Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Pertemuan Aldi dan Gayatri


__ADS_3

POV Aldi


Mobil kulajukan dengan kecepatan sedang karena aku ingin menikmati suasana kota kelahiranku. Ternyata suasana kotaku sudah sedikit berubah setelah sekian lama tidak berkeliling di kota ini. Beberapa pepohonan nampak rindang dan membuat suasana menjadi sejuk tidak sepanas dulu. Selain itu terlihat banyak bunga bougenvil atau biasa disebut dengan bunga kertas sedang bermekaran menambah warna dari suasana kota ini. Saat ini mobilku sudah memasuki pinggiran alun-alun. Kalau siang begini alun-alun terlihat lenggang namun jika malam sudah datang banyak sekali pedagang-pedagang mulai dari sate, es campur, sempol, pentol, bakso, dan aneka macam makanan lainnya. Apa lagi jika malam Minggu, sudah dipastikan jalan di sekitar alun-alun pasti macet karena banyak anak-anak muda nongkrong di sini. Aku melajukan mobil ke arah Taman Trembesi karena Gayatari memintaku untuk bertemu di sana saja padahal kalau mau aku bisa menjemputnya di rumahnya yang kebetulan ada di dekat alun-alun namun ternyata dia sedang tidak di rumah. Kami tidak hanya berdua saja karena Gayatri sudah mengajak teman-teman kuliah kita dulu yang kebetulan mereka sedang liburan juga di sini.


Kendaraanku memasuki area Taman Trembesi yang langsung disambut dengan gerbang taman dari pohon Trembesi yang mungkin sudah ratusan tahun lamanya karena terlihat sangat besar dan tinggi, bahkan di dekat pintu gerbang ada sepotong kayu Trembesi juga dalam ukuran besar yang sudah ditebang dan tertulis “boleh di bawa pulang asal digendong”. “Ha….ha…ha…” aku langsung tertawa sendiri karena membayangkan kayu sebesar itu dibawa pulang dengan cara digendong, kemungkinan tidak ada yang mampu untuk melakukan itu. Ya...Taman Trembesi ini bisa dibilang cafe tapi bukan yang harganya selangit, meskipun begitu menu-menu di sini lumayan masih bisa dinikmati dan suasananya adalah suasana taman jadi sambil ngopi dan ngemil ditambah dengan pemandangan alam langsung.


Tanpa menunggu lama setelah aku memakirkan mobil, aku bergegas untuk menghubungi Gayatri melalui sambungan telpon.


“Halo! Gayatri, aku sudah sampai di taman nih, kalian di mana?” ucapku begitu telponku tersambung.


“Halo Al! ini kami di sebelah kiri dari gerbang ya, meja paling pojok” jawab Gayatri.


“Ok aku kesana langsung” ucapku dan langsung mematikan telponnya setelah kudengar jawaban iya dari Gayatri di seberang sana.


“Aldi!”


Aku mendengar suara perempuan memanggil namaku, dan ketika menengok ke kanan, aku melihat sesosok perempuan cantik yang sedang melambaikan tangan.


“Sini Al!” sambungnya karena aku masih belum bergerak juga karena aku merasa Gayatri penampilannya sudah berbeda dari sebelumnya. Sebelumnya dia agak tomboy namun kini setelah sekian tahun dia menjadi terlihat feminim.


Aku langsung tersadar dari pikiran ku yang kembali mengingat masa lalu Gayatri ketika sering bertemu.


“Hai semua! Apa kabar nih? Lama banget ya kita nggak ketemu, udah pada sukses-sukses semua sepertinya nih…!” aku menghampiri dan langsung menyapa mereka satu per satu.


“Ya beginilah aku Al, masih seperti dulu aja, bukan makin sukses tapi makin tua ha…ha…ha” celetuk Alfin yang dari dulu selalu bikin suasana menjadi ramai kalau kami kumpul.


“Kayaknya yang udah sukses tuh yang nanya deh, kelihatan lebih glowing sekarang nih apa lagi udah sampai pulau seberang pasti udah ada gebetan nih yang ngurusin” sambung Wawan temanku yang biasanya paling bijaksana dari kami semua.


“Bukannya sombong ya Al, aku sekarang sudah sukses beneran nih. Sukses dalam kehidupan rumah tangga karena anakku sudah 4 dan rencana mau nambah bini lagi nih biar makin ramai rumahku…” sambar Toni teman yang paling slengekan.


“Halaah… di sini kamu berani bilang begitu, kalau ketahuan istrimu mau nambah istri lagi bisa-bisa digorok tuh leher” ucap Hendi.


