Kampung Rentenir

Kampung Rentenir
Curiga


__ADS_3

Setelah mereka pergi baru aku bisa kembali menghembuskan nafas dengan lega, tapi sialnya baru saja aku menghembuskan nafas dengan lega, tiba-tiba saja muncul rentenir sialan itu, dia datang ke pasar dengan diam-diam dan menyamar menggunakan pakaian yang tertutup, bahkan yang membuat aku heran dia mengenakan kacamata hitam dan topi pantai yang besar, awalnya aku juga hampir tertipu dengan penampilannya tersebut, namun saat aku melihat ke arah kakinya dengan tas yang dia bawa, aku bisa mengenali semua itu dengan sangat jelas bahwa di kampung ini hanya ada satu orang yang memiliki tas branded seperti itu, yang tidak lain adalah Bu Yati.


"Siapa ibu itu, apa dia orang kaya baru ya?" Gerutuku pada awalnya.


Saat mencoba mendekatiku wanita itu barulah aku semakin yakin bahwa dia adalah ibu Yati, si rentenir paling kejam di kampung ini, aku tidak bisa diam saja.


Terlebih kedatangan dia hari ini sangat mencurigai sebab biasanya dia selalu datang dengan gaya berlebihan dan perhiasan yang sangat banyak di sekujur tubuhnya, dia juga biasanya selalu bicara nyinyir denganku dan akan selalu memanas-manas diriku biasanya, namun kali ini dia muncul dari jalan pojokkan pasar dan masuk menyelinap begitu saja, membuat aku semakin penasaran dengannya.


Segera saja aku mengikuti jalannya dari belakang perlahan-lahan, aku sengaja melakukan itu secara diam-diam karena ingin mengetahui apa yang sebenarnya ingin dia lakukan saat itu, dia terus masuk ke dalam bagian belakang pasar dengan gerak gerik yang semakin mencurigakan, hingga aku mengujinya terus dan ternyata dia menemui salah satu anak buahku yang duduk di pojokkan pasar seorang diri, dia seorang pria yang usianya tidak jauh denganku, dan dia juga anggota termuda yang cukup pendiam, dibawa oleh bang Arif sebelumnya.


Aku semakin penasaran dan merasa begitu heran karena tidak biasanya Bu Yati mau datang menemui anak buahku, diamana di matanya semua orang terlalu rendah untuk berhadapan dengannya, dan hanya orang-orang yang memiliki hutang dengannya saja yang akan berhadapan dengan dia.


"Kenapa Bu Yati menghampiri anak itu, apa dia punya hutang dengannya?" Batinku terus saja menduga-duga tidak menentu, aku berusaha berjalan lebih dekat dengan sangat hati-hati, terus bersembunyi di balik jongko-jongko yang ada di sekitar sana, merunduk dengan pelan dan terus saja mendekatinya hingga berhasil berada di balik salah satu jongko sayuran yang tepat ada di samping Bu Yati saat itu, aku segera mengeluarkan ponselku dan menyalakan rekaman suara untuk berjaga-jaga dan membuat bukti kuat untuk suatu saa nanti jika aku membutuhkannya.


Bu Yati mulai berbicara dengan anak itu dengan kasar dan ternyata dia malah memberikan sejumlah amplop berwarna coklat tanpa mengatakan apapun kepada anak laki-laki itu, dan dengan cepat kembali pergi dari sana setelah memberikan amplop tersebut padanya.


"Heh....ambil ini, buka saat kau sudah di rumah saja, ingat itu!" Ucap Bu Yati begitu saja.


Dia kemudian pergi dari sana secepatnya, dan anak laki-laki itu langsung mengambil amplop tersebut yang di lempar kecil oleh ibu Yati, sambil berterima kasih dengannya.


Sialnya saat itu aku tidak sempat untuk memotret kejadian tersebut ataupun amplop yang diberikan oleh Bu Yati kepada anak buahku, karena sebelumnya aku pikir mereka akan membicarakan sesuatu makanya malah menyiapkan rekaman suara, aku tidak sempat memotret mereka karena Bu Yati memberikan uang itu dengan melemparkannya dan langsung saja pergi dengan cepat, aku bisa tahu isi di dalam amplop coklat adalah uang, karena anak laki-laki itu sendiri yang mengatakannya.


"Terimakasih atas uangnya Bu Yati." Ucap pria itu sambil membungkuk kepadanya.

__ADS_1


Aku pikir mungkin saja dia menghutang pada bu Yati saat itu, tetapi yang menjadikan diriku terasa janggal adalah penampilan bu Yati sendiri dan tempat yang mereka pilih untuk bertemu, aku tahu persis pria itu tidak di tempatkan di sini, dia bekerja di bagian tengah pasar dan seharusnya tengah berkeliling sekarang ini, namun dia malah bertemu dengan ibu Yati di belakangku dan menerima sejumlah uang yang sama sekali tidak aku ketahui jumlah di dalamnya tersebut.


Setelah mendapatkan uang di tangan, anak itu juga ikut pergi dari tempat tersebut dan aku tidak sempat mengikutinya aku masih harus terus mengikuti ibu Yati sampai dia keluar dari pasar lewat jalan belakang, dan yang membuat aku kaget lagi ternyata disana ada Ubay yang sudah menunggu ibunya.


"Bagaimana Bu, apa berhasil?" Tanya Ubay kepada ibunya dengan wajah dia yang begitu antusias.


Aku semakin mengerutkan kedua alisku, berdiri mematung di balik sebuah tiang pasar yang besar disana, aku sama sekali tidak mengeluarkan suara sedikitpun hingga mereka pergi dari sana.


