Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Kabar Buruk


__ADS_3

Pov Prameswari


Setiap harapan yang muncul tentu ingin menjadi sebuah kenyataan namun pada akhirnya tidak semua impian kita bisa terwujud jika alam semesta tidak merestui.


Aku hanya ingin berpikir secara realistis saja, aku harus mampu berdiri di kaki sendiri dan bisa menyembuhkan luka ini seandainya memang kami harus berpisah suatu saat nanti.


Hari ini adalah hari Minggu, hari di mana aku dan Aldi biasanya ketemu rutin untuk berdiskusi mengenai banyak hal di hari libur meskipun di hari-hari biasa kita juga ketemu di sekolah.


Tadi pagi, Aldi sudah kasih kabar kalau nanti sore akan mengajakku jalan kaki di sekitar stadion lalu setelah itu ke cafe favoritku yaitu cafe Melati.


Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 WIB dan aku sudah siap dengan kaos santai berwarna abu-abu yang kupadukan dengan celana santai. Tidak lupa tas slempang untuk menaruh buku dan juga alat tulis serta hp.


Kami janjian akan pergi jam 15.30 dan kini waktu sudah menunjukkan 16.00, sudah 30 menit mundur dari jadwal janjian. Aku berinisiatif untuk menghubungi Aldi, aku takut terjadi apa-apa karena aku tahu kebiasaan dia tidak pernah ngaret dan kalau memang ada kepentingan dia selalu kasih kabar namun ini tidak ada kabar sama sekali.


Beberapa kali sudah kutelpon namun yang menjawab hanya suara operator saja. Aku makin khawatir karena tidak biasanya Aldi mematikan hpnya. Aku hanya berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Aldi karena sudah puluhan kali kuhubungi namun tidak aktif juga.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 18.00 dan belum juga ada kabar dari Aldi. Nomorpun masih tidak aktif. Aku makin khawatir, oleh karena itu aku ingin ngecek langsung ke tempat tinggalnya agar tahu apa yang terjadi karena tidak biasanya dia begini.


Aku segera memesan ojek online dari salah satu aplikasi untuk mengantarkanku ke tempat Aldi karena motorku memang ditaruh di teempat Aldi.


15 menit kemudian, aku sudah sampai di tempat Aldi. Rumahnya gelap bahkan satu lampupun tidak menyala. Ini tidak seperti biasanya.


Aku turun dari ojek dan segera menyerahkan helm sambil mengucapkan terima kasih lalu bergegas ke arah pintu masuk rumah Aldi.


Tok! Tok! Tok!


"Kang!" Kang! Kang!" aku memanggilnya berulang kali sambil terus mengetuk pintu bahkan suara ketukan pintuku setengah menggedornya.


"Mbak...cari mas Aldi ya?" tiba-tiba ada tetangganya yang menyapaku.


"Iya bu, ibu apakah lihat Aldi di rumah? Karena nggak biasanya dia tidak bisa dihubungi. Sore ini kami janjian mau ketemu tapi sampai sekarang tidak ada kabar bahkan nomornya tidak aktif juga" jelasku kepada ibu-ibu itu.

__ADS_1


"Loh tadi sore sekitar jam 3, ibu lihat dia keluar. Ketika ibu sapa katanya mau ke tempat mbak Prames kok. Dari tadi ibu di warung terus tapi memang belum ada tanda-tanda mas Aldi pulang ke rumah" balas ibu tersebut yang memang memiliki warung di depan rumahnya.


"Waduh...kemana ya bu? Nggak biasa-biasanya dia tanpa kabar seperti ini" kataku semakin khawatir.


"Coba ditunggu saja dulu mbak, siapa tahu sebentar lagi pulang" kata ibu itu menimpali.


"Iya bu... Terima kasih bu" ucapku sambil duduk di teras tempat tinggal Aldi.


"Ya sudah mbak, saya mau balik lagi ke warung. Mari mbak..." pamit ibu tersebut.


"Silahkan bu" balasku.


Lima menit kemudian, masih juga belum ada tanda-tanda Aldi pulang. Namun tiba-tiba hpku berbunyi tanda ada telpon masuk.


Gegas aku lihat hpku siapa tahu ini Aldi yang menelpon dan ternyata benar.


"Halo Kang....kamu di mana? Dari tadi aku nungguin kamu kok nggak ada kabar? Kamu baik-baik saja kan? ini aku ada di depan tempat tinggalmu kang"cerocosku sedikit kesal campur khawatir, bahkan orang yang diujung sana belum sempat menjawab satu per satu pertanyaanku.


"Halo selamat malam mbak... Maaf mengganggu apakah benar ini dengan mbak Prameswari keluarga dari Aldi Mahendra?" tanya suara seorang laki-laki di sana yang ternyata itu bukan suara Aldi.


