
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pihak rumah sakit sudah menyediakan satu kamar rawat inap untuk Aldi. Aldi segera dipindahkan ke kamar tersebut dan Prameswari mengikutinya.
"Kang, mana hpmu untuk kasih kabar ke bapak dan ibu?" tanya Prameswari.
"Jangan kasih tahu bapak ibu ya aku takut mereka khawatir. Kamu tahu kan jarak sana sini jauh jadi biar saja mereka tidak tahu. Kalau tidak keberatan, aku mau minta tolong sama kamu Prames untuk mengurusku selama aku sakit. Palingan cuma sampai luka-lukaku ini kering dan kepalaku tidak pusing lagi. Apakah kamu sudah tahu kenapa kepalaku pusing begini? Bukan karena ada luka dalan kan?" tanya Aldi beruntun.
"Kang, apa tidak apa-apa kalau nggak kasih tahu bapak ibu karena takutnya nanti kamu dioperasi jadi butuh persetujuan dari keluarga" jawab Prames.
"Loh... Memang ada luka serius yang aku alami sayang? Kok harus dioperasi? Bukannya cuma luka-luka ini saja?" tanya Aldi bingung.
"Tadi suster menjelaskan berdasarkan pemeriksaan dokter ada kemungkinan terjadi penggumpalan di otak akibat benturan kang, kalau penggumpalan ini terus terjadi maka harus dioperasi" Prames berusaha untuk menjelaskan keadaan Aldi.
"Apakah pusing kepalaku ini ada kaitannya dengan itu sayang?" tanya Aldi.
"Iya kang, efeknya kepala pusing terasa muter-muter sampai dengan bisa muntah-muntah" jelas Prames.
"Oh... Pantesan aku rasanya pusing kaya muter-muter gitu meskipun nggak sampai muntah-muntah sih" Aldi menggambarkan keadaannya.
"Iya, semoga sih nggak sampe dioperasi kang, tapi kalau sampai itu terjadi kan harus ada persetujuan dari keluarga kang. Jadi apakah kamu tetap nggak mau kasih kabar ke bapak ibu?" tanya Prames lagi.
"Tidak usah sayang.... nanti malah mereka kepikiran karena jauh. Seandainya nanti harus operasi, selama aku masih sadar aku yang akan tanda tangan persetujuannya" akhirnya Aldi memutuskan untuk tidak membuat khawatir orang tuanya.
"Ya sudah kalau memang itu sudah jadi keputusanmu kang, aku akan ngikut saja dan aku akan membantu merawatmu" ungkap Prames.
"Terima kasih sayang... Oh iya, tolong cek tasku itu ya apakah barang-barangku masih utuh atau tidak... Kalau hp sih masih ada. Terus untuk motor aku belum tahu keadaannya Prames" jelas Aldi.
__ADS_1
"Sama-sama kang, aku pasti akan merawatmu karena kita kan sudah berjanji untuk saling membantu apa lagi keluarga kita jauh. Kamu nggak usah mikirin motor dulu ya karena berdasarkan info yang aku terima dari orang yang menolongmu katanya motor sudah diamankan di kantor polisi terdekat. Besok kalau aku ada waktu biar aku urus ya..." Prameswari menjelaskan keadaan barang berharga itu agar Aldi tidak memikirkannya lagi.
"Udah, nanti aku saja yang urus ya.. tapi ya nunggu aku sembuh dulu dan untuk sementara waktu, kamu bisa pakai ojek online dulu ya..." kata Aldi.
"Tenang aja kang, nggak usah dipikirkan yang penting sekarang adalah kesembuhanmu agar bisa beraktivitas seperti biasa" balas Prames sambil mengecek barang-barang pribadi di tas Aldi.
"Gimana dompet dan lainnya masih aman sayang?" tanya Aldi.
"Masih nih, masih utuh semua termasuk isi dompetnya nih nggak ada yang berkurang sepertinya" jawab Prames.
"Oya... Tolong ambilkan satu kartu ATM yang biru itu ya..." pinta Aldi.
"Ini kang" kata Prames sambil menyodorkan kartu ATM yang dimaksud.
"Kamu pegang ya sayang... Itu untuk kebutuhan aku dan kamu selama aku sakit. Untuk kita makan, biaya rumah sakit dan juga nanti transport kamu dari rumah ke sini atau dari sini ke tempat kerja karena nggak mungkin kan kalau kamu ikut liburan di sini juga he he he..."seloroh Aldi.
"Pokoknya aku nggak mau ada penolakan ya Prameks... Pokoknya pegang ATM ini untuk kebutuhan tadi karena aku sendiri mau berdiri saja belum bisa jadi aku minta tolong sama kamu sayang... oh iya, pin ATMnya tanggal lahirku ya sayang" mohon Aldi kepada Prames.
