
Beberapa hari kemudian, keadaan Aldi dinyatakan membaik dan tidak memerlukan operasi namun dokter belum mengijinkan untuk pindah perawatan karena jaraknya memang jauh meskipun bisa ditempuh menggunakan pesawat.
Aldi hanya pasrah dan ia juga selalu berdoa agar bapaknya lekas sadar karena sampai saat ini, Yadi belum ada perkembangan sama sekali padahal sudah mendapatkan perawatan yang canggih.
Sementara itu, Prameswari masih setia menunggu dan merawat Aldi meskipun jika siang ia harus bekerja namun ketika malam Prames tidak tega untuk meninggalkan Aldi sendirian di rumah sakit. Sehingga meskipun sakit, ia tetap harus menjaga Aldi sampai sembuh.
“Prames, aku ingin segera pulang ke Jawa….Aku ingin menemani bapak di sana” kata Aldi ketika baru saja selesai menghabiskan makan.
“Sabar ya kang, nanti kalau dokter sudah mengijinkan maka aku akan mengantarmu pulang untuk bertemu dengan bapak” jawab Prames sambil merapikan beberapa peralatan makan yang memang masih berserakan di atas meja.
“Tapi aku udah nggak betah di sini sayang” rengek Aldi dengan mata yang berkaca-kaca seperti seorang anak yang sedang meminta mainan kepada ibunya.
“Memang siapa sih kang yang betah di sini? Nggak ada kayanya. Sabar ya… ini semua pasti akan berlalu kok” sahut Prameswari.
“Oh iya, waktu kamu tertidur ada telpon dari Gayatri tuh…. Sampai berkali-kali tapi nggak aku angkat” kata Prames dengan nada penuh cemburu sambil menyodorkan hpnya Aldi.
“Hmmmm…. Mau apa dia telpon berkali-kali?” tanya Aldi.
“Ya mana aku tahu, kalau aku tahu udah aku kasih tahu sama kamu kang…” sungut Prames sambil berlalu ke kamar mandi untuk mandi karena ia pulang dari tempat kerja langsung menuju ke rumah sakit.
“Eh… mau kemana sayang?” tanya Aldi kembali dengan nada khawatir karena Aldi tahu jika Prames sedang didera rasa cemburu.
__ADS_1
“Mau mandi biar nggak panas, tadi aku belum sempat mandi. Pulang kerja langsung ke sini” jawab Prames masih dengan mode bersungut-sungut.
Prameswari segera menutup pintu kamar mandi yang ada di ruangan inap tersebut dan memulai ritual mandinya sedangkan Aldi yang tadi disodori hp sedang mengecek daftar panggilan masuk yang memang ada beberapa panggilan tak terjawab dari Gayatri. Meskipun demikian Aldi cuek dan tidak mau menanyakan ada apa Gayatri menghubunginya sampai beberapa kali. Aldi kemudian menaruh hpnya kembali di meja dekat bed hospital tersebut dan belum sampai hp menyentuh meja, hp berdering tanda ada panggilan masuk dan setelah dilihat ternyata itu Gayatri.
“Halo Gy! Ada apa ya?” tanya Aldi dengan malas setelah mengusap layar untuk menjawab panggilan tersebut.
“Halo mas… mas Aldi kenapa belum pulang juga sampai sekarang? Padahal ibu meninggal dan sudah dimakamkan beberapa hari yang lalu. Kemarin kami sekeluarga melayat ke tempat mas Aldi tapi mas nggak ada. Sebenarnya mas lagi ada masalah apa sih Kok sampai tega ibu meninggal nggak pulang? Sepenting apa sih masalahnya?” cerocos Gayatri tanpa henti bahkan tidak mempersilahkan Aldi untuk menjelaskan apa yang terjadi. Aldi yang mendengar ocehan Gayatri hanya menghela nafas berat dan sangat menyesalkan sikap Gayatri yang meneurutnya tidak punya simpati sama sekali. Gayatri tidak tahu bagaimana ia sedang berjuang dalam menghadapi masalah ini sendirian, Gayatri tidak tahu kenapa ia tidak bisa pulang untuk melihat ibunda tercinta terakhir kalinya. Bukan ia tidak mau namun untuk sekadar bangun dari tempat tidur saja ia belum mampu dan masih butuh bantuan bagaimana ia akan pulang?
“Halo mas? Kenapa diam? Kamu masih di sana kah? Kamu mendengar suaraku mas?” tiba-tiba Aldi tersadar mendengar Gayatri kembali mengeluarkan cerocosannya.
