Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Cafe Melati


__ADS_3

Kejadian Prames menangis di depanku sudah berlalu beberapa hari dan kebetulan aku sibuk mempersiapkan pekerjaan di sekolah untuk menyambut siswa masuk kembali, jadi belum sempat meluangkan waktu untuk ngobrol berdua tentang masalah yang sedang menimpanya sekaligus permasalahan hubungan kami. Selama itu pula Prames sedikit berubah sikap denganku seolah-olah dia sedang menghindariku. Meskipun demikian kita masih seperti biasa, ketika salah satu diantara kami sedang membutuhkan bantuan maka akan saling membantu.


“Prames, nanti pulang kerja aku mau ngajak ngobrol masalah penting, kamu ada waktu nggak?” ucap Aldi ketika waktu istirahat telah tiba.


“Boleh Kang, aku juga ada yang harus dibicarakan sama kamu” balas Prames.


“Ya udah nanti kita ke cafe Melati yang ada di jalan Melur ya” ajak Aldi.


“Okay” balas singkat Prames.


Waktu pulang kerja tinggal lima menit dan kami sudah bersiap-siap untuk pulang karena pekerjaan kami juga sudah selesai.


“Kang, aku mau ke rumah dulu ya, mau mandi dan ganti baju dulu, nanti kamu tunggu aja di di rumahmu. Jam 6 aku jemput” kata Prames ketika dia sedang naik ke boncengan motor sedangkan aku sudah siap menyetir.


“Okay siap tuan putri” balasku dan segera tarik gas menuju tempat tinggalku.


Waktu menunjukkan jam 6 sore dan Prameswari sudah hampir sampai di tempat Aldi kembali dan dia sudah memutuskan untuk membicarakan tentang hubungannya malam ini juga agar bisa segera selesai dan dirinya bisa menyembuhkan luka secepatnya.


Tok! Tok! Tok! Bunyi suara pintu yang diketuk Prameswari setelah ia sampai di tempat tinggal Aldi.

__ADS_1


Krieetttt! Pintu terbuka dan menampakan sosok Aldi yang sudah rapi dan siap jalan.


“Sudah siap Kang?” tanya Prameswari.


“Sudah, yuk jalan…sini kunci motornya” sambung Aldi sambil meraih kunci yang disodorkan oleh Prameswari. Bukan langsung mengambil kunci yang ada di tangan Prameswari namun Aldi justru langsung mengaitkan jari-jarinya dengan jari tangan Prames dan kini mereka sudah berjalan ke arah motor sambil bergandengan tangan.


Lima belas menit kemudian Prameswari dan Aldi sudah sampai di Cafe Melati. Cafe Melati ini dikonsep seestetik mungkin sehingga banyak anak muda sampai lanjut usia yang betah nongkrong sambil menikmati minuman atau makanan yang tersedia di sini apalagi ada fasilitas wifi yang bisa dinimati secara gratis. Di pintu cafe terdapat dua tiang yang terbuat dari kayu asli yang memang sengaja tidak dipoles sedangkan atasnya terdapat tanaman hias berupa bunga Wijaya Kusuma yang menjuntai ke bawah sehingga terkesan benar-benar alami. Suatu keberuntungan bagi Prameswari dan Aldi pada malam ini karena bunga tersebut sedang bermekaran dengan agungnya dan menimbulkan wangi semerbak apalagi terlihat berkilau terkena cahaya rembulan di malam hari menambah kesan magis. Ada mitos yang mengatakan bahwa ketika seseorang bisa melihat Wijaya Kusuma mekar maka ia akan diliputi keberuntungan. Namun apakah dua sosok anak manusia yang sedang menikmati bunga mekar itu akan diliputi dengan keberuntungan juga?


“Cantik banget Kang? Aku ingin punya satu yang kaya gitu” celetuk Prameswari dan matanya masih tidak berpaling dari indahnya Wijaya Kusuma tersebut.


“Besok aku carikan di toko bunga ya Prames… sekarang kita masuk dulu” ajak Aldi karena ia tahu Prames adalah pecinta bunga apalagi dengan bunga yang satu ini, bisa lama jika sedang menikmatinya yang ada nanti malah tidak jadi ngobrol penting.


Aldi dan Prameswari memilih tempat duduk di pinggir kolam ikan yang airnya ada hiasan air mancurnya sehingga ada alunan gemercik air menemani mereka berdua yang sepertinya akan membicarakan masalah berat.


