
Hari ini aku pulang kampung untuk melepas kangen dengan bapak dan ibu yang sudah satu tahun ini berjauhan. Bapak dan ibu hanya berdua di rumah karena aku adalah anak tunggal. Setelah berpamitan dengan Prameswari di bandara, aku langsung bergegas untuk check in, kebetulan aku tidak ada bagasi hanya satu tas gendong saja, sehingga tidak perlu menunggu lama di bagian check in counter. Setelah check in aku harus melewati bagian keamanan kedua untuk memastikan aku dan barang bawaanku aman tidak membawa hal-hal yang membahayakan. Setelah selesai, aku menuju ruang tunggu karena jadwal penerbangan masih ada 20 menit lagi sedangkan perjalanan dari check in counter sampai ke ruang tunggu tidak jauh hanya ada dua lantai saja tidak seluas Bandara Soekarno Hatta yang butuh waktu lama untuk menuju ke ruang tunggu.
Sambil menunggu waktu, aku menyalakan HP dan membuat note untuk jadwal rencana liburanku kali ini. Hal ini biasa kulakukan agar segala rencana bisa terjadwal dengan baik sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena tidak ada rencana yang matang dalam melakukan segala sesuatu. Tidak lama kemudian, ada pengumuman jika pesawat tujuan Bandara Adi Sutjipto telah siap dan gate sudah dibuka untuk melakukan boarding pass. Aku pun berdiri dan mengantre di depan gate menuju ke peswat.
Pesawat sudah take off dan kebetulan aku mendapat kursi di samping jendela sehingga aku bisa melihat pemandangan lebih mudah. Ya… meskipun kalau sudah di ketinggian tertentu hanya bisa melihat awan putih saja. Sekitar 2 jam 45 menit, pesawat sudah landing di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Aku mengucapkan syukur karena sudah terbang tanpa kendala, bagiku ketika perjalanan menggunakan pesawat itu antara hidup dan mati, dan aku selalu memasrahkan diriku kepada Tuhan.
Setelah keluar dari pesawat aku langsung menuju pintu keluar bandara, enaknya begini tidak harus mengantre ambil bagasi karena hanya bawa barang sedikit saja jadi bisa cepat. Aku melangkah ke halte Trans Jogja yang kebetulan memang masih ada di area dalam bandara. Aku memilih jurusan Malioboro karena aku ingin mampir dulu di sana membeli oleh-oleh untuk bapak dan ibu… lucu ya… dari Pekanbaru tapi oleh-olehnya beli di Jogja. Begitulah aku, karena nggak mau repot di pesawat he… he… he… sambil duduk di dalam Trans Jogja aku mengeluarkan HP dan menghubungi Prames untuk memberi kabar kalau sudah sampai Jogja. Setelah itu, aku segera menikmati perjalanan sambil melihat jalanan Kota Jogja yang sudah lama tidak kudatangi.
Malioboro di sore hari lumayan padat, sehingga aku tidak bisa menikmati suasananya dan akhirnya aku hanya membeli oleh-oleh saja dan langsung menuju ke Stasiun Tugu dengan jalan kaki karena memang sudah dekat jaraknya. Aku segera memasuki stasiun karena sebentar lagi kereta jurusan Surabaya akan segera berangkat memabawaku yang nanti akan berhenti di kota kelahiranku Madiun.
Sekitar beberapa jam kemudian, kereta sudah sampai di Stasiun Madiun dan aku sudah dijemput oleh saudaraku karena memang jarak dari Stasiun ke desaku masih agak jauh.
