
"Jadi begini, kemarin sebelum kejadian kecelakaan bapak dan ibumu datang ke rumah om dan menitipkan sebuah surat dan sepertinya kamu juga sudah dikasih tahu oleh Gayatri, betul begitu?" tanya Surono memastikan.
"Betul om" balas Aldi singkat.
"Jadi kapan pesan ibumu dilaksanakan? om berharap secepatnya dilangsungkan pernikahan antara kamu dan Gayatri" sambung Surono bahkan seperti tidak mengerti perasaan Aldi yang sedang tertimpa musibah.
Di belakang Aldi ada sosok perempuan yang hatinya sedang tersayat-saya, siapa lagi kalau bukan Prameswari. Ia tahu betul bahwa hal ini akan terjadi namun sepertinya Prameswari belum siap untuk mendengarnya sehingga ia berinisiatif untuk meninggalkan ruangan.
"Maaf kang, om, Gayatri, saya tinggal dulu ke kantin ya tadi mau beli minum malah lupa" Prameswari memberi alasan agar bisa secepatnya untuk keluar ruangan.
"Nggak nanti aja Prames?" tanya Aldi sambil memandang wajah Prameswari yang jelas sekali sedang menyimpan kesedihan.
"Sekarang saja kang, mumpung kamu ada temannya.. mari om, Gayatri" pamit Prameswari dan tanpa menunggu jawaban mereka ia segera melangkah cepat meninggalkan kamar.
Bukan kantin tujuan Prameswari setelah keluar dari ruangan rawat inap itu namun ia segera menuju ke toilet dan ia menangis tanpa suara di sana. Prameswari dari tadi sudah menahan agar tangisnya tidak keluar karena ia akan menunjukkan ke Aldi bahwa dirinya baik-baik saja ketika nanti ia harus berpisah dengan kekasih hatinya.
"Ya ampun, kenapa aku mesti nangis begini sih? Cepat atau lambat pasti aku bakalan berpisah dengan dia juga. Semoga aku cepat sembuh dari luka ini" gumam Prameswari setelah puas menangis dan kini ia membasuh muka serta memoles wajahnya dengan sedikit bedak agar tidak terlihat terlalu sembab.
Prameswari segera beranjak dari toilet dan meneruskan tujuan awalnya yaitu ke kantin.
Semestara itu di dalam ruang rawat Yadi....
__ADS_1
"Maaf om, untuk hal itu aku belum bisa memutuskan. Om tahu sendiri kan ibu barus saja pergi sedangkan bapak masih dalam keadaan seperti ini. Lagi pula menurut budaya Jawa kalau ada salah satu keluarganya yang meninggal tentu tidak bisa melangsungkan pernikahan, harus menunggu pergantian tahun dulu om" jelas Aldi yang memang masih mengikuti aturan budaya Jawa namun di sisi lain ia juga sedang mengundur waktu karena ada hati yang masih ingin ia jaga.
"Om tahu hal itu, tapi kalau cuma nikah secara agama juga nggak papa lah Al. Dan kalau mau menunggu Yadi sembuh pasti lama dan kita juga nggak tahu kapan Yadi bakalan sembuh... Iya kalau sembuh kalau nasibnya kaya Lestari, ibumu gimana?" ucap Surono tanpa menggunakan perasaan hanya asal ucap saja dan membuat Aldi membulatkan matanya.
"Maksud om apa ya!? Nyumpahin bapak saya nggak panjang umur gitu!?" Aldi terlihat emosi mendengar ucapan Surono.
"Maaf Al, bukan itu maksud om... Om selalu berdoa semoga Yadi bisa bertahan dan sehat kembali, tapi kita kan tidak pernah tahu takdir bapakmu sampai kapan dan mumpung bapakmu masih ada maka om mengajukan untuk melaksanakan pernikahan dulu masalah resepsi nanti saja kalau bapakmu sudah sembuh dan kepergian ibumu sudah ada satu tahun" papa Surono yang memang seolah-olah tidak mau dibantah usulannya.
"Tolong beri aku waktu om, dalam keadaan seperti ini aku mau fokus ke kesembuhan bapak dulu... belum memikirkan masalah jodoh juga" sahut Aldi lemah.
"Om kasih waktu kamu tiga hari Al, setelah tiga hari mau tidak mau kamu harus melangsungkan pernikahan di rumah sakit dan bapakmu sebagai saksi meskipun seandainya Yadi belum sadar juga tidak apa-apa. Kamu tidak ada pilihan lain Al karena ini amanat dari ibumu dan memang harus segera dilakukan, kalau sampai tidak maka kamu akan jadi anak durhaka" ancam Surono dan itu membuat Aldi benar-benar dilema.
