Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Ada Kabar Apa?


__ADS_3

Pov Prameswari


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan aku kembali berusaha untuk menghubungi budhe Eni karena dari tadi  subuh aku sudah berulang kali menghubunginya namun belum bisa bahkan sampai sekarang budhe tidak menghubungi balik, sebenarnya ada apa ini?


“Prames, apakah budhe belum bisa dihubungi?” tanya Aldi sambil menatapku penuh harap.


“Belum kang, ini sedang di coba lagi, sabar ya kang mungkin budhe belum cek hpnya” jawabku sambil terus menghubungi budhe tersambung namun belum  diangkat.


Akhirnya aku menyerah karena memang benar mungkin budhe belum sempat untuk melihat hp apalagi beliau sedang mengurus dua orang sakit yang lumayan parah.


“Kang, aku mau menemui dokter dulu ya untuk menanyakan apakah kamu bisa dipindah rawat atau tidak, tunggu sebentar ya kang” aku pamit untuk bertemu dokter.


“Ok Prames” balas Aldi singkat.


“Nanti kalau butuh apa-apa minta tolong sama suster dulu ya” kataku sambil bangkit dari tempat duduk.


“Iya” kata Aldi sambil menatapku seolah enggan untuk ditinggal.


“Tetap semangat….love you kang” kataku dan hanya dibalas dengan senyuman lemahnya.


Aku lalu melangkah menuju ke ruangan dokter yang ada di lantai 2 sedangkan ruang rawat Aldi ada di lantai 3.


Tiba di ruang dokter, aku menyampaikan maksud dan tujuanku ke sini untuk membicarakan rencana kepindahan Aldi ke rumah sakit yang sama dengan orang tuanya di rawat yaitu di Jawa.


“Ini boleh saja mbak untuk memindahkan pasien ke tempat lain, namun karena kondisinya masih dalam observasi untuk melihat perkembangan benturan di kepalanya maka tolong untuk menunggu 4-5 hari kemudian ya… karena ini bukan perjalanan dekat namun jarak jauh dan dalam kondisi pasien yang seperti ini sangat rentan mbak. Jadi lebih baik tunggulah sampai ada keputusan dari dokter apakah penggumpalan di kepalanya membaik atau memburuk. Kalau membaik kami akan memberikan ijin namun jika memburuk maka dengan terpaksa harus dilakukan operasi di sini mbak” terang dokter panjang lebar dengan nada yang tegas sehingga aku tidak lagi bisa menawarnya apa lagi ini berhubungan dengan nyawa orang yang aku sayangi.


Aku kembali melangkah lagi ke ruang rawat Aldi dan aku harus menyampaikan pesan dokter ini meskipun Aldi sudah ingin sekali melihat kondisi orang tuanya apa lagi budhe belum kasih kabar apa pun sampai saat ini.


Aldi sedang meringkuk ketika aku sampai di kamar rawatnya dan sudah ada makanan jatah dari rumah sakit yang tergeletak di meja dekat ranjang.

__ADS_1


“Kang, makan dulu yuk” kataku sambil mengusap pipinya lembut dan dia mulai membuka matanya.


“Boleh minta suap?” tanyanya dengan tatapan sayu.


“Mulai deh manjanya…tapi ya udah deh untuk hari ini spesial aku suapin” aku menggodanya sambil membuka makanan yang sudah tersedia.


“Kamu kan tahu, tanganku ini luka jadi masih sakit untuk melakukan aktivitas. Maaf ya kalau aku merepotkanmu Prames” suara Aldi menyendu.


“Hei…jangan tersinggung lah…aku kan cuma bercanda kang, jangankan menyuapimu menemanimu sepanjang hidupmu aja aku siap kok” aku berusaha untuk membuat candaan namun sepertinya ini tidak mempan dan terlihat Aldi hanya menanggapinya dengan tatapan kosong.


Aku akhirnya menyuapi Aldi dengan suasana yang hening. Tiba-tiba….


Tuling! Tuling! Tuling!


Suara hp Aldi berbunyi.


Aku meraih hp Aldi yang tergeletak di atas meja lalu melihat siapa yang melepon dan ketika tertera nama Gayatri hatiku kembali pedih.


“Gayatri yang melepon kang” ucapku sambil menyodorkan hpnya.


“Tolong angkat dan besarkan volumenya ya” pinta Aldi.


Aku melakukan apa yang diperintahkan oleh Aldi sambil menahan sedih.


