
Dua minggu sudah dilewati oleh Aldi di kampung halaman dan kini saatnya dia harus kembali lagi ke Pekanbaru. Setelah pertemuan dengan Gayatri, bapak dan ibunya Aldi sudah berterus terang mengenai rencana perjodohan tersebut. Aldi sangat bingung untuk memutuskan, di sisi lain ia ingin berbakti kepada kedua orang tua apalagi pilihan bapak dan ibunya bukan sembarangan tetapi memang pilihannya adalah gadis yang memiliki bebet, bobot, bibit yang bagus. Tidak ada cacatnya namun sekali lagi… perasaan Aldi tidak bisa dibohongi. Aldi juga takut jika dianggap pemberi harapan palsu sama Prames, karena saat ini nyatanya dia masih ada hubungan dengan Prames. Ya! Ngomongin tentang Prames, Aldi baru menyadari ternyata setelah pesan terakhir yang ia kirimkan waktu di cafe Taman Tremebesi tak ada lagi pesan balasan dari Prames sampai saat ini.
Kemana dia? Apa lupa sama aku ya? gumam Aldi dalam hati sambil menata barang-barang yang akan dibawa ke Pekanbaru. “Aku hubungi saja lah, salahku juga sih kenapa dari kemarin lupa mau hubungi dia saking asyiknya” kata Aldi bicara sendiri. Aldi meraih hpnya yang ditaruh di atas nakas samping tempat tidur, lalu mencari nomor Prames dan segera menekan tombol panggil. Tidak lama kemudian setelah nada dering berbunyi…
“Halo kang!” sapa Prames di ujung sana dengan suara lembut yang membuat hatiku menjadi tenang dan nyaman.
“Halo sayang....! aku kengan banget loh, kemana aja sih dari kemarin nggak ada kabar? Apa nggak kangen sama aku?” aku memberondong dia dengan pertanyaan.
“Sayang…sayang….nggak usah sok romantis Kang, kaya anak alay tahu” jawab Prames sebel karena dia memang tidak suka dipanggil sayang seperti perempuan pada umumnya ketika berinteraksi dengan pasangannya.
“Aku nggak kemana-mana kok Kang, selama liburan ini aku menghabiskan bacaanku dan bahkan nggak main sama sekali. Paling kalau bosan baca buku ya aku nonton film atau coba-coba memasak menu baru” Prames berusaha memberikan penjelasan seperti biasa ketika lama tidak terlihat batang hidungnya.
“Aduh…. kasihan sekali sih, kaya merena kali hidupmu tidak jauh-jauh dari buku, dasar kutu buku!” sahutku.
“Boleh dong Prames nanti masakin aku menu baru itu kalau aku udah sampai Pekanbaru, pasti masakanmu tambah enak nih” tambahku berusaha untuk memberikan semangat kepadanya yang suka mecoba menu masakan baru. Ya! Prames memang suka memasak dan masakannya pun terbilang sangat enak, tidak kalah dengan masakan ibuku.
“Boleh Kang…” jawab Prames singkat.
‘Ada yang beda dari cara ngobrol kita kali ini tapi apa ya?’ gumamku dalam hati.
“Halo Kang! Masih di situ kah?” tanya Prames yang membuatku tersadar ke dunia nyata lagi.
“Iya Halo Prameks…Mmmmm… boleh aku bertanya sesuatu?” tanyaku karena penasaran sepertinya ada sesuatu yang terjadi denganya. Aku orang yang peka dan perasa dengan hanya mendengar seseorang berbicara atau melihat wajahnya. Aku mendengar nada bicara dia seperti sedih dan terluka.
“Tanya apa Kang?” jawab Prames.
__ADS_1
“Kita video call ya biar aku bisa melihat wajamu” pintaku kepadanya.
“Bentar ya aku pindah ruangan dulu yang terang” kata Prames.
Beberapa saat kemudian kita sudah terhubung dengan panggilan video call. Kami saling menatap wajah kita masing-masing dan dari situ semakin menguatkan dugaanku jika Prames sedang tidak baik-baik saja terlihat dari tatapan dia yang sendu.
“Prames, ada apa? Apakah kamu sedang ada masalah? Boleh aku tahu kenapa matamu sendu dan sepertinya kamu sedang tidak baik-baik saja?” tanyaku bertubi-tubi.
“Apaan sih Kang? Aku baik-baik saja di sini. Mataku begini mungkin karena habis menangis, aku sedih dengan kisah cinta dari tokoh film yang tadi aku tonton tuh, ini kaya ikut terlena dengan alur filmnya loh Kang…” papar Prames sambil tersenyum namun matanya berkaca-kaca dan itu tidak bisa membohongiku sama sekali.
“Hey… aku ini nggak bisa kamu bohongin Prames, aku tahu mana yang sedih karena nonton film sama yang tidak. Jangan bohongin aku Prames. Ada apa? Apakah ada yang melukaimu? Atau aku udah berbuat salah? Atau karena kamu kangen sama aku?” aku terus menuntut jawaban dari dia karena tidak biasanya dia bermuka sendu seperti itu.
“Iya…aku hanya kangen aja sama kamu Kang, tidak ada masalah kok. Banyak hal yang aku pengin segera diskusikan sama kamu seperti biasa” jawab Prames, dan dia berusaha untuk menetralkan mukanya namun aku belum puas dengan jawabannya karena sepertinya masih ada yang dia sembunyikan dariku. Meskipun kami punya kebiasaan berdiskusi masalah kehdiupan, film, atau bahkan masa depan namun kali ini sepertinya lain dan aku harus menemuinya langsung nanti setelah sampai Pekanbaru.