Rumah Joglo khas Jawa yang halamannya berpagar hitam dan dikelilingi oleh pohon Mangga itulah tempat di mana aku dilahirkan dan dibesarkan oleh kedua orangtuaku dengan penuh kasih sayang. Kini aku kembali ke rumah yang penuh kehangatan itu, rasanya lega…
“Kowe to le, lha kok nganti wengi seko Pekanbaru jam piro?” (Kamu to le, Kenapa sampai malam dari Pekanbaru jam berapa?) (Ket: le berasal dari kata thole yang artinya panggilan untuk anak laki-laki Jawa) tanya ibuku dalam bahasa Jawa. Ibu dengan tergopoh-gopoh menyambut anak bujangnya dengan penuh rasa kangen. Aku menyalami bapak dan ibu dengan hormat, tidak lupa aku menyerahkan oleh-oleh yang kubabawa kepada mereka. Karena lelah, setelah mengobrol sebentar aku menuju kamar untuk membersihkan diri dan istirahat.
Ketika selesai mandi dan berganti pakaian aku meraih HP yang baru kunyalakan, sambil rebahan aku foto tembok kamar dan kubuat status di WA dengan caption “Akhirnya sampai di rumah lagi”
Prameks, aku sudah sampai di rumah Madiun ya… Happy Holiday!
Pesan kukirim ke nomor Prames agar dia tahu dan tidak khawatir karena aku sudha sampai rumah dengan selamat.
Hp kutaruh di atas nakas sebelas tempat tidur, namun baru saja akan merebahkan tubuh di kasur yang empuk…
Klunting!
Kuambil lagi hpku yang menandakan jika ada pesan masuk. Ku buka WA karena sudah pasti itu Prameswari yang membalas pesanku tadi. Namun…
Kapan pulang Mas? Apa kabar?
Ternyata bukan Prames namun Gayatri. Gayatri adalah teman kuliahku dulu yang sudah lama tidak bertemu dan kami juga jarang sekali bertukar kabar. Ya… Gayatri ini sebenarnya bukan teman biasa karena kami sudah lumayan akrab dan setiap ada mata kuliah yang dia tidak tahu, aku sering mengajarinya. Namun setelah selesai kuliah pertemanan kami tidak lagi dekat karena kesibukan kami masing-masing. Dia bekerja di salah satu sekolah di Jakarta sedangkan aku pergi jauh ke Pekanbaru.
__ADS_1
Halo Gayatri… kabar aku baik. Kabar kamu gimana? Sekarang lagi di Jakarta atau di Madiun nih? Aku baru aja pulang. Aku membalas pesan dari Gayatri lalu aku senyapkan hpku karena tubuh ini begitu lelah dan butuh istirahat.
Aldi! Aldi! Bagun nak, udah sore nih… suara ibu terdengar samar-samar.
Dok…! dok…! dok…!
“Aldi bangun nak, udah sore, mandi dulu nanti makan ini ibu masakin makanan kesukaanmu” suara ibu terdengar lagi sambil mengetuk pintu kamarku dan membuat aku mulai kembali lagi ke dunia nyata.
“Iya bu, ini Aldi sudah bangun… sebentar lagi mau mandi dulu bu” sahutku kepada ibu.
“Oke Aldi, ibu lanjut masak nih” balas ibu.
“Siap ibu!” setelah menjawab ibu, aku segera bangun dan merapikan tempat tidurku meskipun aku cowok tapi kerapihan selalu kujaga karena tidak suka melihat segala sesuatu yang berantakan. Setelah itu, aku bergegas menyambar handuk dan menuju ke kamar mandi yang kebetulan ada di dalam kamar. Begitu masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuh dengan air rasanya badan menjadi segar kembali dan sisa-sisa lelah karena perjalanan juga seketika menguap meskipun sebelum tidur aku juga sudah mandi. Tidak memakan waktu lama, aku selesai mandi dan bergegas untuk memakai kaos dan celana pendek lalu keluar dari kamar. Begitu kamar terbuka, aroma sedap sudah menguar dan sudah pasti itu arahnya dari dapur.
“Ibu, masak apa? Aromanya sedap kali kelihatannya enak nih!” ucapku sambil melongokkan kepala ke tempat ibu sedang berkutat memasak.
