Bu Aisyah, kami bangga sama anda, ternyata suami anda pandai cari istri yang cerdas, sudah cantik cerdas pula. Semoga kalian bahagia dan karunia anak-anak yang baik dan lucu." ucapnya tulus.


"Terimakasih, Pak." Aisyah tersipu malu, di puji oleh seorang Bapak yang berkisar umur 40 tahun.

__ADS_1


"Kalau begitu kami pamit dulu." kata Alvin melihat wajah istrinya yang sudah memerah. Merangkul pinggang Aisyah. Hingga membuat para peserta rapat yang masih ada di ruangan itu tersenyum melihat kebahagiaan sepasang suami istri itu.


"Ini pipinya kok merah," goda Alvin


__ADS_2