
Jantungku seperti dihujam sebuah pisau yang tajam. Sakit sekali rasanya dan aku tidak tahu harus menanggapi ucapan Prameswari bagaimana. Aku memandang wajahnya dalam diam dan mencerna lagi apa yang baru saja terucap dari bibirnya.
“Dari mana kamu tahu tentang hal ini Prames? Sedangkan aku belum pernah membicarakannya?” tanyaku memberanikan diri untuk menghilangkan rasa penasaranku.
“Aku tahu saat ngobrol sama bapak dan ibu waktu itu Kang, beliau mengatakan bahwa kamu sudah dijodohkan dengan seorang perempuan anak sahabat bapak” jawab Prames dengan tenang bahkan dia tidak memancarkan raut sedih namun sorot matanya tidak bisa membohongiku.
Hening, aku tidak menjawab ucapannya kembali. Aku benar-benar bingung untuk menentukan mau dibawa kemana arah hubunganku dengan Prames. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya aku harus membuat keputusan secepatnya.
“Prames, meskipun aku sudah dijodohkan namun aku ingin memperjuangkan hubungan ini. Apalagi aku memang tidak ada perasaan apa-apa dengan Gayatri. Memang selama aku kuliah dulu kami sering bertemu karena kebetulan satu kelas dan sering berdiskusi banyak hal dan kami bertemu pun tidak pernah berdua pasti ada temannya. Aku ingin berjuang, mau kan kita memperjuangkan ini? dan kita tunjukan kepada bapak dan ibu bahwa seorang Prameswari juga layak untuk dijadikan menantu” ucapku menjelaskan hubungan dan perasaanku terhadap Gayatri.
“Mengapa kamu mau berjuang? Apakah memang aku layak untuk dijadikan menantu bagi bapak dan ibu? Kalau memang aku layak kenapa mereka masih ingin menjodohkan kamu dan anak sahabatnya?” tanya Prames.
“Ini terjadi karena perjanjian bapak dan sahabatnya yaitu orang tua Gayatri. Ini bukan karena kamu nggak layak dan bahkan bapak dan ibu sebenarnya tidak ada masalah denganmu. Mereka bahkan memujimu cantik dan sopan” jawabku dengan jujur karena memang bapak dna ibu mengatakan hal seperti itu.
“Apakah perjuangan kita tidak akan sia-sia? Kita harus paham bahwa restu orang tua adalah sumber kekuatan bagi kita kalau kita tidak mendapatkan itu sama saja hubungan kita nantinya tidak memiliki kekuatan dan akan tumbang saat terjadi badai. Dan aku tidak mau terjadi seperti itu Kang” ucap Prames dengan tegas. Ya aku suka dengan ketegasannya dalam mengambil sikap, dia tidak pernah merengek untuk mewujudkan segala yang dia inginkan namun ia selalu berpikir jernih dan bijak dalam mengambil keputusan meskipun nantinya bakal menyakiti dirinya.
“Aku belum bisa memastikan itu Prames, yang penting saat ini kita berusaha dulu karena pada dasarnya cinta itu butuh usaha kan? Nanti aku diskusikan juga dengan bapak dan ibuku sebaiknya bagaimana” terangku kepada Prames.
“Bapak dan ibu megambil keputusan untuk menjodohkanmu dengan anak gadis sahabatnya tentu sudah melewati berbagai pertimbangan dan aku yakin itu mungkin keputusan terbaik untuk kehidupan kamu di masa yang akan datang, namun jika kamu mengajakku untuk memperjuangkan hubungan ini mendapat restu dari bapak dan ibu maka aku siap” papar Prames dengan tegas.
“Namun, jika ternyata usaha kita tidak membuahkan hasil maka kita harus menerima dengan ikhlas Kang, dan mungkin memang kita ditakdirkan bertemu namun bukan saling memiliki. Kita harus paham bahwa terkadang apa yang menurut kita baik nyatanya belum tentu jadi mari kita berjalan seperti air yang bisa menyesuaikan terhadap segala kondisi yang nantinya akan kita temui di masa yang akan datang” Prames kembali bersuara untuk menjelaskan keputusannya.
Aku menyetujui keputusan Prames yang akan berjuang untuk mendapatkan restu dari orang tuaku dan aku berharap alam semesta juga mendukungku untuk menjalani kehidupan bersama Prameswari suatu saat nanti. Dan aku punya tugas baru untuk meminta restu kembali kepada kedua orang tuaku. Setelah pembicaraan kami menemui titik terang, aku mengajak Prames untuk pulang karena besok sudah harus kerja.
