Jodoh Cinta Pertama

Jodoh Cinta Pertama
3 Cucu


__ADS_3

Selama perjalanan Alvin mengeram kesal mengenai berita yang tidak mengenakan.


Beruntung Aisyah bisa menenangkan Alvin. Tak kalah berbeda dengan Rayhan dan Tomi.


Mereka, juga di hantui rasa takut karena tidak bisa menyelesaikan masalah yang sudah memasuki seminggu ini.


Rayhan sudah melalui asin garam bersama Alvin selama iya menjadi asisten Alvin yang masih sama sama duduk di bangku kuliah.


Tomi yang masih duduk di bangku kuliah saat ini, memang tidak merasakan pahitnya Alvin dan Rayhan merintis dari awal.


Tapi ia juga ikut banyak membantu perusahan Alvin selama Aisyah di rumah sakit dan sampai sekarang. Dia juga merasakan kejamnya kehidupan bisnisman.


Sesampai di rumah, Alvin merangkul pinggang Aisyah. Begitu pula Aisyah yang selalu memeluk lengan Alvin, agar Alvin tidak lepas kendali.


"Assalamu'alaikum" ucap Alvin dan Aisyah.


"Walaikumsalam" ucap mereka yang sudah ada di ruang tamu, sengaja menunggu kedatangan Alvin dan Aisyah.


Sedangkan Rayhan dan Tomi masih membahas mengenai konferensi pers.


"Om, Tante" teriak si kembar langsung berhanbur kepelukan Aisyah.


"Ya, ampun Tante kangen banget sama kalian" ucap Aisyah sedikit berjongkok agar bisa memeluk si kembar.


"Eittss, sebenernya kalian ini keponakan om apa Tante Aisyah sih, kok Om nya di cuekin"


Alvin juga ikut berjongkok.


"Kami ini keponakannya Om sama Tante, tapi entah kenapa sekarang kami lebih sayang sama Tante" celetuk Vita.


"Iya, soalnya Om selalu marahin kami kalau kami salah, berbeda dengan Tante yang selalu baik sama kami" timpal Vika.


"Enggak boleh gitu, Om juga kan sayang sama kalian. Buktinya Om bawa hadiah untuk kalian" ucap Aisyah.


"Yee, Om bawa oleh oleh" mereka langsung saja memeluk Alvin.


"Kalau ada maunya aja inget sama Om" Alvin mencubit pipi si kembar.


Aisyah menyalami satu persatu yang ada di ruang tamu...


Alvin mengendong si kembar di kedua sisi menyusul Aisyah yang sudah bersama keluarga.


"Oh ya Om, kata mama kalau Om pulang bakal bawa adik buat kami" lagi Vita lebih cerewet di banding Vika.

__ADS_1


Aisyah menelan saliva nya, mendengar ungkapan si kembar... Malu rasanya di tanya seperti itu sama anak kecil dan di hadapan keluarga besar.


"Doain saja, biar Tante kalian cepat ada adik di dalam sini" Oma mengusap lembut di perut Aisyah.


"Oma, kami kan baru menikah belum juga ada satu bulan Oma"


"Kalian itu hampir 2 bulan loh menikah, kok di bilang belum ada 1 bulan" Nadin datang membawa camilan untuk semuanya.


"Makannya liat dulu calonya, jangan main pergi pergi enggak jelas kan nyesel udah nyia nyiain Aisyah selama hampir sebulan, untung Aisyah sabar, dan terima nikah sama kamu.


Kalau enggak di tinggal bakal kapok" lanjut Nadin lagi. Ia betul betul kesal terhadap sikap Alvin ke Aisyah.


"Yahh, kakak itu kan dulu kalau sekarang mana mungkin aku nyia nyiain istri ku ini." Alvin mencium pipi Aisyah di hadapan seluruh keluarga.


"Mas," Aisyah bicara tanpa membuka mulut.


"Pengantin baru, masih anget angetnya." Celetuk Oma yang membuat semua tertawa.


"Kalian baik baik saja kan?" tanya ibu.


"Alhamdulilah baik Bu," jawab Aisyah.