“Sudah….sudah… jangan lanjut nanti akhir-akhirnya kalian bernatem tuh, kan nggak lucu kalian udah bapak-bapak masih berantem kaya jaman kuliah aja. Tapi aku bersyukur banget loh kita setelah sekian lama nggak ketemu akhirnya bisa kumpul lagi di sini” ucapku panjang lebar menanggapi pembicaraan mereka dan sekaligus jaid penengah apabila suasana sudah mulai panas seperti tadi.


“Gayatri, gimana kabarnya? Sehat? Dari tadi diam aja nih apa sekarang jaid gadis pemalu?” aku menoleh kepada Gayatri yang sejak tadi hanya jadi penikmat dari obrolan kami para lelaki.


“Kabar aku baik mas, seperti yang kamu lihat sekarang aku jadi gadis pemalu…he…he..he” Gayatri menjawabku dengan terkikik.


“Halaaahhh….pemalu apaan! Yang ada malu-maluin lagi” ucap Dwi Rumi, Salsa, dan Dea bersama-sama seperti sedang melakukan paduan suara.


“Aldi, jangan percaya deh sama tuh penampilan Gayatri, itu hanya sampul aja dalamnya mah masih aja sama.. bahkan lebih bobrok” ucap Dea berapi-api.

__ADS_1


“Haduh! Kalian kenapa jadi penghianat sih! Nanti aku nggak mau traktir kalian lagi lah…” rajuk Gayatri.


“Iya-iya tuan putri maafkan kami lah ya” Dwi memohon.


Begitulah kami ketika sudah kumpul-kumpul sudah pasti kami akan lupa umur dan keadaan hidup yang kadang sulit. Kami akan saling mengejek dan membuat keributan tanpa tahu malu di tempat umum begini. Ternyata kebiasaan kami belumlah berumah masih sama seperti ketika kami masih dibangku kuliah.


Kami akhirnya mengobrol dengan hangat tentang pengalaman-pengalaman kami setelah berpisah dan terjun ke dunia kerja. Bahkan diantara kami yang sudah memiliki pasangan bahkan anak mereka menceritakan bagaimana mereka menjalani kehidupan rumah tangga. Ada yang bercerita manis dan pahitnya berumah tangga sampai dengan tips menjalani rumah tangga yang baik dan bahagia, sudah kaya konseling pernihakan aja nih kayanya…he…he…he.


Selama kami mengobrol, aku sering memergoki Gayatri diam-diam mengamatiku namun ketika aku menengok ke arahnya ia segera memalingkan wajahnya ke tempat lain dengan salah tingkah, kelihatan sekali tertangkap basah sedang memperhatikanku.


“Ngomong-ngomong Aldi sudah ada rencana mau nikah belum nih?” celetuk Dwi.


“Kalau rencana sih ada Wi, cuma calonnya masih harus diyakinkan lagi nih” jawabku dengan nada memelas.


“Berarti sudah ada calon dong ini? Tanya Rumi.


“Doakan saja ya, semoga kami berjodoh” ucapku bijak karena aku tidak mau mengumbar sesuatu yang belum pasti walaupun kepada teman-temanku sendiri.


Mereka meng-aminkan ucapanku dan sekilas aku menangkap air muka Gayatri seperti menampakkan kekecewaan. Entah aku tidak mau berprasangka terhadap Gayatri apa lagi ini mengenai perasaan dan aku sendiri tidak pernah ada getar-getar asmara dengan dia. Aku hanya menganggap dia hanya sebatas teman saja.


Sambil menikmati cemilan dan minuman yang kami pesan, aku membuat status di WA yang menunjukkan kami sedang berkumpul. Tidak lama kemudian…


Klunting! Pesan WA masuk dari Prameswari dan ketika kubuka berbunyi:


Langsung kubalas:


Iya nih Prameks, kebetulan hari ini ada teman kuliah yang ngajakin ketemu karena udah lama banget nggak nongkrong bareng.


Dia langsung bertanya aku bertemu dengan siapa saja. Wah… nada-nadanya dia sih curiga dan cemburu kalau aku pergi hanya berdua saja dengan lawan jenis. Untuk menghindari masalah dan karena aku menghargainya maka aku kirimkan foto kami yang yang sedang nongkrong dan kusebutkan satu per satu nama-nama temanku ini. Setelah itu tidak lagi dibalas oleh Prameswari, mungkin dia mau masak untuk makan siang karena ketika libur jam-jam segini dia lagi masak.


