
“Cantik!” ujar bapak. Namun mata ibu langsung melirik sinis ke arah bapak.
“Itu tuh, bapakmu le, lihat wanita cantik langsung senyum-senyum, dasar genit” sungut ibu sambil memajukan bibirnya.
“Siap-siap tidur di pos ronda pak, bapak sih… ibu dilawan” ujarku sambil berbisik-bisik dengan bapak namun bisikanku masih terdengar di telinga ibu.
“Bukan begitu bu, bapak kan berkata sebenarnya. Lagian bapak ini sudah tua bu sudah tidak lagi memikirkan kecantikan seseorang karena bagi bapak wanita tercantik adalah ibunya Aldi dan nggak pernah akan tergantikan oleh wanita siapapun di dunia ini” kata bapak sambil melihat mesra ibu.
“Waduuuhh… meleleh nih” sahutku.
Ya… begitulah bapak dan ibu jika berkumpul selalu saja ada hal-hal yang membuat ketegangan namun tidak lama kemudian pasti ada hal romantis yang mereka lakukan.
“Le, kami belum yakin karena belum bertemu langsung dengan dia jadi belum tahu sifat dan sikapnya seperti apa. Karena kamu anak satu-satunya jadi bapak dan ibu tidak mau kamu hidup bersama dengan pasangan yang membuat kamu menderita. Kami bukan memilih menantu yang sempurna namun kami hanya ingin menantu yang bisa menerima dan menemani kamu dalam suka ataupun duka, apalagi jika kami nanti sudah tidak ada le…” tutur bapak dan ibu hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Nanti biar kita berkenalan dulu lewat video call ya pak bu, ya meskipun belum ketemu langsung tapi biar bapak dan ibu bisa menilainya terlebih dahulu ya” balasku.
__ADS_1
“Ya sudah kalau begitu le, kami hanya pesan itu saja namun sekali lagi itu kan kamu sendiri nanti yang bakal menjalaninya, jadi pilihlah yang terbaik versi dirimu Aldi, jangan terburu-buru karena ini untuk sekali seumur hidup” Jawab ibu menasehatiku.
“Sebenarnya bapak ada sahabat yang punya anak perempuan belum menikah le, anaknya cantik. Dulu bapak pernah bertemu dengannya waktu anak itu masih kuliah. Namanya Gayatri anak pak Surono yang rumahnya ada di dekat alun-alun itu. Anaknya sopan juga le, siapa tahu nanti nyantol sama kamu kan jadi bisa besanan sama sahabat sendiri” terang bapak.
“Gayatri pak?” aku ada teman juga namanya Gayatri pak, dia juga rumahnya di dekat alun-alun dan kebetulan nama bapaknya juga Surono. Apakah kita sedang membicarakan orang yang sama pak?” tanyaku penasaran.
“Kamu ada teman namanya Gayatri? Teman atau teman tuh, kayaknya sudah dekat sampai nama bapaknya aja tahu” ledek ibu.
“Teman bu, dulu waktu kuliah kan sering mengerjakan tugas bareng-bareng dan kebetulan diajak main ke sana rame-rame sama teman yang lainnya jadi kami di sana berkenalan juga dengan orangtuanya. Begitu bapak ibu jadi jangan salah sangka dong” ucapku. Sambil kembali membuka galeri di hpku dan memperlihatkan foto kami saat bareng-bareng ke rumah Gayatri dan kebetulan kami berfoto bersama kedua orangtuanya.
“Lohh… ini sih benar le, pak Surono sahabat bapak dan benar juga itu Gayatri. Bapak masih ingat mukanya. Udah le sama anak ini aja, udah tahu bibit bebet dan bobotnya juga, jadi dijamin nggak bakal salah pilih le” ucap bapak menggebu-gebu.
