
Budhe Eni dan Aldi sudah memasuki alam mimpi mungkin karena Budhe Eni sudah sangat mengantuk sedangkan Aldi pasti karena pengaruh obat yang tadi diminumnya. Aldi memang masih mengonsumsi obat agar dia bisa benar-benar dinyatakan sembuh.
Tinggal Prameswari yang masih terjaga meskipun ia juga merasakan sangat lelah namun tenaganya lagi dibutuhkan dan mungkin sudah terbiasa tidur larut malam bahkan mendekati waktu subuh semenjak Aldi kecelakaan dan dirawat di rumah sakit.
Prameswari menjalani tugas itu tanpa mengeluh, ia ikhlas menolong bukan hanya kepada orang terdekatnya seperti Aldi namun ia melakukan itu ke semua orang. Kenapa demikian? Karena Prameswari memiliki kasih sayang yang besar kepada sesama makhluk apalagi jika mereka membutuhkan bantuan.
"Kasihan sekali ya kang Aldi... musibah datang bertubi-tubi, semoga dia tetap kuat" gumam Prameswari dalam hati sambil menatap Aldi yang kini entah sudah sampai mana mimpinya karena terlihat tidurnya sangat pulas.
Waktu sudah menunjukkan jam 4 pagi dan Prameswari membiarkan Budhe Eni tetap tidur tanpa membagunkannya seperti pesan budhe tadi karena Prameswari merasa kasihan jika budhe harus terganggu tidurnya.
Prameswari akhirnya tidak lagi bisa menahan kantuknya. Ia bersandar di atas kursi yang ia duduki lalu memejamkan mata menyusul budhe dan Aldi.
Satu jam kemudian, perlahan mata Aldi mulai terbuka dan kembali ke dunia nyata. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali ketika harus melihat sinar lampu yang terang.
Aldi membuka mata dengan sempurna dan ia baru ingat jika saat ini ada di rumah sakit. Perlahan Aldi duduk lalu melihat keadaan sekitar.
Budhe terlihat tidur di kasur lantai yang letaknya tidak terlalu jauh. Bapak masih berada di ranjangnya tanpa bergerak dan tak luput matanya juga melihat pemandangan yang memprihatinkan yaitu ia melihat Prameswari dengan posisi bersandar di kursi namun matanya terpejam pulas.
"Ya ampun... lelaki macam apa aku ini yang membiarkan seorang wanita tidur dengan posisi yang sangat tidak nyaman sedangkan aku malah enak-enakan tidur di sofa. Maafkan aku Pramewari" batin Aldi berkata dalam hati sambil kakinya melangkah untuk menghampiri pujaan hatinya.
"Prames.... bangun sayang, pindah ke sofa biar enak tidurnya" ucap Aldi sambil mengguncang bahu Prameswari agar terbangun.
Beberapa saat kemudian ada pergerakan dari Prameswari karena merasa ada yang mengusik dunia mimpinya. Perlahan namun pasti, ia membuka matanya lalu menatap sekeliling dan terlihatlah bapaknya Aldi yang masih terdiam tanpa mau membuka matanya sedangkan Aldi sedang berdiri tidak jauh darinya.
"Sorry kang, aku ketiduran" ucap Prameswari merasa bersalah.
__ADS_1
"Nggak papa Prames, kamu juga butuh istirahat kok. Ya udah kamu pindah aja ya ke sofa dan lanjut istirahatnya. Gantian biar aku yang jaga bapak" Aldi membalas ucapan Prames dan sekaligus menyuruhnya untuk istirahat lagi di sofa karena hari juha masih gelap.
"Kamu unggak papa jaga bapak kang? Mending kamu aja ya yang istirahat. Aku udah lumayan lama juga kok istirahatnya" bantah Prameswari yang langsung mendapat lirikan tajam dari Aldi.
"Nurut ya... Aku udah sangat cukup banget istirahatnya dan aku mampu untuk jaga bapak jadi kamu nggak udah khawatir. Aku malah yang akan khawatir kalau kamu nggak bisa istirahat dengan baik malah nanti kamu yang sakit malahan repot sayang" Aldi tidak mau dibantah untuk kali ini.
"Ya udah deh kang, nanti kalau ada apa-apa bangunkan aku atau budhe ya" pesan Prameswari sambil bangkit dan menuju ke sofa lalu melanjutkan istirahatnya karena memang badannya masih sangat lelah.
Lain halnya dengan Prameswari yang kini sudah mengarungi dunia mimpi kembali, Aldi terduduk di kursi di samping ranjang bapaknya yang tadi habis digunakan Prameswari.
"Apa sebenarnya yang terjadi dengan keluargaku ini ya? Apakah ini betul hanya musibah biasa saja yang Tuhan turunkan ke keluarga kami?" gumam Aldi dalam hati.
