Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Membantu Bang Arif


__ADS_3

Namun setidaknya aku mendapatkan pelajaran dari kejadian hari ini, dimana aku tahu tuhan akan selalu bersama dengan orang-orang yang benar dan lurus, meski aku bukan wanita sholehah seperti seorang umi Salma, tapi setidaknya aku tidak jadi orang jahat, kehilangan sepuluh anak buah dan malah mendapatkan dua puluh lima anak buah, ini adalah hal yang sangat membuatku senang sekali.


Aku juga bisa pulang lebih awal malam ini karena jumlah kami yang cukup banyak, dan kebetulan hari ini aku mendapat hasil yang banyak juga dari para pedagang, sehingga aku bisa membagikan uang enam puluh ribu rupiah pada masing-masing orang saat ini.


Mereka terlihat sangat senang dan aku juga turut senang ketika melihat mereka tersenyum gembira.


"Wahh... Tiktik, terimakasih banyak berkat kau aku bisa membawa anakku pergi ke dokter besok, terimakasih banyak Tiktik dan aku minta maaf karena sudah bertarung denganmu sebelumnya." Ucap bang Arif kepadaku.


"Sudahlah bang kau lebih tua dariku, tidak pantas untukmu meminta maaf seperti ini padaku, kau pemimpin yang baik dan aku mempercayai kau, dengan kau mau menerima tawaranku aku sudah sangat tenang, masalah bertarung itu wajar untuk orang-orang seperti kita." Balasku sambil tersenyum kecil kepadanya.


Bang Arif hanya tersenyum senang menanggapi ucapanku dan dia terus mengangguk meng iyakan apa yang aku katakan padanya, hingga kami mulai bubar dengan perasaan yang senang sedangkan bang aku pergi mengantarkan bang Arif karena aku tahu dia sebelumnya datang kemari dengan jalan kaki, aku yang tahu bahwa anaknya tengah sakit, mana mungkin aku tega melihat seorang bapak harus berjalan jauh dari kampung rentenir ke kampung sebelah yang jaraknya cukup jauh di malam hari, dalam keadaan anaknya tengah sakit dan dia harus segera pulang untuk bisa membawa anaknya ke rumah sakit setelah dia mendapatkan uang hari ini.


"Bang ayo saya antar, tadi abang bilang anak abang sakit kan, dia tidak bisa menunggu abang jalan, itu kelamaan, ayo aku antar saja." Ucapku menawarkan tumpangan padanya.


"Apa tidak mengganggumu Tik?" Tanya bang Arif padaku.

__ADS_1


"Mengganggu apanya, aku tinggal sendiri, dan tidak ada kegiatan lain, sudah ini helm untukmu, ayo cepat naik bang." Balasku sambil memberikan helmnya kepada dia.


Dia pun memilih untuk mengemudikan motornya karena dia bilang aku wanita dan dia gengsi jika harus di bonceng wanita muda seperti aku, aku juga tidak bisa membantahnya dan menuruti keinginan dia, hingga dia yang membonceng ku sampai ke kediamannya saat itu.


Saat sampai di rumahnya aku teringat dengan keadaan rumahku dulu, dimana dindingnya masih sangat rusak dan benar-benar butuh renovasi saat itu, kini aku bisa melihat keadaan rumah yang sama dengan rumahku dahulu, jauh disaat aku sudah seperti saat ini, rumahku dulu memiliki dinding dari bilik yang sudah bolong, dan tiang yang hampir roboh, begitu pula keadaan rumah bang Arif saat ini. Kebetulan saat aku sampai disana, istrinya datang keluar dan berteriak memanggil bang Arif dengan wajah yang sangat panik dan menangis dengan keras.


"Mas ...mas anak kita mas....dia panas sekali, kita harus segera membawa dia ke rumah sakit mas, ayo cepat mas!" Ucap istrinya berlari menghampiri bang Arif saat itu.


"Dimana dia sekarang?" Balas bang Arif dengan sama paniknya saat itu.


Sebab dulu ibu dan ayahku juga meninggal dunia karena sakit parah dan aku tidak sempat membawa keduanya ke rumah sakit sebab tidak ada kendaraan dan minim sekali biaya saat itu, sehingga ketika melihat orang lain mengalami hal yang sama hatiku sungguh tergerak aku tidak mau ada orang lain yang merasakan nasib yang sama dengan apa yang aku alami beberapa tahun yang lalu.


"Bang....kamu pakai motorku dan bawa anakmu ke puskesmas secepatnya, dia butuh pertolongan dengan cepat, disana sudah ada dokter dari kota dia bisa membantumu." Ucapku memberitahunya.


Karena aku tahu jarak ke rumah sakit terlalu jauh, aku takut nanti tidak akan cukup waktu untuk menyelamatkan anaknya jika dia membawa anaknya ke rumah sakit yang ada di kota.

__ADS_1


"Tapi Tik, bagaimana dengan motormu nanti, apa kau tidak takut aku akan mencurinya, apa kau mempercayai aku?" Tanya dia kepadaku yang malah mencemaskan motornya.


"Tidak masalah bang, aku kan sudah bilang aku percaya padamu, cepat bawa anakmu, dia tidak bisa menunggu terlalu lama lagi, ini bawa motorku dan cepat pergi, nanti aku akan menyusul mu." Ucapku kepadanya saat itu.


Bang Arif pun segera mengangguk dan dia langsung menggendong anaknya yang masih kecil, dia membawa anaknya ke luar dan segera memindahkan gendongannya pada istrinya, lalu dia segera pergi menuju puskesmas yang paling dekat di perbatasan kampung rentenir dengan kampungnya.


Aku terus saja berdoa dan berharap semoga anak bang Arif bisa selamat dan bisa sembuh secepatnya, aku juga segera pergi menyusulnya dengan cepat walaupun harus berjalan kaki untuk sampai kesana tapi aku bisa mengambil jalan pintas dan tetap bisa sampai secepatnya ke puskesmas saat itu, walau pun harus mengeluarkan tenaga yang ekstra, tapi bagiku tidak masalah, yang penting anak bang Arif bisa secepatnya di selamatkan dan mendapatkan perawatan yang terbaik oleh para perawat yang ada disana.


Hingga sesampainya di rumah sakit dengan nafas menderu aku berjalan mencari keberadaan bang Arif sampai tiba-tiba saja istrinya datang menghampiri aku dan memelukku dengan begitu erat, sampai membuat aku sangat kaget saat itu, dan terus saja membuka mataku dengan lebar.


"Eehhh...ada apa ini, mbak kamu kenapa memelukku, bagaimana dengan putrimu itu, apa dia sudah di tangani?" Tanyaku kepadanya dengan heran.


"Terimakasih banyak. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya aku berterimakasih kepadamu, kamu sudah menyelamatkan putriku, dokter itu bilang anakku mungkin tidak akan selamat jika dia terlambat sedikit saja, semua ini berkatmu, karena kamu meminjamkan motormu pada suamiku, aku bisa membawa putriku degan tepat waktu dan dokter sudah menyelamatkannya. Terimakasih banyak Tiktik." Ucap wanita itu kepadaku dengan deraian air matanya.


Aku benar-benar merasa bingung dan tidak enak dengannya, sebab aku tidak pernah merasa bahwa aku menyelamatkan orang lain, sebab aku pikir semua itu dilakukan oleh dokter Sendi yang sudah membantu dia.

__ADS_1


__ADS_2