
"Aku yakin Tiktik, kamu selalu membantu aku setiap kali aku kesulitan, sedangkan tv itu tidak bisa membantu aku, aku juga bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan di pasar, umi Salma sudah memberikan kepercayaan itu padaku lewat kamu, jadi aku tidak ingin mengecewakan banyak pihak hanya karena sebuah tv yang bahkan tidak bisa membantuku apapun." Balas Baim yang membuat aku sangat senang.
Dia memang berbeda dengan teman-teman yang lainnya, dia orang yang sangat baik dan aku juga begitu perduli serta menyayangi dia seperti keluarga sendiri, karena neneknya juga sangat memperdulikan aku juga.
"Terimakasih Baim, aku janji aku akan mengganti tv mu dengan yang lebih baik, dan kakekmu pasti bahagia di atas sana karena dia memiliki cucuk yang baik sepertimu." Balasku kepadanya sambil memeluk dia dengan erat.
Sedangkan anak-anak yang lain sudah bubar saat itu, mereka semua sama sekali tidak memperdulikan aku karena mereka hanya membutuhkan miliknya saja dan menentukan tentang urusan pribadinya sendiri.
"Sudah sana kalian pergi, mulai sekarang kau tidak akan bisa mengatur aku, ataupun sok jadi pahlawan lagi di kampung ini, karena kau sudah tidak punya anak buah lagi." Ucap ibu Yati mengusirku dari sana.
Ubay juga memperingati ibunya agar tidak bersikap kasar padaku, namun aku tahu sebagai anak Ubay juga pasti merasa bingung dan dia sulit untuk melawan ibu yang sudah melahirkannya itu, walaupun ibunya memang sangat menjengkelkan dan jahat seperti itu kepada orang lain.
"Ibu sudah, kenapa ibu harus sekasar ini pada temanku, sudahlah bu masalahnya kan juga sudah selesai, ayo kita masuk saja." Ucap Ubay sambil menarik ibunya dan membawa bu Yati masuk ke dalam rumahnya dengan cepat.
Aku dan Baim juga segera pergi dari sana aku kembali ke pasar dan berjaga disana sendiri sedangkan Baim pulang ke rumahnya, dia masih harus mengurusi neneknya dan tidak bisa ikut denganku ke pasar sore ini.
Aku duduk termenung seorang diri di posko pasar saat itu, semuanya memang terlihat sangat berbeda, biasanya akan ada banyak anak-anak yang nongkrong di posko ini, ada yang bermain kartu, menyeduh kopi ataupun yang bermain catur, tawa canda mereka yang begitu menggelegar sudah tidak bisa aku dengar lagi, sekarang hanya aku yang tersisa sendiri, menjaga pasar yang seluas ini hanya seorang diri, aku tidak tahu apakah aku bisa atau tidak, terlebih preman mungkin akan datang dalam jumlah yang lebih banyak dan aku mungkin tidak bisa melawannya meski pandai bela diri, sebab aku hanya seorang diri saja.
Tapi walau begitu aku juga tidak mungkin menyerah begitu saja, ataupun meninggalkan tanggung jawabku di pasar dengan seenaknya, lagi pula jika aku tidak berjaga di pasar, lantas aku akan mencari pekerjaan dimana lagi, tidak ada pekerjaan lain yang cocok untuk wanita tomboi dan ceroboh seperti aku.
__ADS_1
Hingga dugaanku benar, tidak lama sejak aku berjaga seorang diri disana, ada beberapa preman yang mengacau di sekitar sana dan mengobrak-abrik salah satu jongko sayuran, aku langsung bergegas menghampirinya sebelum dua preman itu merusak semua barang dagangan penjual disana.
"Woi....siapa kalian? Beraninya masuk ke wilayahku!" Teriakku menghentikan mereka dengan cepat.
Mereka menatap menyepelekan aku saat aku berjalan mendekatinya, karena mereka tahu aku hanya seorang diri saat itu, sedangkan teman-temanku yang lain mungkin saja sudah bergabung pada preman atau bekerja yang lainnya.
"Haha....kau bilang ini wilayah mu? Apa kau seorang diri sekarang bisa menjaga wilayah pasar seluas ini? Hahaha...kami sudah tidak takut lagi denganmu, karena kau sendirian, lawan kami jika kau menang kami tidak akan datang mengacau kemari lagi!" Ucap salah satu preman disana.
Aku tentu berani dan masih sanggup jika melawan dia orang makanya saat itu aku langsung menyetujuinya, sampai tidak aku sangka ternyata mereka tidak benar-benar hanya berdua, sebab muncul teman-temannya yang lain dari belakang saat dia berteriak memanggilnya dan mereka menjadi tujuh orang saat itu.