"Ya udah kang, aku pegang ATM nya sekalian nanti aku kuras semua isinya lumayan kan bisa untuk shoping-shoping" sahut Prames sambil senyum-senyum.
" Iya sayangku... Apa sih yang nggak buatmu.. Mau dihabiskan juga nggak papa.. Yang penting kamu bahagia selalu" gombal Aldi.
"Hueekk! Lebay banget kamu kang... Ya udah kang kamu istirahat aja ya aku tahu dari mukamu menahan sakit gitu...aku mau cari makan dulu untuk kita makan malam yang sudah telat ini. Tidurlah nanti kalau aku sudah kembali aku bangunkan. Dan jika ada apa-apa panggil saja susternya ya, aku keluar sebentar kok" kata Prames sambil bangkit dari kursi dekat ranjang pasien.
"Hati-hati ya sayang... Kalau ada aku minta belikan jus buah jambu aja satu ya" pinta Aldi.
__ADS_1
"Ok kang..." balas Prames sambil berlalu keluar dari ruangan kamar inap Aldi menuju ke kantin rumah sakit.
Prameswari berjalan dengan cepat meninggalkan kamar inap Aldi sambil menenteng tas yang berisi semua barang berharga miliknya dan milik Aldi agar aman karena di kamar hanya ada Aldi saja.
Setelah mendapatkan makanan untuk makan malam berdua, Prameswari segera berjalan ke arah kamar inap Aldi kembali namun baru setengah perjalanan ada bunyi hp di tasnya tanda ada telpon yang masuk. Prames mengecek hp siapa yang berbunyi dan ternyata hp Aldi yang berbunyi. Setelah dilihat ternyata nama bapak yang sedang memanggil. Ia tidak mau menganggkat karena itu merupakan privasi. Setelah panggilan berakhir ternyata bapak memanggil lagi dan hal tersebut terjadi berulang kali sedangkan perjalanan Prames ke kamar inap Aldi masih lumayan jauh. Takut telpon bapak penting apa lagi bapak menghubungi disaat hari sudah larut, akhirnya ketika bapak kembali menelpon Prames terpaksa menerimanya.
"Halo selamat malam pak" sapa Prames dengan santun.
"Selamat malam, maaf apakah benar ini nomor anaknya Yadi Mahendra yang bernama Aldi Mahendra?" tanya seseorang di seberang sana yang ternyata bukan bapaknya Aldi.
" Iya benar pak.. Tapi ini hpnya sedang saya pegang, ini saya teman kerjanya pak. Maaf ini bapak dengan siapa? Dan kenapa hpnya bapak ada di njenengan? Nanti saya sampaikan ke Aldi " balas Prames dengan penasaran.
"Maaf sebelumnya ya nak, ini saya tadi menolong bapak-bapak dan seorang ibu-ibu yang mengalami kecelakaan, terus kebetulan di tas mereka ada hp lalu saya berinisiatif untuk menghubungi salah satu nomornya dan kebetulan ada nama kontak anaknya" jelas orang tersebut.
"Astaga.....apa yang terjadi dengan bapak dan ibu Aldi pak?" tanyaku panik.
"Ini mereka tadi mengalami kecelakaan karena ditabrak oleh truk, lalu saat ini ibunya mengalami kritis sedangkan bapaknya belum ada keterangan lebih lanjut namun sepertinya belum sadar juga, jadi ini apakah nak Aldi bisa datang secepatnya di rumah sakit Sarjono?" tanya orang tersebut kepadaku.
"Pak, sebentar saya tanya dulu ke Aldinya ya pak. Apakah bapak masih akan di situ untuk menunggu mereka atau bagaimana pak?" tanyaku.
"Saya harus pulang nak" jawab bapak tersebut.
"Baik pak, kalau begitu tolong nanti berikan hp orang tua Aldi kepada suster yang menjaganya ya pak dan nanti kami akan menghubungi kembali secepatnya" tegasku.
"Baik kalau begitu nak, terima kasih" kata bapak tersebut.
__ADS_1
"Sama-sama, saya juga terima kasih atas informasinya pak" jawabku sambil menutup terlponnya dan seketika aku terbengong karena tidak tahu harus ngapain lagi.
Aku berlari ke arah ruang inap Aldi dan terpaksa harus memberitahukan kabar buruk ini meskipun keadaan di sini juga tidak kalah buruknya dan yang menjadi penasaran kenapa ada dua musibah sama yang terjadi dalam keluarga Aldi?