
Satu tahun telah berlalu, hari ini Aldi berencana untuk pulang ke Jawa menengok orang tuanya karena kebetulan sudah memasuki libur semester jadi Aldi memanfaatkan kesempatan ini untuk melepas rasa kangen dengan kampung halaman dan keluarganya.
“Prameks, kamu yakin nggak ikutan pulang nih? Mumpung libur loh?” tanya Aldi kepada Prames.
“Liburan berikutnya aja deh Kang… soalnya aku nabung dulu, tahu sendiri kan kemarin keluargaku ada kebutuhan mendadak jadi uangku lumayan terkuras nih untuk bantu mereka” Jawab Prames.
“Ya udaaah… tapi jangan nyesel, jangan mewek ditinggal sendiri di sini ya….” ledek Aldi.
“Yeeee…. kamu kira aku anak kecil ditinggal sendiri nangis, tapi jangan lupa yaaa Kang… pesenanku” ucap Prames sambil mengedipkan satu matanya.
“Kenapa tuh mata? Kelilipan biji salak?” ledek Aldi lagi.
“Enak aja lu… sana! sana! cepet kalau mau pulang, pulang aja gih nggak usah ribut!” sungut Prames sambil cemberut tampak kesal.
“Yakin nihhh? Disuruh cepet pulang? Nanti aku pulang kamu rindu loooh…” Aldi semakin meledek Prames.
“Ge Er amat lu… siapa juga yang rindu! Sana pulang!” Ketus Prames.
“Ha…Ha…Ha… Prameks… Pramekks… dasar kereta api, gitu aja ngambek. Iya deh nanti aku bakal bawain pesenanmu tapi jangan ngambek lagi dong nanti tambah jelek tuh” ejek Aldi.
“Hmmmm….emang kamu masih ingat pesenanku?” tanya Prames pura-pura masih marah.
__ADS_1
“Apa sih yang nggak ingat kalau buat kamu? Nih ya dengerin baik-baik ya… dikoreksi sekalian kalau aku lupa. Pesenanmu itu ada Bakpia rasa cokelat, gudeg Solo, Brem dan Sambal Pecel yang khas Madiun, sama kain batik plus sampur yang kata kamu belinya harus di Pasar Klewer itu kan?” papar Aldi.
“He…he…he… Kang Mas ini memang baik banget deh… jadi terhura aku nih…” ungkap Prames sambil tersipu malu.
“Halaaahh… kamu manis banget kalau ada maunya…udah itu aja kan? Ada lagi nggak?” tanya Aldi serius.
“Udah itu aja kok Kang, ehh… jangan lupa kain batiknya khusus itu, nggak sembarang kain bati ya… sesuai dengan permintaanku kemarin, masih ingat nggak?” tanya Prames.
“Iya masih ingat sayangkuuu… kain batik Sekar Jagad kan? Yang memiliki makna sebagai keindahan yang mampu membuat setiap orang terpesona melihatnya. Selain itu, dalam Bahasa Belanda Kar berarti peta, dan Jagad dalam Bahasa Jawa berarti dunia. Dengan begitu, Sekar Jagad ini dibuat sebagai lambang keberagaman, baik di Indonesia maupun di dunia. Hal ini dapat terlihat dari motif pulau-pulau yang terdapat di dalamnya. Begitu kan penjelasanmu kemarin?” Papar Aldi panjang kali lebar.
“Waaahhh… Kang Masku ini memang hebat masih mengingat apa yang aku ucapkan kemarin”. puji Prames.
“Iya dong Prameks… aku kan harus belajar banyak karena sebagai guru kita harus selalu menambah ilmu pengetahuan kita. Apa lagi yang kita bicarakan itu adalah salah satu aset budaya bangsa kita dan lebih istimewanya lagi itu berasal dari pulau kita jadi jangan sampai kita lupa dengan kebudayaan yang kita miliki sayang…” Jelas Aldi sambil mengusap kepala Prames karena gemas dan sebagai tanda sayangnya.
Setelah mengantar Aldi, Prames kembali ke rumahnya yang ditempuh dalam waktu 30 menit saja. Setelah sampai di rumah, ia segera makan siang dan istirahat.
“Liburan kali ini ngapain ya? Sendirian di sini lagi, nggak enak banget nggak ada Kang Aldi, andaikan aku bisa ikut pulang pasti bisa jalan-jalan nih” gumam Prames.
Ia merasa kesepian, padahal baru beberapa jam ditinggal Aldi. Maklum mereka berdua memang selalu rame ketika sudah ngobrol dari saling meledek sampai ngobrolin masalah yang lumayan berat.
Prames siang itu langsung menyusun rencana liburannya yang tentu akan dihabiskan sendiri. Ia akhirnya akan mengunjungi salah satu kampus di Pekanbaru yang suasananya masih asri banget alias sebagian masih dalam bentuk hutan sawit. Ia sudah membayangkan akan duduk di pinggir kolam teratai menunggu senja di sana setiap hari sambil menikmati makanan gerobakan dan membaca buku. Ia berharap akan sedikit mengobati rasa kangennya sama Aldi dan mengisi waktu sendirinya.
