Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Perkenalan Prameswari dengan Orang Tua Aldi


__ADS_3

Pagi-pagi setelah aku bangun dan mandi, aku membuka hp dan sudah ada pesan dari Prameswari.


Pagi Kang Mas… gimana suasana kampung?


Pesan itu terkirim bersama sebuah foto menu sarapan Prames yaitu roti panggang dan segelas jus alpukat tanpa gula. Ya… tanpa gula karena itu adalah kebiasaan Prames yaitu mengurangi konsumsi gula. Dia selalu mengajari aku untuk hidup sehat dengan mengatur pola makan meskipun dia sendiri bukan orang yang mudah gemuk tapi kata dia menjaga pola hidup sehat bukan hanya untuk orang yang mudah gemuk tetapi untuk semua orang. Dia sering sekali meminum jamu-jamuan seperti kunyit, kencur, temu lawak, jahe dan sejenisnya yang aku sendiri kadang tidak paham dan tentunya tidak mau ikut mengonsumsinya karena bagiku rasanya aneh. Namun Prames sering memaksaku untuk meminum juga dan lama-lama aku juga mengikuti gaya hidup dia yang lebih ke alami. Ketika kami sakit seperti meriang juga kami obati dengan berbagai ramuan yang bisa didapatkan dari bumbu-bumbu dapur. Tentunya murah meriah dan tidak mengandung kimia.


Pagi Prames…. Suasana kampung asyik banget lah… udara seger, mau makan juga sudah ada yang masakin nih. Beda kalau di Pekanbaru, apa-apa harus sendiri he he he….


Kubalas pesan Prameswari dan ternyata di lagi online. Langsung saja kuajak untuk video call. Setelah tersambung terlihat dia masing menikmati sarapannya di teras dan terlihat juga dia ada buku. Sudah pasti di pagi hari jika tidak bekerja pasti dia menikmati sarapan sambil membaca buku. Itu adalah rutinitas yang sudah kuhafal.


“Halo… selamat pagi duniaku….hehehehe…” Prames menyapaku sambil terkikik mungkin geli dengan kata-katanya sendiri karena kami jarang banget berkata yang penuh gombal-gombalan.


“Ihiiirrrr…. Diajarin siapa itu kok pagi-pagi udah puitis aja bahasannya atau kesambet setan pohon mangga depan rumahku?” sahutku meledek dia.


“Helooo, pohon mangganya kan di depan rumahmu kenapa sampai aku yang di Pekanbaru kesambet. Jauh amat tuh setan membuatku kesambet sampai nyebrang pulau” Prames mulai dengan keceriwisannya.


“Ha…ha….ha… bisa jadi kan, siapa tahu… oya Prames, ada yang mau bicara sama kamu nih” sambungku sambil melirik ke arah bapak dan ibu yang sedang menikmati siaran televisi di pagi hari seperti biasa sambil menikmati kopi. Ternyata kebiasaan mereka tidak pernah berubah dari dulu.


“Siapa Kang?” tanya Prames penasaran.


“Ini ada bapak sama ibu ingin kenalan sama kamu katanya” sahutku.


“Aku malu Kang, nanti kalau kesan mereka sama aku jelek gimana?” kata Prames, mungkin dia sudah Dag Dig Dug Der kali karena mau kenalan dengan orang tuaku.


“Ha…ha…ha.. santai aja kali Prameks, orang tuaku santai kok nggak bakal nggigit juga” jawabku menenangkan Prames agar tidak grogi karena aku tahu banget, dia pasti sangat grogi karena ini adalah yang pertama berkomunikasi dengan bapak dan ibu.


“Iya, santai aja Kang… aku kan hanya bercanda aja. Mana Kang bapak sama ibu?” tanya Prames.


“Sebentar ya” jawabku.


Aku beranjak dan berpindah tempat duduk ke ruang tengah di mana bapak dan ibu masih bercekrama di sana. Aku langsung duduk di antara bapak dan ibu.


“Pak, bu… ada perempuan mau ngobrol sama bapak dan ibu” celetuk aku.

__ADS_1


“Siapa le?” tanya bapak.


“Prameswari pak” jawabku sambil menyodorkan hp yang masih terhubung video call dengan Prames. Bapak menerimanya dan aku bergeser tempat duduk sehingga sekarang bapak dan ibu duduk berdampingan sedangkan aku di samping ibu.


