
Waktu menunjukkan pukul 19.00 WIB ketika pesawat yang kunaiki baru saja landing di bandara Sultan Syarif Kasim II. Penumpang dipersilahkan untuk turun dan aku bergegas untuk menuju ke tempat pengambilan bagasi, selagi berjalan ke sana aku mengaktifkan hpku dan segera memberi kabar ke Prames jika pesawatku sudah mendarat dengan selamat dan kini mau mengambil bagasi. Ternyata Prames sudah lebih dahulu sampai di bandara 10 menit yang lalu.
Urusan bagasi sudah selesai dan aku segera menuju ke pintu keluar dan langsung melihat sosok yang sudah kurindukan itu.
“Hey…sehat sayang?” tanyaku kepadanya sambil mengacak rambutnya gemas.
“Sehat lah…kalau nggak sehat mana bisa aku sampai sini Kang… jangan jail rambutku ini sudah rapi masih aja suka dibrantakin lagi” sahut Prames sambil bibirnya mengerucut menandakan kalau dia sedang kesal.
“Udah nggak usah manyun aja tuh bibir, nih orang yang dikangenin udah ada di depan mata…” aku tersenyum jail lalu mencium pucuk kepalanya. Dia tidak menjawab hanya memandangku sekilas dan di situlah aku menangkap raut mukanya yang sedih dan terlihat sekali matanya sembab bahkan masih terlihat bengkak.
“Hey… kamu baik-baik saja kan selama aku pulang kampung? Apa saking kangennya kamu sampai nangis termehek-mehek? Tuh mata sampai bengkak begitu” aku berusaha untuk menggodanya karena aku pikir dia hanyalah kangen sama aku.
“Aku nggak papa Kang, tenang aja… kan aku sudah bilang tadi pagi aku tuh lagi menikmati serial drama korea gitu yang jalan ceritanya menyedihkan makanya sampai nangis bombai gini” ucapnya namun mukanya terlihat datar banget. Fix ini ada yang nggak beres dan dia berusaha untuk menutupinya dariku. Tanpa menanggapi lagi perkataannya, kugenggam tangannya dan kita lanjutkan perjalanan menuju parkiran dan aku yang mengendarai motornya.
Tidak seperti biasanya, sepanjang perjalanan Prameswari yang tidak pernah absen selalu usil dan mengajak bercanda kini ia hanya diam, sesekali aku lihat wajahnya dari spion. Sorot matanya benar-benar sendu dan terlihat menanggung luka. ‘Kira-kira ada masalah apa ya dia?’ gumamku dalam hati, namun aku harus mencari waktu yang tepat untuk membahas ini.
Tanpa terasa, kita sudah sampai di depan tempat tinggalku. Kumatikan motor dan segera membawa barang bawaan masuk. Terlihat Prames mau membantu namun kucegah karena aku tahu barang itu berat.
__ADS_1
“Ya udah aku langsung pulang ya Kang” kata Prames ketika aku baru selesai memasukan barang ke ruang tamu.
“Loh…masih juga jam 8 sayang…nggak mau ngobrol-ngobrol dulu di tempat biasa kita ngopi? Aku masih kangen nih… emang kamu nggak kangen ya? nanti jam-jam 9 aku antarkan ke tempatmu kok lagian aku belum bongkar oleh-oleh buatmu juga” pintaku karena biasanya setelah kami lama tidak bertemu, kami pasti ngobrol sambil ngopi di warung kopi yang tidak jauh dari tempat tinggalku dan sambil melepas kangen namun kali ini sepertinya dia menghindariku.
“Aku capek Kang, tadi sore selesai beres-beres kamar langsung jemput kamu dan paginya juga mengurus tanaman bungaku jadi aku sekarang butuh istirahat” ucap Prames sambil membungkukkan badan dan menepuk nepuk celananya seolah-olah ada bagian yang kotor.
Aku tak langsung menjawab, namun aku memperhatikan dia dengan seksama. Celananya tidak ada yang kotor dan aku tahu dia hanya ingin menyembunyikan wajahnya saja dariku.
