
“Aldi, apapun kabar yang akan budhe berikan sama kamu tolong berjanjilah untuk menerimanya dengan lapang dada ya. Ini sudah menjadi takdir kamu nak….” Ucap budhe terdengar sendu.
“Iya budhe, Aldi janji akan menerima apapun informasi yang budhe berikan” janji Aldi.
“Baik lah nak, budhe akan mengabarkan berita buruk karena Lestari ibumu tidak bisa diselamatkan nak… Lestari menghembuskan nafas terakhirnya sekitar jam 4 tadi dan budhe juga tidak mengetahuinya karena budhe masih tertidur dan bahkan dokter mengetahui Lestari sudah tidak ada ketika mengecek keadaannya tadi nak…” kata budhe sambil menahan isak tangis.
Aldi terbengong mungkin karena terkejut dan tanpa menjawab apapun atas kabar buruk yang budhe Eni katakan.
“Aldi…budhe video call ya… ini kebetulan Lestari sudah dimandikan dan siap untuk dibawa pulang. Sebelum ditutup, nanti Aldi melihat dulu untuk yang terakhir kalinya. Budhe tahu ini snagat berat untuk Aldi namun budhe percaya nak Aldi anak yang kuat dan jika nanti ada apa-apa segeralah bilang sama budhe, anggap budhe ini ibumu nak…” ucap budhe dan tidak lama kemudian panggilan video masuk, Prameswari segera menerimanya dan kini terlihat budhe sedang berada di dekat jenazah Lestari.
“Prames, tolong berikan hpnya ke Aldi nak agar dia bisa melihat wajah ibunya” kata budhe kepada Prameswari dan Prameswari segera menghadapkan hp ke wajah Aldi.
“Kang, ini budhe mau memperlihatkan wajah ibu” kata Prames dan Aldi mulai sadar kemudian memandang wajah budhe dengan tanpa ekspresi.
“Aldi, yang sabar ya…ikhlaskan ibu biar jalannya lancar ya… ini wajah ibumu tersenyum dan tampak seperti tertidur kan?” tanya budhe Eni untuk meyakinkan Aldi agar bisa menerima kenyataan.
“Budhe…ibu wajahnya bersinar ya? sepertinya ibu hanya tertidur kok, kenapa budhe mengatakan ibu sudah tidak ada? Coba budhe bangunkan ibu…aku mau ngobrol sama ibu. Bu…ibu…bangun bu… ini Aldi, semalam Aldi mimpi ketemu ibu…ibu kangen ya sama Aldi? Ini Aldi bu…bangun dong bu! Ibu jangan ningggalin Aldi seperti ini dong bu…nanti kalau ibu pergi nggak ada lagi yang bisa masakin aku dong bu? Ibu tahu kan bapak masakannya nggak seenak ibu. Ibu….!!! Bangun bu…! Kenapa ibu tega ninggalin Aldi begini?” Aldi mulai menangis dan tidak bisa mengontrol emosinya.
Prameswari yang melihat itu hatinya ikut luluh lantak, namun ia harus kuat untuk memberikan semangat pada Aldi dan segera ia menggenggam tangan Aldi erat dan setengah badannya ia rebahkan di samping tubuh Aldi sedangkan tangan yang satunya memegang hp yang layarnya masih memperlihatkan wajah ibunya Aldi yang sudah dikafani.
__ADS_1
“Sabar kang… lihatlah wajah ibu yang bersinar, ibu pergi dengan damai dan belajarlah untuk ikhlas pelan-pelan ya karena sejatinya setiap manusia pasti akan pergi demikian juga dengan kita nanti. Berdoa saja kang, semoga ibu dapat diterima di sisi-Nya dan tidak menemukan kesulitan dalam berjalan bertemu dengan-Nya” ucap Prames berusaha untuk menenangkan Aldi.
“Ibu…terima kasih, ibu sudah melahirkan dan membuat Aldi bisa melihat dunia yang indah ini bu… Aldi tidak tahu jika tidak ada ibu yang membimbing dan menemani kehidupan Aldi sampai saat ini. Aldi akan berusaha untuk ikhlas bu…Maafkan Aldi bu, belum bisa membuat ibu bangga. Ibu akan terus hidup dalam hati Aldi meskipun jasad ibu sudah tidak ada di dunia ini. Love you bu” ungkap Aldi sambil menatap wajah ibu untuk terakhir kalinya dan tentunya sambil menahan tangis.
“Budhe…terima kasih sudah mengurus ibu dengan baik. Sekarang bapak bagaimana keadaannya budhe?” tanya Aldi kepada budhe Eni.
“Bapak masih belum sadar nak… Yadi dinyatakan koma dan belum tahu kapan akan terbangun” jawab budhe Eni penuh kesedihan.
“Budhe…apakah bisa Aldi melihat keadaan bapak?” tanya Aldi.
