
Satu minggu telah berlalu, kini Aldi sudah semakin membaik. Luka-lukanya yang dijahit pun sudah lepas jahitan sedangkan kepalanya sudah tidak lagi sesakit seminggu sebelumnya. Dokter sudah memberikan ijin jika ingin melakukan perjalanan jauh.
"Prames, aku sudah merencanakan untuk segera pulang" Aldi memberitahu rencananya ke Prameswari.
"Iya... Aku sudah pesankan tiket pesawat di hari Rabu jam 4 sore ya kang... Dan aku juga sudah mengajukan cuti untuk menemanimu pulang" balas Prameswari yang saat ini mereka sedang makan siang di sekolah.
"Apa saja yang perlu dibawa tolong dilist ya kang, nanti aku bantu untuk packing. Kalau bisa jangan terlalu banyak bawaan ya karena kamu keadaannya belum bener-bener sembuh" nasehat Prameswari sambil mengakhiri makannya.
"Oke Prames, nanti pas pulang kita bahas lagi ya..." ucap Aldi dan kini mereka bersiap untuk kembali beraktivitas.
Sepulang dari sekolah mereka berdua menyiapkan beberapa barang yang akan dibawa pulang. Tidak butuh waktu lama, barang bahwaan sudah siap karena memang hanya satu tas saja yang isinya beberapa potong baju. Mereka sengaja tidak membawa baju banyak karena itu akan sangat merepotkan lagian Prameswari hanya akan cuti satu minggu saja.
"Nah....sudah selesai kang, aku pulang dulu ya udah sore nih" kata Prameswari yang baru selesai membantu Aldi masak untuk makan malam.
"Kamu nggak mau makan malam di sini sayang?" tanya Aldi.
"Aku makan nanti aja kang" jawab Prames singkat.
"Ya sudah kamu ambil lauk sama nasinya sekalian ya biar nanti di rumah tidak harus masak lagi" kata Aldi lagi.
"Iya kang" tidak tahu kenapa Prameswari merasa bahwa hatinya sedang sedih ketika akan mengantarkan Aldi untuk pulang seolah-olah akan ada prahara besar yang akan membuat hubungannya kandas.
"Prames... Kamu ada apa sayang? Kenapa kamu kelihatan sedih begitu?" tanya Aldi karena melihat muka Prameswari yang sendu menahan sedih.
"Aku tidak apa-apa kang, mungkin hanya lelah saja nanti kalau sudah ilang lelahnya juga nggak gini lagi kok" sahut Prameswari bohong.
"Sayang.... Jangan bohongin aku, aku tahu ada hal yang sedang kamu pikirkan saat ini. Apa itu tentang hubungan kita?" tebak Aldi.
"Bukan kok, beneran aku nggak papa hanya lelah saja. Kamu nggak usah khawatir gitu lah" elak Prameswari yang memang tidak mau membebani pikiran Aldi yang lagi masa penyembuhan.
"Ya sudah kalau memang kamu nggak kenapa-napa sayang.... nanti setelah kita sampai Jawa ada hal yang akan aku omongin sama kamu Prames" Aldi menyerah untuk membujuk Prameswari agar mau bercerita karena ia tahu kalau saat ini memang ada yang sedang Prameswari pikirkan namun apa boleh buat jika dia tidak mau bercerita, Aldi hanya akan menunggu saja.
__ADS_1
"Ngomongin apa kang? Kenapa tidak di sini saja?" tanya Prameswari.
"Nanti aja di Jawa ya...setelah aku melihat keadaan bapak. Soalnya yang mau aku omongin ini hal yang sangat penting" tandas Aldi dengan tegas karena ia tidak mau ngomongin kelanjutan hubungannya di sini.
"Oke kang... Aku pulang dulu ya, nanti kalau ada apa-apa segera hubungin" balas Prameswari yang saat ini sudah ada di atas kendaraannya dan bersiap untuk segera melaju meninggalkan tempat tinggal Aldi.
"Siap sayangku...kamu hati-hati di jalan ya..." pungkas Aldi.
Aldi masuk ke dalam rumah karena bergegas akan mandi setelah memastikan Prameswari sudah pergi dari halaman.
*****
Dua hari yang lalu Aldi sudah bekerja lagi namun ia akan mengajukan cuti kembali untuk pulang ke Jawa.
Hari Rabu telah tiba, Aldi dan Prameswari hanya bekerja setengah hari karena sore harinya mereka harus segera terbang ke Jawa.
"Sudah tidak ada yang ketinggalan kan kang?" tanya Prameswari yang kini sudah bersiap sambil menunggu taksi online untuk membawanya ke bandara Sultan Syarif Kasim II.
Taksi online yang mereka pesan sudah datang dan dan segera mereka naik agar cepat sampai dan tidak ketinggalan pesawat.