“Kang, mana kunci motornya?” dia menghampiriku dengan wajah yang tertunduk disertai suara lirih dan bergetar. Aku tahu dia menangis.
“Ada apa? Tolong jangan bikin aku khawatir dengan tangisanmu Prames? Tanyaku dengan serius.
“Beri aku waktu untuk menyampaikan apa yang sedang terjadi dengaku Kang, saat ini aku butuh ketenangan. Tolong aku mau pulang, aku ingin istirahat dan jangan khawatir aku baik-baik saja” papar Prames dengan air mata yang masih meleleh di pipi mulusnya.
“Bagaimana aku nggak khawatir, aku pulang kamu dalam keadaan sedih dan bahkan menangis seperti ini. Selama kita bersama belum pernah aku melihat keadaanmu sekacau ini meskipun banyak masalah dan kesulitan yang kamu hadapi namun kamu masih bisa mengahdapinya dengan gagah” cecarku karena aku sudah mengkhawatirkannya.
Dia menyusut air matanya dan kemudian tersenyum dengan indah.
__ADS_1
“Aku baik-baik saja Kang, aku hanya kangen sama kamu dan aku memang benar sedang capek banget jadi ingin segera istirahat biar besok bisa ketemu kamu lagi dan barulah kita ngobrol banyak hal. Aku nangis karena mungkin aku masih terbawa suasana dari film yang aku tonton kali” ucap Prames dan air matanya kini sudah tidak mengalir lagi.
“Emang filmnya cerita tentang apa sih? Semenyedihkan apa emang? Sampai membuat wajah cantik sayangku menangis tersendu-sendu?” tanyaku penasaran meskipun aku sudah tahu pasti bukan itu alasan dia sampai menangis.
“Tentang hubungan yang tidak direstui orang tua Kang” jawab Prames.
Deg!
‘Seperti hubungan kita kah? Apa akan semenyakitkan ini jika kamu tahu bahwa hubungan kita juga mengalami hal yang sama?’ gumamku dalam hati dan tidak lagi menanggapi pertanyaannya.
Dadaku langsung sesak melihat kejadian ini dan mendadak aku juga merasakan sakit. Untuk meredakan persaanku yang sudah tidak menentu maka akhirnya aku mengantarkan Prames untuk pulang dan mungkin ini akan lebih baik karena aku akan memilih waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini dengan tenang dan tentunya aku juga harus tahu dulu kesedihan apa yang sedang melanda Prames sehingga aku tidak menambahkan lara lagi kepadanya.
Tidak banyak pembicaraan ketika aku mengantarkan dia pulang, seperti biasa setelah aku mengantarkan dia pulang maka kubawa motornya ke tempatku tinggal. Ya… kami memang berbagi kendaraan karena aku sedang menabung untuk membeli motor namun kata Prames lebih baik untuk hal lain saja karena Prames tidak keberatan berbagi motor. Tentunya aku juga tahu diri jika waktunya isi bensin ataupun service maka itu adalah bagianku.
Kini aku sudah sampai di rumah dan setelah memasukan motor ke dalam rumah, aku segera membuka barang-barang yang kubawa dari kampung, kukemas ke dalam bungkusan terpisah-pisah untuk teman dan juga Prameswari. Ketika sudah selesai aku langsung mandi dan bersiap untuk mengistirahatkan badanku yang sudah sangat lelah.
‘Selamat istirahat kekasih hatiku, janganlah bermuram durja karena esok mentari akan menyapamu kembali memberikan kehangatan dalam cinta’ aku menulis dan mengirimkan sebait kata untuk Prameswari dengan tujuan menghibur entah kesedihan apa yang sedang meliputinya. Setelah pesan terkirim aku meletakan hpku di atas nakas sebelah tempat tidurku dan aku segera mengarungi dunia mimpi karena memang sudah mengantuk sekali.
__ADS_1