
Hingga ke esokan paginya dokter Sendi membawa motor yang sudah dia beli dan pergi untuk menemui Tiktik ke rumahnya, dia segera mengetuk pintu rumah Tiktik dengan cukup keras hingga Tiktik keluar dengan perasaan marah karena awalnya dia pikir itu adalah Ubay yang setiap pagi memang selalu datang ke rumahnya dan mengganggu dirinya tanpa henti.
"Aishh...iya..iya kau ini kenapa sih, apa kau.....eehh..pak dokter? Kenapa datang ke rumah saya pagi-pagi sekali?" Ucap Tiktik yang refleks langsung memperbaiki tataan rambutnya dan sedikit merasa malu karena dia sudah terlanjur marah besar pada dokter Sendi sebab mengira itu adalah Ubay.
"Kenapa kau marah begitu, apa aku mengganggu ya?" Balas dokter Sendi sambil tersenyum kecil saat itu.
Dengan cepat aku langsung menggelengkan kepala kepadanya, rasanya memang sangat tidak enak dan aku merasa begitu bersalah kepadanya karena dia sudah berpikir begitu akibat kelakuan diriku sendiri.
"Aahh..tidak tidak, bukan begitu, hanya saja tadi aku pikir yang mengetuk pintu Ubay, masalahnya dia itu setiap hari selalu datang ke rumahku pagi-pagi sekali dan sering menggedor pintu rumahku, selain dia tidak akan ada orang yang berani melakukan itu padaku sebelumnya, jadi aku pikir tadi itu Ubay, ternyata pak dokter, saya jadi merasa tidak enak, maaf ya pak dokter, saya tidak marah kok, serius." Balasku kepadanya dengan menganggukkan kepala dan berusaha meyakinkan dokter Sendi.
Dia pun langsung tersenyum lebar ketika mendapatkan jawaban dariku, aku juga merasa lebih tenang karena dia sudah tidak salah paham lagi dengan apa yang sebenarnya tengah terjadi sebelumnya.
"Oh.... Begitu ya, syukur kalau begitu aku senang mendengarnya," balas dia kepadaku.
"Tapi pak dokter bapak ini mau ngapain ke rumah saya sepagi ini?" Tanyaku lagi dengan sangat penasaran.
"Ini saya ada hadiah untukmu." Ucap dokter Sendi sampai tiba-tiba saja memberikan sebuah kunci motor kepadaku.
Aku langsung mengerutkan kedua alis dengan sangat kuat dan menatap penuh keheranan kepadanya, sambil mengangkat kunci motor yang ada di tanganku saat itu.
"Dokter Sendi ini maksudnya apa ya? Pak dokter lagi nawarin saya motor baru, apa bapak nyuruh saya buat jualin motonya? Ini kunci motor siapa?" Tanyaku dengan heran sambil terus menatap lekat kepadanya.
Bukannya menjawab pertanyaan dariku, dokter Sendi justru malah terus tertawa dengan lebar dan dia terus saja menundukkan kepala sambil menepuk pelan pahanya sendiri, hingga mulai menjelaskan kepadaku bahwa motor itu dia beli untukku, dan aku langsung saja sangat kaget hingga berteriak cukup kencang dengan tatapan mata yang tajam dan melotot sangat lebar.
"Ahahaha....kamu ini ada-ada saja, aku memberikan motor itu untukmu, motornya aku simpan disana." Ucap dokter Sendi membuat aku sangat kaget.
"APA? Do....do, dokter apa kau bercanda ya?" Balasku masih dengan wajah yang heran dan kebingungan tidak menentu saat itu.
__ADS_1
"Apa wajah saya ini terlihat berbohong olehmu?" Balas dia lagi yang membuat aku sangat kaget.
Aku langsung menutup mulutku yang terperangah dengan lebar menggunakan kedua tangan, aku terus menatap kembali kunci motor di tanganku saat itu, terlebih lagi saat aku melihat motornya dan itu, ada sebuah motor sport berwarna hitam yang sudah aku dambakan sejak lama, padahal motorku sebelumnya hanya motor matic biasa yang harganya juga tidak semahal motor sport yang dokter Sendi berikan kepadaku saat ini.
Aku langsung berjalan mendekati motor tersebut dan mulai memeganginya masih dengan tatapan mata yang terus saja membulat sangat besar.
Rasanya aku benar-benar belum bisa mempercayai ada orang yang mau memberikan motor dengan harga semahal itu dan sebagus ini kepadaku secara tiba-tiba.
"Wahhh....astaga...apa aku tidak sedang bermimpi?" Ucapku masih terus saja merasa kaget dan syok sendiri.
"Kamu tidak mimpi karena jika kau mimpi tidak akan bisa merasakan apapun," balas dokter Sendi kepadaku.
Tapi walaupun aku sangat senang dan begitu kagum dengan motor sport tersebut, aku masih merasa heran dan segera saja menyadarkan diriku sendiri bahwa semua ini terlalu tiba-tiba dan cukup janggal untuk diriku sendiri, jika aku menerima pemberian dari dokter Sendi secara begitu saja, terlebih ini sesuai dengan harga yang begitu tinggi, tidak mungkin aku menerimanya terlalu mudah.