Aldi dan Prameswari sudah sampai di bandara, mereka bergegas untuk check in dan menuju ke ruang tunggu menunggu waktu boarding.
"Semoga semua akan baik-baik saja kang, bapak segera sadar dan kamu bisa kembali lagi ke sini" kata Prameswari setelah mereka duduk di ruang tunggu.
"Amiiin, semoga demikian adanya sayang. Ini memang berat banget bagiku tapi aku yakin akan bisa melewatinya" ucap Aldi penuh keyakinan.
"Tetap semangat seperti ini kang... Aku akan berusaha untuk selalu menemanimu" balas Prameswari sambil menggegam tangannya memberi kekuatan ke Aldi.
"Terima kasih" pungkas Aldi karena ada pengumuman bahwa penerbangan menuju ke Surabaya sudah waktunya boarding. Ya, untuk kali ini mereka akan turun di Bandara Juanda.
Dua jam lebih mereka berada di atas awan menikmati hasil ciptaan tuhan yang tiada tara dan tanpa terasa burung besi yang membawa Aldi dan Prameswari sudah mendarat dengan selamat di Juanda Surabaya.
__ADS_1
Prameswari dan Aldi kini sudah berada di atas kereta menuju ke stasiun Madiun. Mereka memilih transportasi itu agar lebih cepat dan nyaman karena jika naik bus tentunya akan lebih lama apalagi jika ada jalanan yang macet.
"Sayang....bangun, sebentar lagi kita turun" Aldi mengusap lengan Prameswari untuk membangunkannya.
"Hoaammm.... sudah sampai ya kang? Sorry aku ketiduran" balas Prameswari sambil menguap sekaligus mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.
"Sepuluh menit lagi sampai, nggak papa kok tidur, aku juga tidur tadi" jawab Aldi.
Prameswari bangkit dari tempat duduk dan segera meraih barang bawaannya yang ditaruh di bagasi atas kepala agar nanti saat kereta berhenti ia tidak buru-buru turunnya.
"Oh iya, ini kita mau ke rumah atau ke rumah sakit kang?" tanya Prameswari.
"Kita akan ke rumah sakit langsung, namun sebelum itu kita harus cari makan dulu di sekitar stasiun aja karena ini sudah malam dan terakhir makan tadi siang. Sorry ya kalau kamu sampai kelaparan" Aldi memberitahukan rencananya setelah keluar dari stasiun.
"Iya emang lapar sih... Tapi masih kuat kok, palingan bentar lagi pingsan jadi kamu harus siap-siap menggendongku ya.." Prameswari berusaha untuk menggoda Aldi.
"Haiisss kamu ini... Okelah aku masih mampu kalau untuk menggendongmu kok asal jangan disuruh gendong beban hidup tetangga" seloroh Aldi yang membuat mereka berdua akhirnya nggak bisa menahan tawa.
Kereta berhenti di stasiun Madiun dan dua manusia yang sedang dalam saling menguatkan itu kini sudah berjalan keluar untuk mencari makan.
"Mau makan apa Prames?" tanya Aldi yang berjalan beriringan dengan Prameswari.
"Pecel aja enak kayaknya kang, udah kangen pecel asli sini" jawab Prameswari pasti (karena baginya ucapan "terserah" ketika ditanya mau makan apa tidak ada dalam kamus kehidupannya).
"Ya udah... Di pojokan sana ada warung pecel enak dan harganya pun murah meriah, semoga saja masih buka" putus Aldi.
'Warung Pecel Mbak Inah'
Itulah nama warung yang ada di pojokan yang dimaksud oleh Aldi tadi. Namanya tertulis di spanduk besar yang memang dipasang persis di depan warung. Mereka mendekat ke arah warung dan ternyata di jam malam begini masih buka.
Warung pecel mbak Inah merupakan warung yang sederhana seperti di pedesaan. Di dalam warung hanya ada beberapa meja dan kursi. Menu yang dijual pun hanya pecel dari aneka sayur seperti daun singkong, daun pepaya, kangkung kemudian ditambah petai cina (lamtoro) serta bunga kecombrang lalu disiram dengan bumbu kacang yang pedas, gurih, dan manis berpadu jadi satu. Pelanggan juga dapat menambahkan tempe tipis yang digoreng garing sehingga menimbulkan suara kriuk ketika digigit meskipun bentuknya bukan keripik. Makan pecel tidak lengkap jika tidak ada sajian minumannya. Warung ini hanya menyediakan teh, kopi dan susu dengan suhu yang disesuaikan oleh permintaan pelanggan yaitu bisa super panas, panas, anget, dingin, atau bahkan yang diberi es batu semuanya tersedia di sini.
__ADS_1