Seorang paramusaji menghampiri dan menanyakan menu yang akan mereka pesan. Di cafe ini tersedia banyak menu dari yang tradisional sampai yang modern bahkan menu-menu masakan internasional. Aldi dan Prameswari memesan menu tradisional yaitu Gudeg yang merupakan makanan khas Jawa khususnya Yogyakarta untuk mengobati rasa kangen dengan kota tersebut apalagi bagi Prameswari yang sudah lama tidak ke Jogja. Gudeg ini adalah makanan yang berasal dari bahan dasar nangka yang masih muda kemudian dimasak berjam-jam lamanya disertai dengan rempah-rempah yang akan mengeluarkan aroma dan rasa yang lezat. Gudeg ini mengandung filosofi yang tinggi bagi masyarakat Jawa diantaranya yaitu dari nangka muda yang tentu rasanya pahit dan kelat karena mengandung getah, namun setelah dimasak lama disertai dengan bumbu-bumbu menjadikan makanan yang enak dan diminati oleh segala kalangan, punya nilai tinggi dan tidak mudah basi. Demikian juga dengan kita sebagai seorang manusia apalagi yang masih muda tentu belum mengerti banyak hal namun dengan belajar dan berlatih menghadapi masalah dan kesulitan yang muncul dalam kehidupan kita tanpa mengenal lelah dan putus asa akan membawa kehidupan kita yang lebih baik dan memiliki nilai tinggi di masa yang akan datang, istilahnya kita digodok lama dalam kawah Candradimuka agar mengeluarkan sari-sari manisnya seperti halnya Gudeg.


Meskipun di Pekanbaru namun ada Gudeg yang memang dimasak dengan teknik sama seperti Gudeg-Gudeg yang ada di Jogja yaitu dimasak berjam-jam menggunakan periuk di atas tungku kayu bakar. Kini dua piring Gudeg yang dilengkapi dengan lauk seperti telur bacem, sambal goreng krecek (krecek yaitu kulit sapi), tempe dan ayam goreng serta nasi yang ditaburi dengan bawang goreng sudah tersedia dihadapan Prameswari dan Aldi dan tidak lupa mereka memesan es teh tawar yang merupakan minuman kesukaan mereka berdua.


Tanpa membuang waktu lama, mereka segera menikmati hidangan tersebut sambil sesekali membicarakan masakan tersebut yang ternyata bisa sedikit mengobati rasa kangen mereka dengan kota Jogja yang sering mereka kunjungi ketika masih tinggal di Jawa.

__ADS_1


“Aku pengin deh bisa masak Gudeg yang enak seperti ini Kang” celetuk Prames setelah menghabiskan satu porsi Gudeg.


“Pasti kamu bisa lah, biasanya kalau kamu coba masakan baru palingan dua kali praktik langsung rasanya sama dengan yang asli” ucap Aldi sekaligus memberikan pujian kepadanya.


“Nggak segampang itu lah Kang, ini tuh Gudeg bukan tumis terong yang 15 menit bisa langsung dinikmati” balas Prameswari.


“He…he…he… yakin aja kalau sering coba pasti bisa tuh buat Gudeg yang enak seperti ini dan aku akan siap menunggu dengan sabar seperti biasa untuk mencicipi masakan yang bakalan kamu buat itu sayang…” balas Aldi sambil terkekeh. Namun raut muka Prames berubah sendu karena ia menyadari bahwa mungkin sebentar lagi sosok Aldi tidak lagi bisa menemani hari-harinya apalagi hanya sekadar mencicipi masakannya seperti yang biasa ia lakukan.


“Kok bengong sayang? Ada apa?” tanya Aldi karena tidak ada lagi balasan dari Prames.


“Aku lagi mikir, apa kiranya alam semesta ini akan merestui hubungan kita ya Kang? Apa kita nantinya akan terus begini saling berdiskusi dan menikmati kehidupan berdua bersama-sama terus?” balas Prames sambil matanya menerawang jauh menatap salah satu hiasan dinding berbentuk gambar bunga mawar merah yang sangat cantik namun terlihat banyak durinya seperti hubungan ini yang indah namun banyak rintangan duri yang harus dilewati apalagi jika sudah terbentur dengan restu orang tua.


“Aku tidak tahu Prames, jika memang kita nantinya berjodoh pasti dengan cara apapun kita dipisahkan pasti akan bertemu lagi namun jika memang alam semesta tidak mesrestui maka mau kita sedekat apapun tentunya akan berpisah juga. Yang penting kita berusaha untuk terus bersama, masalah nanti hasilnya bagaimana kita harus ikhlas lilo legowo (ikhlas tanpa syarat) ya…” balas Aldi dengan bijak.


“Oh iya Kang, katanya tadi sore kamu ajak aku kesini mau bicara penting? Ada yang perlu kita diskusikan?” tanya Prames mengalihkan pembicaraan.


“Iya, ada hal penting yang harus aku tanyakan ke kamu Prames. Tolong jawab pertanyaanku sebenarnya ada apa? Kenapa aku merasa sikapmu sedikit berubah setelah aku sampai di Pekanbaru? Aku melihatmu seperti kamu terluka begitu dalam. Apakah ada masalah yang sedang menghampirimu atau ada salahku yang sudah membuat hatimu terluka Prames? Tolong cerita sama aku, masih ingat kan janji kita untuk saling berbagi suka dan duka?” serentetan pertanyaan begitu lancar terucap dari bibir Aldi sambil memandang wajah Prameswari dengan tatapan sayang.


“Aku sudah tahu Kang, jika bapak dan ibu sudah menjodohkanmu dengan perempuan lain yang bernama Gayatri” jawab Prameswari dan setetes air jatuh tanpa bisa dikomando mengalir di pipinya namun langsung dihapus dan Prameswari berusaha untuk terlihat kuat dihadapan Aldi namun Aldi tahu bahwa Prameswari sedang rapuh saat ini.

__ADS_1


DEG!


__ADS_2