“Selamat pagi nduk (panggilan untuk anak perempuan Jawa) Prames….” Sapa bapak waktu wajah Prames muncul di layar.


“Sugeng enjing (selamat pagi) pak, bu” jawab Prames dalam bahasa Jawa dan aku tidak melihat ekspresinya mungkin sambil tersenyum kikuk.


“Bagaimana kabarnya pak bu? Perkenalkan saya Prameswari temannya Aldi di Pekanbaru” Prames memperkenalkan diri dengan percaya diri. Tentunya karena aku tahu Prameswari punya kepercayaan diri yang tinggi meskipun dalam keadaan yang grogi namun bisa mengatasi keadaan.


“Kabarnya baik nduk, kamu sendiri bagaiamana di situ? Kok nggak ikut pulang sama Aldi kemarin?” ibu bertanya.


“Iya bu, saya di sini baik juga. Iya nggak bisa ikut pulang karena masih nabung dulu jadi pulangnya tahun depan saja bu” Jawab Prames.


“Pak, bu Aldi mau ke kamar mandi dulu ya kebelet nih… Prames, lanjut dulu sama bapak dan ibu ya, aku udah nggak tahan nih” ucapku sambil menahan perutku yang tiba-tiba mulas ingin ke belakang.


“Iya kang…” Jawab Prames.


“Cepet sana ke belakang. Nanti keluar di sini lagi” ucap ibu sambil meledekku.


“Sudah selesai pak bu?” tanyaku sama mereka.


“Sudah ini hpnya le” jawab ibu sambil mengembalikan hpku.


Setelah menerima hp, aku langsung membuka WA karena ada pesan dan ternyata itu pesan dari Gayatri.


Mas, bagaimana kalau hari ini kita ketemu? Mumpung ada waktu soalnya dua hari lagi aku harus kembali ke Jakarta nih


Begitulah isi pesan dari Gayatri.


“Bu, pak saya mau keluar dulu ya” pamitku kepada bapak dan ibu.


“Mau kemana le?” tanya ibu.

__ADS_1


“Ini diajak Gayatri ketemu bu, karena dua hari lagi Gayatri sudah mau balik ke Jakarta” jawabku.


“Ya sudah, sekalian nanti ajak dia ke sini ya le, ibu pengin ngobrol sama dia” pinta ibu.


“Ya nanti Aldi sampaikan ke Gayatri dulu ya bu, kalau dia mau ya Aldi ajak ke sini” jawab ku.


“Pak, pinjam mobilnya dulu ya” aku ijin meminjam mobilnya bapak karena mau pakai motor namun takut nanti hujan. Jadi biar tidak kepanasan dan kehujanan apa  lagi bawa anak gadis orang.


“Pakai aja le, itu kontaknya ada di atas meja dekat kulkas, jangan lupa ya diisi bensinnya nanti” jawab bapak.


“Masa sama anak sendiri perhitungan pak?” jawabku dengan muka memelas.


“Ya kalau nggak mau nggak papa sih… palingan nanti kamu sama Gayatri ngedorong tuh mobil. Jangan malu-maluin lah Aldi masa baru sekali jalan sama cewek aja langsung suruh ngedorong mobil” ledek bapak.


“Emang kenapa pak? Tanyaku masih penasaran.


“Ya iya lha wong bensinnya tinggal sedikit aja kok, palingan sampai pom bensin habis tuh bensin” papar bapak.


“Olaaahh… bapak untung dikasih tahu” sahutku.


“Hati-hati ya le” pesan bapak.


“Siap pak!”


Sebelum aku masuk mobil. Aku mengirimkan pesan ke Gayatri.


Gayatri, mau kujemput di rumah atau kita ketemuan aja di Taman Trembesi?


Beberapa saat kemudian WA ku sudah dijawab.


Langsung ketemu saja di Taman Trembesi mas, karena kebetulan aku nggak lagi di rumah, ini tadi habis dari rumah teman


Akhirnya aku langsung mengendarai mobilku menuju ke Taman Trembesi.

__ADS_1


Kira-kira seperti apakah pertemuan Gayatri dengan Aldi setelah sekian lama tidak bertemu? Apakah nanti ada hal penting yang akan terjadi diantara mereka?


__ADS_2