
Matahari pagi sudah menampakkan wajah berserinya untuk menghangatkan bumi meskipun saat ini belum bisa menghangatkan hatiku ini.
Jam menunjukkan pukul 8.00, Prameswari sudah bangun setengah jam yang lalu dan saat ini sedang membersihkan diri di kamar mandi.
Tidak membutuhkan waktu lama, Prameswari sudah selesai.
"Kang, kamu nggak mandi?" tanya Prameswari yang kini sudah terlihat segar.
"Iya ini aku lagi kamu selesai, ya udah aku mandi dulu ya" balas Aldi.
"Ok... Oya kamu mau sarapan apa? Maaf ya gara-gara aku kesiangan jadi kamu telat minum obat. Kamu mandi biar aku cari sarapan sekalian untuk budhe juga" ucap Prameswari selagi Aldi belum masuk kamar mandi.
"Aku tadi sudah makan roti dan minum obat kok Prame, tapi kalau kamu mau beli sarapan untuk budhe ya sudah sekalian nggak papa" sahut Aldi.
"Ya udah kamu mau apa? Dan budhe juga mau sarapan apa ini?" tanya Prameswari kepada dua orang yang sedang dihadapannya.
"Aku apa aja mau nduk" jawab Budhe Eni.
"Iya aku juga samakan aja sama punyamu Prames" balas Aldi.
"Ya udah... Aku pergi dulu ya Budhe, kang..." pungkas Prameswari dan ia segera melangkah keluar setelah mendapat persetujuan dari dua orang yang beda usia itu.
Prameswari tidak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan pilihan makanan yang sudah diputuskanya untuk makan bertiga.
"Bu, nasi, ayam goreng, sayur kangkung sama sambel dibungkus 3 ya" ucap Prameswari kepada penjual setelah ia tiba di kantin rumah sakit.
"Minumnya apa mbak?" tanya penjual tersebut.
"Teh anget aja tiga yang satu tawar ya bu" balas Prameswari.
"Ditunggu sebentar ya mbak, silahkan duduk dulu" tawar ibu kantin menyodorkan kursi dan Prameswari pun duduk sambil menunggu pesanannya jadi.
__ADS_1
"Mbak ini pesanannya sudah jadi" hanya membutuhkan waktu sepuluh menit ibu kantin menyiapkan pesanan Prameswari.
"Berapa semuanya bu?" tanya Prameswari.
"lima puluh ribu semuanya mbak" jawab ibu kantin.
Prameswari menyodorkan uang lima puluhan ribu sambil mengucapkan terima kasih kemudian berlalu menuju ke ruang rawat bapaknya Aldi sambil menjinjing plastik yang berisi nasi pesanannya tadi.
Pemandangan rumah sakit menjadi pemandangan yang biasa bagi Prameswari akhir-akhir ini dan hal tersebut mempengaruhi psikisnya juga, ia menjadi cepat lelah dan murung mungkin karena suasana yang bisa dibilang horor karena siapa sih yang mau berdiam lama di rumah sakit jika tidak dalam keadaan terpaksa?
"Kang, budhe... Ini sarapannya, aku pilihkan nasi ayam sama sayur kangkung nggak papa kan?" tanya Prameswari setelah sampai di ruangan.
"Iya nggak papa nduk, budhe malah suka banget sama sayur kangkung kok" balas budhe yang terlihat sedang duduk berhadapan sama Aldi mungkin sedang ngobrol tadi.
"Kalau aku sih apa saja masuk Prames, yang penting nggak beracun dan bisa tambah tenaga karena sebenarnya aku sama sekali nggak nafsu makan apa lagi lihat bapak yang masih dalam keadaan begini" kata Aldi seperti putus asa.
"Tetap doa dan semangat kang, aku yakin bapak bakalan sadar dan sembuh kembali apa lagi sekarang kamu sudah ada disampingnya" sahut Prameswari memberikan semangat.
"Iya Prames, budhe... Terima kasih sudah perhatian banget sama Aldi dan bapak, kalau gitu mari kita makan dulu" pungkas Aldi.
"Sama-sama Al, kamu ini keponakan budhe dan jelas kita ini keluarga jadi harus saling mendukung apa lagi disaat salah satu dari kita sedang terkena musibah" balas Budhe Eni sambil membuka bungkusan nasi yang tadi sudah diberikan oleh Prameswari.
Mereka akhirnya makan dalam suasana keheningan. Tak satu pun dari mereka yang memulai obrolan yang ada mereka menyelami pikirannya sendiri-sendiri, sampai akhirnya setelah makanannya habisa Aldi kembali membuka suara.
"Prames, hari ini rencana aku mau ke makam ibu, kamu mau ikut atau tetap di sini?" tanya Aldi.
"Aku ingin ikut sih kang, tapi kalau aku ikut terus nanti budhe akan sendirian disini" balas Prameswari.
