
Flash back sebelum kecelakaan Yadi dan Lestari
Tring! Tring! Tring!
Bunyi hp terdengar begitu nyaring di pagi hari di sebuah rumah yang penghuninya masih sibuk beraktivitas. Seorang laki-laki berjalan tergopoh-gopoh dari teras menuju ke ruang tengah di mana sumber suara berbunyi.
“Halo Sur….” Sapa Yadi, ya laki-laki tersebut adalah Yadi bapaknya Aldi.
“Halo Yadi… apa kabar?” balas seorang laki-laki di seberang sana yang ternyata adalah Surono bapaknya Gayatri.
“Baik Sur… kamu sendiri gimana? Lama ya kita nggak ada ketemu lagi dan tumben nih pagi-pagi sudah bikin ribut suasana, ada apa nih?” seloroh Yadi terkekeh.
“Ya…begini lah aku selalu baik dong, meskipun sudah tua tapi masih kelihatan muda he…he…he… iya makanya pagi ini aku sengaja telpon kamu supaya nanti siang kita ketemu dan segera membicarakan rencana perjodohan yang kemarin-kemarin kita sudah sempat bahas namun sampai sekarang kan kamu seolah lupa kapan akan melamar anakku ini Yad” balas Surono pura-pura marah.
“Iya…iya… Sur, ini juga sudah ada rencana namun karena sibuk terus akhir-akhir ini makanya belum sempat ketemu kamu lagi bukannya aku lupa, jadi nggak usah ngambek gitu lah” bujuk Yadi dengan tidak enak hati.
“He…he…he… iya aku paham Yad. Makanya nanti siang kamu sama istrimu harus kesini ya untuk kita mematangkan kembali rencana perjodohan anak-anak kita” bujuk Surono dan tanpa disadari oleh lawan bicaranya ia tersenyum licik.
“Ya sudah nanti siang aku sama istriku datang ke tempatmu. Kami berangkat jam 11an ya nanti paling sampai situ jam 12 kalau nggak macet karena biasanya jalanan macet, kalau jam segitu kan banyak orang keluar makan siang” Yadi memberikan persetujuan.
“Ya udah nggak apa-apa yang penting hari ini juga kamu datang bersama Lestari akan semuanya clear dan segera dilaksanakan rencana kita” balas Surono.
“Ya udah Sur, aku harus melanjutkan pekerjaanku dulu biar nanti nggak kesiangan ke tempatmu” Yadi berpamitan dan setelah ada persetujuan dari Surono telpon pun berakhir.
Yadi kembali ke teras untuk melanjutkan bersih-bersih sedangkan istrinya sedang di belakang menjemur pakaian yang habis dicucinya.
Beberapa saat kemudian, Yadi sudah selesai untuk membersihakn teras serta halaman rumah dan kini ia menuju ke belakang untuk menemui istrinya.
__ADS_1
“Bu…sudah selesai njemur pakaiannya?” tanya Yadi ketika melihat Lestari sudah berganti aktivitas.
“Sudah dari tadi pak, itu cuma sedikit aja kok jadi nggak pakai lama sudah beres” terang Lestari sambil mencuci piring.
“Bu…nanti siang ada undangan ke tempat Surono, dia ngajak kita untuk membicarakan masalah perjodohan anaknya dan Ardi dan dia minta untuk disegerakan” kata Yadi memberitahukan acara nanti siang.
“Ibu setuju saja pak, apalagi ini niat baik dan memang harus disegerakan lagian mumpuk bapak sudah tidak terlalu sibuk kan?” Lestari menyetujui rencana Yadi.
“Iya betul bu… dan semoga ini yang terbaik ya bu…” ucap Yadi penuh harapan.
“Amiinn…. Jadi nanti kita berangkat jam berapa pak?” tanya Lestari.
“Kita berangkat jam 11an saja bu, nanti mampir dulu ke tempat beli buah tangan karena nggak enak kalau berkunjung dengan tangan kosong bu” terang Yadi sambil mencomot cemilan yang ada di atas meja.
“Oke pak… bapak sarapan aja dulu itu ibu sudah bikin nasi goreng tadi, ibu mau ke tempat Yu Darmi dulu mau nitip uang arisan nanti sore” kata Lestari sambil berlalu ke kamar mengambil uang.
“Ya udah bu… bapak makan dulu ya” ucap Yadi dan tangannya sudah meraih centong untuk mengambil nasi sedangkan Lestari sudah keluar ke rumah Darmi.
Di sebuah rumah di kota yang sama, seorang laki-laki sedang menulis sebuah surat dengan gaya tulisan milik orang lain yaitu gaya tulisan Lestari istri dari Yadi sahabatnya sendiri. Laki-laki itu adalah Surono yang saat ini sedang merencanakan sesuatu yang nantinya akan menggemparkan keluarganya sekaligus keluarga sahabatnya sendiri yaitu Yadi.
