
Tetapi dokter Sendi malah menenangkan diriku saat itu, walau dia sudah menenangkan aku berkali-kali selama di perjalanan pulang, tapi tetap saja aku tidak bisa merasa tenang, bahkan disaat aku sudah kembali ke rumah aku sudah terdiam dengan lesu dan terus saja memikirkan mengenai hal yang sebelumnya terjadi, di tambah dokter Sendi justru malah berpura-pura menjadi pacarku, hal ini sungguh akan menjadi sebuah permasalahan yang sulit untuk ke depannya.
Sedangkan disisi lain Ubay memang pulang dengan keadaan marah ke rumahnya, dia berteriak dengan kencang memanggil sang ibu saat itu.
"Ibu.....Bu.....Bu....kemari cepat ibu!" Teriak Ubay sambil berkacak pinggang di ruangan tengah rumahnya tersebut.
Dia benar-benar dipenuhi kekesalan dan amarah yang menggebu di dalam dirinya, hingga ibu Yati yang saat itu tengah menuangkan air di dapur sebab dia juga baru saja selesai menangis hutang kesana kemari, langsung sudah harus bergegas menemui putra kesayangannya yang memanggil dia saat itu.
"Astaga...ada apa dengan anak itu? Berteriak sekencang ini pasti dia melakukan kekacauan lagi, iya....iya tunggu sebentar." Gerutu ibu Yati sambil segera menjawab ucapan dari Ubay saat itu.
Bahkan ibunya sendiri juga tahu bahwa anaknya itu selalu membuat kekacauan, namun harus selalu siap yang menyelesaikan semua kekacauan yang diperbuat oleh anaknya sendiri, meskipun anaknya salah tapi ibu Yati masih tetap harus membela anaknya bagaimana pun caranya yang bisa dia lakukan, oleh karena itu kini Ubay terus tumbuh dengan sikap sombong dan selalu ingin mendapatkan semua hal yang memang dia inginkan termasuk untuk mendapatkan Tiktik menjadi istrinya.
Padahal sejak dulu Tiktik sendiri juga tidak pernah mau menjadi pasangan bagi orang seperti Ubay, meski dia memang memiliki wajah lumayan tampan dan beruang, tetapi yang aku cari bukan pria sombong dan yang selalu mengadu kepada ibunya, serta kekanak-kanakan seperti dia.
Jadi aku juga sudah sering menolak Ubay dengan cara yang baik, tapi dia tetap tidak pernah menyerah untuk mengejar aku, bahkan semua itu justru malah membuat aku sendiri yang merasa lelah untuk menghadapi orang seperti dia yang tidak bisa dikasari namun tidak mengerti saat menggunakan cara yang lembut.
__ADS_1
"Ada apa kamu berteriak malam-malam begini, buat ibu kaget saja?" Ucap ibu Yati kepada Ubay.
Dia pun langsung mengatakan semua yang terjadi pada dia sore hari tadi, dan dia terus saja meminta kepada ibunya untuk menjauhkan aku dengan dokter Sendi bagaimana pun caranya yang bisa ibunya itu lakukan.
"Apa kau bilang, jadi si Tiktik itu sudah pacaran dengan dokter yang dari kota?" Tanya ibu Yati seakan masih belum bisa mempercayai apa yang dikatakan oleh putranya tersebut.
"Iya Bu, itulah kenapa aku sangat marah, ibu sendiri kan tahu sejak kecil aku yang selalu bermain dengan Tiktik, aku yang selalu menjadi temannya aku juga yang seharusnya menikah dengan dia bukan pria baru yang datang kemari itu, aku pokoknya mau Tiktik aku tidak ingin wanita yang lain, jika ibu tidak bisa membantu aku untuk mendapatkan Tiktik aku bisa menggunakan caraku sendiri." Ucap Ubay kepada ibunya.
Dia sengaja mengatakan hal seperti itu untuk membuat ibunya bisa mengabulkan apa yang dia inginkan, sehingga tidak ada pilihan lain lagi yang bisa ibu Yati lakukan selain untuk membujuk Tiktik dan membuat dia agar memutuskan dokter Sendi lalu harus menerima Ubay untuk jadi kekasihnya.
"Kamu tenang saja sayang, ibu ini kan orang terpandang di kampung kita dan ibu memiliki segalanya yang tidak di miliki dokter itu, Tiktik akan menikah deganmu, dan kamu hanya tinggal duduk manis menunggu waktunya, biar itu yang akan menaklukan gadis keras kepala itu untukmu." Ucap ibu Yati sambil memegangi tangan Ubay dan memberikannya keyakinan saat itu, bahwa dia memang bisa melakukan segalanya demi Ubay.
Ubay juga merasa sangat senang karena ibunya selalu bisa memberikan apapun yang dia inginkan sehingga dia terus saja tersenyum dengan lebar dan terus merasa sangat senang sebab dia merasa bahwa Tiktik benar-benar akan menjadi miliknya jika sang ibu sudah bertindak seperti ini.
"Terimakasih banyak bu, tapi ingat ibu jangan menggunakan cara yang kasar apalagi sampai membuat Tiktik terluka, aku benar-benar sangat menyukai dia dan menyayangi dia dengan sepenuh hatiku, jadi aku tidak ingin dia terluka walau hanya sedikit saja." Ucap Ubay kepada ibunya.
__ADS_1
Yang langsung dianggukkan oleh ibu Yati dengan cepat.
"Iya tentu saja ibu tidak akan melukai calon menantu ibu sendiri, apa yang kamu inginkan akan ibu berikan dan apa yang kamu sukai ibu juga akan menyukainya." Ucap ibu Yati pada Ubay saat itu.
Padahal sejak dulu dia juga selalu membangkang keinginan Ubay dan dia juga selalu merasa tidak senang serta membenci Tiktik, namun entah kenapa kali ini dia bisa tiba-tiba saja mendukung keinginan Ubay tersebut, entah karena dia tidak bisa menolak permintaan dari putra kesayangannya itu, ataupun ada maksud dan tujuan lainnya yang dia pikirkan pada Tiktik.
Hanya saja tatapan matanya saat itu ketika memikirkan apa yang akan dia lakukan pada Tiktik, itu sangat mencurigakan, namun Ubay tidak mengetahui semua kebusukan hati ibunya sendiri.
Hingga keesokan paginya saat aku baru saja keluar dari rumah aku menemukan motorku sudah hilang dan tidak ada di teras rumah, padahal selama ini aku menaruh motorku di teras tidak pernah hilang dan tidak ada seorang pencuri di kampung kita ini, bahkan para preman itu adalah rekanku, mereka temanku, tidak mungkin juga mereka berani mencuri motor milikku.
Aku panik dan kaget tidak karuan melihat motorku sudah tidak ada disana dan aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan saat itu, karena aku terlalu panik.
"Motorku....astaga...kemana motornya, aku yakin sekali semalam menaruhnya disini, apa jangan-jangan ada yang mencurinya? Tapi siapa, tidak mungkin ada yang berani mencuri motorku kan?" Gerutuku terus saja berpikir keras sambil mengacak rambutku sendiri saat itu.
Hingga tidak lama Baim datang ke rumahku dan dia menyapaku saat itu, hendak mengajak aku pergi ke pasar hari ini.
__ADS_1