Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Perasaan Gayatri


__ADS_3

POV Gayatri


Namaku Gayatri, anak pertama dari dua bersaudara. Kehidupanku setelah kuliah adalah mengajar di salah satu sekolah swasta di Jakarta dengan gaji yang lumayan besar sehingga meskipun harus jauh dari keluarga namun aku tetap mau menjalaninya karena aku ingin mandiri dan tidak lagi merepotkan orang tua apa lagi ada adikku yang masih membutuhkan biaya besar untuk sekolah.


Masa-masa kuliah ada satu teman laki-laki yang aku kenal bernama Aldi Mahendra. Dia memang lebih tua satu tahun dariku namun kebetulan pernah berhenti satu tahun sebelum akhirnya kita kuliah bareng. Seorang Aldi Mahendra memiliki kecerdasan yang lumayan dibandingkan aku, meskipun dia seorang laki-laki namun dia adalah orang yang rajin, rapi, dan bersih. Dia sering membantuku ketika ada materi kuliah yang memang sulit untuk kupahami. Intensitas pertemuan kita juga bisa dibilang sering meskipun kami tidak pernah bertemu hanya berdua saja. Ketika bertemu pasti dia dan aku selalu mengajak teman.


Ada banyak hal yang aku kagumi dari seorang Aldi Mahendra. Apa yang aku idamkan sebagai sosok pendamping hidupku ada di diri Aldi. Aldi berasal dari orang yang berkecukupan namun kehidupannya selalu sederhana dan tidak pernah memamerkan harta bendanya, tidak seperti cowok-cowok pada umumnya yang kadang untuk menarik lawan jenis mereka menyombongkan hartanya. Dia juga sosok yang penyayang terlihat dari bagaimana dia menghormati dan memperlakukan orang-orang yang ada di sekitarnya mulai dari orang tuanya maupun aku dan juga teman-temannya yang lain. Dia sering menjadi tempat untuk mencari solusi dan perlindungan bagi teman-temannya yang sedang dalam masalah. Sebagai laki-laki Aldi juga sangat menghormati seorang perempuan. Ia tidak pernah berkata kasar, merendahkan, atau bahkan bercanda yang membuat wanita dilecehkan. Aku bilangnya paket komplit, apa lagi saat ini dia sudah bekerja dan mandiri.


Hari ini aku kembali lagi bertemu dengan Aldi setelah sekian lama tidak berjumpa.


Ketika aku baru sampai di Taman Trembesi,


Tuling! Tuling! Tuling! Hpku berbunyi dan ternyata tertera nama Aldi di layar hpku.


“Halo Al! ini kami di sebelah kiri dari gerbang ya, meja paling pojok” jawabku karena dia bertanya kami ada di mana. Setelah beberapa saat Aldi muncul dan celingak celinguk mencari kami.


“Aldi!” aku memanggilnya agar tahu keberadaan kami. Dia menoleh tetapi belum benar-benar tahu jika akulah yang memanggilnya.


“Sini Al!” panggilku lagi sambil melambaikan tangan. Aldi menghampiri kami dan kami saling menyapa seperti biasa.

__ADS_1


Para lelaki rupanya lebih heboh saling bertanya kabar, ketika Aldi sudah basa basi kepada mereka para lelaki, kini giliran dia menoleh kepadaku.


“Gayatri, gimana kabarnya? Sehat? Dari tadi diam aja nih apa sekarang jaid gadis pemalu?” aku menoleh kepada Gayatri yang sejak tadi hanya jadi penikmat dari obrolan kami para lelaki.


“Kabar aku baik mas, seperti yang kamu lihat sekarang aku jadi gadis pemalu…he…he..he” Gayatri menjawabku dengan terkikik.


Setelah itu semua teman saling meledek karena memang aku sudah berubah penampilan, yang sebelumnya aku adalah cewek tomboy, setelah kuliah aku mengubah penampilanku menjadi gadis yang feminim dan itu mungkin membuat Aldi menjadi pangling.


