
Satu minggu lebih sudah berlalu Aldi berada di rumah sakit. Kini ia sudah bisa berjalan meskipun masih tertatih dan kepalanya masih sedikit sakit namun perkembangannya sudah sangat membaik berbeda dengan bapaknya di kampung halaman yang masih terbaring koma.
Hari ini dokter sudah membolehkan Aldi untuk kembali ke rumah dan itu adalah suatu kebahagiaan karena itu artinya sebentar lagi ia akan pulang dan bertemu dengan bapaknya.
“Prames, akhirnya aku bisa keluar juga dari rumah sakit dan aku bisa segera pulang kampung ketemu sama bapak” ungkap Aldi tersenyum penuh syukur.
“Iya kang…. Bersyukur banget kamu nggak jadi dioperasi, namun meskipun begitu kamu masih perlu untuk istirahat yang cukup ya…. agar nanti jika pas pulang sudah bener-bener sehat, aku nggak mau kamu masuk rumah sakit lagi cukup sekali ini saja lah” balas Prames yang sedang membereskan barang-barang mereka untuk segera dipacking dibawa pulang.
“Oh iya Prames….nanti tolong segera carikan aku tiket pesawat ya…” pinta Aldi.
“Nanti ya kang, sabar dulu…pastikan kamu bener-bener udah kuat untuk perjalanan jauh dan aku juga harus mengajukan cuti dulu” jawab Prames.
“Aku bisa kok pulang sendiri sayang…” Aldi berusaha meyakinkan dirinya.
Prameswari berhenti dengan aktivitasnya lalu mengambil tangan Aldi dan digenggamnya dengan erat.
“Sekali ini saja aku mohon dengarkan apa yang aku ucapkan kang…. Aku tahu, kita cemas dengan keadaan bapak yang sedang berjuang di sana namun aku juga khawatir dengan keadaanmu kang. Nanti kalau amit-amit kamu kenapa-napa lagi, terus bapak siapa yang akan merawat? Kamu pengen cepet-cepet pulang karena ingin menemani dan merawat bapak kan? Jadi tolong untuk saat ini pikirkan dulu keselamatanmu kang” ucap Prameswari kesal.
“Betapa beruntungnya aku punya pasangan kayak kamu Prameswari… semoga aku bisa memperistri dirimu dan menjadi ibu bagi anak-anakku nanti” Aldi menanggapi kekesalan Aldi dengan gemas.
“Nggak usah gombal dalam keadaan begini kang” Prameswari semakin kesal dan ingin segera melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti. Namun baru mau bergerak tangannya sudah dicekal oleh Aldi.
“Hei jangan marah tuan putri… iya…iya…aku minta maaf aku sudah egois dan maafkan aku, aku sudah membuat kamu khawatir. Aku akan nurut apa kata kamu Prames, maaf ya…” Aldi memohon maaf dengan muka yang serius namun bagi Prameswari mukanya sangat menggemaskan sehingga tanpa disadari tangan Pramesari sudah mendarat di kedua pipi Aldi lalu mencupitnya.
“Ih jail kamu, sudah dimaafkan kan sayangku?” tanya Aldi pura-pura tidak tahu jika Prameswari sudah tidak marah lagi.
__ADS_1
“Tau ah….aku mau lanjut dulu beberesnya” balas Prames lalu segera menyelesaikan aktivitasnya yang tadi tertunda.
“Makin gemes kalau lagi ngambek” gumam Aldi lirih namun masih terdengar di telinga Prameswari tetapi ia tidak lagi menanggapinya karena kalau ditanggapi pasti bakalan lama nantinya nggak kelar-kelar.
Jam menunjukan pukul 2 siang, kebetulan ini hari Sabtu dan suster tadi sudah melepaskan infus di tangan Aldi sehingga Prameswari dan Aldi sudah siap untuk pulang tinggal menunggu kursi roda yang sedang diambilkan oleh suster padahal tadi Aldi sudah protes karena mau jalan saja tetapi Prameswari tidak mengabulkan permintaannya karena selain lama luka-luka di kaki Aldi belum mengering jadi masih sakit dan jika berjalan masih tertatih-tatih.
“Cepat pulih kembali ya mas Aldi dan untuk mbak Prameswari tolong dijagain mas Aldinya ya dan nanti satu minggu lagi harus kontrol kembali sekaligus melepas jahitan di beberapa bagian tubuhnya yang kemarin robek” pesan seorang suster yang mengantarkan Aldi dan Prameswari sampai loby rumah sakit dan membantunya menaiki mobil taksi online yang tadi Prameswari pesan.
