Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Kabar Bapak


__ADS_3

Tanpa menghiraukan ucapan Aldi, Prameswari terus membersihakan rumah Aldi yang beberapa hari ini memang belum tersentuh tangan sama sekali. Aldi yang merasa tidak dihiraukan akhirnya mengalah untuk mengisirahatkan tubuhnya di kasur lantai yang ada di ruang tamu.


Prameswari dengan cekatan menyapu seluruh ruangan, membersihkan meja kursi termasuk kaca-kaca lalu mengepel lantainya sampai kinclong sehingga dalam waktu yang tidak lama rumah sudah bersih dan tidak ada lagi debu-debu yang menempel seperti tadi.


Kini gadis lincah itu sedang berada di dapur dan mengecek bahan makanan apa yang sekiranya bisa di masak. Ketika membongkar kulkas, ia menemukan daging dan beberapa sayuran yang masih terlihat segar meskipun sudah ditinggal satu minggu oleh penghuninya.


“Ada daging, kubis, kentang, tomat, dan daun seledri. Nah aku bikin sup daging aja lah biar cepet dan tentunya sangat bagus untuk Aldi” gumam Prameswari sedangkan tangannya mulai bergerak untuk meracik bumbu dan menyiapkan bahan-bahan masakannya.


“Semua bahan sudah siap, dan sekarang aku mau masak nasi dulu biar nggak lupa. Kan nggak lucu kalau udah masak enak tapi lupa nasinya. Namanya juga orang Indonesia yang kalau belum makan nasi pasti bilangnya belum makan he…he…he…” Prameswari terkekeh sendiri sambil mencuci beras dalam wadah.


Nasi sudah lagi dimasak, kini Prameswari sudah mulai membuat sup daginganya. Ia sudah lama hidup sendiri jadi sudah pasti bisa masak karena harus bertahan hidup apa lagi jika akhir bulan sudah pasti masakan sendiri lebih nikmat dibandingkan beli makan di luar.


Satu jam kemudian, nasi dan sup daging sudah terhidang dengan sempurna. Prames sengaja menaruh supnya di panci yang tahan panas jadi jika nanti Aldi makan diwaktu sudah malam maka masih hangat.


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan saatnya Prames pulang.


“Kang….bangun sudah sore nih…” Prames mengguncang badan Aldi pelan agar segera bangun.


“Hoaammm… jam berapa sekarang sayang?” tanya Aldi yang sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang masih tertinggal di alam mimpi.


“Sudah jam 5 kang… kamu mau mandi atau gimana kang?” tanya Prames.


“Aku cuma lap badan aja nanti, nggak usah khawatir aku sudah bisa jalan kok meskipun belum normal banget” jawab Aldi meyakinkan Prameswari.


“Ya sudah… tapi kamu hati-hati ya kang…. Ini aku masakin nasi sama sup daging, ini sudah aku siapkan di meja dekat sini ya biar kamu nggak usah jalan terlalu jauh ke dapur dan sekaligus obat juga sudah kutaruh di sini. Lagian kamar mandi juga nggak terlalu jauh kan…. oh iya nanti kalau ada apa-apa tolong segera hubungi ya kang….” Pesan Prameswari.


“Terima kasih sayang… sudah membantuku banyak hal dari menungguku, merawatku, sampai bersih-bersih dan masak dan itu semua memudahkanku” ucap Aldi tulus.

__ADS_1


“Sudah jadi kewajibanku untuk saling membantu kang… jangan lupa hp standbay ya… aku masih takut jika terjadi apa-apa” kata Prameswari yang masih sedikit khawatir meninggalkan kekasih hatinya yang baru pulang dari rumah sakit ditinggal sendirian.


“Kamu tidak usah khawatir, aku kan sudah sangat membaik bahkan sudah jalan meskipun masih pincang tapi itu bukan masalah besar, kamu pulangnya hati-hati ya Prames” ucap Aldi dengan nada sedih karena harus berpisah disaat dirinya butuh teman.


“Iya kang…aku pamit ya, sampai jumpa besok…” Prameswari keluar bersama motornya dan perlahan meninggalkan rumah Aldi.


Sementara itu di rumah Aldi setelah Prameswari meninggalkannya…..


“Bagaimana aku harus membicarakan masalah surat wasiat yang ibu kirimkan dengan Prameswari ya? rasanya aku tak kan bisa untuk menghancurkan mimpi kami berdua. Aku tidak ingin menikah dengan Gayatri namun bagaimana dengan pesan terakhir ibu? Aku nggak mau jadi anak durhaka dan aku nggak  mau ibu sedih di sana karena aku tidak menuruti permintaan terakhirnya” gumam Aldi sambil memandangi wajah Prameswari dalam hpnya.