“Boleh nak… tapi nanti ya karena budhe dan pakde sedang mengurus jenazah ibumu dan kebetulan saudaramu Rusi sedang ada di rumah dan sekarang dia yang bertugas menjaga bapak. Jadi Aldi jangan khawatir ya. Sekarang yang penting Aldi fokus dengan kesembuhan Aldi dulu, ingat ya di sini masih ada bapak yang membutuhkan Aldi. Aldi juga sudah melihat wajah ibu untuk terakhir kalinya jadi karena keadaan Aldi yang belum boleh melakukan perjalanan jauh maka Aldi tidak usah memaksakan untuk pulang dan lagian pasti para warga nanti tidak mau menahan jenazah ibu untuk menunggumu pulang, karena itu terlalu lama dan kasihan ibu nak” terang budhe panjang lebar untuk memberikan pengertian ke Aldi.
“Baiklah budhe…Aldi nurut apa kata budhe dan budhe tolong urus semuanya ya… Aldi minta maaf bukan berarti Aldi nggak sayang dengan ibu namun keadaan Aldi benar-benar menyedihkan untuk turun dari ranjang saja belum bisa budhe” kata Aldi dan disertai dengan air mata yang tidak bisa lagi ditahan.
“Amin budhe…. Oh iya budhe… untuk administrasi dan lain sebagainya bagaimana budhe?” tanya Aldi dan memang dalam keadaan apapun Aldi selalu ada sisi dimana dia akan berpikir dengan baik bahkan disaat seperti ini dia masih memikirkan tentang Administrasi dan Aldi tahu bahwa yang seharusnya menangani masalah kedua orang tuanya adalah dirinya si anak tunggal namun karena keadaan sekarang tidak memungkinkan jadi ia khawatir.
“Aldi tidak usah khawatir mengenai hal itu…semua administrasi sudah budhe dan pakde uruskan, jika memang nanti ada yang harus didiskusikan nanti kita akan diskusi jika keadaan kamu sudah membaik nak. Jangan lagi khawatir ya… untuk memakaman ibu juga sudah kami atur, jangan berpikir terlalu berat ya nak biar cepat sembuh, kalau kamu sudah sembuh kan bisa segera pulang bertemu dengan bapak dan ziarah ke makam ibu nanti” nasehat budhe kembali meluncur untuk menenangkan Aldi.
‘Terima kasih banyak budhe… Aldi janji, Aldi akan berusaha secepatnya untuk sembuh dan pulang” janji Aldi kepada Budhe Eni.
__ADS_1
“Sama-sama nak… kita ini saudara jadi sudah kewajiban budhe dan pakde untuk ikut membantu apa lagi Yadi itu kan adiknya budhe satu-satunya jadi bukan orang lain lagi” kata budhe.
“Sekali lagi Aldi ucapkan terima kasih untuk budhe dan sekeluarga” ucap Aldi akhirnya.
“Ya sudah nak… karena hari sudah semakin siang maka budhe dan pakde harus segera mengurus kepulangan jenazah ibumu agar segera dimakamkan, kamu di situ baik-baik ya cepat sembuh. Oh iya… nak Prames tolong jaga Aldi sampai sembuh ya nak… karena dia sendirian di situ dan nggak ada keluarga yang bisa menemaninya” pamit budhe sambil berpesan kepada Prames.
“Iya budhe… Prames akan menjaga dan merawat Aldi selama Aldi sakit” kata Prames dengan tersenyum.
“Ya sudah budhe pamit dulu ya Aldi dan Prames… nanti budhe akan telpon lagi” pungkas budhe Eni.
Telpon sudah berakhir, Aldi dan Prames masih dalam posisi yang sama bahkan tangan mereka masih saling menautkan jari jemarinya. Bukan karena mereka sedang bermesraan namun mereka sedang saling menguatkan.
“Prames…hari ini aku lahir sebagai anak yatim…ibuku tadi pagi datang ke mimpiku dan ternyata beliau hanya mau pamit” kata Aldi tanpa merubah posisinya.
“Sabar ya kang…kita hadapi bersama-sama…dan jangan merasa sendiri, aku akan ada untukmu…” kata Prames semakin mengeratkan genggaman jarinya.
“Oh iya… kamu nggak masuk kerja?” kata Aldi tiba-tiba teringat jika hari ini adalah hari Senin.
“Aku sudah ijin kang, dan besok aku akan mengajukan cuti untuk sementara waktu” jawab Prames.
__ADS_1
“Maaf…aku jadi membuatmu repot. Seharusnya tidak usah cuti karena di sini juga sudah ada suster yang akan membantuku” ucap Aldi penuh rasa bersalah.
“Hei… jangan merasa merepotkan dan nggak enak… ini sudah sewajarnya kita saling membantu” Prames berkata seperti itu dan ia tidak mau bercanda karena ia merasa Aldi mudah sensitif mungkin karena keadaan sedang kacau begini.