
Jam tujuh kurang enam menit
Ryan tiba di halaman parkiran sekolah, lalu ia turun dari motornya bersama Nadia. "Aduh, udah telat ini ayo ke kelas." seru Ryan.
keduanya pun berjalan menuju kelas dengan terburu buru, saat di kelas beberapa anak kebingungan karena Ryan sampai saat ini belum datang.
"Ryan kemana ini??" tanya Brian.
Rara menjawab, "Iya, si Nadia juga belum datang.."
Ryan dan Nadia pun masuk ke dalam kelas, mereka pun disambut bak raja dan ratu. "Aduh, panjang umur lu Ryan.. tumben telat??"
"Biasa, tadi ke khayangan dulu jemput bidadari.." jawab Ryan yang membuat pipi Nadia memerah seperti kepiting rebus.
Kiran pun mulai mengungkapkan kekesalannya, "Mulai dah, kayak di cerita novel aja.."
"Idih, cemburu anda??" tanya Brian.
Kiran menatap Brian sinis, "Aku?? cemburu sama pak ketua bucin?? ohh tidak semudah itu ya gais.."
"Apa iya dek??" tanya Ryan.
Kiran membalas, "Iya lah, mana mungkin coba aku cemburu sama kamu??"
Ryan pun duduk di tempatnya, begitu juga dengan Nadia yang duduk bersama Rara.
Jam pelajaran sedang berlangsung, Ryan merasakan kantuk yang amat sangat hingga ia bersandar lalu ia terlelap tidur.
"Jadi bagaimana Ryan??" tanya bu Desi.
Ryan menjawab, "Jadi saat lempeng Eurasia bertabrakan dengan lempeng Pasifik, pastinya akan mengalami yang namanya gempa bumi.. jika gempa ini terjadi di laut dengan kekuatan tertentu bisa menyebabkan tsunami."
Bu Desi terdiam, "Ajaib ini anak, padahal dia tidur loh.."
"Mata memang merem bu, tapi telinga tetap bekerja.." jelas Ryan yang masih berusaha mengumpulkan nyawanya.
Bu Desi menggelengkan kepalanya, "Emang kamu tidur jam berapa??"
__ADS_1
"Dari setengah delapan sampai jam setengah dua belas, dilanjut jam tiga pagi." jawab Ryan.
Bu Desi mengangguk, "Ohh jadi ada selang waktu buat kamu belajar??"
"Ahh iya, sekalian mengedit video juga.. jadinya saya ada waktu sekalian belajar menghafal." jelas Ryan.
Bu Desi tersenyum, "Nah gitu, kalau terbangun malam hari jika memang tidak bisa tidur lagi silakan menghafal seperti yang dilakukan oleh Ryan."
"Heleh, si paling cari perhatian.." ketus Kiran sebal.
Bu Desi menatap Kiran, "Kiran, jaga mulut kamu!!" tegas Bu Desi.
"Baik bu.." jawab Kiran.
Saat jam pelajaran selesai, Ryan melanjutkan tidurnya diatas kursi tempat duduknya. "Wah tidurnya orang dengan jam terbang tinggi beda ya??" tanya Nadia.
Rara menjawab, "Emang dia sesibuk itu ya??" tanya Rara.
Kiran membantah, "Paling dia pansos, sok sibuk, hanya omong kosong aja dia.."
Rara mencubit tangan Kiran, "Eh dari tadi enggak bisa ya jaga ucapannya!! emang kamu tau kehidupannya dia??" tanya Rara.
Ryan membuka matanya, "Kalau mau ngobrol jangan disini!! diluar aja sana!!"
"Iya Ryan, maaf.." jawab Nadia.
Flashback, Satu hari pasca kepindahan Rara.
Ryan sedang termenung diatas rooftop rumahnya, sambil menatap langit yang sangat cerah.
"Mau foto langit cerah aja enggak bisa foto tanpa kehadiran Rara.." gumam Ryan.
Tak berselang lama, muncul suara mesin dari kejauhan. ternyata itu suara mesin helikopter Airbus helikopter HR3606 milik tim penyelamat yang sedang terbang rutinan akan melintasi areal rumahnya.
"Wow.. foto ah!!" kata Ryan yang akhirnya ada mood untuk mengabadikan momen melintasnya capung besi itu.
Cekrekkk
__ADS_1
Cekerekkk
Cekreekkkk
Ia pun segera memindahkan foto itu dari kamera ke laptop miliknya, kemudian ia sedikit mengedit foto dan video itu lalu menguploadnya ke media sosial.
"Yan??" panggil pak Kurniawan, kakeknya.
Ryan menjawab, "Iya kek.."
"Kamu kelihatannya senang sekali ya sama penerbangan?? mau ikut kakek ke bandara??" tanya pak Kurniawan.
Ryan mengangguk, "Iya kakek..".
Ryan dan Pak Kurniawan pun pergi ke bandara untuk menaiki sebuah pesawat kecil yang memang sengaja disiapkan untuk Ryan.
" Ini pesawat apa namanya kek??" tanya Ryan.
Pak Kurniawan menjawab, "Ini pesawat Piattus Avanti, memang digunakan untuk pribadi serta berlatih terbang."
"Ohh boleh Ryan belajar bawa pesawat ini kek??" tanya Ryan.
Pak Kurniawan tersenyum, "Iya, pesawat ini memang kakek sediakan buat kamu. sebagai warisan dari kakek khusus buat kamu yang senang dengan penerbangan."
"Wah, terimakasih ya kakek.." ucap Ryan.
"Sama sama.." jawab pak Kurniawan.
Keduanya menaiki pesawat itu, lalu secara otomatis Ryan mampu mengendarai pesawat itu dibawah bimbingan kakeknya.
"Take off go.." pesawat mulai terbang, dan Ryan mulai berjalan jalan ke beberapa wilayah melalui jalur udara.
"Woww.." ujar Ryan yang bahagia yang melihat pemandangan dari atas langit. perlahan tapi pasti, rasa kehilangan sahabatnya itu mulai teralihkan dengan kegiatan terbangnya.
Flashback Off
**********************
__ADS_1
...Yuk Like,Vote, Komen.....