
Di klinik, Ryan dan Nadia menjalani pemeriksaan di tempat yang berbeda. lalu mereka mengetahui apa yang mereka alami setelah diperiksa oleh dokter.
"Kamu ada radang tenggorokan ya sama gejala flu??" tanya dokter yang memeriksa Nadia.
Nadia mengangguk, "Iya dok, semalam saya merasa tenggorokan tidak enak. lalu dari jam tiga pagi tadi saya terbangun dan mulailah mengalami meriang, demam, batuk sama pilek."
Dokter mengangguk, "Ohh berarti benar kamu mengalami flu ringan, ini resep dan obatnya.. diminum tiga kali sehari setelah makan."
Nadia mengangguk, "Baik, terimakasih dok.."
Di ruangan sebelah, Ryan juga menjalani pemeriksaan. lalu dokter menanyakan hal yang sama seperti dokter yang menangani Nadia. "Kamu mengalami gejala flu biasa, nanti tinggal istirahat yang cukup dan jaga pola makan.. serta obatnya diminum tiga kali sehari setelah makan."
Ryan mengangguk, "Baik, terimakasih dok.."
Ryan dan Nadia berjalan keluar dari klinik, lalu mereka menunggu taksi untuk pulang. "Yan, antar aku ke rumah Bu Tini mau enggak??" tanya Nadia.
Ryan menjawab, "Boleh, mau ngapain??"
Nadia membalas, "Aku mau diurut sama Bu Tini, dari aku kecil.. kalau lagi sakit selalu diurut sama dia.. setidaknya demamnya bisa langsung turun. tapi lemasnya baru akan hilang setelah tiga hari pasca terapi."
"Ohh yaudah, kamu chat aja Bu Tini kalau memang mau kesana.. siapa tau beliau lagi keluar." jawab Ryan.
Nadia mengangguk, "Oke, tuh udah ada taksinya.. naik aja dulu, ini aku udah chat."
"Oke.. ayo naik!!" seru Ryan yang menaiki taksi berwarna biru bersama Nadia.
Setibanya di rumah Bu Tini, Ryan dan Nadia berdiri di teras depan. lalu Ryan mengetuk pintu, "Tok..tok..tok.. permisi!!"
"Iya, eh mas Ryan.. Nadia silakan masuk!!" sambut Bu Tini.
Nadia tersenyum, "Iya bu, oh iya.. nanti kamu menunggu di ruang tengah aja ya!! soalnya kan aku diurut di kamar Bu Tini. takutnya kamu lancang, makanya kamu tunggu saja di ruang makan."
Ryan menjawab, "Iya.."
__ADS_1
Ryan berbaring sejenak, lalu ia terlelap tidur. di alam mimpinya, ia seperti dikejar oleh sekelompok orang karena masalah tertentu. ketika ia tersandung batu, barulah ia terbangun dari mimpi buruknya.
Ryan membuka mata, betapa terkejutnya ia saat gorden kamar bu Tini sedikit terbuka dan memperlihatkan Nadia yang punggung putihnya
sedang dibaluri oleh minyak hangat. lantas ia pun terkejut, namun bisa keluar dengan tenang tanpa mengusik ketenangan Nadia.
"Coba saya searching dulu untuk cari arti mimpi dikejar sesuatu." gumam Ryan.
Setelah ia searching, barulah ia mendapat gambaran ketika mimpi dikejar kejar.
"Jika anda bermimpi dikejar, artinya anda sedang dalam masalah besar namun anda selalu lari dari masalah itu dan kebingungan untuk menyelesaikannya. bisa jadi sih, kan masalahku dengan Kiran dan Rara belum sepenuhnya selesai, serta ada kekhawatiran jika kak Dea bisa saja diam diam dijodohkan." gumam Ryan.
Ryan duduk sejenak di kursi teras rumah bu Tini, lalu ia melanjutkan tidurnya untuk menstabilkan pikirannya.
tiga puluh menit kemudian.
"Yan, bangun!! ayo kita pulang.." seru Nadia yang rambutnya kembali dikuncir setelah tadi ia uraikan selama prosesi pijat berlangsung.
Ryan terbangun dari tidurnya, lalu ia memberikan uang lima puluh ribu kepada bu Tini. "Ini bu.."
Ryan mengangguk, "Baik.."
Ryan dan Nadia kembali pulang dengan jalan kaki, karena rumah Nadia hanya tinggal beberapa meter lagi dari rumah Bu Tini.
"Nad, nanti kamu mandi ya pakai air hangat!!" pesan Ryan.
Nadia menjawab, "Iya, kamu enggak akan mampir dulu??"
"Enggak, kalau begitu saya pulang ya!! cepat sembuh!! soalnya saya pengen ceritakan sesuatu sama kamu." Pinta Ryan.
Nadia tersenyum, "Iya.. kamu juga ya!!"
"Oke.." jawab Ryan yang menaiki angkutan umum untuk pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Malam pun menjelang, Brian dan Rara sedang ngedate berdua di cafe dekat bandara. namun, Brian mengeluarkan sebuah album foto dan terdapat foto Nadia dalam album itu.
"Itu foto siapa??" tanya Rara.
Brian menjawab, "Jadi, kemarin Brian lagi bersih bersih rumah.. saat akan membersihkan ruang perpustakaan ternyata ada ruangan misterius. nah, disana Brian menemukan album ini. serta ada data berupa buku harian, yang isinya mengatakan jika penghuni sebelum Brian memiliki anak, nah anak itu entah sudah melakukan apa sehingga dia maaf hamil. setelah melahirkan, keluarga beserta masyarakat sekitar tidak mau menerima ibu dan bayi itu. sehingga ibu dan anak itu pindah ke kota, lalu bertemulah dengan seorang laki laki. beberapa hari kemudian, ibunya dapat calon suami baru. namun permasalahannya ada pada perjanjian, dimana entah bagaimanapun caranya bayi itu jika ingin tetap hidup harus dipindahkan ke panti asuhan atau dibuang di suatu tempat."
Rara memotong pembicaraan Brian, "Maaf aku potong, tapi aku tidak menemukan korelasi hubungan foto di album itu dan buku diary itu. atau kata aku, bisa jadi ada dua barang yang ditemukan di tempat berbeda. namun disimpan dalam satu tempat yang sama."
Brian memperhatikan foto itu, lalu ia mendapati gambaran wajah Nadia di kepalanya. "Bentar, apa jangan jangan bayi yang dibuang itu adalah Nadia??"
"Bisa jadi, tapi kita harus mencari data lainnya.." gumam Rara.
Brian setuju, "Oke.."
Kiran sedang berjalan jalan dengan Jojo, tak lama mereka membeli jajanan sebentar di pinggir jalan.
"Mang, bandrosnya lima ribu ya!!" ucap Jojo.
Kiran menatap sebuah bangunan yang megah namun terlihat agak aneh. "Bangunan apa itu??"
Jojo menjawab, "Itulah bangunan hotel yang sudah tidak terpakai, reputasi hotel itu rusak saat ditemukannya jasad ibu ibu di dalamnya."
Kiran mengangguk, "Ohh begitu.."
"Ini A.." ucap abang itu.
Jojo memberikan uang lima ribu pada abang itu, "Terimakasih A..".
"Sama sama.. ayo kita duduk di dekat mobil saya.." seru Jojo.
Kiran menjawab, "Iya.."
...******************...
__ADS_1
...Yuk Dukung dengan like,Vote dan Komen...
... Cerita ini.....