
Aldi hanya terdiam saja sambil memandangi gundukan tanah merah yang belum terlalu mengering, ia tak tahu harus bicara apa oleh karena itu hanya air matanya saja yang terus bercucuran. Aldi sebagai laki-laki tidak gengsi untuk menangis bahkan di hadapan para perempuan sekalipun karena memang perasaannya kini sedang tidak baik-baik saja.
"Yang sabar kang, doakan saja ibu biar kuburnya dilapangkan" bisik Prameswawari memberikan pengiburan.
Tanpa menjawab, Aldi langsung bersimpuh di samping makam sang ibu lalu memanjatkan doa yang ia ucapkan dalam hati. Hal itu diikuti oleh Prameswari dan Budhe Eni.
Doa telah mereka panjatkan dengan hikmat lalu kini taburan bunga mawar merah memenuhi seluruh gundukan tanah. Tak lupa bunga lili putih kesukaan Lestari ikut serta menghiasi rumah barunya.
"Ibu.... Terima kasih sudah menjadi ibuku, melahirkanku, merawatku, membesarkanku, dan mendidikku dengan segenap raga dan nyawa ibu. Maafkan Aldi bu yang belum bisa membahagiakanmu.... Istirahatlah yang tenang bu, Aldi sudah ikhlas karena ini bagian dari takdir yang harus Aldi lalui bu" lirih Aldi yang kini mendekap erat batu nisan yang bertuliskan 'Lestari binti Rohman.
"Ayo kita kembali ke rumah sakit sayang, budhe jadi dijemput Sani kan?" tanya Aldi setelah mereka keluar dari pemakaman.
"Iya Al, kammu tenang aja. Prameswari beneran nggak mau istirahat saja di rumah budhe?" Budhe Eni menawarkan ke Prames untuk menginap saja di rumahnya agar tidak terlalu capek.
"Terima kasih budhe, tapi kapan-kapan saja ke sana, kalau sekarang kasihan Kang Aldi sendirian" tolak Prameswari dengan halus.
"Ya udah budhe, taksi kami sudah sampai duluan jadi kami langsung kembali ke rumah sakit ya budhe" ucap Aldi yang melihat taksi yang dipesannya sudah mendekati gerbang makam.
"Hati-hati ya Al, Prames, nanti kalau ada apa-apa atau butuh bantuan budhe, langsung saja telpon budhe ya, budhe akan siaga 24 jam kok jadi kalian nggak usah sungkan" ucap budhe.
"Terima kasih budhe" balas Aldi dan Prameswari secara bersamaan.
Aldi dan Prameswari kini sudah ada di sebuah taksi online yang sedang menuju rumah sakit.
"Kang, gimana perasaanmu sekarang?" tanya Prameswari memecah keheningan.
__ADS_1
"Perasaanku jauh lebih tenang sekarang setelah melihat makam ibu sayang... ada perasaan lega dan lebih ikhlas dibandingkan kemarin-kemarin. Kaya lebih enteng saja untuk meneruskan langkah" jawab Aldi.
"Pelan-pelan saja... setiap orang pasti akan melewati kondisi ini kok, yang membedakan hanya soal waktu saja kang. Saat ini waktunya kamu yang sedang melaluinya" ucap Prameswari sambil menggenggam tangan Aldi untuk memberikan kekuatan.
"Oh iya... ada hal penting yang aku mau bicarakan sama kamu. Kalau bisa hari ini kita bicara mumpung di rumah sakit ada pakdhe yang masih jaga bapak. Tunggu aku mau telpon pakdhe dulu minta ijin ya" ungkap Aldi yang tangan satunya sudah mencari nomor pakdhe dan tidak lama kemudian....
"Halo" sapa Aldi setelah telpin diangkat
".........."
Pakdhe ini kami sudah selesai dari makam ibu tapi kami mau mampir ke tempat lain sebentar karena ada hal penting yang harus kami lakaukan, apa bisa nitip bapak sebentar lagi pakdhe?" tanya Aldi setelah tadi pakdhe menanyakan keberadaannya.
".........."
"Terima kasih ya pakdhe... maaf merepotkan pakdhe terus jadinya" balas Aldi karena kemauannya dikabulkan langsung oleh pakdhenya tanpa pakai lama.
Akhirnya Prameswari menyetujui dan dengan segera Aldi meminta sopir taksinya untuk ke arah taman yang Aldi maksud tadi.
Suasana taman saat ini sedang sepi karena memang sedang hari dan jam kerja.
