Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Kecelakaan


__ADS_3

Pov Aldi


Pikiranku begitu kalut ketika tau jika Prames sedang mengajukan beasiswa untuk melanjutkan ke jenjag S2. Meskipun belum tahu apakah ia lolos atau nggak tapi karena Prames punya otak yang cerdas maka hanya kemungkinan kecil ia tidak lolos beasiswa ini. Aku takut jika kami harus berjauhan, iya kalau masih di kota yang sama kalau di kota yang jauh atau mungkin luar negeri pasti ini jadi tantangan bagi hubungan kita. Aku tahu Prames adalah perempuan setia dan aku juga sudah tidak mau untuk melirik wanita lain namun saat ini ujian kami begitu berat untuk mendapatkan restu dari orang tuaku.


Namun, aku tidak mau merusak impian Prames. Aku akan selalu mendukung selama dia dalam jalan yang benar.


Hari ini langit di atas kota Pekanbaru begitu cerah sedangkan matahari terus terpancar menghangatkan bumi ini. Tiba-tiba hpku berbunyi tanda ada telpon masuk dan ternyata nomor bapak yang memanggil. Gegas aku menekan tombol jawab.


"Halo pak" sapaku sopan.


"Halo le, lagi sibuk nggak le?" tanya bapak.


"Ini lagi nyante pak, tadi baru selesai jalan pagi terus mampir sarapan dulu di jalan jadinya baru sampai rumah pak. Ada apa ya pak?" tanyaku sambil balik arah ke sofa karena tadinya mau mandi dan ganti baju setelah jalan pagi di hari Minggu.


"Bapak mau ngobrol serius le, ini masalah perjodohanmu dengan Gayatri. Kebetulan bapak sudah membicarakannya dengan Surono dan keputusannya Surono serta Gayatri sudah sepakat jika bapak akan membawamu ke rumahnya untuk melamar Gayatri" jawab bapak menjelaskan tujuannya menelpon pagi ini.


Aku terdiam dan tidak tahu harus menjawab apa lagi. Aku bingung harus bagaimana...


"Le, dengar suara bapak apa nggak? Kok diam saja?" tanya bapak lagi menyadarkan lamunanku.

__ADS_1


"Iya pak, Aldi dengar pak. Pak, bisakah aku menolak perjodohan ini? Aku tidak siap untuk mencintai wanita lain selain Prameswari pak" jawabku jujur penuh dengan kesenduan.


"Le, bapak tidak mau dengar penolakanmu lagi. Selama ini bapak dan ibumu tidak pernah meminta apapun darimu dan sekarang kami meminta itu. Hanya itu yang kami minta le, tolonh kabulkan permintaan bapak dan ibumu le. Ini permintaan pertama dan terakhir kami le..." kata bapak memohon


"Bapak ini apaan sih, pake permintaan pertama dan terakhir segala. Jangan gitu lah pak"balasku sedikit jengkel karena kata-kata bapak kaya orang mau pergi selamanya.


"Le...yang namanya umur kita tidak pernah tahu. Siapa tahu bapak sama ibumu tidak lagi ada umur dan permohonan kami hanya kamu bisa bersanding dengan Gayatri. Itu saja le..." kata bapak memelas.


"Le, ini ibu...tolong pikirkan baik-baik permintaan ibu dan bapakmu. Ibu sangat ingin kamu bisa membersamai Gayatri. Seandainya ibu dan bapak nggak ada maka akan tenang karena kamu punya istri seorang perempuan seperti Gayatri. Secepatnya kamu pulang le, kami akan melamar Gayatri untukmu. Dan ibu mohon lepaskan dan lupakan Prameswari. Melangkahlah bersama Gayatri di masa yang akan datang" kata-kata ibu begitu menggetarkan hatiku sampai aku tidak bisa menjawab dengan mudah.


"Le, tolong jawab permohonan kami. Bapak dan ibu menginginkan jawabanmu segera. Jangan diulur-ulur lagi karena kami sudah ditunggu oleh keluarga pak Surono" ibu kembali memohon.