“Teman-teman, udah sore nih aku harus pulang karena harus membantu istriku mengurus anak-anak” ucap Toni.


“Bapak dan suami idaman nih” celetuk Hendi.


“Iya dong, aku duluan ya, sampai jumpa lain waktu kawan-kawan” ucap Toni kemudian dia bersalaman dengan semua teman-temannya dan segera pergi meninggalkan kami semua.


“Ya udah kami juga pamit dulu ya karena kebetulan kami juga ada acara keluarga” ujar teman-teman yang lainnya.


“Geng perempuan gimana pulangnya nih? Tadi kesini bawa mobil atau naik kendaraan umum?” tanyaku kepada para perempuan.


“Kami tadi naik taksi Al, dan kita pulangnya juga akan naik taksi juga” jawab Dea.

__ADS_1


“Gimana kalau aku anterin aja kebetulan kita semua satu arah juga kan?” tawarku kepada mereka karena biar mereka tidak mengeluarkan uang lagi untuk transport apalagi mobilku masih longgar dan kebetulan rumah mereka searah jalan pulang ke rumahku.


“Apa nggak merepotkan Al?” tanya Salsa, mungkin dia merasa tidak enak karena memang tidak begitu dekat denganku.


“Gpp Sal, biar sekalian aja lagian mobilku muat kok karena kan hanya aku aja isinya” balasku.


Akhirnya Gayatri dan teman-teman perempuan ikut denganku. Satu per satu mereka kuturunkan di depan rumahnya dan kini tinggal Gayatri saja karena memang rumah Gayatri diurutan terakhir.


“Kamu kapan kembali ke Jakarta Gayatri?” sapaku biar suasana tidak membeku.


“Dua hari lagi aku berangkat mas” jawab Gayatri.


“Mas kapan kembali ke Pekanbaru?” sambungnya.


“Aku masih 5 hari lagi di sini Gy” balasku. Ya… Gy adalah panggilan yang biasa aku ucapkan ketika memanggilnya. Hanya aku satu-satunya orang yang memanggil dengan sebutan itu.


“Eh… ngomong-ngomong kamu belum ada niatan untuk menikah nih?” tanyaku basa-basi.


Dia melihat ke arahku sekilas dan kemudian memandang ke luar jendela dan kemudian menjawab.


“Belum nemu yang cocok mas, ada sih aku suka sama seseorang tapi mungkin orang tersebut nggak pernah suka sama aku. Apa lagi sepertinya dia sudah memiliki pasangan. Mungkin kami belum jodoh mas” jawab Gayatri masih dengan menatap luar jendela.


“Pasangan sah atau masih pacaran tuh? Kalau masih pacaran masih laah ada celah siapa tahu kamu bisa masuk kecuali kalau sudah menikah ya jangan sampai coba-coba ya…” ucapku sambil bercanda.


“Pacaran mas, belum menikah kok” jawab Gayatri.


“Lanjutttt gas poooll Gy… sebelum janur kuning melengkung masih lah boleh ditikung ha…ha…ha” candaku semakin meledek dia.


“Enggak lah mas, aku cukup tahu diri aja karena dia juga nggak bakal suka sama aku kok” balas Gayatri tanpa semangat kaya orang sudah putus asa.


“Tetap semangat, mungkin belum waktunya kalian berjodoh kali” akhirnya aku tak mau lagi meledek dia karena nanda-nadanya dia sudah sedih.


Akirnya sampailah kita di depan rumah Gayatri.


“Mas, nggak mampir dulu? Di rumah ada bapak sama ibu loh” tawar Gayatri setelah turun dari mobil dan aku mengikutinya.


“Lain kali saja ya Gy. Soalnya aku sudah ditunggu sama kanjeng mami di rumah nih” balasku.


“Ya sudah terima kasih mas sudah diantarkan dan sampai jumpa di lain waktu. Sukses selalu dan hati-hati di jalan ya mas” pesan Gayatri.


“Siap! Kamu juga ya Gy tetap sukses dan semangat. Bye Gy…” ucapku sambil melambaikan tangan dan memasuki mobil kemudian bergegas melajukan mobil menuju rumahku.

__ADS_1


Pertemuanku dengan Gayatri hari ini terkesan biasa saja karena memang seperti itu sejak dulu ketika kami masih kuliah. Ya…benar apa yang dikatakan bapak dan ibu bahwa Gayatri adalah anak yang sopan, anggun, dan tentunya cantik juga. Namun itu semua tidak membuatku tertarik karena mungkin hatiku sudah terikat dengan satu nama yaitu Prameswari.


__ADS_2