Taman ini terletak di tengah-tengah kota, bisa dibilang hutan kota yang versi mini karena memang banyak pepohonan yang rindang jadi meskipun panas terik matahari membakar bumi di taman ini bisa sejuk sekali.
Aldi dan Prameswari memutuskan untuk duduk di bangku yang dilengkapi meja yang berada tepat di bawah pohon beringin.
"Ada hal penting apa ya kang? Kok sepertinya ini serius sekai?" tanya Prameswari.
__ADS_1
"Sebelum aku bicara jauh, aku mau cerita kalau sebelum ibu meninggal beliau ada menitipkan surat wasiat ke sahabatnya. Kamu baca dulu ya, tapi aku mohon maaf banget jika nanti isi surat ini membuatmu terluka tapi aku tidak punya pilihan lain selain membicarakan ini sama kamu Prames" kata Aldi dengan hati-hati.
"Baik kang, tapi itu surat wasiat bukannya untuk kamu? Kenapa aku harus tahu?" tanya Prameswari penasaran.
"Karena ini berkaitan dengan hubungan kita" jawab Aldi dan di situ Prameswari akhirnya ingat pesan dari seseorang yang dikirim ke Aldi saat di rumah sakit dulu dan tanpa sengaja ia ikut membacanya namun sampai saat ini Prameswari tidak menyinggung masalah ini dan sekarang lah saatnya ia harus menerima kenyataan pahit.
Aldi menyodorkan hpnya dan terlihatlah sebuah foto dari surat wasiat Lestari yang memang Prameswari sudah membacanya namun kini ia pun membacanya kembali dengan sorot mata yang pilu.
"Aku siap mundur kang" ucap Prameswari lirih hampir tidak terdengar.
"Alasannya? Apa kita tidak bisa untuk berjuang lagi lebih keras?" tanya Aldi agak kecewa karena Prameswari langsung mundur.
"Ini pesan terakhir dari seorang ibu yang sekarang sudah pergi untuk selama-lamanya kang, dan ibu menginginkan kamu bersanding dengan orang lain yang sudah dipilihnya. Aku yakin seorang ibu pasti memilihkan putranya seorang pendamping yang lebih baik dari yang terbaik. Di sini bukan berarti aku tidak mau berjuang kang, namun apa lagi yang bisa diperjuangkan? Seandainya ibu masih ada mungkin kita bisa berdiskusi masalah ini namun ibu sudah tidak bersama lagi dengan kita. Jadi mau atau tidak, suka atau tidak kita harus menerima takdir ini kang. Bohong kalau aku bakal baik-baik saja setelah ini namun aku yakin semua ini pasti akan berlalu. Mungkin memang kita hanya dipertemuan dan saling mengenal kang namun tidak untuk saling berjodoh" ucap Prames panjang lebar dan berusaha untuk tegar di hadapan Aldi.
"Jujur ini berat banget Prames...aku baru saja kehilangan ibu terus nanti aku bakal kehilangan kamu apalagi keadaan bapak masih seperti ini" Aldi sudah menahan tangisnya karena ia merasa terluka dengan keadaan saat ini.
Prameswari juga bingung dengan keadaan saat ini, apalagi Aldi memang sedang mengalami musibah besar sampai kehilangan sosok ibu.
"Kang, aku yakin ibu pasti sudah menyiapan yang terbaik. Meskipun aku tidak lagi membersamaimu namun ada sosok lain yang akan menggantikanku untuk menemanimu dalam suka maupun duka" kata Prames berusaha memberikan penghiburan untuk Aldi meskipun hatinya tersayat-sayat.
"Tapi aku tidak cinta dengan pilihan ibu, belum tentu aku akan nyaman dan bisa hidup bahagia dengan dia Prames" ungkap Aldi dengan frustasi.
" Kita berpikir realistis saja kang, kamu tahu dulu pertama kita ketemu apakah kamu sudah jatuh cinta denganku? Sudah nyaman denganku?" tanya Prameswari bertubi-tubi.
"Belum lah, baru juga kenal" jawab Aldi singkat.
__ADS_1
"Nah... sama dengan kasus ini. Kamu memang belum suka, belum cinta, belum nyaman tapi nanti ketika kalian sudah bersama setiap saat istilah orang Jawa itu 'witing tresno bakalan soko kulino' yang artinya cinta itu datang karena terbiasa pasti nanti kamu akan nyaman, akan bahagia mesti tanpaku kang. Ibu pasti tidak sembarangan dalam memilih pendamping putranya, aku yakin itu kang" ungkap Prameswari yang saat ini sedang menempatkan dirinya sebagai seorang sahabat bukan pacar yang merasakan cemburu.