Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Isi Surat Wasiat Ibu


__ADS_3

Kanggo anakku Aldi…


Le…yen ibukmu iki lungo kanggo saklawase, siji sing ibu njaluk, awakmu gelem jejodoan karo Gayatri yo le…. Gayatri iku areke apik ora neko-neko, atimu bakal tentrem lan bahagia. Ibu emoh nduwe mantu saklione Gayatri anake Surono karo Ratih. Yen awakmu nekad sambung raket karo wong wedok lio, ibu ora bakal aweh restu kanggo kowe sak lawase le… kowe ora bakal ngrasakne kebahagiaan seumur uripmu le….dadi gelem ora gelem kowe kudu rabi karo Gayatri.


Salam sayang seko ibu…


Artinya:


Untuk anakku Aldi…


Le…kalau ibumu ini pergi untuk selamanya, satu permohonan ibu yaitu kamu harus mau menikah dengan Gayatri…. Gayatri itu anaknya baik dan tidak aneh-aneh jadi hatimu akan tenteram dan bahagia. Ibu tidak mau punya menantu selain Gayatri anaknya Surono dan Ratih. Kalau sampai kamu nekad menjalin hubungan dengan perempuan selain Gayatri, ibu tidak akan memberikan restu sampai kapanpun dan kamu tidak akan pernah merasakan kebahagiaan dalam hidupmu…. Jadi mau atau tidak mau, kamu harus menikah dengan Gayatri.


Berulang kali Aldi membaca surat ibunya yang tadi difotokan dan dikirimkan oleh Gayatri.


‘Aku hampir tidak percaya dengan apa yang diucapkan dan diminta oleh ibu untuk terakhir kalinya. Namun itu benar tulisan dan tanda tangan ibu, aku kenal betul dan tidak salah lagi kalau itu memang tulisan ibu. Tetapi dalam lubuk hati yang paling dalam kenapa seolah ibu ini mengancamku bahkan seperti memberikan sumpah jika aku tidak sama Gayatri maka aku tidak akan pernah merasakan kebahagiaan? Dan aku tahu ini bukan karakter ibu. Ibu tidak pernah melakukan itu meskipun aku ini kadang bandel dan sesuka hati bahkan mungkin mengecewakan ibu namun ini entahlah…. Dan bahkan aku sangat heran kenapa dalam surat ini seolah-olah ibu sudah tahu jika akan meninggalkan aku padahal ibu meninggal karena kecelakaan bukan karena sakit kecuali kalau ibu meninggal karena sakit jadi mempersiapkannya tapi ini……? aku benar-benar bingung menganalisanya, apa lagi surat ini dititipkan ke pak Surono kenapa bukan ke Budhe Eni saja yang lebih dekat dan berdasarkan cerita mereka berdua datang ke rumah pak Surono lalu saat perjalanan pulang mereka mengalami kecelakaan seolah tujuan bapak dan ibu ke rumah pak Surono hanya ingin mengantarkan surat wasiat ini.’


Aldi terus bergumam dalam hati mempertanyakan kejanggalan dari semua yang sedang terjadi ini namun ia buntu untuk menemukan jawabannya bahkan menambah sakit kepalanya saja.


Tanpa disadari ternyata dari tadi Prameswari sudah berdiri di dekat ranjang di belakang punggung Aldi karena saat ini Aldi sedang memiringkan badannya jadi ia tidak mengetahui jika sudah ada Prameswari yang mengetahui isi pesan Gayatri yang dikirimkan kepadanya dan otomatis Prameswari tahu isi surat Lestari yang dituliskan sebelum mengalami kecelakaan.

__ADS_1


Hati Prameswari rasanya membeku mengetahui itu semua, kakinya terasa lemas meskipun dari pertama kali berkenalan dengan orang tua Aldi ia sudah mengetahui jika dirinya tidak direstui oleh mereka karena mereka sudah memiliki calon menantu namun Prameswari seolah menolak kenyataan itu dan sekarang ia kembali merasakan sakit apalagi kemungkinan besar ia akan berpisah karena itu adalah permintaan terakhir ibunya sebelum meninggal.


Aldi membalikan badan dan alangkah terkejutnya ketika melihat Prameswari yang sudah berdiri di samping ranjangnya dan sedang menatap kosong karena Prameswari sedang melamunkan nasib asmaranya.


“Prames….. kamu sudah sampai dari tadi? Kenapa aku tidak tahu?” tanya Aldi yang tahunya Prames tadi ijin mau membeli minum di kantin.


“Iya sudah dari tadi…. Mungkin kamu lagi terlalu fokus kang” jawab Aldi.