"Berhasil kau tenang saja, ibu akan pastikan semuanya berjalan sesuai rencana." Balas bu Yati kepada Ubay.


Aku semakin merasa aneh dengan semua itu dan aku harus lebih berhati-hati lagi dalam menghadapi anak buahku yang satu itu juga pada Ubay yang ternyata sekarang sudah bisa bekerja sama dengan ibunya, padahal dulu dia selalu bertolak belakang dengan apa yang ibu juga ayahnya kerjakan, itu juga alasan mengapa aku terus mau menemani dia dan menjadi temannya sampai selama ini.


Karena aku tahu dia pria yang baik, dia tidak sama dengan ibunya yang kejam atau dengan ayahnya yang senang menipu serta membohongi orang lain, namun semenjak melihat kejadian barusan, kepercayaan aku kepada Ubay sudah berkurang cukup banyak.


"Kenapa dia menjadi seperti itu, semoga saja Ubay tidak terbawa arus oleh ibunya." Ujarku sambil menatap kepergian motor mereka yang semakin tidak terlihat oleh mata.


Aku segera meminta mie yang sudah dia masak, aku sangat lahap sekali menikmati mie buatannya.


"Aaahh....ini enak sekali, terimakasih banyak ya Baim, ahaha." Balasku kepadanya saat itu, sambil terus melanjutkan makanku sendiri.


"Eeeeehh.....jangan dihabiskan dong, hei Tiktik jangan begitu, apa kau tega seperti ini kepadaku?" Ucapnya dengan memasang wajah yang menyedihkan.


Jika melihat ekspresi wajahnya, aku tidak bisa menjadi begitu tega dan segera saja mengembalikan mangkuk mie instan itu kembali kepadanya, sedangkan aku sudah kehabisan uang banyak sebab harus naik ojek ataupun angkot setiap kali pergi ke pasar ataupun pulang ke rumah, tidak mungkin aku sanggup setiap hari berjalan kaki, dulu sanggup karena aku sudah terbiasa dan ada banyak teman yang juga berjalan, tetapi sekarang aku mana bisa, akan ada banyak waktu terbuang di jalanan jika aku pulang pergi hanya berjalan kaki.

__ADS_1


Tapi dengan begitu uang jajanku akan habis karena dipakai untuk ongkos setiap hari, makanya aku hanya bisa meminta mie instan kepada Baim seperti ini, agar mengirit uang makan dan jajanku sendiri.


"Ayolah Baim, aku kan hanya meminta sedikit saja, kau jangan pelit dong padaku." Balasku sambil tersenyum kecil menampakkan gigiku padanya.


"Aishh...kau kan tahu aku sebatang kara sama denganmu sekarang ini, terlebih masih ada hutang tiga juta ke bu Yati, kau tau setiap hari hanya bisa mengirit uang gaji ini, dan membayar hutang yang setiap bulan terus membengkak itu, kalau aku tidak mengirit uangku, aku bisa terkena kekejaman Bu Yati seperti yang lainnya, makanya aku makan mie setiap hari, atau hanya beli satu dua gorengan saja setiap pagi dan malam, kalau ditambah kau meminta makanan lagi, aku bisa kelaparan tahu." Balasnya kepadaku saat itu.


Aku tahu beban dia sama beratnya dengan beban yang aku pikul, sejak saat itu aku pun meminta maaf dengannya dan tidak lagi meminta makanan miliknya, aku pun pergi berkeliling sebentar, dan mengatakan akan segera kembali ke pasar lagi sorenya.


"Aku pergi dulu ya, kau jaga pasar baik-baik." Ucapku kepadanya saat itu.


"Hei, mau kemana kau?" Teriak Baim kepadaku.


"Biasa aku kalau tidak keliling mana bisa dapet makan, sudahlah aku pergi dulu." Balasku kepadanya saat itu.


Aku pun melambaikan tangan kepadanya dan lanjut melangkah pergi dari sana dengan menghembuskan nafas dengan lesu, tidak tahu lagi apa yang bisa aku lakukan dan tidak tahu kemana lagi kaki harus aku langkahkan, namun konyolnya aku malah tiba-tiba saja sampai di depan puskesmas tempat dokter Sendi bertugas disana, aku sama sekali tidak mengerti kenapa kakiku malah membawa aku ke tempat itu.


"Aishh...kenapa aku malah kesini, aaahhh, mana ada makanan di tempat begini, dan tidak ada yang bisa menghasilkan uang disini, aku pergi saja." Gerutuku lagi sambil segera berbalik dan hendak pergi dari sana saat itu.


Namun belum sempat aku melangkahkan kakiku lagi, seseorang sudah memanggil namaku dengan cukup kencang saat itu dan dia adalah dokter Sendi.


"Tiktik.....sedang apa kamu disini, apa kamu mencariku?" Ucap dia kepadaku.


Sialnya dokter Sendi malah muncul dan dia berlari kecil menghampiri aku saat itu, aku terus saja merasa tidak menentu dan kebingungan sendiri bagaimana cara menghadapinya saat itu.

__ADS_1


"Astaga...apa yang harus aku katakan padanya, kenapa dia harus muncul sih, aaahh..." Gerutuku kebingungan sendiri.


Karena dokter Sendi sudah berada tepat di hadapanku, tidak ada hal lain lagi yang bisa aku lakukan, sehingga aku hanya menghadapinya saja, sebuah kalimat konyol pun mulai keluar dari mulutku dan sama sekali tidak bisa aku hindari.


__ADS_2