"Ayo, siapa takut untuk melawan kalian berdua," balasku kepadanya dengan percaya diri saat itu.
Aku langsung terbelalak kaget melihatnya karena aku pikir mereka hanya berdua saja tetapi dugaanku benar-benar salah besar, aku langsung memasang kuda-kuda dengan tegap karena aku takut mereka akan menyerang aku secara tiba-tiba saat itu.
"Astaga...kenapa jadi banyak seperti ini, aahhh gawat aku tidak mungkin bisa melawan mereka jika jumlahnya sebanyak ini." Batinku merasa cemas seorang diri.
Preman itu tersenyum menatap ke arahku sebab dia tahu bahwa aku tengah cemas saat itu, tapi untuk kabur benar-benar sudah terlambat saat ini, aku hanya bisa berlari untuk membawa mereka menjauh dari wilayah pasar agar tidak membuat kerusakan di tempat ini.
"CK....hanya segini saja temanmu, haha...tangkap aku jika bisa....aaaaaaaa" ucapku sambil berteriak kencang dan langsung berlari secepat yang aku bisa saat itu.
__ADS_1
"Sial... Jangan kabur kau!" Teriak preman itu mengejarku dengan teman-temannya yang lain.
Aku terus berlari sekencang yang aku bisa hingga aku tidak bisa kabur lagi karena sudah sangat lelah dan salah satu anak buahnya berhasil menghadang aku di samping jalanan saat itu, kami langsung bertarung begitu saja, aku berusaha keras untuk melumpuhkan mereka meski sangat sulit bagiku melumpuhkan tujuh orang hanya seorang diri seperti ini. Terlebih mereka terlihat cukup bagus dalam banyak gerakkan saat bertarung denganku, mereka juga menyerang aku bersamaan sehingga sulit untuk aku mengambil ancang-ancang sendiri.
Aku berhasil melumpuhkan dia anak buahnya sekaligus dengan menendang alat pital mereka, karena hanya itu yang bisa aku lakukan, dan satu anak buahnya yang perempuan juga berhasil aku lumpuhkan lagi hingga dia meringis kesakitan di tanah.
Kini tinggal empat lagi, termasuk bos mereka yang memiliki rambut panjang sebahu itu, yang harus aku lawan.
Sayangnya aku sudah terlalu lemah karena melawan banyak orang sekaligus jadi gerakkan ku agak melambat, sehingga aku terkena sebuah pukulan di ujung bibirku oleh pria itu dengan cukup keras hingga mengeluarkan darah.
"Buk....aaaahhhh..." Satu p*kulan yang mengenai aku saat itu.
Rasanya benar-benar sangat sakit tapi tidak ada waktu untuk aku merasa sakit, sebab mereka sudah akan melumpuhkan aku saat itu, jadi aku harus terus bergerak jika aku ingin bertahan dalam pertarungan ini, hingga akhirnya tiga anak buahnya juga berhasil aku lumpuhkan saat itu, dan aku sendiri juga merasa sangat lelah, hingga aku meminta pada ketua preman itu untuk berhenti sejenak agar bisa mengambil nafas dan memilih untuk menghentikan pertarungan konyol seperti ini.
"Hah....hah...hah...berhenti heh aku sudah sangat lelah dan kau sudah lihat bagaimana aku melumpuhkan anak buahmu bukan? Aku tidak mood lagi untuk bertarung denganmu, aku tahu kau juga pasti lelah, tapi daripada kalian jadi preman yang mengacau di pasar raya, lebih baik kalian bekerja sama saja deganku bagaimana." Ucapku menawarkan kerjasama dengan mereka.
Bosnya itu mulai mengerutkan kedua alisnya dan menatap dengan tajam, menyelidik kepadaku, dia seperti tidak mempercayai apa yang aku katakan saat itu.
"Heh...aku bicara serius denganmu, jangan menatapku begitu, kenalkan aku Tiktik sebelumnya aku punya banyak anak buah dan mereka bekerja menagih uang sewa jongko di pasar, nanti mereka akan mendapatkan pembagian hasil dari semua uang yang terkumpul setiap harinya, semua pembagiannya sama rasa dan beberapa persen kita serahkan pada umi Salma selaku kepala desa di sini, nanti dia yang menyimpan uangnya untuk perbaikan pasar dan kebutuhan lainnya, kalian tidak perlu memalak lagi seperti tadi jika kalian gabung denganku, sudah pasti setiap hari kalian akan mendapatkan uang, dan uangnya halal, kalian juga menagihnya jangan sekasar sebelumnya karena mereka akan tetap membayar meski kalian tidak membentak atau menggebrak meja dagangannya, bagaimana?" Ucapku menawarkan kepada mereka saat itu.
__ADS_1