
Waktu telah beranjak siang, Lestari dan Yadi sudah siap untuk berangkat ke rumah Surono.
“Kenapa perasaanku jadi tidak enak ya… aku merasa ragu untuk menjodohkan Aldi dengan anak Surono, padahal kemarin sudah sangat yakin… semoga ini yang terbaik lah” gumam Yadi sambil mengecek motornya agar perjalananya lancar.
“Ngomong apa kamu pak? kok ngobrol sendiri nanti kesambet loooh…” celetuk Lestari tiba-tiba.
“Nggak bu… ini loh kenapa ya bapak kok jadi ragu-ragu untuk melanjutkan rencana perjodohan ini ya bu? Perasaan bapak jadi tidak enak” ungkap Yadi jujur.
“Bapak ini bagaimana sih? Kemarin kan bapak yang sudah memikirkannya dengan matang sampai bikin keputusan ini? Lha kok sekarang mau mundur nanti dikira kita mempermainkan Surono loh pak… mungkin bapak hanya berat saja melepaskan anak bujang satu-satunya untuk hidup berumah tangga pak” nasehat Lesatri sambil menggenggam tangan suaminya dengan mesra.
“Iya bu… mungkin hanya seperti itu, semoga saja nantinya lancar dan anak kita bisa hidup bahagia dengan pasangan yang kita pilihkan” sahut Yadi menatap wajah istrinya yang meskipun sudah dimakan usia namun masih tetap ayu.
“Amiiinnnn, kita harus selalu mendoakan Aldi pak. Pak… seandainya nanti ibu pergi duluan untuk selama-lamanya ibu nitip Aldi ya pak, meskpin dia sudah besar namun bapak harus terus membimbingnya karena terkadang Aldi ini juga masih kayak anak kecil pak. Selain itu, jika ibu pergi duluan bapak boleh untuk mencari pengganti ibu” Lestari tiba-tiba mengatakan hal yang paling Yadi tidak suka karena seolah Lestari ingin meninggalkan Yadi.
“Lestari….kamu ini ngomong apa sih!? Bapak nggak suka ya kamu ngomong kayak gitu, itu namanya mendahului takdir bu… tidak baik karena kata-kata adalah doa dan kamu tahu doa bapak adalah selalu bersamamu sampai kita menua bersama bu, sampai bisa mengantarkan Aldi sukses dalam hidupnya. Udah ibu kalau mau ngomong kayak gitu lagi mending ibu diem aja lah” Yadi mulai kesal dengan ucapan Lestari.
“Iya pak…. maafkan ibu pak, ibu sayang sama bapak” ucap Lestari meminta maaf sambil menatap mata suaminya dengan penuh cinta sehingga kekesalan Yadi mulai memudar.
Yadi merasakan hari ini Lestari begitu mesra tidak seperti biasanya, dari pagi Lestari sudah ngintil terus kemana Yadi melangkah. Yadi menjadi heran dengan tingkah laku istrinya namun ia tidak mau memusingkan karena biasanya tingkah istrinya memang agak unik.
“Bu, sudah siap semua kan? Ayo segera kita pergi nanti keburu sore loh” Yadi mengajak segera memulai perjalanannya ke rumah Surono yang ternyata sudah menunggunya.
“Sudah pak… ini tinggal cek jendela sama mengunci pintu saja. Sebentar tunggu pak” jawab Lestari sambil bergegas ke dalam untuk mengecek apakah jendela-jendela dan pintu belakang sudah terkunci dengan benar atau belum.
__ADS_1
Yadi menunggu Lestari sambil memanasi motornya dan entah kenapa perasaannya semakin tidak karuan namun ia tidak tahu perasaan apa yang sedang dirasakannya. Akhirnya untuk mengurangi kegelisahannya Yadi berdoa sebelum menjalankan kendaraannya.
Perjalanan kali ini mereka tempuh dengan waktu 45 menit karena terjadi kemacetan di beberapa titik maklum saja karena banyak pekerja yang keluar untuk makan siang. Mereka berdua kini sudah memarkirkan kendaraannya di depan rumah Surono.
Tok! Tok! Tok!
Lestari mengetuk pintu dan setelah ada sahutan dari dalam rumah terbukalah pintu tersebut dan ternyata yang menyambut mereka adalah calon mantu. Gayatri menyalami Yadi dan Lestari kemudian mempersilahkan mereka untuk masuk dan Gayatri memanggil Surono dan Ratih yang sedang ada di belakang.
Surono dan Ratih keluar dari dalam setelah beberapa saat tadi Gayatri memanggilnya.
“Eh… ada tamu. Apa kabar pak Yadi dan bu Lestari?” sapa Ratih dengan ramah sedangkan Surono langsung menyalami tamunya dengan senyum yang terlihat ramah.