Obrolan terus berlanjut dengan seru sambil menikmati minuman dan camilan yang sudah kami pesan. Sesekali aku menatap dan mengagumi sosok Aldi. Aku juga membayangkan apabila Aldi suatu saat menjadi pendampingku. Jika itu terjadi alangkah bahagianya hidupku. Aldi sering memergoki ketika aku sedang memandanginya dan itu membuat aku salah tingkah. Semoga harapanku bisa terwujud bersanding dengan Aldi apa lagi orang tua kami sudah saling kenal dan bahkan menjalin persahabatan.


Tiba-tiba….


“Kalau rencana sih ada Wi, cuma calonnya masih harus diyakinkan lagi nih” jawab Aldi.


“Berarti sudah ada calon dong ini? tanya Rumi.


“Doakan saja ya, semoga kami berjodoh” ucap Aldi.


Seketika impianku untuk bersanding dengan Aldi pupus sudah, karena ternyata Aldi sudah ada calon yang akan diajak untuk berumah tangga. Aku menjadi sedih dan bahkan sudah kalah sebelum berjuang. Aku juga sadar karena mungkin dari dulu Aldi nggak pernah ada perasaan apa-apa denganku, aku bisa merasakannya ketika kami sedang bersama. Ya sudahlah aku mundur saja dari pada nanti sakit hati sendiri mending tahu diri saja meskipun sedih juga.

__ADS_1


Karena waktu sudah semakin sore akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan kebetulan kami para perempuan diajak pulang bareng naik mobil Aldi karena kebetulan rumah kami searah dengan perjalan menuju ke rumah Aldi. Setelah mengantarkan semua teman-teman yang lain, tinggallah kami berdua. Aku merasa canggung ketika harus berdua meskipun dulu lumayan akrab saat kuliah namun sekarang keadaannya berbeda apa lagi aku sudah tahu perasaannya denganku seperti apa. Kami akhirnya sedikit berbasa-basi tentang keberangkatanku ke Jakarta dan tiba-tiba dia berkata:


“Eh… ngomong-ngomong kamu belum ada niatan untuk menikah nih?” tanya Aldi


Aku langsung memandang wajahnya dan langsung memalingkannya ke luar jendela. Aku pura-pura melihat pemandangan agar dia tidak tahu jika aku sedang menyembunyikan perasaanku.


“Belum nemu yang cocok mas, ada sih aku suka sama seseorang tapi mungkin orang tersebut nggak pernah suka sama aku. Apa lagi sepertinya dia sudah memiliki pasangan. Mungkin kami belum jodoh mas” aku menjawabnya dengan terus memandang ke luar jendela.


“Pasangan sah atau masih pacaran tuh? Kalau masih pacaran masih laah ada celah siapa tahu kamu bisa masuk kecuali kalau sudah menikah ya jangan sampai coba-coba ya…” terdengar candaan renyah dari Aldi.


“Pacaran mas, belum menikah kok” jawabku singkat.


“Lanjutttt gas poooll Gy… sebelum janur kuning melengkung masih lah boleh ditikung ha…ha…ha” dia semakin meledekku.


“Enggak lah mas, aku cukup tahu diri aja karena dia juga nggak bakal suka sama aku kok” aku menjawabnya dengan putus asa. Apakah kalau aku berjuang kamu bakal suka sama aku mas? Karena orang yang aku idamkan untuk dijadikan pendamping adalah dirimu mas. Namun kata-kata itu hanya kuucapkan dalam hati.


“Tetap semangat, mungkin belum waktunya kalian berjodoh kali” ucap Aldi memberikan semangat kepadaku dan aku berdoa dalam hati semoga kita berjodoh dan ditakdirkan bersama mas…


Tanpa terasa kami sudah sampai di depan rumahku, aku turun dan mengajak Aldi untuk mampir bertemu dengan bapak dan ibu namun dia menolak karena sudah ditunggu ibunya.

__ADS_1


Dia pamit sambil melambaikan tangan dan kubalas lambaian tangannya dengan perasaan yang sudah tidak menentu. Mungkin ini adalah pertemuan terakhir kita mas, karena setelah ini aku kembali lagi ke Jakarta dan mungkin sebentar lagi juga kamu akan menikah. Berbahagialah mas dengan pasangan pilihanmu. Aku tahu kita memang tidak akan mungkin berjodoh, gumamku dalam hati dan mulai memasuki rumah.


__ADS_2