"Kenapa om seperti memaksaku untuk menjalani perjodohan ini om? Bahkan dengan waktu yang sangat terburu-buru? Sebenarnya ada apa om?" tanya Aldi dengan penuh curiga terhadap gelagat yang dikeluarkan Surono.
"Om tidak ada maksud apa-apa Al, lebih cepat lebih baik karena apa? Kalau kalian sudah menikah otomatis saat ini kalian bisa saling mendukung, kamu nggak lagi kesepian, dan om juga akan membantu kamu untuk menyembuhkan Yadi secepatnya, apalagi ini amanat dari ibumu atau kamu tidak mau menjalankan wasiat Lestari dan kamu mau jadi anak durhaka Al?" tekan Surono.
"Nggak om" jawab Aldi pasrah.
"Ya sudah kalau begitu nurut saja sama om, lagian om ini sahabat dekat bapakmu jadi pasti om membuat keputusan yang terbaik untuk kamu dan nggak mungkin akan menjerumuskanmu Al" Surono memberikan nasehat seolah-olah dirinya yang paling perhatian.
"Om, aku mau bicara dulu berdua sama Gayatri kalau begitu" pinta Aldi.
__ADS_1
"Boleh...boleh... Silahkan saja, om mau keluar dulu kalau begitu ya" Surono terlihat sumringah karena merasa rencananya akan segera berhasil untuk menikahkan anaknya dengan Aldi demi satu tujuan yaitu DENDAM.
"Apa yang akan kamu bicarakan mas?" tanya Gayatri setelah Surono benar-benar meninggalkan ruangan rawat tersebut.
"Tentang rencana perjodohan ini, apakah kamu setuju?" tanya Aldi tanpa menatap ke arah Gayatri.
"Dengan siapa pun aku setuju mas, karena bapak pasti memilihkan calon yang terbaik untuk anaknya, apalagi kalau calonnya sama kamu yang sudah lama aku kenal sikap dan sifatnya" jelas Gayatri yang memang sudah mengagumi Aldi sejak dulu namun sepertinya kali ini mimpinya harus berhenti karena ia akan memenuhi permintaan bapaknya.
"Aku mau jujur di awal agar kamu tidak menyesal di kemudian hari dan kamu juga bisa menolak perjodohan ini agar bapakmu membatalkannya" kata Aldi yang berkata secara hati-hati.
"Sebenarnya aku tidak setuju dengan rencana perjodohan ini. Kemarin memang sudah ada rencana untuk aku kembali membicarakan rencana ini dengan kedua orang tuaku namun sayangnya keduanya malah mengalami musibah sampai membawa ibu ke hadapan Tuhan dan meninggalkan wasiat seperti ini yang itu artinya mau tidak mau aku harus melaksankan keinginan terakhir dari ibuku" papar Aldi panjang lebar.
"Kenapa kamu tidak menyetujui perjodohan ini? Apakah karena aku jauh dari kriteriamu?" tanya Gayatri dengan penuh selidik.
"Bukan itu...aku tahu kamu perempuan yang baik namun hatiku sudah terpaut dengan sesosok perempuan lain" jawab Aldi hati-hati takut menyinggung Gayatri.
"Siapa dia yang beruntung kamu cintai? Apakah gadis yang bersamamu itu? Yang bernama Prameswari?" tanya Gayatri penasaran.
"Iya... dia wanita yang selama ini menemaniku dan mengisi hari-hariku. Dia yang selama ini memahami dan juga melengkapi kekuranganku Gy. Maaf hatiku sudah terpaut dengan dia. Jadi sekarang aku kembalikan ke kamu apakah kamu akan membatalkan ini atau tidak karena aku sendiri takut melukai banyak orang. Kalau kamu meneruskan maka aku pasti akan melukaimu karena hatiku masih dengan orang lain, meskipun ini wasiat ibu dan aku harus melaksanakannya" ungkap Aldi panjang lebar agar Gayatri mengerti posisinya.
"Aku siap menemanimu untuk menggantikan Prameswari. Pelan-pelan aku pasti bisa menggesernya" kata Gayatri karena ia merasa bahwa dirinya mungkin akan lebih baik dari Prameswari dan apalagi ada ancaman dari bapaknya sendiri jadi walaupun Gayatri sebenarnya kasihan dengan Aldi namun ia lebih patuh dengan bapaknya.
__ADS_1