“Baik sus, terima kasih atas bantuannya” balas Aldi dan Prameswari bersamaan.
“Sama-sama mas dan mbak” jawab suster sambil melambaikan tangan ke mereka yang kini sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke tempat tinggal Aldi.
Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan dari rumah sakit menuju ke tempat tinggal Aldi dan kini mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti di halaman. Sang sopir taksi ikut membantu Prameswari menurunkan dan memasukan barang-barang bawaan ke dalam rumah dan yang terakhir membantu Aldi untuk turun.
“Sama-sama mbak, semoga masnya cepat sembuh ya” balas sopir taksi itu.
“Aminnn” kata Prames sambil berlalu untuk masuk ke rumah Aldi.
Terlihat Aldi sudah duduk di atas sofa di ruang tamu.
“Sayang….motornya sudah jadi ya? maaf ya malah aku membuatnya rusak. Kemarin servicenya ambil uangku nggak? Kalau belum ambil aja ya untuk ganti uang kamu untuk service” kata Aldi yang tadi sudah melihat motornya sudah terparkir di ruang tamu dalam keadaan sudah baik.
“Nggak usah kang, uangmu di simpan saja lagian kemarin nggak habis banyak kok cuma berapa ribu aja karena kebetulan kerusakannya juga nggak parah” Prames menolaknya dengan halus.
“Beneran Prames? Jangan bohong loh ya…” Aldi nggak percaya karena kalau dirinya saja luka parah mesti motornya juga bakal rusak lumayan parah.
__ADS_1
“Iya beneran kok… aku nggak bohong kang” ucap Prameswari meyakinkan Aldi.
“Ya udah kalau gitu, tapi nanti kalau ada kurang apa gitu silahkan ambil aja ya dan tolong ATM nya kamu saja yang pegang sayang” kata Aldi.
“Iya kang…” balas Prames yang saat ini sedang sibuk untuk merapikan barang-barang yang tadi dibawa dari rumah sakit.
“Kang…kamu istirahat aja dulu ya, aku mau bersih-bersih dulu nanti sekalian masak untuk makan malam kamu biar kalau aku pulang kamu tidak repot pesen makan segala” ucap Prames tanpa menghentikan aktivitasnya.
“Loh… kamu nggak tidur aja di sini menemaniku sayang?” Aldi berusaha menjaili Prames.
“Takut kamu khilaf dan nanti digrebek pak RT, kan bisa gawat” canda Prames menjaili Aldi balik.
“Justru itu yang aku harapkan Prames, biar kita cepet nikah karena biasanya hasil penggrebekan itu kan langsung dinikahkan” Aldi terkekeh memperhatikan raut muka Prames yang sudah siap perang, jika saja ia tidak sedang sakit pasti sudah dilempar apapun yang ada di dekat Prames.
“Amit-amit…. Doamu kok jelek banget sih kang… itu bukan suatu kebanggaan tahu…. tapi aib, jangan sampai kita seperti itu. Ingat ya… kita ini adalah seorang guru yang harus bisa digugu lan ditiru artinya apa? Setiap ucapan kita harus bisa jadi panutan terutama untuk siswa kita sedangkan perilaku kita harus bisa dijadikan contoh oleh mereka makanya ucapan dan tindakan kita harus hati-hati agar para siswa kita selalu menjadikan guru sebagai panutan yang baik” terang Prames seperti sedang memberikan kuliah sore kepada para mahasiswanya.
“Waaahhh….. dapat satu SKS nih di sore yang indah begini” sindir Aldi namun dalam hatinya membenarkan juga atas ucapan Prameswari tentang jati diri seorang guru
“Yeee….aku ngomong beneran kok malah dikira kuliah sore” kesal Prames mengerucutkan bibirnya.
“Ha…ha…ha….Tolong ya itu bibir dikondisikan udah kaya bebek kurang air aja manyunnya bercenti-centi meter” canda Aldi sambil tertawa.
“Udahlah…sana kamu istirahat aja kang, inget loh ya kamu ini baru keluar rumah sakit jangan ceroboh. Kamu tadi sudah minum obat siang kan?” tanya Prames tanpa meladeni candaan Aldi karena sudah tahu pasti nanti nggak bakalan kelar-kelar.
“Tadi sudah kuminum obatnya, kamu nggak usah kecapean Prames… biarkan sajalah rumah kotor namanya juga aku nggak bisa bersih-bersih. Nanti kalau aku sudah bisa pasti aku bersihkan kok” kata Aldi yang merasa kasihan karena Prameswari sudah pontang-panting ngurusin dirinya satu minggu ini.
__ADS_1