“Halo mas… kamu di mana sekarang? Apakah sudah tahu kalau bapak dan ibu masuk ruma sakit? Kamu pulang kan?” tanya Gayatri beruntun padahal belum dijawab satu pun pertanyaannya bahkan Aldi belum menyapanya.


“Halo Gy…. Aku di Pekanbaru, iya aku tahu bapak dan ibu masuk rumah sakit semalam mengalami kecelakaan namun aku belum bisa pulang” kata Aldi pelan.


“Rencana nanti sore aku sama orang tuaku mau membesuk ke rumah sakit mas. Tadi malam kami dikabari sama budhe padahal bapak dan ibu kemarin pagi habis dari rumahku mas dan mereka berdua meninggalkan surat ke orang tuaku mas seperti surat wasiat sepertinya” jelas Gayatri bahkan dengan nada yang biasa saja.

__ADS_1


“Loh…kamu lagi di rumah Gy? Surat? Apa isi suratnya Gy?” tanya Aldi.


“Iya…aku kebetulan lagi ambil cuti satu minggu karena bapak menyuruhku pulang mas. Isi suratnya tentang rencana perjodohan kita mas…Oh iya…jadi kapan kamu akan pulang biar nanti lihat saja sendiri suratnya ya…” balas Gayatri.


Aku yang mendengar itu seperti disayat-sayat hatiku… ‘kenapa disaat seperti ini justru Gayatri malah membahas tentang perjodohan bahkan orang tua Aldi sedang berjuang antara hidup dan mati selain itu Aldi bahkan belum mampu untuk turun dari ranjang. Kenapa dia tidak ada empati sama sekali? Apakah tidak bisa nanti saja ngomongin masalah ini?’ ungkapku dalam hati dengan perasaan yang kesal.


“Aku tidak tahu kapan bisa pulang Gy, aku di sini juga sedang ada masalah” jawab Aldi sedih dan aku tahu perasaan Aldi saat ini.


“Masalah apa mas? Apakah ada masalah yang lebih penting dari keadaan orang tuamu mas?” tanya Gayatri dengan nada kesal.


“Aku tidak bisa kemana-mana Gy, aku juga sedang mengalami musibah di sini!” ucap Aldi dengan nada yang naik satu oktaf dan langsung mendorong hpnya ke arahku.


“Maaf… aku tutup telponnya dulu ya mbak Gayatri” ucapku dan tanpa menunggu balasan darinya aku matikan telponnya.


Belum sempat aku meletakan hp ke meja, hp kembali bordering dan ternyata nama budhe tertera di layar dan tanpa menunggu lama, aku langsung menjawab telpon tersebut.


“Halo budhe…” sapaku dan Aldi langsung menoleh ke aku sambil memberi isyarat untuk membesarkan volume suranya dan aku mendekatkan ke arah Aldi.


“Halo Prames, gimana keadaan Aldi nak?” tanya budhe dengan suara serak khas orang habis menangis.


“Aku belum ada perkembangan budhe… belum bisa turun dari tempat tidur karena untuk bergeser saja rasanya muter-muter tadi Prames sudah ketemu dengan dokter namun belum aku tanya hasilnya. Budhe bisa video call nggak aku ingin lihat ibu dan bapak” pinta Aldi dengan muka menahan tangis.


“Aldi, Prames… budhe ingin menyampaikan kabar sama kalian berdua, nanti kabar apapun yang kalian terima tolong tetap kuat ya… budhe yakin Aldi sosok yang tegar dalam menghadapi masalah apapun” kata budhe hati-hati dan perasaanku sudah khawatir namun aku menepis bayangan buruk yang bakal terjadi di keluarga Aldi.


“Ada apa budhe? Bapak dan ibu baik-baik saja kan budhe? Mana mereka budhe aku ingin melihat. Dan secepatnya aku akan pulang budhe untuk bertemu mereka agar mereka cepat sembuh. Bisa kan Prames kalau secepatnya aku pulang? Dokter mengijinkan aku pulang kan?” tanya Aldi dengan penuh harap.


Aku menjelaskan pesan dari dokter tadi yang sudah disampaikan dan itu menimbulkan raut kecewa yang mendalam untuk Aldi namun mau bagaimana lagi keadaan ini tidak bisa diubah.


“Oh iya budhe, bagaimana tadi kelanjutannya? Budhe mau kasih tahu aku kalau bapak dan ibu sudah sadar dan membaik kan budhe?” tanya Aldi antusias namun aku semakin khawatir karena terdengar suara isakan budhe dari seberang sana.

__ADS_1


__ADS_2