
Jam setengah dua belas malam
Ryan sedang mengedit video spotting miliknya, tak lama Nadia menelepon dirinya untuk memberi semangat dan menyampaikan kekaguman atas cerita yang dibuat oleh Ryan.
"Dreeetttt!??"
"Halo?? Apa Nad??" tanya Ryan.
Nadia menjawab, "Yan, aku udah baca full satu buku buatan kamu.. gila keren banget, isinya itu bikin aku campur aduk perasaannya, ada yang sedih, ngakak, takut, sama malu malu gitu pas ada bagian episode kamu yang jalan bareng perempuan."
Ryan membalas, "Iya sih, kan itu mungkin saja bakalan kejadian di masa depan."
"Kan bukannya kamu masa depan aku.. eh maksud aku aku juga punya masa depan kali.." batin Nadia yang salah bicara.
Ryan tertawa, "Hahaha, bisaan mengalihkan topiknya.. bisa jadi disana pipinya pasti merah nih.."
"Kamu tau aja Yan.." balas Nadia.
Ryan tertawa sambil menyeruput segelas kopi yang ia buat, "Belum kamu baca yang satu lagi, pasti bikin kamu ngakak sampai salto Bogor - Malang."
"Wahh, tapi aku enggak punya uang buat beli bukunya.." gumam Nadia.
Ryan membalas, "Enggak, cuman pake kuota doang... kamu tinggal download nanti bacanya offline."
"Ohh yaudah nanti aku download.." jawab Nadia.
Ryan melanjutkan kegiatan mengeditnya, sambil pembicaraan telepon masih terus berlangsung bersama Nadia.
"Kamu kok berani sih bawa helikopter sebesar yang di foto instagram kamu?? padahal kamu masih SMP loh.." tanya Nadia.
Ryan menjawab, "Kan di buku udah diceritain, kalau helikopter itu adalah cara kakek saya memberikan pelajaran kepada saya soal berani keluar dari zona nyaman. ada sejarahnya juga, dulu saat berpisah dengan Rara saya sempat seharian murung... akhirnya kakek saya mengajak ke bandara lalu saya diperkenalkan dengan salah satu pesawat kecil hingga sekarang saya mendapat lisensi utama penerbangan."
Nadia semakin penasaran dengan kehidupan Ryan, "Ehh begini ya, kan di buku itu diceritakan kalau ada episode dimana ceritanya kamu diundang ke acara ulangtahun sahabat kamu.. tapi karena setengah setengah dan kurang fokus, sehingga akhirnya tersasar dan tidak jadi ke acara pesta itu."
__ADS_1
Ryan membalas, "Iya emang, seharusnya itu saya lakukan dua pekan lalu. tapi karena keadaan kemarin lagi kurang fit juga, makanya saya minta teman saya buat kesana. dalam hati juga, bodo amat dibilang pengecut juga, yang penting masih peduli sama fisik sendiri."
Nadia tertawa, "Benar sih, tapi kalau kata aku kamu punya semacam ilmu turunan gitu yan. jadinya sebelum sesuatu terjadi, kamu bisa memperhitungkan resikonya."
Ryan menjawab, "Kamu benar, tapi saya bukan peramal apalagi dukun.. hanya kena cipratan dari ilmu yang dimiliki oleh kakek buyut saya.."
"Iya juga sih, tapi seenggaknya kamu udah diajarin sebagai laki laki ya berani ambil resiko. tapi menyesuaikan dengan kemampuan fisik dan mental kamu." balas Nadia.
Ryan tersenyum, "Yaudah, kamu tidur saja dulu.. udah malam.."
"Kamu juga Yan.." balas Nadia.
Ryan menjawab, "Saya baru bangun, tadi ketiduran jam setengah delapan malam.."
"Waduh, yaudah deh.. jaga kesehatan kamu ya!!" pinta Nadia.
Ryan menjawab, "Iya, Si Udin pergi ke Ciwidey.. have you a nice day.."
Di sisi Rara, ia terbangun saat mendapat mimpi tentang kejadian yang ia alami beberapa pekan yang lalu. perasaan takutnya seketika muncul tatkala Rara tahu jika Ryan memiliki banyak backingan yang bisa saja sewaktu waktu mencelakai dirinya.
"Ryan lagi ngapain ya sekarang??" tanya Rara yang melihat postingan status whatsapp Ryan.
Saat Rara membuka postingan status whatsapp, ada salah satu postingan video Ryan yang lumayan menggunakan lagu beat dan suara yang cukup keras. membuat Kiran terbangun lalu pergi ke kamar Rara.
"Ra, bisa enggak sih jangan berisik!!! udah malam ini.." teriak Kiran.
Rara menjawab, "Iya, maaf.."
"Aku masih baik loh izinkan kamu tinggal disini!! kalau enggak kamu udah terlantar kali di pinggir jalan.. kamu itu harus bersyukur.. tau enggak!!" tegas Kiran.
Rara tertunduk, "Iya Kiran.."
Kiran kembali ke kamarnya, lalu ia melanjutkan tidurnya. sementara Rara mensilentkan suara ponsel miliknya, kemudian ia melanjutkan melihat status whatsapp Ryan.
__ADS_1
"Kenapa malah Kiran yang jahat?? seharusnya aku yang kayak gitu.. ahh entah apa yang sudah Kiran alami sehingga sifatnya kayak nenek sihir seperti itu.." batin Rara.
Ryan yang mengetahui Rara melihat status whatsapp miliknya, segera menchat Rara yang sedang terjaga karena mimpi buruknya itu.
Ryan Ramadhan : Kamu belum tidur??
Rara sempat berkeringat dingin, lalu ia membalas chat dari Ryan itu.
Rara Shahara : Ini aku terbangun, mana tadi dimarahin sama Kiran.
Ryan Ramadhan : Kenapa emang??
Rara Shahara : Aku tadi lihat video whatsapp kamu, eh suaranya lupa dikecilin.. jadinya aku kena omel..
Ryan Ramadhan : Sabar ya.... Kiran jadi seperti itu mungkin sedang kelelahan atau mungkin juga ada problem dikeluarganya.
Rara Shahara : Iya... eh By the way, kamu masih marah bukan??
Ryan Ramadhan : Enggak, kamu kenapa sih masih takut sama saya?? orang saya enggak akan gigit kamu kok....
Rara Shahara : Tapi kamu udah maafin aku kan??
Ryan Ramadhan : Mama saya pernah bilang, saya harus bertanggung jawab.. maka dari itu jika kamu bersedia menyelesaikan masalah ini baik baik.. waktu dan tempat saya persilakan.....
Rara Shahara : Yaudah, nanti aku atur tempatnya.. yang pasti aku udah lega kamu enggak akan marah lagi...
Ryan Ramadhan : Yaudah saya lanjut kerja lagi, jika kamu menemukan tempat untuk menyelesaikan masalah ini baik baik.. segera hubungi saya!!!
Rara Shahara : Baik...
******************
...Yuk Like,Vote, Koment......
__ADS_1