Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Penolakan Orang Tua Aldi


__ADS_3

POV Prameswari


Pagi ini cuaca di Pekanbaru sangat cerah. Seperti biasa aku menyiapakan sarapan, menu sarapan pagi ini adalah roti panggang isi selai kacang dengan jus alpukat tanpa gula. Setelah sarapan selesai kubuat, aku menikmatinya di teras sambil membaca buku.


Pagi Kang Mas… gimana suasana kampung?


Kukirim pesan ke Aldi untuk mengawali pagi ini sekaligus kuperlihatkan menu sarapanku. Tidak lama kemudian….


Pagi Prames…. Suasana kampung asyik banget lah… udara seger, mau makan juga sudah ada yang masakin nih. Beda kalau di Pekanbaru, apa-apa harus sendiri he he he….


Itu adalah balasan dari Aldi. Tidak lama kemudian, hpku berbunyi lagi dan ternyata panggilan video dari Aldi. Aku angkat telfonnya dan kami mulai ngobrol ringan seperti biasa. Tiba-tiba Aldi mengatakan bahwa ada orang tuanya yang ingin ngobrol bersamaku. Meskipun gugup namun aku mengiyakan permintaannya. Aku berusaha untuk mengendalikan diriku agar tidak grogi saat harus berbincang dengan orang tua Aldi.


Beberapa saat kemudian, Aldi sudah bersama bapak dan ibunya. Kami saling menyapa dan memperkenalkan diri dan kami akhirnya terhanyut dengan obrolan ringan kami. Ternyata orang tuanya Aldi ramah dan menyambutku dengan baik. Ditengah obrolan kami, Aldi pamit ke belakang karena katanya sakit perut. Maka tinggal kami bertiga dan disaat itulah beberapa pertanyaan yang sensitif kemudian ditanyakan oleh orang tuanya Aldi.


“Nduk, maaf bapak mau tanya tapi jangan tersinggung ya….” kata bapak penuh hati-hati.


“Iya pak, silahkan” kujawab dengan rasa penasaran dan takut.


“Begini nduk, kelihatannya nduk Prameswari punya hubungan khusus dengan Aldi, apakah itu benar nduk? Tanya bapak.


Aku tiba-tiba bingung harus menjawab apa sama bapak, rasanya seperti ditodong dan nggak bisa jawab apa-apa. Gugup sekali dan kenapa pula Aldi pergi.


“Nggak usah takut Nduk, jawab saja, bapak dan ibu hanya ingin tahu” lanjut bapak.


“Kami memang punya rencana pak, bu jika memang kami direstui dan alam semesta mendukung maka kami akan melanjutkan hubungan ini untuk berjalan bersama-sama dengan Kang Aldi” akhirnya dengan rasa gugup ku jawab pertanyaan bapak.


“Tidak apa-apa nduk, yang namanya perasaan itu wajar bisa jatuh kepada siapa saja termasuk nduk Prames dan Aldi namun kami sebelumnya sudah memiliki rencana untuk menjodohkan Aldi dengan salah satu anak sahabat bapak yang kebetulan memang sudah kami kenal dekat” terang bapak.

__ADS_1


Ucapan bapak seperti sembilu, meskipun diucapkan dengan nada yang selembut mungkin namun aku tahu jika hubungan kami sepertinya aka nada penghalang yaitu restu bapak dan ibunya Aldi. Aku terdiam beberapa detik sebelum menanggapi ucapan bapak.


“Dari dulu ibu memang ingin punya menantu seperti Gayatri anak sahabat bapaknya Aldi Nduk. Jangan tersinggung ya Nduk, jika memang jodoh pasti selalu ada jalan dan memang kami belum memutuskan akan rencana perjodohan ini, namun agar nduk Prames tahu dan tidak terlalu berharap dengan Aldi makanya bapak dan ibu menyampaikannya sekarang mumpung hubungan kalian belum terlalu dalam” ucap ibu lembut.


Duaarrrr!!!


Perih sekali ucapan ibunya Aldi. Ini namanya ditolak secara halus bahkan sebelum aku berjuang. Namun aku berusaha untuk tegar dan menunjukkan senyumku semanis mungkin.


“Tidak apa-apa bu, mungkin memang kami sebenarnya tidak ditakdirkan untuk berjalan bersama, saya akan ikhlas karena betul apa yang dikatakan ibu kalau hubungan kami belumlah terlalu dalam” ucapku sambil menahan sesuatu yang sepertinya akan segera meluncur deras.


