Jodohku Tak Kan Kemana

Jodohku Tak Kan Kemana
Kalut


__ADS_3

Pov Prameswari


Aku terus berlari menuju kamar rawat Aldi. Namun sebelum sampai di depan pintu, aku kembali berpikir ‘apakah informasi ini benar adanya? Karena sekarang banyak sekali modus penipuan namun kalau ini adalah penipuan tentunya orang tersebut akan meminta sejumlah uang tetapi ini hanya memberikan informasi saja, apakah ini memang benar?’ Langkahku berhenti sambil terus merenungkan informasi yang baru saja kuterima karena sangat aneh sekali dalam satu keluarga musibah sama terjadi. Aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan ini sama Aldi.


Langkah kembali kuteruskan dan aku sudah bertekad untuk menyampaikan informasi ini ke Aldi karena bagaimanapun Aldi adalah anaknya yang memang harus tahu kondisi orang tuanya saat ini.


Tuling! Tuling! Tuling!


Hp Aldi kembali bunyi dan ternyata dari nomor yang tidak terdaftar di kontak hpnya, karena takut ini masih berhubungan dengan informasi tadi maka aku langsung menganggkat.


“Halo” sapaku setelah menggeser layar jawab.


“Halo, selamat malam apakah benar ini dengan saudara Aldi Mahendra anak dari bapak Yadi Mahendra?” tanya suara laki-laki di seberang sana.


“Iya benar, ini nomor Aldi pak namun sedang saya pegang. Ini saya rekan kerjanya. Maaf ini dengan siapa?” tanyaku sopan.


“Apakah bisa berbicara dengan saudara Aldi? Saya dari pihak kepolisian lalu lintas” jelas orang tersebut.


“Maaf pak, apakah informasinya bisa disampaikan kepada saya karena Aldi sedang tidak bisa menerima telpon karena dia sedang mengalami musibah dan sedang di rawat di rumah sakit” terangku karena takut ini akan membuat Aldi shock dan aku sudah tahu ini pasti ada hubungannya dengan informasi yang tadi aku terima.


“Apakah bapak akan memberi informasi jika orang tuanya Aldi mengalami kecelakaan pak? Karena baru saja saya mendapatkan informasi bahwa orang tua Aldi mengalami kecelakaan” tanyaku kembali.


“Iya benar sekali, tadi kami mendapatkan laporan jika terjadi kecelakaan motor yang ditabrak oleh truk dan pengendara motor mengalami luka yang cukup parah. Dan setelah kami melakukan olah TKP serta melihat dua korban pengendara motor, kami menemukan ada identitas korban lalu kami menghubungi polsek di daerah tersebut sehingga mendapatkan nomor anaknya yang bernama Aldi melalui tetangganya sehingga kami bisa menhubungi nomor ini” jelas bapak tersebut.


“Bagaimana kondisi dari orang tua Aldi pak?” tanyaku dengan harap-harap cemas.

__ADS_1


“Kondisi ibu Lestari kritis mbak dan kondisi bapak Yadi masih belum sadar sampai dengan sekarang. Kami masih di rumah sakit mbak dan tolong segera beritahu saudara Aldi agar secepatnya untuk menuju ke rumah sakit Sujono” pinta bapak tersebut dengan tegas.


“Maaf pak, segera akan saya sampaikan ke Aldi namun sebenarnya di sini Aldi juga lagi di rawat di rumah sakit karena tadi sore dia juga mengalami kecelakaan sedangkan kondisinya masih harus diobservasi. Selain itu posisi kami juga ada di Sumatera pak” jelasku.


“Ya Tuhan…. Malang sekali nasib nak Aldi, kenapa bisa ada dua musibah sama yang bahkan terjadi di hari yang sama. Apakah ada anaknya yang di sini?” tanya bapak tersebut dengan nada keheranan.


“Aldi anak tunggal pak, tapi nanti saya akan berikan nomor budhe (sebutan untuk kakak dari ibu/ bapak dalam bahasa Jawa) nya ke bapak karena beliau yang terdekat dari tempat tersebut” jelasku.


“Baik mbak, tolong secepatnya untuk memberikan nomornya ya agar ada keluarga yang mengurus mereka berdua” jawab polisi tersebut.


“Baik pak, terima kasih atas informasi yang telah bapak sampaikan” balasku.


Setelah itu aku langsung mencari nomor budhe nya Aldi dan segera menyebutkan nomor tersebut kepada polisi.


