
"Duh gustiii... Nyuwun ngapuro" (Ya Tuhan mohon ampunanMu) ucap budhe Eni dalam bahasa Jawa dengan nada bergetar menahan tangis setelah mendengar kabar keadaan Aldi saat ini.
"Gusti... Bagaimana bisa engkau memberikan ujian ini kepada keluarga hambaMU dengan begitu berat" terdengar budhe Eni sedang mengeluh dan mulai terisak.
"Terus bagaimana ini? Padahal Aldi diharapkan datang ke sini karena Lestari sudah dalam kondisi kritis dan dokter sudah mengatakan untuk kemungkinan bertahan hanya 25% ya meskipun sebagai manusia tidak bisa mendahului takdir yang Kuasa" ucap budhe lagi.
"Budhe, aku juga bingung bagaimana. Aldi saja bangun dari ranjang rumah sakit belum bisa apa lagi kalau harus pulang" ucap Prameswari yang ikut menahan tangis.
"Apakah memang Aldi harus dioperasi nak Prames?" tanya budhe Eni.
"Sebenarnya dokter sedang mengobservasi Aldi budhe, kalau penggumpalan di kepalanya bisa diatasi dengan mengkonsumsi obat maka dia tidak harus operasi" jelas Prames.
"Coba nanti nak Prames konsultasi dengan dokter apakah bisa Aldi dipindah rawat di Jawa saja agar bisa sekalian sama orang tuanya dan ada yang nungguin karane kalau di situ kan tidak ada keluarga juga apa lagi dengan kondisi bapak dan ibunya yang begini" budhe Eni memaparkan pendapatnya.
"Baik budhe, besok pagi saya akan konsultasikan masalah ini dengan dokter dan tolong budhe juga update terus perkembangan bapak dan ibu di situ" jelas Prames.
"Itu pasti nak... Dan sepertinya nak Prames ini bukan sekedar teman biasa bagi Aldi ya..? Apakah nak Prames calonnya Aldi?" tanya budhe Eni tiba-tiba.
"Doakan saja budhe" balas Prames singkat.
"Amiiiinnn...Oh iya mana Aldi? Apakah dia baik-baik saja nak?" tanya budhe dengan nada khawatir.
"Ada budhe... Ini sebentar ya" sahut Prames sambil menyodorkan hp ke Aldi namun Aldi tidak merespon sama sekali, tatapannya ke langit-langit namun terlihat kosong.
"Maaf budhe, Aldi sepertinya masih shock dengan kejadian ini" jelas Prames sambil melihat Aldi dengan pandangan iba.
"Ya sudah nak, budhe pamit dulu mau lihat perkembangan Yadi dan Lestari dan sekalian karena ini sudah larut jadi mau istirahat juga" pamit budhe.
"Baik budhe" jawab Praweswari menutup sambungan telponnya.
__ADS_1
Prameswari meletakan hp di meja samping ranjang rumah sakit itu lalu dengan pelan meraih tangan Aldi dan menggegamnya dengan erat.
Mereka berdua larut dalam keheningan dan Prameswari tahu bahwa untuk saat ini Aldi tidak butuh nasehat, yang dibutuhkan Aldi adalah kekuatan untuk menghadapi musibah dalam keluarganya dan Prameswari berusaha menyalurkan kekuatan melalui genggaman tangannya.
"Kang, aku tahu ini tidak mudah untuk dilewati tapi aku yakin kamu kuat, jangan pernah merasa sendiri karena aku akan berusaha untuk di sampingmu melalui ini" ucap Prameswari sambil menatap wajah Aldi yang sayu.
"Menangislah, jika memang itu bisa membuatmu mampu untuk menghadapi ini. Namun jangan sampai kamu putus asa karena orang tuamu di sana sedang membutuhkan doamu juga. Mengenai permintaan budhe tadi, besok aku akan konsultasikan dengan dokter dan kalau memang kamu harus pindah perawatan maka aku akan mengajukan cuti untuk menemanimu" lanjut Prameswari mengungkapkan rencananya.
"Terima kasih sayang... Aku ngantuk, aku butuh tidur" ucap Aldi tanpa memberikan respon lainnya.
"Tidurlah, pejamkan matamu dan mimpilah yang indah. Semoga besok ada keajaiban dan kita memiliki kekuatan baru untuk terus melangkah melewati badai ini" kata Prameswari sambil merapikan selimut yang menutupi tubuh Aldi.
Tanpa membalas apapun, Aldi memejamkan matanya dan karena pengaruh obat juga akhirnya ia tertidur.
Prameswari memastikan terlebih dahulu kalau Aldi sudah tertidur lalu ia bangkit dan keluar dari ruang rawat kemudian mendaratkan pantatnya di bangku yang berderet di depan ruangan tersebut. Matanya belum bisa diajak untuk istirahat meskipun waktu mulai beranjak tengah malam dan akhirnya ia memutuskan untuk membuat perencanaan besok untuk membantu permasalahan Aldi.
Ia lalu duduk di dekat ranjang tersebut dan tidak lupa untuk mengecek cairan infus apakah masih banyak atau tidak. Setelah memastikan semua aman, ia membaringkan kepalanya di sisi ranjang dan mulai memejamkan mata.