Nduk Prames, bapak sama ibu minta maaf ya apabila ucapan kami ada yang melukai nduk Prames. Nduk Prames pasti perempuan baik terlihat dari tata caranya berbicara dengan orang tua. Tentu nduk Prames nanti akan mendapatkan jodoh yang bahkan jauh lebih baik dari Aldi” ucap bapak.


“Iya pak, bapak dan ibu tidak salah jadi tidak ada yang perlu dimaafkan” hanya itu yang bisa kuucapkan.


“Ya sudah nduk, bapak sama ibu mau ada acara dengan tentangga yang lagi punya gawa jadi sampai di sini dulu ya nduk… berbahagialah selalu ya nduk. Selamat pagi” pungkas ibu.


Untuk mengurangi perasaan sedih yang muncul karena pembicaraan dengan orang tua Aldi maka aku kembali menghabiskan sarapan meskipun aku tidak ada selera lagi namun logikaku masih jalan jadi jangan sampai sakit gara-gara urusan jodoh apa lagi sampai mati konyol.


Setelah sarapanku habis maka aku kembali larut dengan bacaan yang sempat tertunda karena menerima telpon dari Aldi. Aku sekarang pasrah, apabila memang kami tidak bisa bejodoh apa lagi jika Aldi tidak berjuang.


Hari sudah menjelang siang dan aku sudah harus bersiap-siap untuk membuat makan siang. Sebelum aku memasak aku iseng untuk membuka WA, siapa tahu ada pesan penting yang masuk. Ternyata tidak ada lalu aku juga penasaran dengan status kontak hpku. Kulihat-lihat dan ketika sampai di kontak dengan nama Kang Aldi, muncul status


taman Tremebsi setelah sekian lama tidak kesini


kukomentari statusnya…


lagi jalan-jalan kah Kang?

__ADS_1


Aku tidak tahu bagaimana aku harus mengakhiri hubungan ini dengan baik-baik saja, sehingga aku masih terus akan menjalin hubungan karena aku yakin Aldi sepertinya belum tahu apa yang sudah aku dan orang tuanya bicarakan. Entah bagaimana responnya nanti apabila dia sudah mengetahuinya.


Klunting!


Iya nih Prameks, kebetulan hari ini ada teman kuliah yang ngajakin ketemu karena udah lama banget nggak nongkrong bareng.


Isi balasan Aldi.


Cowok atau cewek Kang?


Perasaan kepoku meronta-ronta.


Cewek cowok ini ada beberapa yang ikut ketemuan, tenang aja aku nggak bakal ketemuan sama cewek Cuma berdua aja kok. Aku kan menghargaimu. Nih… aku fotokan ya.


Tanpa diminta Aldi sudah memberikan penjelasan sehingga aku tidak jadi cemburu, begitulan sosok Aldi yang berusaha selalu menjaga perasaanku.


Tuh teman-temanku, nanti kalau suatu saat kamu ke tempatku aku kenalkan ya. Itu dari paling kanan ke kiri dari aku ada Wawan, Dea, Alfin, Hendi, Dwi, Rumi, Salsa, Toni, dan Gayatri.


Deg!


Ada sengatan listrik yang tiba-tiba menusuk relung hatiku ketika aku membaca nama Gayatri. Itu kan perempuan yang tadi dibicarakan oleh ibu yang diharapkan sebagai calon menantu.


Kulihat lagi wajah Gayatri dengan seksama. Ternyata cantik, elegan dan tampak cerdas namun berwibawa juga. Pantas saja ibunya Aldi menginginkan ia jadi menantunya.


Aku tidak lagi membalas pesan dari Aldi karena perasaanku sudah mulai tidak baik-baik saja.


Aku segera memulai masak makan siang untuk melupakan perasaan sedih yang sedang melandaku dan aku tidak tahu apakah ini bisa sembuh dengan segera atau tidak.

__ADS_1


Mampukah seorang Prameswari berjuang untuk tetap menjalin hubungan dengan Aldi bahkan tanpa restu orang tua Aldi? Apakah Aldi juga akan meyakinkan bapak dan ibunya tentang hubungannya dengan Prameswari? Atau justru ia akan menyerah dan mengikuti kemauan kedua orang tuanya?


__ADS_2