Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Apa yang Mereka Bicarakan?


__ADS_3

Pov Gayatri


Namaku Gayatri seorang gadis desa berumur 28 tahun yang lahir dari keluarga sederhana, bapakku bernama Surono dan ibuku Ratih. Aku tidak tahu banyak bagaimana kedua orang tuaku bisa bertemu dan akhirnya menikah namun yang aku dengar ceritanya mereka berdua butuh waktu yang panjang sampai bisa menikah dan itu yang tidak pernah aku tanyakan ceritanya bagaimana karena ketika aku ingin bertanya kepada bapak dan ibu, mereka seolah menghindar dan ingin menutup-nutupinya.


Sepanjang yang aku ingat, hubungan bapak dan ibu memang kurang harmonis dan aku tidak tahu apa penyebabnya tapi yang jelas bapak selalu bersikap dingin namun karena ibu adalah orang yang sabar maka beliau bisa meredam dan mengimbangi bapak sehingga dari luar terlihat hubungan mereka baik-baik saja.


Aku mengetahui jika aku dijodohkan dengan seorang laki-laki bernama Aldi yang ternyata adalah temanku kuliah sekaligus anak sahabat bapak yang bernama Yadi. Awalnya aku ragu karena aku sebenarnya sudah memiliki hubungan dengan pria lain namun setelah tahu jika laki-laki yang akan menjadi suamiku adalah Aldi maka aku segera mengakhiri hubungan dengan kekasihku dan aku menurut dengan apa kata bapak.


“*Nd*uk, bapak akan menjodohkanmu dengan anak dari sahabat bapak dan tentunya perjodohan ini ada maksud dan tujuan yang harus kamu lakukan karena perjodohan ini bukan perjodohan biasa. Ingat Gy… nantinya jika kalian sudah menikah jangan sekali-kali kamu jatuh cinta sama Aldi” terang bapak pada suatu hari ketika kami sedang duduk berdua menikmati secangkir kopi dan pisang goreng.


“Loh… kenapa pak? Padahal Aldi itu adalah sosok yang baik pak. Bagaimana mungkin aku disuruh untuk tidak jatuh cinta pak? Padahal dimana-mana tentunya orang yang menikah itu nantinya harus saling jatuh cinta pak ya meskipun awalnya dijodohkan. Bapak ini aneh banget deh…. Terus alasan bapak apa memintaku menikah dengan Aldi namun tidak boleh jatuh cinta?” aku penasaran dan tidak habis pikir dengan apa yang bapak akan lakukan.


“Sudah….kamu tidak usah tahu sebabnya apa kamu harus melakukan itu. Yang jelas ini demi keluarga kita nduk jadi jangan tanyakan lagi alasannya yang penting jalankan saja apa yang bapak suruh” tegas Surono tanpa mau mengatakan maksud yang sebenarnya.


“Tapi pak…. yang akan menjalankan kehidupan pernikahan kan aku bukan bapak seharusnya−−−” belum selesai aku bicara sudah dipotong oleh bapaknya.


“Sudah! Bapak bilang lakukan tugas kamu sebagai anak yaitu patuh nasehat orang tua atau kamu mau jadi anak durhaka!? Nanti kalau kamu nggak nurut sama bapak, bapak sumpahin kamu nggak akan bahagia selama hidupmu” sela Surono tanpa memperdulikan pendapatku dulu.

__ADS_1


“Baik pak… Gayatri nurut sama bapak” kataku langsung takut dengan ucapan bapak dan aku tidak mau membuat bapak menjadi murka dan mengucapkan hal-hal buruk lainnya karena bagiku ucapan orang tua itu keramat dan takut terjadi beneran.


Hari terus berganti dan hubunganku dengan Aldi masih tetap sama seperti dulu apalagi aku sudah tahu jika Aldi sudah memiliki seorang kekasih. Namun demikian, aku takut jika harus menentang perintah bapak untuk mundur dari acara perjodohan.


Ting! Tong! Ting! Tong!


Suara bel rumah berbunyi ketika aku sedang mengelap meja yang terkena tumpahan air pada saat itu dan kebetulan aku memang sedang cuti dan pulang kampung.