Ketika sampai di kamar inap Aldi ternyata dia sedang tertidur dan dengan langkah pelan aku menghampirinya lalu kudaratkan pantatku di kursi dekat ranjang rumah sakit yang memang disediakan. Aku memandangi wajahnya yang sedang tertidur, raut mukanya terlihat sedang menahan sakit. Tubuh Aldi terbungkus selimut sedangkan kakinya dibiarkan terbuka dan di situlah terlihat perban menutupi lukanya. Aku terus memperhatikan mukanya dan tanpa terasa air mataku sudah meleleh tanpa bisa dicegah. Aku benar-benar merasa sedih dengan keadaan ini dan aku tidak punya keberanian untuk menyampaikan berita menyedihkan ini disaat dia juga sedang tidak kalah menyedihkan.


“Hei….ada apa Prames? Kenapa kamu menangis? Aku hanya tertidur aja kok bukan mati” tiba-tiba aku mendengar suara kekehan dan merasakan kepalaku diusap karena aku memang sedikit menunduk.


“Ada apa? Aku tidak apa-apa kok. Lihatlah aku masih bisa tertawa he he he he. Jadi nggak usah menangis gitu lah nanti makin jelek loh, udah jelek malah ditambah mewek (menangis) jadi makin jeleekkk pakai banget” kelakar Aldi namun bagiku sama sekali tidak lucu malahan semakin banyak air mataku yang keluar dan berubah menjadi isakan.


“Hei…kenapa sayang? Kenapa diam saja? Ada apa? Aku bakalan sembuh kok jadi nggak usah sedih ya… nanti kalau kamu sedih aku tambah sedih dan tambah sakit loh” cicit Aldi lagi sambil mencolek pipiku gemas.


Berat sekali. Untuk berucap satu patah kata saja rasanya lidah ini kelu. Aku hanya bisa menatapnya sambil banjir air mata. Aku seperti bisu untuk mengungkapkan kabar ini dan aku seperti orang yang linglung menghadapi ini. Biasanya aku selalu bisa menghadapi situasi darutan apapun yang memang menghampiriku namun entah kenapa kali ini aku tidak bisa mengendalikan emosiku. Aku tidak bisa bersikap tegar dan aku takut jika Aldi tidak bisa menerima kabar buruk ini.


“Prames…. Tenang ya… sekarang tarik nafas dulu pelan-pelan lalu hembuskan. Ulangi berkali-kali sampai kamu tenang. Jangan panik ya….rileks saja” kata Aldi sambil menggenggam tanganku karena ia paham jika aku mengalami serangan panic dan dia tahu betul bagaimana menanganinya.

__ADS_1


Aku melakukan apa yang Aldi suruh dan secara perlahan kepanikanku mereda. Aku lalu meminum air untuk benar-benar menghilangkan kepanikanku.


“Bagaimana sayang? Sudah lebih baik sekarang?” tanya Aldi dengan lembut.


“Maaf kang, aku membuatmu khawatir” ucapku setelah kepanikanku hilang dan aku sudah bisa mengendalikan diri.


“Iya tidak apa-apa Prames, sekarang bisa kamu sampaikan ke aku kenapa kamu tiba-tiba menatapku sambil terisak begitu? Apakah ada kabar buruk yang dokter sampaikan mengenai kondisiku saat ini?” tanya Aldi pelan.


Aku kembali diam, karena rasa-rasanya aku tidak sanggup untuk memberikan kabar ini kepadanya. Ini terlalu berat, aku hanya berharap ini mimpi namun kenyataannya ini benar terjadi.


“Kenapa tidak dijawab? Jujur saja Prames, aku sudah siap menerima apapun kondisiku” jelas Aldi.


“Ini bukan tentang kamu kang” jawabku pelan namun masih bisa didengar olehnya.


“Lalu?” tanya Aldi dengan penuh selidik.


“Ini tentang bapak dan ibu kamu kang?” jawabku hati-hati.


“Memangnya ada apa dengan mereka sayang? Kenapa kamu sampai menangis begitu? Apakah bapak dan ibu berbicara yang membuatmu sakit hati?” tanya Aldi dengan penasaran.


“Bukan kang. Bukan itu. Tapi…..” jawabku ragu dan tidak mampu meneruskan kalimatku lalu aku terisak lagi.


“Sayang….ada apa dengan bapak dan ibuku? Kenapa kamu menangis lagi? Tolong katakan ada apa dengan mereka? Mereka baik-baik saja kan?” tanya Aldi menggebu-gebu karena penasaran.


“Mereka mengalami kecelakaan kang” jawabku pelan namun mampu membuat mata Aldi melotot dengan sempurna karena kaget.

__ADS_1


__ADS_2