“Aku jemput di bandara ya Kang!” pinta Prames.
“Kamu nggak sibuk emangnya? Atau karena udah saking kangennya ya? udah nggak sabar ya Prames ingin ketemu Kang Mas yang ganteng ini?” ucapku sambil cengengesan.
“Narsis lu. Udah kujemput aja jam 7 di bandara. Udah sono lanjutin packingnya dan jangan lupa oleh-olehnya yang banyak ya Kang. Jangan lupa hati-hati di jalan” kata Prames.
“Siap Big Bos! Udah dulu ya sampai jumpa nanti malam sayang..! Bye!” aku memberikan ciuman jauh dan dia hanya menanggapinya dengan lambaian tangan seperti biasa.
Setelah telpon selesai, aku segera melanjutkan acara packingku tadi yang tertunda. Oleh-oleh dan beberapa potong baju sudah masuk ke dalam koper semua, kini tinggal mandi dan sarapan sama bapak dan ibu.
Suasana sarapan pagi ini penuh keceriaan, seperti biasa kami saling bercanda dan ngobrolin hal-hal yang ringan, namun setelah sarapan selesai bapak dan ibu berganti menjadi mode serius.
__ADS_1
“Le, tolong segera diselesaikan urusannya dengan Prameswari. Jangan lama-lama karena takutnya semakin lama dia akan semakin berharap selain itu agar dia segera menemukan tambatan hatinya dan sembuh dari luka ini” pinta bapak dan membuatku harus menghembuskan nafas berat memikirkan itu semua.
“Pak, bu, apa tidak ada kesempatan untuk Prameswari membuktikan kalau dia juga layak menjadi pendampingku dan menantu bapak sama ibu? Kami saling mencintai pak, bu? Apa kurangnya Prames pak? Dia cantik, cerdas, mandiri dan punya unggah-ungguh yang bagus juga” ungkapku dengan penuh harap.
“Le, Prames nggak kurang apa-apa kok. Dia memang terlihat baik juga dan benar apa yang kamu katakana bahwa dia memang canti dan sopan juga sama orang tua terlihat ketika dia berkomunikasi dengan bapak dan ibu, namun kami sudah berjanji kepada Surono untuk menjodohkan kamu dengan anaknya Le, yang namanya rasa cinta akan datang seiring dengan kehidupan kalian nanti setelah bersama. Kalau kamu tanya apa kurangnya Prames, sekarang bapak tanya apa kurangnya Gayatri Le?” papar bapak
“Kurangnya tidak ada pak, namun aku tidak mencintainya pak, lagian ini sudah tahun berapa pak masih saja ada acara perjodohan?” tanyaku dengan kesal.
“Le, selama ini ibu tidak pernah meminta apapun sama kamu. Ibu selalu membebaskan kamu mau ngapain saja asal masih dalam batas wajar dan baik. Namun kali ini ibu meminta dan memohon untuk menerima keputusan ibu dan bapak mengenai siapa yang akan mendampingi hidupmu setelah ibu dan bapakmu tidak ada” ibuku memohon dan ini yang membuat aku tidak bisa berkata “Tidak” ketika sudah berhadapan dengan ibu. Memang selama ini ibu tidak pernah memaksaku untuk melakukan sesuatu dan selama menempuh pendidikan, ibu juga menyerahkan keputusannya kepadaku untuk memilih jurusan yang aku sukai. Namun sekarang sekalinya minta, ibu meminta sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apakah bisa mewujudkannya.
“Nanti aku pikirkan lagi bu, aku masih bingung” akhirnya aku putuskan untuk mengakhiri pembicaraan berat ini.
“Aku mau pamit dulu pak bu, karena ini sudah jam 10 kurang 15 menit. Keretaku berangkat jam 10.15 nanti pak, bu” Aku langsung berpamitan kepada kedua orang tuaku.
“Ya sudah le, kamu hati-hati ya di jalan jangan lupa kalau sudah sampai langsung kabari ke ibu atau bapak dan sering-sering juga kasih kabar ya…” jawab ibu.
“Jangan lupa juga dengan pesan bapak le” tambah bapak.
“Iya pak, bu… Aldi mohon doa restu ya agar perjalanan Aldi lancar dan urusan Aldi di pulau seberang selalu lancar dan untuk bapak dan ibu selalu jaga kesehatan ya…” ucapku sambil bersujud di hadapan bapak dan ibu dan ini memang kebiasaanku sebelum melakukan perjalanan jauh.
“Iya Le, ibu dan bapak merestui dan mendoakan setiap langkah perjalanan Aldi” ucap ibu dan bapak sambil mengusap kepalaku.
Aku bangkit lalu memeluk kedua orang tuaku, kemudian bergegas meraih koper dan tasku yang sudah siap sejak tadi di ruang keluarga. Aku keluar dan sudah ada sepupuku yang akan mengantarkan aku ke stasiun.
Kulambaikan tanganku kepada bapak dan ibu yang ikut mengantarku sampai dengan depan pintu. ‘Bapak, ibu, aku pergi mencari pengalaman di pulau seberang dan semoga keputusanku nanti tidak mengecewakan kalian’ gumamku dalam hati dan tidak terasa motor yang kutunggangi sudah berjalan meninggalkan halam rumah yang penuh kenangan itu.
__ADS_1