__ADS_1
Hari-hari berlalu dengan baik. Hubungan Aldi dengan Prames juga semakin baik karena mereka selalu berpikir bijak dalam setiap menyelesaikan masalah. Aldi sering membicarakan hubungannya dengan bapak dan ibu di kampung halaman namun sampai saat ini masih belum menemui titik terang. Orang tua Aldi masih belum bisa menerima Prames dan tetap kekeh Aldi harus menikah dengan Gayatri.
Pada suatu malam, saat Aldi sedang asyik membaca buku, suara notiifikasi pesan masuk ke hpnya.
‘Mas Aldi, apa kabar?’ bunyi pesan dari Gayatri.
‘Kabar baik Gy, kamu sendiri bagaimana?’ balas Aldi.
‘Aku baik. Mas Aldi apakah sedang ada waktu? Ada hal yang ingin aku bicarakan sama mas..’ pesan balasan dari Gayatri masuk lagi.
‘Boleh Gy, aku lagi nggak sibuk kok’ balas Aldi kemudian.
Tidak lama kemudian terdengar bunyi telpon masuk dan Aldi segera menganggatnya.
“Halo mas, maaf ya aku ngganggu kamu malam-malam gini karena memang ada hal penting yang ingin aku bicarakan” jawab Gayatri dengan nada tidak enak hati.
“Nggak papa Gy, santai saja lah…lagian aku nggak lagi sibuk kok. Tapi ngomong-ngomong ada hal penting apa ya? tumben-tumbenan ada yang ingin dibicarakan?” tanya Aldi penasaran.
“Jadi begini mas, kemarin itu bapakku telpon dan ngobrol banyak hal. Sebelumnya maaf banget ya aku mau nanya apakah mas Aldi sudah tahu kalau kita dijodohkan?” tanya Gayatri dengan hati-hati.
Deg!
Waduh… kenapa cepat sekali hal ini terjadi ya? padahal aku belum siap untuk memutuskan ini. Apa yang harus aku lakukan? Kalau begini artinya rencana perjodohan ini bukan lagi omongan belaka.
__ADS_1
“Mas Aldi…apakah mas mendengar suaraku?” tanya Gayatri mengagetkan Aldi.
“Ah iya Gy, maaf… maaf… iya aku mendengar suara kamu kok Gy” balasku.
“Jadi bagaimana mas apakah sudah tahu rencana orang tua kita?” tanya Gayatri kembali.
“Mmmm…. Iya Gy, aku sudah mengetahui” balas Aldi dengan ragu-ragu.
“Jadi menurut mas Aldi bagaimana? Karena dulu saat kit ketemu sepertinya mas sudah ada calon ya?” tanya Gayatri.
“Aku belum bisa memberikan keputusan soal ini Gy, jujur aku bingung karena maaf sebenarnya aku harus jujur sama kamu kalau aku menganggap kamu itu hanya sebatas teman saja tidak lebih… maaf ya Gy, aku terpaksa harus jujur agar tidak ada masalah ke depannya” terang Aldi dengan hati-hati takut menyinggung perasaan Gayatri.
“Iya mas aku tahu, perasaan memang tidak bisa dipaksakan… dan kalau memang mas Aldi sudah mempunyai calon sebaiknya segera beritahu orang tua mas dan aku juga akan mengatakan ini kepada kedua orang tuaku mas agar mereka tidak saling mengharapkan kita untuk menjalankan kehidupan bersama. Agar mas bisa terus menjalin hubungan dengan perempuan yang sudah mas pilih dan aku juga tidak akan mengharapkan mas Aldi” kata Gayatri dengan tegas namun nada bicaranya masih tertera ada kesedihan meskipun Aldi tidak bisa melihat sorot matanya namun nalurinya cukup tajam untuk mengetahui kesedihan Gayatri.
‘Apakah Gayatri memang berharap perjodohan ini terjadi? Namun aku nggak ada rasa sama dia, dan aku tidak mau berpura-pura cinta sama dia yang nantinya hanya akan menyakiti perasaan kita berdua’ batin Aldi.
“Mas Aldi…. Apakah mas masih di situ?” tanya Gayatri mengagetkan Aldi.
“Oh iya Gy, ya udah nanti masalah ini kusampaikan ke bapak dan ibu ya biar kita sama-sama enak dan nggak timbul masalah” akhirnya aku membalas ungkapan tegasnya.
“Baik mas kalau begitu udah dulu ya, aku mau istirahat dulu karena besok harus kerja” ungkap Gayatri.
“Ok Gy…selamat istirahat” tutup Aldi.
__ADS_1
Sambungan telpon Aldi telah terputus dan kini Aldi sedang merenungkan tentang takdir yang akan membawanya di masa yang akan datang. Bagaimana rencana perjodohan Aldi dan Gayatri? Apakah orang tua masing-masing akan memahami kemauan sang anak atau mereka masih mau memaksa Aldi dan Gayatri menjalani kehidupan bersama?