"Iya ini saya Anto, saya dan beberapa orang tadi yang menolong saudara Aldi karena Aldi menabrak trotoar dan akhirnya tidak sadarkan ini. Saat ini saudara Aldi ada di rumah sakit Medika ya mbak" terang bapak Anto.


Deg!


"Ya Tuhaaannn... Terus keadaan Aldi sekarang bagaimana pak?" Tanyaku semakin cemas.


"Saudara Aldi sudah sadar namun masih dalam observasi mbak karena ada benturan di kepala dan beberapa luka di kaki serta tangan yang lumayan parah. Tadi saudara Aldi meminta saya untuk menghubungi mbak Prameswari sebagai keluarga yang ada di sini" jelas pak Anto.


"Baik pak, saya akan segera ke sana dan terima kasih atas informasinya pak" ucapku buru-buru memesan ojek online setelah telpon dimatikan. Meskipun panik namun aku selalu dilatih agar sigap dalam menangani masalah atau dalam keadaan yang terhimpit sekalipun.


Beberapa menit kemudian, ojek online yang kupesan sudah tiba di tempat dan tanpa menunggu lama, kami segera meluncur ke rumah sakit Medika yang jaraknya sekitar 20 menit karena bisanya jalanan cukup ramai.

__ADS_1


Dua puluh menit kurang akhirmya kami sampai di tujuan dan setelah mengucapkan terima kasih kepada driver ojek online, aku segera melangkah memasuki ruangan UGD dan apapun yang nantinya aku temui aku harus siap.


"Permisi sus, saya mau tanya pasien atas nama Aldi Mahendra yang mengalami kecelakaan tadi sore di sebelah mana ya?" tanyaku kepada petugas jaga.


"Mari saya tunjukkan kak" balas suster sambil berdiri dam berjalan ke salah satu sudut ruangan yang hanya dibatasi dengan tirai dan aku mengikutinya dari belakang.


"Ini kak, pasien atas nama Aldi Mahendra" kata suster.


"Terima kasih sus" balasku lalu menyibak tirai pembatas dan terlihatlah sosok Aldi yang sedang berbaring dengan luka di bagian kaki, tangan, dan pelipis yang sudah dibersihkan dan sebagian diperban.


"Kang?" sapaku sendu.


"He...he..he...he maaf ya sayang hari ini nggak bisa langsung ngabari kalau batal ketemu malah ketemunya di sini" kata Aldi sambil terkekeh.


"Nggak lucu banget sih" aku sebal menahan sedih.


"Udah nggak papa kok, ini cuma lecet-lecet aja nanti tiga hari juga sembuh" hibur Aldi karena dia tahu jika aku khawatir dengan keadaannya.


"Kenapa bisa jatuh kang?" tanyaku kemudian.


"Mungkin ngantuk tadi sayang... seharusnya tidur di kasur eh...malah tidur di jalanan" Aldi kembali bercanda menutupi rasa sakitnya.


"Makasih ya sudah datang karena aku nggak tahu harus menghubungi siapa" kata Aldi lagi.


"Iya kang, ya sudah aku mau urus administrasi dan bertemu dokter dulu apakah ada yang serius atau tidak ya.." aku bangkit dari kursi yang memang disediakan di dekat ranjang lalu berjalan ke arah petugas jaga.


"Permisi sus, saya mau tanya bagaimana keadaan pasien atas nama Aldi Mahendra, apakah ada luka yang serius?" tanyaku pada petugas jaga.


"Berdasarkan laporan dokter tadi, untuk luka luar seperti yang di tangan dan kaki itu tidak berbahaya kak namun ada benturan di kepala yang bisa menyebabkan penggumpalan di otak jadi untuk saat ini kami sedang mengobservasi terlebih dahulu" jelas suster.


"Jika terjadi penggumpalan di otak apa yang akan terjadi sus?" tanyaku kemudian.

__ADS_1


"Kalau sampai itu itu terjadi maka harus dilakukan tindakan operasi kak, namun kami akan segera memberikan obat agar tidak sampai terjadi penggumpalan dan silahkan diurus terlebih dahulu administrasinya agar segera mendapatkan kamar inap kak" kata suster menjelaskan.


Baik sus terima kasih infonya" jawabku dan kemudian segera berlalu untuk mengurus segala administrasi dan mendaftarkan Aldi agar secepatnya mendapatkan kamar inap. Aku harus berpikir tenang untuk mengahdapi dan menyelesaikan masalah ini karena tentunya luka Aldi belum jelas dan aku juga harus memberitahu orang tua Aldi secepatnya.


__ADS_2