"Bu, pak, beri aku waktu untuk memikirkan ini. Karena aku juga tidak ingin menyakiti hati Prames" jawabku.


"Maafkan Aldi bu, Aldi harus berpikir jernih untuk memutuskan ini. Karena jujur ini tidak mudah bagi Aldi bu" aku memohon maaf karena sudah melukai hati ibu.


"Baiklah le, bapak tunggu keputusanmu secepatnya dan bapak sangat berharap kamu bisa mengabulkan permintaan bapak dan ibumu ini" kata bapak dengan bijak.


"Baik pak...beri Aldi waktu sedikit lebih lama untuk memutuskan" jawabku.

__ADS_1


"Ya sudah le, yang penting kamu tetap jadi anak yang baik dan selalu melaksanakan nasehat-nasehat dari bapak dan ibu. Tetaplah jadi laki-laki bertanggung jawab dan berpinsip kuat ya le..." nasehat bapak tiba-tiba.


"Le, ibu juga berpesan jika suatu saat kamu jadi seorang suami jagalah istrimu dengan baik. Jangan pernah main tangan dan mulut harus dijaga jangan sampai menyakiti perasaan istrimu nanti. Jadilah penyejuk dan penghilang dahaga bagi istrimu ya le" tambah ibu menasehatiku.


"Iya pak, bu, terima kasih nasehat-nasehat kalian akan selalu kuingat dan lakukan dalam hidup Aldi" jawabku pasti meskipun bingung dan aneh dengan pembicaraan kedua orang tuaku namun aku segera menepis pikiran burukku.


"Ya sudah le, kami berdua pamit ya... Kamu jaga kesehatan di situ ya le..." pungkas ibu dan bapak.


Telpon terputus ketika aku menjawab bapak dan ibu yang pamit kepadaku untuk mengakhiri pembicaraan karena hari sudah semakin siang.


Aku meletakan hp di atas meja dan segera bergegas untuk mandi dan ganti baju karena sore ini sudah ada janji untuk ketemu dengan Prames. Sudah jadi jadwal kami di Minggu sore untuk olahraga jalan kaki bersama dan setelah itu kita akan berdiskusi dari mulai buku-buku yang kami baca maupun film yang telah kami tonton. Selain itu, selalu ada rencana-rencana yang akan kami lakukan di waktu yang akan datang.


Dua puluh menit kemudian, aku sudah siap dengan kaos putih yang dipadukan dengan celana longgar serta sepatu olahraga. Aku mengambil tas yang berisi buku baru yang sengaja aku beli untuk Prameswari. Kemudian aku segera keluar dan mengunci pintu lalu menghidupkan motor Prames yang memang ditaruh di tempat tinggalku. Perlahan aku meninggalkan rumah.ĺ


Kini aku sudah dalam perjalanan menuju ke tempat tinggal Prameswari. Sepanjang perjalanan aku terus kepikiran dengan kata-kata bapak dan ibu tadi pagi. Aku benar-benar bingung untuk memutuskan. Jika aku mengabulkan permintaan bapak dan ibu sudah jelas Prames akan sangat kecewa dan terluka. Namun jika aku menentang mereka, aku tidak sanggup untuk melukai dan membuat kecewa hati kedua orang tuaku. Aku dilema, bagaikan berdiri di atas jurang tinggi yang sulit sekali untuk dilewati. Ya Tuhan... Bagaimana aku harus mengambil keputusan ini? Mampukah aku membuat keputusan yang tepat dan tidak melukai banyak orang?


Karena sambil melamun, tiba-tiba motorku oleng menyenggol belakang truk yang sedang melaju kencang. Kemudian motorku menabrak trotoar....


Brakkkk!!!!

__ADS_1


Tubuhku terpental jauh ke tengah jalan dan kepalaku membentur tiang penyangga lampu jalan.


Aku merasa mengantuk dan ingin tertidur meskipun masih terdengar beberapa orang berteriak dan ada juga orang-orang yang berlari mendekat. Namun setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.


__ADS_2