Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Dendam


__ADS_3

“Aku butuh kekuatan Prames… tolong peluk aku…hu…hu…hu…hu…” tiba-tiba terdengar isakan dan itu tidak lain adalah isakan dari Aldi.


Tanpa menunggu lama, Prames memeluk Aldi dengan erat layaknya seorang ibu yang sedang memeluk anaknya. Ia tahu bahwa Aldi saat ini sedang rapuh dan butuh suport agar tidak merasa sendiri.


“Sabar ya kang….ikhlaskan pelan-pelan” kata Prameswari berusaha untuk menghibur meskipun dirinya juga ikut merasakan kepiluan namun ia harus mampu memberikan kekuatan kepada Aldi.


Mereka berdua larut dalam kesedihan. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga itulah yang sedang dialami oleh keluarga Aldi namun Aldi berusaha untuk mencerna dan menerima setiap takdir yang menghampirinya.


Aldi meskipun dalam kondisi yang tidak berdaya namun ia masih berpikir tentang kejanggalan dari peristiwa yang sedang menimpa keluarganya karena ini agak aneh di mana satu keluarga mengalami musibah yang sama sedangkan ia dan orang tuanya berbeda tempat dan Aldi juga teringat akan pesan yang disampaikan ibunya dalam mimpi. Apa kira-kira maksud ibunya menyampaikan pesan itu kepada Aldi?


*****


Di sisi lain, di dalam sebuah rumah yang berisi 3 anggota keluarga yaitu seorang bapak, ibu dan satu anak gadisnya sedang berkumpul di ruang keluarga dan mereka adalah keluarga Gayatri.


“Pak, kapan kita menjenguk bapak ibunya Aldi?” tanya Gayatri.


“Nanti-nanti aja lah….santai saja kenapa, palingan bentar lagi mereka sudah mati tuh” ucap Surono dengan penuh dendam.


“Tadi aku telpon si Aldi pak, tapi kok malah dia nggak bisa pulang katanya pak padahal orang tuanya sedang kena musibah begitu. Kayak anak durhaka aja tuh ternyata Aldi” celetuk Gayatri.

__ADS_1


“Sudahlah Gy, kamu ini jalankan tugas bapak saja dengan baik dan jangan lupa tuh surat wasiat yang sudah bapak siapin untuk menekan Aldi nantinya. Kamu harus main cantik dan jangan lupa kamu tidak boleh jatuh cinta dengan yang namanya Aldi itu. Bapak tidak mau usaha bapak selama ini gagal gara-gara kamu. Dan kamu juga harus tahu si Aldi itu habis kecelakaan makanya dia nggak bisa pulang ke sini” jawab Surono berapi-api seperti memendam dendam kesumbat.


“Hah… kok bapak bisa tahu Aldi kecelakaan, memang dari mana bapak tahu? Aku saja yang komunikasi sama dia nggak tahu pak…” ungkap Gayatri.


“Halah… udah kamu nggak usah ikut campur Gy…” ucap Surono kesal.


“Pak, aku tuh penasaran deh… memang bapak sama keluarga Aldi ada masalah apa sih? Kayaknya kalau di depan mereka bapak ramah dan bersahabat tapi kalau di belakang kenapa benci sekali pak?” tanya Gaytari penasaran karena melihat bapaknya ada dendam ke orang tua Aldi.


“Nanti kalau sudah saatnya bapak akan ceritakan semua, namun tidak sekarang. Sekarang adalah saatnya kamu jalankan tugas dari bapak dengan baik. Itu sebagai wujud bakti kamu sebagai anak dengan orang tua” jawab Surono sambil menyalakan sebatang rokok lalu mengepulah asap dari mulutnya.


Ratih istri dari Surono dari tadi sedang menyimak suaminya yang sedang berbincang dengan Gayatri. Ia tahu jika ada masalah yang pernah terjadi antara keluarga suaminya dan keluarga Yadi yang membuat Surono dendam namun tidak pernah disadari oleh Yadi karena Surono pandai menutupi dendamnya jadi yang terlihat dari luar hanya sebuah persahabatan dua orang yang sangat manis diusia yang bisa dibilang sudah mulai senja.


Ratih melangkah ke arah di mana anak dan suaminya sedang berbincang lalu duduk berdampingan dengan Surono.