“Nah…. selesai juga akhirnya, lumayan mirip dan tidak sia-sia selama ini aku mempelajari gaya tulisan Lestari. Kalau begini nggak akan mungkin ada yang curiga jika akulah yang menulis surat ini kecuali jika polisi yang mengeceknya, tapi itu jelas tidak mungkin ha…ha…ha…ha… si bodoh Aldi itu tidak akan sampai sana pikirannya” Surono berbicara sendiri sambil tertawa seolah-olah sedang mengejek orang yang selama ini dalam bayangannya.
Surat yang ditulis Surono sudah selesai dan tinggal ditanda tangani oleh orang yang bersangkutan. Kini tinggal menghubungi orang suruhannya untuk melaksanakan rencana selanjutnya. Ia sudah menyusun rencana dengan baik dan tidak mau gagal sia-sia karena Surono sudah menantikan saat-saat ini.
“Halo Yo, dimana kamu” Surono menghubungi orang suruhannya tersebut.
“Aku masih di pasar ini Sur, gimana?” tanya Karyo orang suruhannya itu.
__ADS_1
“Rencana yang kemarin udah aku susun laksanakan hari ini, nanti targetnya datang jam 11an dan kamu harus siap di jam segitu. Jangan lupa lakukan sesuai dengan perintah dan harus rapi aku nggak mau kamu gagal. Kamu tahu kan resikonya kalau sampai gagal?” terang Surono yang disertai dengan ancaman.
“Oke Sur… siap lah itu mah gampang sudah pekerjaanku sehari-hari… yang penting jangan lupa bayarannya” ucap Karyo di seberang sana.
“Jangan khawatir dengan bayaran. Kalau tugas kamu berhasil maka aku bakal bayar kamu tiga kali lipat. Gimana? Tapi ingat jika ada apa-apa aku tidak mau disangkut pautkan dan itu sesuai dengan kesepakatan yang kemarin kamu tanda tangani” kata Surono mengingatkan kembali kesepakatan yang sudah mereka berdua buat.
“Siap Sur… jangan khawatir… kamu kan tahu pekerjaanku selama ini selalu rapi dan tidak pernah terendus oleh polisi jadi tenang aja lah” ungkap Karyo dengan percaya diri apa lagi ini bayarannya gede jadi ia bertekad untuk tidak mengecewakan pelanggannya yang merupakan temannya sendiri.
“Ya sudah Yo… aku hanya ingin menyampaikan itu saja. Aku tutup dulu” pungkas Surono mematikan telpon tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.
“Semua sudah tersusun dengan baik, sekarang saatnya menunggu dan memantau. Sebentar lagi dendamku bakal mulai terbalaskan. Yadi….bersiap-siaplah kamu menerima apa yang sudah keluargamu tanam dulu dan aku yakin kamu bakalan kaget dengan apa yang akan aku lakukan” gumam Surono dengan percaya diri.
“Kenapa bapak ngomong sendiri di pagi hari seperti ini? sambil senyum-senyum lagi” tiba-tiba Ratih sudah ada di hadapan Surono membuyarkan lamunannya.
“Ck… kamu ini mengganggu bapak saja sih Ratih” bukannya menjawab malah Surono berdecak kesal melihat kedatangan Ratih.
“Dari pada kamu berdiri terus di situ mending sana buat makanan aku ini sudah lapar dari tadi menunggu. Bukannya pagi-pagi seorang istri membuatkan sarapan suaminya malah keluyuran nggak jelas. Dasar istri nggak becus kamu ini” Surono semakin merepet padahal Ratih pergi ke pasar untuk membeli keperluan masak pagi ini dan tentu saja Surono mana mau tahu tentang itu.
Ratih kembali berlalu ke dapur untuk memasak dengan hati dongkol karena pagi-pagi begini sudah sarapan amarah suaminya ya…meskipun Ratih sudah biasa mendapatkan perlakukan seperti itu dari dulu dan entah sampai kapan suaminya ini akan berubah.
“Ehhh….tunggu! nggak sopan banget suami lagi bicara ditinggal begitu saja. Aku ini belum selesai bicara Ratih” tiba-tiba Surono kembali merepet ketika Ratih tidak menanggapinya.
“Ada apa lagi sih pak? aku ini mau masak katanya tadi lapar kamu?” nada bicara Ratih sudah semakin kesal.
“Iya! Iya! Aku hanya mau bilang nanti ada Yadi dan Lestari yang akan berkunjung ke sini, tapi kamu nggak usah ikut ngobrol sama mereka. Ini urusanku sama mereka jadi nggak usah ikut campur kamu cukup menyambutnya dan segera menyingkir ketika kami akan berbincang masalah perjodohan Gayatri dan Aldi itu” ucap Surono memperingatkan istrinya mengenai rencana yang sudah disusun.
“Iya pak, ibu ngerti” sahut Ratih tanpa bertanya mengapa da nada apa karena ia sudah paham sekali jika suaminya sudah berbicara maka tidak boleh dibantah dan ia tidak mau ribut pagi-pagi begini karena sudah sangat lelah menghadapi tingkah laku suaminya selama ini.
__ADS_1
“Baguslah kalau kamu ngerti. Sana kamu segera masak” balas Surono tanpa memikirkan perasaan istrinya.
Ada takdir apa yang sedang menunggu Yadi dan Lestari di depan sana?