“Iya bener le, ibu setuju tuh sama bapak. Lagian deket juga dengan tempat kita. Ibu juga sudah kenal dengan Gayatri dan ibu bapaknya. Beberapa kali kami bertemu dan Gayatri punya sopan santun luar biasa le. Selain itu, Gayatri ini juga sudah punya usaha rumah makan sendiri le. Anak itu pinter bisnis, cantik, sopan santunnya juga tinggi, paket komplit le. Besok deh ibu tanyakan ke Bu Mira si Gayatri ini sudah ada yang melamar atau belum” ibu juga ikut-ikutan mengomporiku.
“Bu, pak sebenarnya kami juga sudah dekat dengan Gayatri namun kami hanya sebatas teman dan itu tidak lebih. Kami tidak memiliki perasaan apa-apa kok. Jadi jangan menjodoh-jodohkan kami lah pak, bu” ucapku lembut agar tidak menyinggung perasaan bapak dan ibu.
__ADS_1
“Witing tresna jalaran saka kulina le (rasa cinta datang karena terbiasa bersama), cinta itu nanti tumbuh secara berlahan dengan seringnya pertemuan dan kebersamaan kalian le. Kalau kamu bisa sama Gayatri, sudah pasti kami tidak lagi khawatir tentang hidupmu di masa yang akan datang karena kami tahu sosok Gayatri baik, sabar, dan bisa membawamu ke jalan yang baik le” papar ibu.
“Bu, pak… aku ini kan sudah besar apa lagi aku ini laki-laki jadi jangan khawatir masalah kehidupanku di masa yang akan datang. Kalau memang kami nantinya berjodoh juga pasti ada jalannya kok, tapi memang jujur saja pak, bu aku ingin menjalin hubungan serius dengan Prameswari. Namun sekali lagi itupun jika bapak dan ibu memberikan kepada kita restu” ucapku kepada bapak dan ibu.
“Iya le, tidak apa-apa. Yang penting sekarang kamu sudah memiliki gambaran dari dua wanita ini. Kamu tentunya sudah melihat seperti apa Gayatri karena itu temanmu dan kamu juga sudah mengenal Prameswari. Tinggal kamu tentukan saja dan jangan lupa kenalkan Prameswari kepada kami. Selain itu, kalau bisa tanya Gayatri di mana saat ini. Kamu masih kontak dengan dia kan?” Tanya bapak.
“Baik pak. Untuk Gayatri memang saat ini kami tidak sering kontak sih pak tapi tadi sore dia kirim WA dan katanya sedang ada di Madiun dan minta ketemu karena kami sudah lama tidak bertemu” sahutku.
“Waaahhh…. Jodoh berarti le, ajak aja kesini besok. Jemput dia le, ibu ingin ngobrol sama dia karena sudah lama juga tidak ketemu dia dan ibunya. Terakhir ketemu sama ibunya 3 bulan lalu itupun nggak sengaja papasan di pasar gedhe” kata ibu sambil memandangku penuh harap.
“Ok bu, besok aku sampaikan ke Gayatri dulu ya mau apa nggak main ke sini” jawabku.
Pembicaraan kami seleai di sini dan kami akhirnya menuju ke kamar masing-masing karena tidak terasa kami sudah menghabiskan beberapa jam untuk ngobrol masalah calon pendampingku. Dari pembicaraan bapak dan ibu, aku menjadi bingung karena sepertinya mereka berdua sangat mengharapkan kalau aku berjodoh dengan Gayatri meskipun mereka belum mengenal Prameswari. Hal ini membuat aku ragu untuk mengenalkan Prameswari. Bukan berarti dia buruk namun aku takut akan menyakiti hatinya jika nanti bapak dan ibu tidak memberikan restu kepada kami untuk melanjutkan hubungan. Di sisi lain aku juga takut jika bapak dan ibu memaksaku untuk memilih Gayatri karena aku sama sekali tidak ada perasaan, perasaanku sama Gayatri hanya sebatas teman saja.
Mampukah aku membuat keputusan dengan bijak?
__ADS_1