“Masakan kesukaanmu Aldi. Ada ikan bawal goreng, tempe tahu bacem, sama sambel terasi dengan tomat mentah” balas ibu tanpa memandangku karena sedang asyik menggoreng ikan bawal.
“Waahhh… sedaaappp… bisa langsung habis nih nanti nasinya bu.” celetukku.
“Nggak usah, ini sudah mau selesai kok le.” Jawab ibu.
“Ya udah bu, kalau nggak butuh bantuan, aku mau jalan-jalan di depan dulu ya bu… kangen dengan suasana kampung nih” aku pamit kepada ibu.
“Jangan malem-malem pulangnya ya le….” pesan ibu.
“Ok bu!”
Akupun pergi jalan-jalan sekaligus mengenang kembali masa-masa aku masih di sini.
Hari sudah mulai senja dan sebentar lagi Magrib datang, maka aku memutuskan untuk segera pulang.
__ADS_1
Sampai di rumah, aku langsung membersihkan diri dan bersiap-siap untuk makan malam. Sebelum aku keluar dari kamar, aku mengambil hpku yang sudah dari sore tadi tidak tersentuh. Aku membuka aplikasi WA dan sudah ada beberapa pesan yang masuk. Aku buka dulu pesan dari Prameswari.
Syukurlah Kang kalau sudah sampai. Happy holiday ya…salam buat ibu dan bapak.
Begitulah bunyi pesan dari Prames.
Iya, nanti aku sampaikan ke bapak dan ibu. Kamu di situ hati-hati ya dan tunggu aku balik lagi.
Setelah membalas pesan dari Prames, aku buka pesan dari Gayatri.
Kabar aku baik mas, syukurlah kalau kabarmu juga baik. Aku lagi di Madiun mas, sudah dua hari liburan di sini. Mas, udah lama nih kita nggak ketemu mumpung kita libur ketemu yuk.
Oh… kamu lagi di Madiun juga ternyata, ya udah nanti kita tentukan harinya untuk ketemu ya sebelum aku balik lagi ke Pekanbaru balasku ke Gayatri.
Selesai berbalas pesan dari Gayatri dan Prameswari, aku segera menuju ke ruang makan yang ternyata sudah ada bapak dan ibu yang sudah siap bersantap makan. Kami menghabiskan makan malam dengan lahap apalagi menu yang dihidangkan kali ini adalah menu makanan kesukaanku.
“Le, ada hal yang ingin kami diskusikan bersama, mumpung kamu sudah di rumah” ucap bapak setelah kami semua menyelesaikan makanannya.
“Ada apa pak? Apakah ada hal penting? Sepertinya apa yang akan dibicarakan masalah serius ya pak?” jawabku.
“Ya, bapak sama ibumu kan sudah tua le, dan umur kamu juga sudah matang untuk membina rumah tangga. Apakah sudah ada calonnya le? Kalau sudah ada segera dikenalkan dengan kami le” jelas bapak.
“Iya le, umur sudah matang. Pekerjaan juga ada, untuk tabungan juga pastinya sudah punya kan le kalau memang kamu nggak ada calon, ibu ada calon nanti ibu kenalkan sama kamu” sambung ibu.
“Pak, bu sebenarnya Aldi sudah mempunyai calon namun belum bisa Aldi bawa untuk berkenalan dengan bapak dan ibu. Dia ada di Pekanbaru pak bu, dia hanya nitip salam untuk bapak dan ibu” jawabku terus terang.
“Siapa le?” tanya ibu dengan wajah sumringah.
“Namanya Prameswari bu, dia orang Solo. Ini fotonya aku kasih tahu” jawabku sambil mengutak atik galeriku untuk mencari fotonya Prames.
“Ini bu” kusodorkan foto Prames yang ada di hpku kepada bapak dan ibu.
__ADS_1
Ibu dan bapak dengan seksama memperhatikan foto Prames yang kusodorkan.
Bagaimana reaksi mereka? Apakah Aldi mendapatkan lampu hijau untuk melanjutkan hubungannya dengan Prames?