
Ryan sedang mengendarai motornya di tengah gelapnya malam, apalagi penerangan yang minim serta cuaca yang sedikit gerimis tidak membuat Ryan gentar untuk menyelidiki asal muasal Nadia.
"Sumpah enggak jelas ini, harus kemana lagi??" tanya Ryan pada dirinya sendiri.
"Belok Kanan.." ucap aplikasi maps.
"Belok kanan bapakmu.. di kanan sawah, di kiri hutan." batin Ryan.
Setelah ia melalui jalur lintasan yang berubah ubah dari kebun teh, rungkun bambu, hutan, dan persawahan. barulah ia tiba di sebuah Desa, dimana Desa itu berada di daerah perbatasan antara Desa dan Kota.
"Jalan Kembang Bodas, no 16.. nah ini, ahh sampai juga akhirnya.." gumam Ryan yang mendekati sebuah gerbang.
Seorang satpam membukakan pintu untuk Ryan, ia pun masuk sambil bersalaman dengan pak Satpam.
"Terimakasih pak.." ucap Ryan.
Brian menyambut kedatangan Ryan dengan applause, karena cuman Ryan yang berani melalui jalur sunyi itu.
"Keren lu bro!! selamat datang!! duduk saja dulu.. sebentar gua ambilkan minum dan makanan.." ucap Brian.
Ryan menjawab, "Baik, aduh pake kesasar segala.."
"Hahah, sebentar Yan.." balas Brian.
Brian mengambil satu teko berisi teh hangat dan sekaleng kue biskuit oreo.
"Nih, sambil gua bukain berkasnya... lu ngemil aja dulu.." kata Brian.
Ryan membuka kaleng biskuit oreo itu, "Ini asli kan?? bukan yang isinya bubuk rengginang??" tanya Ryan.
"Jelas bukan lah.." balas Brian.
Brian membukakan sebuah kotak kayu, lalu Ryan menikmati suguhan yang diberikan oleh Brian. "Nih, lu baca bagian yang ini.."
"Coba sini, anak ini ditemukan dipinggir jalan dengan keadaan sehat, lalu saya memutuskan mengadopsi karena dokter memvonis saya tidak akan pernah bisa memiliki keturunan. anak perempuan yang cantik ini, saya beri nama Nadia Raina Athalla Insahara.." tulis wanita atas nama Dewi Kusuma. "Ehh wait, kok namanya sama kayak Nadia??" tanya Ryan.
Brian menjawab, "Kata gua juga, tapi kok buku harian ini bisa ada di ruangan misterius dekat gudang."
__ADS_1
Ryan membalas, "Kayaknya ini barang bukti kejadian di hotel satu tahun yang lalu nih, soalnya di akhir buku diary ini ada ungkapan ketakutan jika perempuan itu sedang dikejar oleh orang lain.. dan hanya ada sebuah janji jika Nadia hanya akan bisa di dekati oleh satu orang yang bisa mendidik dia, melindungi dia, dan menyayangi dia.. sisanya ini lost.. mungkin masih belum selesai."
Brian mengangguk, "Bisa jadi, ada pihak yang tidak ingin kasus ini selesai.."
"Gua rasa sih begitu.. tapi siapa ya??" tanya Ryan yang kebingungan.
Saat kedua lelaki itu sedang berbincang, Kayla tetangga Brian yang selalu bermain di rumah Brian pun datang untuk sekedar mengantarkan makanan.
"Kak Brian, ini buat makan malam.." ucap Kayla.
Brian membalas, "Oke, terimakasih.."
"Sama sama, kak aku boleh main sama Ariani ga??" tanya Kayla.
Brian menjawab, "Silakan.."
Ryan menyeruput teh hangat yang disuguhkan oleh Brian, "Lu punya adik??"
"Punya, tapi kelakuannya sama kayak lu." jawab Brian.