Waktu terus beranjak malam, Aldi tidak lagi melamun namun setelah makan malam dan minum obat ia sedang mencari solusi atas masalah hubungannya dengan Prameswari yang kini diambang kepupusan. Ia meraih hpnya lalu menghubungi Prameswari melalui video call.


“Halo Prames, kamu sudah nyampe rumah?” sapa Aldi.


“Sudah kang…ini sudah beberes, mandi, dan baru saja makan. Kamu sudah makan?” tanya Prameswari.


“Lebih baik aku ngecek keadaan bapak juga, siapa tahu sudah ada perkembangan” lirih Aldi dan tangannya segera bergerak lincah di atas layar untuk mencari nomor Budhe Eni.


Beberapa saat kemudian, telpon diangkat.


“Halo budhe… apa kabar? Sehat?” sapa Aldi.


“Sehat Al… bagaimana keadaan kamu saat ini?” tanya budhe balik.


“Keadaan sudah lumayan banget budhe… Cuma memang masih sedikit pusing dan luka-lukanya belum kering jadi masih pincang kalau jalan” terang Aldi.


“Syukurlah Al… cepat membaik ya biar cepat pulang ke rumah” ucap budhe.

__ADS_1


“Iya budhe… oh iya bagaimana bapak budhe?” tanya Aldi lagi.


“Bapak masih belum ada perkembangan Al… budhe juga bingung padahal rumah sakitnya sudah rumah sakit besar dan alat-alatnya lengkap tapi sejauh ini belum ada perkembangan yang berarti. Kamu yang sabar ya Al… budhe akan terus mendampingi bapakmu kok jadi kamu jangan khawatir, kamu sembuhkan dirimu dulu baru boleh pulang ya…” nasehat budhe kembali meluncur dan itu seperti oase di padang gurung saat hati Aldi sedang merasa gersang saat ini.


“Iya budhe… terima kasih banyak budhe” ucap Aldi dengan tulus.


“Sama-sama Al… budhe tahu banget rasanya bagaimana kehilangan orang yang kita sayang dan apa lagi ini adik budhe sendiri masih terbaring lemah… jadi kita sama-sama saling menguatkan ya Al jangan lupa juga kamu berdoa untuk ibumu dan juga kesembuhan bapakmu” balas budhe Eni yang saat ini sedang menahan tangis sedihnya melihat keluarga adiknya mengalami musibah yang sedemikian besar.


"Iya budhe.... Aku beruntung masih memiliki budhe saat ini yang bisa menguatkan aku disaat aku sedang terpuruk begini" ucap Aldi.


"Budhe, boleh Aldi bertanya sesuatu?" kata Aldi lagi.


"Boleh Al... Mau tanya apa?" budhe tanya balik.


"Apakah budhe pernah dititipin pesan oleh ibu sebelum terjadi kecelakaan?" tanya Aldi dengan hati-hati.


"Seingat budhe, budhe nggak pernah dititpin pesan apapun oleh ibumu Al. kita ketemu bahkan satu bulan sebelum kecelakaan terjadi tapi pembicaraan kita pun tidak ada yang penting hanya ngobrol biasa. Memangnya ada apa ya Al?" tanya budhe balik.


"Ng...nggak papa budhe, hanya ingin tahu saja siapa tahu budhe dititipin pesan karena aku sendiri pun nggak ada pesan yang ibu sampaikan sebelum kejadian" kata Aldi yang memang tidak jujur ke budhe karena ia sempat didatangi ibu dalam mimpi sebelum ibu dinyatakan meninggal dunia.


"Aldi....kalau ada apa-apa jangan dipendam sendiri ya, cerita sama budhe meskipun budhe belum tentu bisa memberikan solusi namun paling tidak kamu tidak merasa sendiri ya nak" ucap budhe dengan penuh perhatian.


"Iya budhe... Terima kasih untuk segalanya. Ya sudah budhe...ini sudah malem, titip bapak ya budhe, besok kalau Aldi sudah diijinkan pulang ke Jawa oleh dokter Aldi kabarin budhe" Aldi merasa berhutang budi dengan budhenya karena beliau sudah merawat bapak dengan baik.


Telpon ditutup setelah budhe membalas perkataan Aldi.


Aldi kini berusaha untuk istirahat karena ia harus segera sehat kembali agar cepat pulang ke Jawa dan menghadapi segala masalah yang bakal muncul di depan sana.

__ADS_1


__ADS_2