Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Kehilangan Motor


__ADS_3

"Tiktik ayo ke pasar kenapa masih disini?" Ucap Baim padaku.


Awalnya aku merasa senang ternyata sekarang Baim sudah jauh lebih baik dan sudah tidak semurung sebelumnya, namun kini aku yang kelimpungan dan sedih karena motor yang aku beli dengan hasil jerih payahku dan sudah menemani aku sangat lama kini malah hilang tanpa jejak seperti ini.


"Tidak Baim, motorku hilang, aku sudah mencari kesana kemari tapi tetap saja aku tidak bisa menemukan apapun, bahkan satu petunjuk pun aku tetap tidak bisa menemukannya, tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan sekarang." Balasku mengatakan yang sebenarnya kepada dia saat itu.


Baim ikut kaget mendengar ucapan dariku saat itu, sehingga dia segera saja menghampiri aku dan mulai bicara kepadaku sambil membantu aku untuk memberitahu anak-anak yang lain untuk ikut mencari motor milikku saat itu.


"Ya ampun, bagaimana bisa motor ketua preman dicuri, kalau begitu sudah pasti bukan para preman yang mencurinya mereka tidak mungkin berani melakukan itu padamu Tik, ini pasti ada orang yang sengaja melakukannya karena tida menyukaimu." Ucap Baim kepadaku saat itu.


Aku hanya bisa menanggapinya dengan menghembuskan nafas lesu dan menggelengkan kepala saat itu, karena jikalau apa yang dikatakan dan disangka oleh Baim itu benar, aku juga tetap tidak tahu siapa yang sudah melakukan semua ini kepadaku sebenarnya.


Jadi aku hanya bisa diam saja meratapi semua ini, karena motorku tetap tidak akan kembali lagi hari ini.


"HM...aku juga tidak tahu Baim, tapi ya sudahlah aku mungkin harus mengikhlaskan motorku, aku juga bisa membeli motor bekas saja dengan tabunganku, itupun jika cukup." Ucapku membalas Baim dengan lesu.

__ADS_1


"Sudah Tik, kamu yang sabar ya, aku sudah menghubungi semua teman-teman kita untuk memantau motormu, mereka akan langsung menahan siapapun yang terlihat memakai motor milikmu, semoga saja bisa ditemukan dalam waktu yang cepat." Ucap Baim sambil mengelus pundakku saat itu.


Aku hanya bisa mengangguk saja dalam menanggapi ucapan dari Baim, saat itu, kemudian aku masih harus pergi ke pasar dan langsung mengenakan pekerjaanku seperti biasanya.


Para anak buahku yang berjaga di pasar juga sama kagetnya dengan Baim, terlebih bang Arif yang ikut marah dan kesal karena hal ini, bahkan dia menawarkan kepadaku untuk memakai motor miliknya saja saat itu, tapi aku menolaknya aku tahu dia baru saja membeli motor bekas tersebut, tidak mungkin juga aku mengambil miliknya.


"Aishh...siapa yang berani mencuri motormu, aku akan mematahkan lengan dan kakinya nanti!" Bentak bang Arif yang sangat emosi sekali.


Aku segera menenangkan dia dan menyuruhnya untuk tidak terpancing emosi sebab aku sangat yakin mungkin saja motorku itu tidak dicuri oleh seseorang tetapi mungkin sengaja di ambil dariku entah dengan maksud apa.


"Ya ampun Tiktik...kau ini orang yang terlalu baik, kenapa ujian hidupmu harus sekeras ini, semoga kamu selalu diberikan kekuatan ya, dan juga ketabahan, pokoknya meski kau sudah tidak punya motor lagi sekarang, kau bisa memakai motor siapapun milikku atau milik anak-anak yang lain, iya kan teman-teman." Ucap bang Arif yang di balas anggukkan setuju dari semua orang yang ada disana.


Mereka benar-benar sangat baik kepadaku, aku merasa sangat senang setidaknya aku tahu bahwa bukan mereka yang akan dengan tega mengambil motor milikku, karena tidak mungkin jika ada orang yang se kompak dan sebaik ini padaku tetapi malah mengambil motorku, aku sudah menjadi lebih baik dan terus belajar untuk mengikhlaskan motor kesayanganku itu.


Walaupun rasanya memang sangat berat kehilangan motor yang sudah menemani aku kesana kemari dalam waktu yang sangat lama dan aku mendapatkan itu dari jerih payah keringatku sendiri sampai harus bekerja banting tulang siang dan malam seorang diri sampe tipes, tapi ya tidak ada cara lain lagi selain dari ikhlas dan semoga aja tuhan mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikku itu.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain bu Yati menatap dengan sinis melihat Tiktik yang di puji banyak orang dan mendapatkan banyak dukungan dari orang yang ada di sekitarnya itu, padahal dia sudah menyingkirkan anak buahnya yang lama namun kini Tiktik malah mendapatkan anak buah yang jauh lebih banyak dari pada sebelumnya, sehingga hal itu membuat bu Yati semakin geram kepadanya.


"Aishh....dasar anak itu, aku sudah menyingkirkan anak buah dia yang sebelumnya, tapi dia masih saja mendapatkan anak buah yang baru dan malah lebih banyak dari yang sebelumnya, sial!" Gerutu bu Yati saat itu.


Dia pun semakin mendendam dengan Tiktik, lalu segera menyewa preman bayaran dari tempat yang jauh dan sengaja dia menyuruh mereka untuk mengacau di pasar itu dan merusak semua Jongkong yang dekat dengan posko tempat Tiktik berjaga disana.


Sedangkan anak buahnya tengah berkeliaran dan berpencar ke beberapa daerah di pasar yang sangat luas itu.


Aku kaget karena ketika kami baru saja membagi tugas untuk berkeliling ke dalam pasar tiba-tiba muncul dua orang pria dengan badan yang besar dan tinggi juga memakai pakaian serba hitam dengan anting dan tato yang memenuhi tubuh mereka tiba-tiba saja masuk ke dalam pasar kawasan aku dan membuat kekacauan tanpa alasan yang jelas saat itu.


Mereka tidak memalak atau pun meminta apapun kepada pedang disana namun tiba-tiba saja merusak salah satu jongko yang ada disana hingga jongko nya rusak parah, tapi untungnya pedangan itu tidak mengalami kerugian sama sekali atas barang dagangannya, sebab saat itu pemilik jongko nya baru saja hendak mengeluarkan dan menata barang dagangannya namun kedua orang pengacau itu tiba-tiba saja muncul.


Sehingga dengan cepat dia berteriak meminta tolong dan memanggil namaku saat itu sembari memasukkan kembali semua barang jualannya ke tempat yang aman.


"Aaahh...tolong Tiktik.... Tolong disini ada preman." Teriak ibu itu begitu kencang.

__ADS_1


Aku segera berlari kepadanya karena jongko ibu itu sangat dekat dengan posko tempat aku berjaga.


__ADS_2