Brian menjelaskan, "Ariani adik gua, sama kayak lu.. dia paling enggak bisa diajak keluar rumah. sekalinya bisa, siap enggak siap gua harus memahami dia ketika energinya sudah habis dan merengek pulang."
"Ohh pantes, kalau gua sih udah melalui puncak introvert.. jadi ada suatu masa gua akhirnya berani keluar dan datang ke sebuah kampung dimana saat itu gua baru lulus SD dan Dea ada disana untuk dijodohkan. percaya atau tidak, saat itu ada invasi kawanan Elang yang menghujani daerah itu dengan panah dan tombak yang membuat 2.000 orang mati dalam 6 menit. gua lewat situ santai saja, pas sampai di rumah tokoh kampung tempat Dea berada.. disana sudah hancur lebur dan Dea sedang menangis sendirian di pojokan karena semua orang disana sudah tak bernyawa." jelas Ryan.
Brian semakin curiga, bahwa kemungkinan Ryan adalah orang yang dimaksud perempuan dalam buku diari itu memang benar.
"Ehh tapi cewek yang kasih lu makanan tadi kok mirip sama Nadia ya??" tanya Ryan.
Brian menjawab, "Gua rasa sih begitu.."
"Ehh kata lu ada ruangan misterius, dimana bro??" tanya Ryan.
Brian menjawab, "Ada, ayo ke dalam.."
"Oke.." jawab Ryan.
Di rumahnya, Nadia yang bersiap untuk makan malam bertemu dengan Bu Dina ibu tirinya. lalu Bu Dina malah menyuruh dirinya untuk diam di rumah sedangkan Ia dan anak anaknya pergi keluar sejenak.
__ADS_1
"Kamu tetap di rumah ya!! saya sama anak anak mau keluar dulu.. jangan pergi kemana mana atau nanti akan saya laporkan ke ayah kamu." kata Bu Dina tegas.
Nadia tak bergeming, ia memilih pergi ke ruang makan untuk makan malam. sambil ia menyantap telur dadar buatannya, air mata menetes membasahi keningnya karena penderitaan yang ia alami saat ini.
"Mamaa... aku sendiri disini ma!!" teriak Nadia yang meluapkan semua emosinya.
Ryan yang sedang berada di ruangan aneh itu pun teringat pada Nadia, lalu ia memutuskan menelepon gadis mungil itu.
Dreettt!!!
"Halo?? apa Yan??" tanya Nadia.
Ryan membuka matanya lebar, "Kamu kenapa Nad?? kok suaranya kayak yang menangis seperti itu??" tanya Ryan.
Nadia menjawab, "Tidak apa apa, aku lagi makan terus kepedasan.."
"Nad, please jangan membohongi diri kamu sendiri.. kalau bohong bilang sama Ryan." pinta Ryan.
Nadia menjawab, "Aku bete Yan, aku ditinggal sendiri di rumah.. mama tiri aku sama kakak kakak tiri aku berangkat keluar."
"Ohh...." jawab Ryan.
Nadia mengeluarkan semua keluh kesahnya pada Ryan, "Yan, sebenarnya aku anak siapa sih?? kemarin itu kayaknya bukan mama kandung aku deh.. soalnya sudah banyak orang mengatakan jika mama aku itu memang mandul dan tidak bisa punya anak."
"Kamu tenang dan sabar, ini saya sama Brian lagi cari data tentang keluarga kandung kamu." balas Ryan yang membuat Nadia semakin terharu.
Ryan tersenyum, "Yaudah, kamu pergi ke kamar.. nanti saya kirim link novel saya tentang batman versi lokal. semoga kamu bisa meniru tokoh yang saya buat."
"Iya yan, terimakasih... udah dulu ya!!" ucap Nadia.
Ryan membalas, "Selamat malam mungil.." kata Ryan sambil menutup telepon.
"Malam.." jawab Nadia.
*********************
...Yuk Like, Vote, Komen......
__ADS_1