"Eehh... tunggu dulu, tapi kenapa kau memberikan motor ini kepadaku tiba-tiba sekali? Apa yang kau inginkan sebenarnya?" Tanyaku kepada dia sambil berjalan ke dekatnya dan terus saja menatap dengan tatapan sinis, juga cukup tajam saat itu.
Aku terus saja mendengar apa yang dia katakan padaku, tetapi walau begitu aku tidak bisa percaya dengan begitu mudah atas apa yang dia katakan padaku saat itu.
"Mana mungkin ada orang yang mau membelikan aku motor dengan begitu mudahnya, apalagi tanpa alasan yang jelas seperti ini, ayo katakan padaku dengan benar, apa yang sebenarnya kau inginkan, pasti ada sesuatu yang mau kau katakan dariku bukan?" Ucapku kepadanya dengan semakin serius saat itu.
Tapi dokter Sendi ini malah terus saja tertawa sambil menutup mulut dengan sebelah tangannya, hingga tidak lama dia justru meraih tanganku dan membuat aku semakin kaget di buatnya, baru pertama kali aku melihat ada seseorang yang mau bicara dengan begitu lembutnya kepadaku seperti dokter Sendi ini.
Jadi aku merasa sangat aneh dan keheranan sendiri, terlebih dia seorang pria dan malah berperilaku seperti ini kepadaku.
"Hei....ya ampun, harus bagaimana lagi aku memberitahumu, aku sama sekali tidak ada niatan apapun, aku sungguh memperdulikan kamu, aku hanya merasa tidak tega saja denganmu, kau bisa memakai motor ini untukmu bekerja dan pergi kemana saja, kau juga bisa membantu lebih banyak orang lagi." Balasnya sambil memegangi tanganku dengan lembut.
Jujur saja saat itu hatiku terasa tidak karuan dan aku tidak bisa terus berada dalam keadaan seperti ini, aku takut nanti benteng perlindungan diriku rubuh, sehingga aku langsung saja menarik tanganku secepatnya yang aku bisa, aku terus saja menariknya dengan cepat dan memalingkan pandangan ke arah lain.
__ADS_1
Aku juga sengaja tidak mau menerima motor pemberian darinya, sebab aku tidak mau bergantung, apalagi merepotkan orang lain seperti ini.
"Hei...apa yang kau lakukan, kenapa kau memegang tanganku, kalau mau bicara ya tinggal bicara saja, tidak perlu pake pegangan tangan segala!" Ucapku kepadanya saat itu.
"Iya aku minta maaf jika aku lancang tapi, Tiktik aku rasa aku..." Ucap dokter Sendi padaku.
Aku langsung saja menolak pemberian darinya agar menghentikan ucapan dia dengan cepat saat itu juga.
"Hei....hei....diam kau, aishh... sudahlah pak dokter, sebaiknya kau bawa kembali saja motormu ini, kau kembalikan ke dealer atau jual lagi aku tidak perduli, yang pasti jangan simpan motor ini kepadaku, ini sekalian kunci motornya ku kembalikan kepadamu, ini pegang sendiri!" Ucapku memotong ucapannya sambil segera pergi dengan tergesa-gesa saat itu.
"Hei ..Tiktik tunggu! Tiktik kenapa kau malah pergi, Tiktik tunggu..." Teriak dia kepadaku saat itu.
Aku tidak mau mendengarkan dia lagi, sehingga aku terus saja berjalan dengan cepat dari sana, aku sama sekali tidak mau berurusan dengannya mengenai motor tersebut, dia sangat membutuhkan aku kebingungan dengan ulahnya, sehingga aku mengabaikan dia dan terus saja aku berjalan secepat yang aku bisa sambil mengabaikan dia.
"Asihhh... ada-ada saja orang itu, dasar keterlaluan, aaaahh...aku tidak boleh bertemu dengannya, dia sangat menyebalkan sekali, kenapa juga tiba-tiba malah memberikan aku motor, astaga..." Gerutuku sepanjang perjalanan sambil terus saja merasa kesal sendiri.
Hingga setibanya di pasar aku terus saja melamun memikirkan apa yang sebelumnya akan dikatakan oleh dokter Sendi kepadaku sebelumnya, tapi aku sama sekali tidak bisa mengetahui semuanya dengan pasti karena memang hanya bisa menduga-duga yang tidak jelas saja saat itu.
"Aishh.... Sebenarnya apa yang mau dia katakan kepadaku sih sebelumnya? Aku terus saja memikirkan hal itu, aishh..sangat menjengkelkan!" Gerutuku terus saja melamun dan memikirkannya dengan keras.
Tidak ada yang bisa aku pikirkan lagi saat itu, karena aku terus saja terdiam di posko menunggu anak-anak yang lainnya datang, hingga tidak lama saat anak-anak yang lain baru saja datang, mereka mungkin merasa heran karena melihat aku yang tidak biasanya datang terlalu pagi ke posko di pasar.
"Ee ..ee..ee..lihatlah siapa ini, haha..Tiktik ada angin dari mana kau datang tumben sekali sepagi ini?" Ucap Baim kepadaku yang malah membuat orang lainnya tertawa.
"Aishh...beraninya kalian menertawakan aku, apa kalian sudah bosan hidup ya!" Bentakku sambil menatap sinis dengannya saat itu.
Langsung saja dia meminta ampun dariku dan segera kembali ke tempat tugas mereka masing-masing secepatnya.
__ADS_1