“Iya sebentar…!” aku berteriak untuk menjawab siapapun yang sedang menunggu untuk dibukakan pintu.


“Eh… ibu Lestari pak Yadi… apa kabar bu pak?” tanyaku untuk menyambut tamu tersebut dan ternyata mereka berdua adalah orang tuanya Aldi.


“Kami baik nduk…. Duhhh makin cantik saja kamu ini, tumben di rumah Gy?” tanya ibu Lestari dengan tersenyum ramah.


“Bisa aja ibu nih…. Iya kebetulan sedang libur dan ini disuruh pulang kampung sama bapak bu” jawabku sambil mempersilahkan mereka masuk dan duduk lalu memanggil bapak dan ibu yang kebetulan mereka sedang sibuk di belakang.


Beberapa saat orang tuaku keluar untuk menyapa mereka sedangkan aku menuju ke dapur membuat minuman dan mempersiapkan camilan ringan untuk mereka.

__ADS_1


Teh melati yang mengepul dengan perpaduan gula membuat aroma wangi menguar begitu aku menuangkannya ke dalam empat cangkir bermotif bunga. Tidak lengkap jika teh disajikan tanpa pengiringnya, maka aku menata beberapa camilan seperti kue kering dan juga kebetulan ada pisang goreng yang dengan cepat tadi aku buat maka kini lengkap sudah dan tinggal aku hidangkan ke orang tua Aldi dan tentu saja orang tuaku.


Aku berjalan menuju ke ruang tamu dengan membawa hidangan tadi dan ketika sampai di ruang tamu ternyata kosong tidak ada siapa-siapa di sana.


“Pada kemana mereka? Apa bu Lestari dan suaminya langsung pulang, kok cepet banget padahal rumahnya agak jauh dari sini atau memang mereka hanya mampir sebentar? Ya sudah lah kalau begitu, aku kembalikan saja ini ke dapur nanti biar untuk bapak dan ibu saja” gumamku sambil putar arah lagi ke dapur.


Belum sampai aku ke dapur, aku mendengar suara orang sedang berbincang dan sepertinya berasal dari kamar bapak.


‘Mungkin itu bapak dan ibu yang sedang ngobrol’ pikirku namun beberapa saat kemudian ada suara perempuan namun itu bukan suara ibu tapi seperti suara bu Lestari.


‘Ngapain bu Lestari masuk ke kamar bapak? Dan bicara sama bapak? Kemana suaminya dan apakah memang mereka belum pulang?’ pikirku lagi dan dengan cepat aku menuju arah pintu depan untuk melihat apakah kendaraan mereka masih ada atau tidak dan ternyata motor pak Yadi masih ada dan berarti benar yang ada di kamar adalah bu Lestari.


‘Kenapa mereka harus berbicara di kamar? Apakah pantas tamu malah berbicara di kamar bukan di ruang tamu? Ya meskipun mereka sahabat tapi kan yang bersahabat bapak sama Pak Yadi namun kenapa ada bu Lestari juga? Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Kenapa sepertinya sangat rahasia?’ pikirku semakin penasaran dan membuatku melangkah mendekat ke arah kamar bapak untuk mencuri dengar, ya meskipun ini tidak baik namun rasa penasaranku sudha tidak bisa terbendung.


Belum sampai ke depan kamar, bu Lestari dan pak Yadi sudah keluar terlebih dahulu dari kamar bapak dan aku segera ke dapur sebelum mereka melihat aku di dekat kamar bapak. Aku memperhatikan mereka ketika keluar yang kemudian diikuti oleh bapak namun anehnya lagi mereka berdua tidak lagi berbincang dan bukannya langsung bercengrama seperti biasa di ruang tamu tapi ini malah mereka langsung keluar dengan langkah cepat dan kalau aku perhatikan bu Lestari ini jalannya agak lemah sampai dipapah dan agak diseret oleh pak Yadi. Aku jadi makin penasaran dengan tingkah mereka apa lagi ketika melihat bapak yang samar-samar tersenyum menyeringai dan itu seperti bukan bapak yang biasanya.


Apa yang terjadi antara Yadi, Lestari dan Surono dan apa yang mereka bicarakan?~~~~

__ADS_1


__ADS_2