“Iya Gy…aku mendengar kok. Iya aku memang tidak bisa pulang saat ibu pergi. Masalahnya adalah karena aku juga kecelakaan di sini dan untuk bangun dari tempat tidur saja aku belum bisa Gy, jadi bagaimana aku bisa pulang?” kata Aldi yang akhirnya menjelaskan alasan ia tidak bisa pulang.
“What!? Apa…??? Kamu kecelakaan mas? Kok bisa bersamaan dengan bapak dan ibumu? Bagaimana ceritanya? Kamu nggak bohong kan mas?” tanya Gaytari bertubi-tubi.
“Oh….begitu toh ceritanya…. Aku turut berduka cita ya mas, semoga mas sama bapak juga segera sembuh dan aku juga ingin menyampaikan surat dari ibu yang sempat dititipkan ke bapak waktu sebelum kejadian kecelakaan orang tuamu, kan mereka berkunjung ke rumah mas. Ini aku fotokan suratnya ya… dan kalau nanti mas Aldi pulang, aku kasihkan yang aslinya” Gayatri kembali membahas tentang surat titipan Lestari ibunya Aldi.
“Surat itu sebenarnya untuk siapa ya Gy?” tanya Aldi penasaran.
“Surat itu wasiat untuk kita mas” jawab Gaytari.
“Ya sudah fotokan aja dulu aku pengin tahu isinya apa” pinta Aldi.
__ADS_1
“Isinya tentang perjodohan kita kok mas” Gayatri meyakinkan Aldi karena memang ia sudah membacanya.
“Oh” Aldi hanya ber-oh ria tanpa mau menanggapi ucapan Gayatri dengan hal lain.
“Ya sudah Gy, aku mau istirahat dulu ya aku belum sembuh benar dan masih pusing rasanya” lanjut Aldi karena ia tidak mau berlama-lama ngobrol dengan Gayatri, ia tidak enak dengan Prameswari meskipun Aldi hanya berbincang biasa namun Aldi sosok lelaki yang selalu menjaga perasaan pasangannya.
“Cepat sembuh ya mas” pungkas Aldi dan Aldi hanya menjawab sekenanya kemudian segera mematikan telpon tersebut lalu mau meletakan hp kembali di atas meja namun sebuah pesan masuk dari Gayatri tertera di layar hpnya.
Aldi membuka pesan tersebut dan ternyata adalah foto surat yang katanya wasiat dari ibu untuknya dan Gayatri yang dititipkan ke Surono.
Perasaan Aldi membuncah melihat tulisan tangan milik ibunya dan rasa rindu semakin menyeruak dan tanpa disadari lelehan bening menetes membasahi pipinya yang sedikit tirus itu padahal Aldi belum membaca isi dari surat tersebut.
“Kang, kenapa menangis?” tanya Prames dengan khawatir karena tanpa disadari Aldi, Prameswari sudah menyelesaikan ritual mandinya dan kini sudah berganti pakain menjadi pakai santai dengan rambut yang masih basah.
Aldi secepat mungkin megusap air matanya yang sudah terlanjur keluar meskipun tidak lagi sempat untuk menutupinya dari Prameswari dan ia tidak mungkin bisa lari dari desakan pertanyaan Prameswari selanjutnya kemudian ia meletakan hpnya di meja tanpa sempat untuk membaca surat yang telah dikirimkan Gayatri.
Aldi menunggu pertanyaan yang bakal keluar lagi dari bibir mungil milik Prameswari itu, namun beberapa saat bukan pertanyaan yang muncul namun sebuah genggaman hangat di tangannya yang ia rasakan.
“Menangislah jika itu membuatmu menjadi lega kang, jangan malu jika aku melihatmu menangis” kata Prameswari.
Betapa beruntungnya Aldi yang saat ini sedang rapuh namun ditemani oleh seseorang yang begitu paham dengan keadaannya.
__ADS_1
“Terima kasih” ucap Aldi dengan tulus sambil memandang wajah teduh seorang Dewi Prameswari.
“Sama-sama… mari kita lewati ini bersama kang” Prameswari berusaha untuk selalu memberikan kekuatan kepada Aldi sedangkan Aldi masih bertanya-tanya tentang surat tadi, sebenarnya apa yang ingin disampaikan ibunya kepada Aldi? Kenapa Gayatri bilang ini tentang perjodohan? Atau jangan-jangan ia disuruh untuk menikahi Gayatri?