"Kalau gitu kalian enggak lupa kan, tugas kalian libur di sana selama 1 Minggu?" kali ini papa bertanya.


"Tugas,untuk segera buatkan kami cucu. Kan ayah juga mau menimang cucu, mumpung masih sehat. Kalau liat si kembar ingin rasa cepet cepat punya cucu dari kalian " timpal ayah.


"Ehh, kirain besan aja yang mau menimang cucu, kami juga mau menimang cucu lagi." mama mengenggol lengan papa.


"Iya, betul. Kami juga mau kan udah lama enggak gendong bayi" jawab papa.


Mereka tertawa riang bercanda seperti ini menghilangkan rasa kesal karena berita tak baik.


Sementara Angel yang tidur di ruang tamu, mondar mandir bak setrika.


Ingin keluar tapi takut, akan kemarahan Alvin.


Jadi ia tetap duduk di ujung ranjang sambil memainkan ponsel...


Ternyata sang papa dan mama Angel sudah mengetahui berita ini, bahkan papanya rela menunda jadwal meeting penting hanya untuk kembali ke Indonesia untu melihat keadaan anaknya.


Dan juga mencari tahu kebenarannya. Sang papa yang sangat marah, bahkan ia inggin Alvin segera menikahi anaknya. Ia tidak peduli kalau Alvin sudah punya istri. Yang ada dipikiran orang tua itu adalah nama baik keluarga mereka.


"Enaknya kita punya cucu berapa dari Alvin" tanya papa.

__ADS_1


"Enaknya sih dua besan, kan biar adil bisa satu satu kita yang merawatnya." jawab ayah.


"Kok kayaknya kakek dua ini sudah tidak sabar menimang cucu ?" ibu dan mama Alvin mengeleng geleng melihat tingkah suami mereka.


Bahkan Aisyah tidak berani ikut dalam pembicaraan mereka, mendengar keempat orang tua nya itu berbicara mengenai cucu, Aisyah ingat akan hal di mana ia bersama Alvin dalam malam yan panjang dan panas.


Alvin melihat ekspresi wajah Aisyah yang sudah merona, sangat gemas rasanya. Ingin menerkam Aisyah detik itu juga, tapi tidak mungkin di hadapan keluarga besar.


Jadi ia memotong pembicaraan keempat orang tua itu.


"Gimana kalau tiga? Jadi mama dan papa bisa jaga satu. Ibu dan ayah bisa jaga satu lagi. Kami hanya menjaga satu. Atau Oma juga mau menjaga yang satu lagi.


Biar kami bisa buat kan banyak lagi cucu yang banyak buat kalian." ucap Alvin.


Mereka semua menatap Alvin, bahkan Oma yang sedang bermain dengan si kembar dan Nadin juga ikut menoleh setelah mendengar celetuk an Alvin.


"Baiklah, diam kalian aku anggap setuju. Ayo sayang kita buatkan cucu yang banyak buat mereka semua."


Alvin pun tak segan segan mengendong Aisyah menaiki anak tangga menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


Aisyah berusaha menahan malu, menyembunyikan kepalanya di dada Alvin.


"Mas, turunin malu tau kan banyak liat" gerutu Aisyah.


"Udah diam, atau mau di sini saja"


Mereka yang di berada di lantai satu, tertawa dengan di iringi gelengan kepala.


Angel yang mendengar tawa riang itu ikut keluar kamar, tapi setelah sampai ruang tamu hanya ada keluar besar Alvin dan Aisyah yang saling balas tawa.


Bahkan Rayhan dan Tomi yang baru masuk pun ikut binggung melihat mereka semua tertawa.


Rayhan bertanya sama Angel tanpa mengunakan suara, hanya di balas dengan gelengan kepala Angel. Ia juga tidak tau sebab ia baru keluar kamar.


Mereka bertiga bagai patung yang mendengar para orang tua tertawa bahagia.


Sampai mereka semua terdiam baru lah Rayhan Tomi dan Angel berani mendekat dan duduk di sofa.


Terimakasih...


Jangan lupa tinggalkan jejak.


__ADS_1


__ADS_2