“Baik bu…bu Ratih sendiri bagaimana? Sehat?” jawab Lestari sambil bertanya balik.
“Baik juga bu… ya sudah bu silahkan duduk dulu di temani bapak, saya mau ke belakang dulu buat minuman” kata Ratih setelah dikode Surono untuk segera meningglkan dia dengan tamunya.
“Ya…. ampun bu Lestari ini kok ya selalu repot-repot kalau kesini to? Terima kasih ya bu, saya ke dalam dulu” kata Ratih merasa tidak enak kepada tamunya karena jika berkunjung pasti dibawakan buah tangan.
Kini tinggallah Lestari yang duduk bersebelahan dengan Yadi sedangkan Surono duduk tepat di sofa seberangnya sehingga posisi mereka berhadapan.
“Apa kesibukanmu sekarang Sur?” tanya Yadi basa-basi karena lama tidak bertemu.
“Tidak usah berbasa-basi Yad! langsung saja karena ada hal penting yang harus istrimu lakukan untuk melancarkan perjodohan ini dan perjodohan ini harus berhasil, aku tidak mau tahu!” tegas Surono sambil menatap tajam ke arah Yadi dan Lestari bahkan tanpa senyum seperti sangat tidak bersahabat sedangkan yang ditatap merasa bingung karena seumur-umur mereka kenal dengan Surono belum pernah sama sekali Surono berkata dengan nada tinggi dan terkesan bengis seperti sekarang.
__ADS_1
“Kenapa diam!? Jangan bilang kamu akan membatalkan perjodohan ini ya!” sambung Surono karena merasa tidak direspon.
“Sur….kamu kenapa? Apakah sedang ada masalah? Atau kami melakukan kesalahan?” tanya Yadi dengan nada masih keheranan.
“Kamu nggak salah Yad, tapi keluargamu yang sudah membuat dosa dengan keluargaku” jawab Surono namun tentunya tidak terucap hanya dalam hati saja.
“Surono? Kalau memang kami ada salah, kami minta maaf Sur” kata Yadi sambil terus memperhatikan air muka Surono yang sepertinya sangat membencinya.
“Sudah Yad, kamu nggak usah banyak bacok! Ayo ikut aku ada yang harus istrimu tanda tangani secepatnya!” ucap Surono sambil bangkit dan melangkah ke arah kamar sedangkan Lestari dan Yadi mau tidak mau mengikuti langkah Surono karena mereka tahu suasana hati Surono sepertinya sedang tidak baik.
Yadi dan Lestari masuk secara bersamaan, terlihatlah ranjang tidur Surono dan Ratih yang mewah dan rapi, seprei motif burung merak menghiasi dengan indah. Selain ranjang ternyata ada sofa yang juga terkesan mewah di sudut ruangan. Kamar ini temboknya dihiasai dengan lukisan-lukisan yang jika dilihat secara seksama seperti hidup. Tepat di tembok sebelah kanan ranjang ada sebuah hiasan kepala kerbau dan sepertinya itu asli. Kamar ini mewah namun terasa suram dan membuat bulu kuduk siapa saja merinding ketika memasukinya.
“Kalian duduklah di sofa itu!” perintah Surono tegas sambil mengambil sebuah amplop cokelat dari almari dan sebuah pena.
“Segera tanda tangani surat ini Lestari!” ucap Surono melemparkan amplop dan pena ang dipegangnya ke arah Lestari.
“Apa ini pak Surono?” tanya Lestari heran.
“Jangan banyak bacot Lestari! Kamu tinggal tanda tangan saja atau anakmu yang akan aku musnahkan” Surono menjadi marah padahal hanya ditanya seperti itu.
Lestari dengan cepat membuka isi amplop itu lalu membacanya dengan seksama.
“Sur, sebenarnya ada apa? Lalu apa maksudmu tadi akan memusnahkan anakku? Apakah kami punya masalah sama kamu Sur?” tanya Yadi dengan sangat penasaran.
__ADS_1
“Kamu ingin tahu salahmu dimana Yad!? Kamu tidak tahu salahmu dimana hah!?? Kamu salah karena kamu sudah lahir dari keluarga Wijaya. Dan kamu nggak tahu kan apa yang sudah keluarga Wijaya yaitu kakekmu lakukan sama keluargaku!? Selama ini aku sudah cukup lama menunggu momen untuk menghancurkan kamu Yadi Mahendara!!” bentak Surono dan pandangannya sangat tidak bersahabat.
“Pak…ini apa maksudnya? Kenapa pak Surono membuat surat ini untuk Aldi dan seperti surat wasiat saja sedangkan aku ini masih hidup dan kita kesini juga mau membicarakan masalah perjodohan Aldi dan Gayatari” tanya Lestari setelah membaca surat yang tadi disodorkan Surono.