Jarum jam menunjukan pukul 4 pagi dan Aldi mulai membuka mata. Aldi kaget setelah membuka mata dengan sempurna ternyata ia berada di rumah sakit dan ia memandang sekeliling. Ia lebih kaget karena di depan pintu ruangan ada ibunya yang sedang duduk lesehan dengan pandangan yang sayu dan wajah yang begitu pucat.
"Bu... Kenapa ibu bisa di sini? Kapan ibu datang ke sini? Dan dari mana tahu alamat Aldi? Apa Prameswari yang tadi kasih tahu ibu?" tanya Aldi dengan penuh keheranan.
Aldi berusaha untuk turun dari ranjang dan ia merasa heran karena tadi sore dirinya tidak bisa berdiri bahkan sekadar menggeser tubuhnya saja ia sudah merasa pusing akibat benturan di kepala. Aldi menghampiri ibunya yang masih diam setelah ia bisa turun dari ranjang.
Tanpa aba-aba, Aldi langsung memeluk ibunya dan ikut duduk meleseh di depan pintu. Ia dekap ibunya dengan erat dan aneh karena badan ibunya sangat dingin sekali.
"Ibu....aku rindu..." ucap Aldi lirih.
Lestari tetap diam dan bahkan membalas pelukan anaknya pun tidak.
__ADS_1
"Ibu...kenapa diam saja? Apakah ibu sakit? Badan ibu dingin sekali. Ayo... Bu sini duduk aja di kursi biar ibu tidak kedinginan" kata Aldi kembali sambil membimbing ibunya untuk bangkit namun Lestari menepis tangan Aldi dan ia menggelengkan kepalanya sambil menatap Aldi dengan penuh haru.
"Sing ngati-ati le, ojo grasah-grusuh anggonmu urip. Sebab ora kabeh ewong iku seneng karo keluargane awak dewe. Tumindako sing becik sanajan wes dilarani. Ojo sampek lali anggonmu tirakat lan elingo marang Gusti sing nggawe urip le. Ibu nyuwun ngapuro ora iso ngancani uripmu sakteruse. Ibu pamit le. Sing kuat, sing sareh" (Hati-hati le, jangan terburu nafsu dalam hidup, yang waspada. Karena tidak semua orang suka dengan keluarga kita. Bersikaplah baik meskipun sudah disakiti. Jangan sampai lupa puasa dan selalu ingat Tuhan yang membuat hidup. Ibu minta maaf tidak bisa menemanimu lagi. Ibu pamit le. Yang kuat, yang sabar) ucap Lestari sambil memeluk Aldi dengan erat.
Aldi tertegun mendengar apa yang diucapkan ibunya dan ia juga heran kenapa ibunya mengatakan hal tersebut seolah-olah mau pergi jauh dan tanpa sadar yang tadinya Aldi sedang memeluk Lestari ternyata kini ia melihat sosok ibunya sudah menjauh meskipun berjalan dengan pelan.
Aldi merasakan jika ibunya sedih dan meratap namun ketika ingin mengejar ia tidak bisa menggerakkan kakinya bahkan ketika ia berteriak ibunya tidak juga menghampiri namun semakin menjauh dari pandangan sambil tersenyum dalam lara.
"Ibu! ibu! ibu! tolong jangan pergi bu...aku masih rindu...aku masih ingin memeluk ibu kenapa ibu sudah pergi?" teriak Aldi namun teriakannya tidak direspon sama sekali.
"Ibu!!!!!" teriak Aldi.
"Kang....!! kang...!! bangun kang...!" teriak Prameswari sambil mengguncang tubuh Aldi yang berkeringat dan berteriak memanggil ibunya.
Aldi mulai sadar dan berhenti berteriak memanggil ibunya. Ternyata Aldi baru saja bermimpi dan sekarang sudah jam 5 pagi.
"Kamu mimpi kang?" tanya Prameswari lembut.
"Iya...aku mimpi bertemu ibu, aku ingin melihat ibu Prames. Tolong videocall dengan budhe ya" pinta Aldi.
"Sebentar ya aku hubungi budhe dulu" jawab Prameswari.
Beberapa kali Prameswari menghubungi budhe Eni namun belum juga diangkat dan akhirnya mereka menyimpulkan jika budhe masih tertidur.
"Prames, tolong nanti kalau dokter sudah datang segera urus perpindahanku ke Jawa ya... aku kangen sama ibu dan aku harus bertemu dengan mereka secepatnya" kata Aldi masih dengan raut khawatir.
"Iya kang nanti aku konsultasikan dengan dokter baiknya bagaimana ya" jawab Prameswari.
Entah takdir seperti apa yang akan dialami oleh Aldi dan keluarganya. Aldi hanya heran kenapa ia memimpikan ibunya dengan sangat jelas bahkan pelukan terakhir ibunya pun masih terasa sampai saat ini seolah-olah adegan dalam mimpi adalah sebuah kenyataan. Ia sangat takut jika tidak lagi bisa bertemu dengan ibunya. Aldi belum siap untuk itu.
__ADS_1