__ADS_1
Klunting!
“Prameks, aku udah keluar dari bandara ya, ini lagi menuju Stasiun Tugu” bunyi pesan WA yang dikirimkan oleh Aldi.
“Ya udah ati-ati ya Kang, nanti kalau sudah sampai rumah kabari ya…” balas Prames.
“Iya Prameksku…” balas Aldi singkat.
Tidak ada lagi WA masuk, karena Aldi sudah memasukan HPnya ke saku celana dan akan fokus menikmati perjalanan.
Karena tidak ada pesan lagi, maka Prames memutuskan untuk tidur siang saja. Akhirnya ia pun terlelap dalam mimpi indahnya.
Universitas Riau disingkat UNRI
Benar saja dua hari kemudian sekitar jam 16.00 WIB, Prames sudah bersiap-siap untuk menikmati senja. Ia memakai celana panjang yang dipadukan dengan kaos bergambar Tugu Yogyakarta warna putih, tidak lupa menggunakan sandal jepitnya yang sudah mulai usang di makan usia. Ia menyambar mini backpack di gantungan yang sudah terisi dengan dompet dan buku bacaan favoritnya.
Suasana jalan cukup rame karena waktunya orang sudah mulai pulang dari kerja, beruntungnya Prames jadi seorang guru yang punya waktu libur lama jadi saat yang lain masih kerja ia sudah bisa menikmati hari libur. Mentari masih cukup terik pada jam tersebut dan membuatnya ingin segera sampai di tempat tujuan.
Tidak butuh waktu lama, Prames sudah mulai memasuki gerbang kampus UNRI dan suasana di sisi kanan kiri jalan memang masih hutan dan udara sudah mulai berubah menjadi sejuk meskipun matahari masih menyilaukan matanya. Ia memakirkan motornya tidak jauh dari kolam teratai dan ia menuju ke salah satu gerobak yang menjual Bakso Bakar. Prames memesan Bakso Bakar dan es campur durian lalu ia segera duduk tepat di pinggiran kolam teratai. Kolam ini airnya penuh dan kuncup-kuncup teratai menyembul dari dalam air bahkan ada teratai yang sudah mekar berwarna putih keunguan menunjukkan keanggunannya.
Prames memang suka sekali dengan bunga Teratai, bukan tanpa alasan ia menyukai bunga yang hidup di atas lumpur tersebut. Bagi Prames bunga Teratai adalah bunga yang berbeda dari bunga-bunga lainnya dan tentunya memiliki filosofi yang tinggi. Filosofi pertama, bunga teratai sekalipun berada di lingkungan kotor, namun tetap bersih dan menunjukkan keindahannya. Hal tersebut bermakna bahwa manusia sejatinya memang tetap membutuhkan satu sama lain, meski pada orang yang kurang baik sekalipun.Tapi, bukan berarti kita harus mengikuti dan meniru kejelekan yang orang sekitarnya biasa lakukan. Filosofi kedua, banyak bunga teratai mekarnya sangat singkat meskipun ada yang mampu bertahan beberapa hari. Fenomena ini mengingatkan bahwa hidup kita di dunia juga hanya sesaat ibarat mung mampir ngombe (hanya mampir minum) maka kehidupan yang singkat ini harus dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan. Filosofi ketiga bunga teratai Teratai mempunyai ciri khas yang membedakan dari bunga lainnya, yaitu semakin kotor lingkungan tempat bunga teratai hidup, maka semakin tinggi kualitas bunga yang tumbuh. Secara tidak langsung hal tersebut mengajarkan kita bahwa menjadikan hinaan dan respon negatif orang lain tentang kita sebagai motivasi dan alasan untuk pantang menyerah menggapai mimpi, bukan justru menjadikannya beban hingga bikin kita minder dan putus asa ya….
__ADS_1
Prames terus menikmati keindahan alam tersebut sambil sesekali mengisi perutnya dengan Bakso Bakar dan membasahi kerongkongannya dengan es campur yang menyegarkan, sesekali ia fokus dengan buku bacaannya namun ketika senja mulai merapat, ia menatap semburat oranye kebiru-biruan di langit dan pancaran matahari berubah menjadi kuning kemerah-merahan. Ia merebahkan dirinya di atas rerumputan dan menikmati suasana yang syahdu, pikirannya melayang mengingat pada sosok yang kini sedang berjauhan, siapa lagi kalau bukan Kang Mas Aldi. Prames mengingat kebiasaan akhir pekan yang sering ia lakukan bersama Aldi, yaitu hal yang sama seperti yang sedang ia lakukan sekarang. Ia harus menahan rindunya beberpa hari lagi ke depan.
“Semoga ia tidak berubah, akan selalu seperti itu di masa yang akan datang” gumam Prames sambil bersiap-siap meninggalkan tempat karena malam akan segera datang.