“Pak… apa bapak ini tidak lelah? Selama ini selalu menyimpan dendam? Mbok sudah to pak.. hilangkan dendam ini dan hidup dengan perasaan damai pasti bapak akan lebih bahagia. Lagian apa sih yang bapak cari dari menyimpan dendam ini?” lirih Ratih pelan sambil memijat lengan Surono.


“Hmmmm… Bu, kamu ini nggak pernah tahu bagaimana awal mula bapak punya dendam dengan keluarga Yadi kan? Bapak ini saksi hidup dan bahkan masih sangat ingat betul apa yang sudah keluarga Yadi lakukan kepada keluargaku… jadi kamu nggak usah ikut campur bu. Ini urusan bapak dan bapak tidak akan pernah berhenti sebelum dendam ini tersampaikan. Bapak akan buat keluarga Yadi dan keturunannya merasakan apa yang penah keluargaku rasakan bu” ucap Surono makin menggebu-gebu.


“Ya sudah pak… yang penting ibu sudah memperingatkan ini dan jika suatu saat ada apa-apa ibu nggak mau ikut-ikutan pak…ibu takut Tuhan marah sama keuarga kita pak. Kalau memang orang lain ada berbuat tidak baik sama kita pasti Tuhan yang akan membalasnya pak… bukan malah kita yang menyimpan dendam seperti ini apalagi bapak sudah melakukan hal yang sangat tidak terpuji. Namun kalau bapak tidak mau diingatkan ya sudah lah pak…ibu lelah mengingatkan kelakuan bapak ini” ucap Ratih sambil bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju ke kamar untuk menenangkan diri.

__ADS_1


“Tuhan…bagaimana aku menyadarkan suamiku yang keras kepala ini…aku takut Engkau marah dengan perilaku jahat yang sudah dilakukan oleh suami hamba ini ya Tuhan….” Gumam Ratih sambil terisak di dekat ranjang tidurnya.


Sementara itu, Surono masih saja menikmati kepulan asap rokoknya dan sambil menatap ke Gayatri yang sedang menonton televise.


‘Kamu satu-satunya harapan bapakmu ini nak… kamu harus bisa menghancurkan keluarga Yadi agar dendamku ini bisa terbalaskan….dan kamu Yadi akan merasakan bagaimana menderitanya keluargaku pada waktu itu karena ulah keluargamu. Aku tidak akan membuatmu mati dengan mudah namun perlahan tapi sangat menyakitkan ha…ha…ha…ha… rasakan kau Yadi’ batin Surono sambil tersenyum menyerigai layaknya macan yang sedang mengincar mangsanya.


“Gayatri…secepatnya kamu bicarakan perjodohanmu dengan Aldi dan ingat jangan sampai dia tidak mau… pastikan kalian menikah apapun yang terjadi dan jangan sampai kamu jatuh cinta sama si Aldi itu. Kamu paham perintah bapak Gayatri?” tanya Surono.


“Iya pak…Gayatri paham dengan perintah bapak dan Gayatri siap berbakti sama bapak” ucap Gayatri.


“Ya sudah pak, Gayatri mau istirahat dulu ya… nanti kalau mau njenguk ke orang tua Aldi tolong panggil Gayatri di kamar ya pak..” pamit Gayatri sambil berlalu menuju ke kamar namun ketika melintas di kamar ibunya ia melihat ibunya sedang menangis.


“Ibu….ada apa? Kenapa menangis? Ibu ada masalah apa?” tanya Gayatri dengan nada khawatir.


“Sini duduk nduk ibu mau bicara sama kamu” pinta Ratih sambil menepung ranjang di sisinya mempersilahkan gGayatri untuk duduk.


“Ada apa bu?” tanya Gayatri dengan penasaran karena melihat raut muka ibunya sedih.


“Nduk, apa kamu akan melaksanakan perintah dari bapakmu itu? Bapakmu itu sudah gendheng (gila) kenapa kamu mau saja dibodohin bapakmu yang terbakar dendam itu nduk? Ingat nduk, kejahatan itu tidak akan pernah berakhir jika dibalas dengan kejahatan. Apa kamu mau menerima akibat buruk atas perintah bapakmu itu? Ibu nggak mau kamu menderita hidupnya gara-gara bapakmu yang jahat nduk” nasehat Ratih kepada anaknya dan Gayatri masih bingung dengan apa yang disampaikan oleh ibunya.

__ADS_1


__ADS_2