Aldi bingung apakah ia akan jujur dengan surat wasiat yang baru saja ia baca ataukah harus diam dan akan menyampaikan di waktu yang tepat? Ia tidak tega kalau harus jujur karena itu pastinya akan sangat menyakitkan bagi mereka berdua.


Prameswari juga demikian, ia tidak mau membahas tentang apa yang tadi tidak sengaja ia baca ketika di belakang Aldi karena Prames tahu Aldi masih dalam masa pemulihan jadi ia tidak mau membebani dengan hal-hal yang lumayan berat dan ia yakin nanti jika waktunya tepat pasti dia akan membahas ini bersamanya.


“Baiklah aku akan ikuti apa kata dokter karena aku ingin benar-benar sembuh dan nantinya aku ingin merawat bapak sampai sembuh. Aku tidak tahu apakah nanti akan meneruskan untuk lanjut bekerja di sini atau tidak tergantung dari kesehatan bapak. Bagaimana menurutmu sayang?” tanya Aldi mengemukakan rencana ke depannya.


“Aku akan mendukung apapun rencanamu kang yang penting itu demi kebaikan apa lagi bapak sekarang kan sendirian ya meskipun masih ada budhe Eni namun kamu sebagai anak akan lebih baik mendampinginya saat bapak sedang sakit begini” ucap Prames. ‘Apalagi sebentar lagi kamu sudah menjadi milik orang lain dan tidak lagi bersamaku lagi, jadi untuk apa aku menghalangimu untuk pulang kang?’ kata Prames yang tentu saja hanya diucapkan dalam hati.


“Terima kasih Prames…. Nanti jika aku memang benar tidak bisa lanjut kerja di sini, kamu kalau bisa cari kerja di Jawa saja ya yang dekat dengan aku biar kalau kita kangen bisa langsung ketemu” Aldi memberikan saran sambil mengusap lembut pipi Prames.


“Iya… itu bisa dipikirkan nanti ya kang…. Yang penting sekarang adalah kamu dan bapak sembuh dulu. Masalah lain bisa menyusul kita pikirkan nanti lagi ya.” sahut Prames sambil menggenggam tangan Aldi yang masih mengusap pipinya.

__ADS_1


Prameswari merasa sangat berat sekali jika harus melepaskan Aldi dengan wanita lain namun ia tidak memiliki hak untuk mengubah kenyataan itu apalagi itu adalah wasiat terakhir ibunya Aldi dan dari surat wasiat itu Prameswari menangkap ada ancaman bahwa kalau Aldi sampai bersama dengan orang lain maka hidupnya tidak akan bahagia. Prameswari tidak mau sampai Aldi tidak bahagia dengan dirinya karena ia tahu bahwa kata ibu adalah kata yang keramat dan harus dilaksanakan. Prameswari harus merelakan biarpun dirinya menderita yang penting orang yang ia sayang bisa bahagia meskipun bukan bersamanya.


“Hei… kenapa menangis tuan putri?” celetuk Aldi tiba-tiba karena melihat pipi Prameswari sudah basah.


“Hah? Mana ada aku menangis?” elak Prames karena ia juga tidak menyadari jika lamunannya ternyata sangat menyedihkan sehingga tanpa terasa air mata mengucur dengan deras.


“Ini apa kalau bukan menangis? Air hujan? Atap kan nggak bocor…. Tuh lihat ke atas nggak bocor kan?” tanya Aldi sambil menunjuk ke atas atap ruanga inap itu dan Prameswari juga ikutan mendongakkan kepala.


“Iya memang yang bocor ini mataku kang” lirih Prames sambil meringis memperlihatkan giginya yang rapid an putih.


“Aku hanya sedih karena kamu masih berbaring di sini. Aku ingin kamu cepat pulang dan memakan masakanku lagi” ungkap Prameswari bohong karena ia tidak mungkin untuk mengatakan yang sebenarnya.


“Nggak mau lah makan masakanmu nanti yang ada malah aku masuk rumah sakit lagi” canda Aldi sambil tersenyum jail.


“Ya sudah… kalau nggak mau, nanti beli aja sana di warung dan jangan pernah minta dimasakin lagi sama aku” sungut Prames pura-pura kesal padahal memang kesal beneran atas kejahilan Aldi.


“He….he…he… bercanda Prameksss…. Jangan gitu dong senyum dooong jangan marah lagi, nanti jadi kaya nenek-nenek yang giginya udah nggak ada” Aldi kembali meledek Prames dan tanpa dikomando Prames tidak bisa menahan tawanya.


Terbesit sedikit kebahagiaan diantara keduanya meskipun mereka sama-sama tahu bahwa mereka akan menghadapi sesuatu yang lebih menegangkan, mendebarkan, dan tentu saja penuh dengan kepiluan.

__ADS_1


__ADS_2