"Nanti ada pakdhe yang akan ke sini bergantian dengan budhe nduk, karena budhe juga mau pulang dulu ke rumah sekalian nanti menunjukkan makam ibunya Aldi jadi kita bertiga kesana bareng nanti" kata Budhe Eni menyampaikan rencananya.
"Nggak papa aku ikut kang?" tanya Prameswari untuk memastikan ia boleh ikut ke makam Lestari.
__ADS_1
"Iya boleh, nanti kamu pulang aja ya ke rumah biar kamu bisa istirahat dengan nyaman atau kalau takut sendirian kamu boleh tidur di rumah budhe disana ada anaknya budhe juga yang bisa jadi teman" kata Aldi.
"Aku mau menemani kamu aja lah kang, aku lebih nyaman di sini kok...mungkin budhe saja yang tidur di rumah biar gantian sama kami. Kasihan budhe sudah lama di sini toh?" tolak Prameswari dengan halus karena ia adalah orang baru di sini maka tidak enak jika sudah numpang tidur padahal baru kenal.
"Ya udah senyaman kamu aja ya... Tapi kalau kamu nggak nyaman kamu bilang ya, atau kalau mau cari penginapan dekat sini juga ada kok" Aldi masih memberikan alternatif lain.
"Udah nggak papa aku disini saja" pungkas Prameswari.
"Oh iya budhe, bener tadi yang dikatakan sama Prameswari, nanti budhe istirahat saja di rumah kasihan budhe sudah berhari-hari disini. Sekarang kan sudah ada kami jadi kami bisa gantian lagian aku juga sudah sangat membaik kon tinggal lukanya aja ada yang masih belum kering kalau yang lainnya udah oke semua kok" Aldi meminta budhe untuk pulang karena melihatnya sangat kelelahan.
"Ya sudah kalau begitu Aldi, Prames nanti setelah dari makam Lestari budhe mau pulang dan mungkin besok pagi baru ke sini lagi. Tapi kalau nanti ada apa-apa atau kalian butuh bantuan segera hubungi budhe kapan pun ya... 24 jam budhe tersedia" akhirnya Budhe Eni menyetujui usulan Aldi dan Prameswari.
Pukul 9.00, pakdhe datang ke rumah sakit. Mereka saling bersalaman dan Aldi tentunya memperkenalkan Prameswari ke Pakdhe Karyo.
Aldi, Prameswari, dan Budhe Eni akhirnya meninggalkan rumah sakit dan menuju ke makan Lestari setelah mereka menitipkan Yadi ke pakdhe Karyo.
Jarak dari rumah sakit ke makam Lestari ditempuh dalam waktu 30 menit karena jalanan agak padat jika tidak tentu hanya membutuhkan waktu 15 menit.
Perasaan Aldi sangat tidak karuan. Letih dan sedih menjadi satu sehingga sepanjang perjalanan dari rumah sakit sampai makam tidak satu pun kata terucap hanya Prameswari dan Budhe Eni yang sesekali saling bertanya.
Mereka sudah sampai di makam, suasananya sepi dan semilir angin terasa berhembus membelai kulit ketiga manusia beda generasi itu.
"Yang kuat ya kang, aku ada di dekatmu selalu" bisik Prameswari di telinga Aldi sambil menggandeng tangannya ketika mereka baru saja turun dari taksi online yang Aldi pesan tadi di rumah sakit.
Aldi hanya mengangguk lalu meneruskan langkahnya.
"Ibu.... Aku pulang dan kini aku akan mengunjungi rumah barumu, rasanya masih seperti mimpi bu, yang Aldi harapkan ketika Aldi pulang adalah ibu menyambutku dengan penuh rindu di depan pintu rumah bu... Bukan malah Aldi ke tempat kaya begini. Kenapa ibu pindah rumah? Apakah rumah kita sudah tidak nyaman lagi bu? Atau karena Aldi sekarang sudah tidak di rumah jadi ibu pergi karena kesepian? Maafkan Aldi bu... Aldi belum bisa menjadi anak yang berbakti bahkan untuk menemani ibu saja Aldi jarang melakukannya" Aldi terus bergumam dalam hati dari pintu makam sampai di depan makam ibunya bahkan suara teguran dari Prameswari dan Budhe Eni pun tidak ia hiraukan seolah-olah dunianya entah lagi di mana.
"Aldi!" suara budhe mengagetkan Aldi.
"Iya budhe?" jawab Aldi yang masih bengong.
__ADS_1
"Jangan bengong terus... Ini makam ibumu... menangislah jika memang kamu merasa berat dan kangen dengan ibumu" ucap Budhe Eni karena ia melihat Aldi sudah meneteskan air mata dari tadi dan budhe sangat memahami perasaan keponakannya itu.