"Lalu apa maksud pesan yang disampaikan ibu dalam mimpiku pagi itu? Apakah itu hanya bunga tidur saja karena aku sangat khawatir dengan ibu saat itu? Lagian sampai sekarang juga nggak ada mimpi apa-apa lagi. Ah...mungkin itu hanya mimpi biasa saja dan semoga tidak ada kejadian apa-apa lagi cukup sudah karena aku juga sangat sedih. Bagaimana tidak, ibu meninggal bahkan disaat aku terbujur tidak berdaya dan kini bapak juga tidak tahu kedepannya bagaimana. Semoga bapak panjang umur.
"Le.... Sing sabar yo, ikhlasno ibumu iki bali nang Kuoso. Ojo mbok tangisi terus. sing kudu mbok eling-eling iku kowe kudu sing ngati-ngati le mergo beboyo lagi marani nang keluargane awak dewe. Ojo nganti lali anggonmu tirakat" artinya (Le... Yang sabar ya, ikhlaskan kepergian ibumu menghadap Yang Kuasa. Jangan menangis terus. Yang harus kamu ingat adalah kamu harus selalu berhati-hati dan waspada karena ada bahaya sedang mengintai keluarga kita)" ucap ibu yang tiba-tiba sudah berdiri di depan Aldi dan membuatnya sangat kaget.
"Ibu....." Aldi memanggilnya dan berusaha untuk menggapai tangan ibunya namun sepertinya jarak yang memisahkan mereka berdua sangat jauh padahal Aldi melihatnya mereka sangat dekat saat ini.
"Ibu... Kembalilah jangan tinggalkan Aldi bu!" teriak Aldi karena ibunya tidak lagi bicara malah perlahan pergi meninggalkan Aldi sedangkan ia sendiri terpaku tanpa bisa mengejar ibunya.
Tiba-tiba...
"Al... Bangun Al... Kamu mimpi ya!?" Budhe Eni berusaha untuk membangunkan Aldi dengan menepuk-nepuk pipinya karena tadi saat baru terbangun budhe mendengar Aldi sedang berbicara.
Budhe mengira Aldi memang sedang bicara sungguhan namun setelah didekati ternyata matanya terpejam lalu air matanya kelur makanya budhe segera membangunkannya.
__ADS_1
"Aldi... bangun nak" ucap Budhe Eni lagi.
"Huh! Huh! Huh! Astaga... Apakah aku ketiduran budhe?" tanya Aldi yang tergagap kaget.
"Iya sepertinya kamu ketiduran dan mimpi. Kamu mimpi buruk kah Al? Kok sampai menangis dan memanggil almarhumah ibumu?" tanya Budhe Eni lagi.
"Tadi ibu datang ke sini budhe, aku kira ibu beneran datang ternyata ini hanya mimpi belaka" balas Aldi yang nampak kecewa karena ia berharap pertemuannya dengan ibunya itu nyata.
"Mungkin kamu kangen sama ibumu Al" sahut Budhe Eni.
"Tentu budhe... Nanti siang aku mau berkunjung ke makam ibu ya budhe" kata Aldi memberitahukan rencananya ke Budhe Eni.
"Boleh Al... Nanti sama budhe aja ke sana ya sekalian budhe mau pulang dulu nanti biar pakde yang gantian jaga Yadi di sini ya... Kamu mau ajak Prameswari atau nggak Al?" tanya budhe.
"Nanti kutanya dulu orangnya budhe, takutnya dia masih capek dan butuh istirahat lebih karena semalam tenyata dia tertidur di kursi ini sampai subuh dan pasti badannya pegel-pegel semua" jelas Aldi sambil memandang Prameswari yang masih memejamkan matanya di atas sofa dan Aldi tidak berani membangunkannya karena dia baru setengah jam yang lalu merebahkan tubuhnya di sofa itu.
"Iya kasihan dia Al, semalam padahal budhe sudah pesan ke dia untuk membangunkan budhe tapi malah sampai pagi nggak dibangunin mungkin budhe terlalu capek jadi nggak terbangun seperti biasa" jelas Budhe Eni yang ikut memandangi Prameswari.
"Calonmu perhatian banget ya Al? Jarang-jarang ada perempuan muda yang mau berkorban menemani laki-laki bahkan sebelum jadi pasangan suami istri" tambah budhe.
"Beruntung banget memang aku ketemu Prameswari budhe... Dia selalu ringan tangan dalam membantu siapapun tidak hanya orang yang dia sayangi tapi semua orang yang membutuhkan dia selalu bantu. Dia adalah perempuan yang mandiri, teliti, waspada, tidak boros, dan selalu berpikir sebelum bertindak" pujian Aldi begitu saja melunjur dari mulutnya.
"Semoga kamu berjodoh dengannya Al" sahut budhe.
"Amiiinn" balas Aldi singkat.
__ADS_1